
Kini Asna dan Raka sudah duduk bersama di meja makan, Asna senang karena akhirnya bisa merasakan kembali masakan dari sang suami.
"Mas, seneng deh akhirnya Asna bisa merasakan masakan mas Raka lagi!"
"Memang dulu aku sering masakin kamu?"
"Sering banget mas, Asna sampai nggak bisa kalau nggak makan masakan mas Raka!"
"Kalau kamu?"
"Aku nggak terlalu suka masak!"
"Sukanya apa?"
"Sukanya memanjakan mas Raka!" Raka langsung memalingkan wajahnya saat melihat ekspresi manja dari Asna.
"Astaghfirullah hal azim, kuatkan hamba dari godaan seperti ini ya Allah!" gumam Raka lirih tapi masih bisa di dengar oleh Asna, Asna yang memang sengaja menjahili sang suami hanya tersenyum penuh kemenangan.
Mau kuat sampai kapan mas? Asna di lawan ....
"Bisa nggak mata dan bibirnya nggak usah di buat kayak gitu?"
"Memang Asna kenapa mas?"
"Kamu itu bisa mengundang_!"
"Syahwat?"
"Itu tahu!"
"Bagus dong, menyenangkan suami itu bagus loh mas, agama juga nggak nglarang!"
"Masalahnya aku nggak merasa sudah nikah sama kamu, kalau kamu gini terus aku bisa minta nikahin sekarang sama Abi!"
"Ya nggak mau lah, kita udah nikah!" Asna masih kekeh dengan pendiriannya, "Kita itu udah nikah mas, kita punya putri kecil namanya Shahia!"
"Bicara kamu semakin ngaco ya!"
"Sudah lah, capek bertengkar sama mas Raka! Asna mau lihatin Shahia dulu!" Asna segera berdiri dari duduknya setelah selesai makan.
"Ehhh, mau ke mana?" Raka menghentikan langkah Asna, ia Sudja benar tangan Asna tapi dengan cepat ia lepaskan saat mengingat status mereka bukan siapa-siapa.
Asna tersenyum dan berbalik, "Tadi Asna kan sudah bilang mas, mau lihatin Shahia!"
"Nggak boleh!"
"Kok nggak boleh?"
"Aku udah masak tadi, jadi sekarang giliran kamu yang bersihkan piring kotor ini, enak aja habis makan langsung pergi, kasihan mbak Rumi besok!"
"Tapi mas_!"
"Kamu kan katanya asisten di rumah ini, jadi jangan ngelunjak!"
"Aku kan sudah berubah statusnya jadi istri mas!"
__ADS_1
"Mau istri mau asisten tetap saja kalau habis makan piring harus di beresin!"
"Cie, sudah ngakuin aku istrinya nih!"
"Nggak gitu, cepetan!"
"Tapi Shahia gimana mas?"
"Biar aku yang lihatin!" Raka pun langsung memundurkan kursi rodanya dan melajukan menuju ke kamar Shahia.
Asna terdiam, ia menyaksikan suaminya terlihat kerepotan menarik kursi rodanya sendiri. Walaupun suaminya tidak lumpuh total tapi beberapa syarafnya masih harus kembali di latih agar kembali bisa di gunakan dengan normal.
Asna tersenyum begitu suaminya sudah benar-benar masuk ke dalam kamar putrinya, ia segera mengambil piring kotor dan membawanya ke tempat cuci piring.
Raka yang baru masuk sudah melihat putrinya duduk di atas tempat tidur dan memainkan bonekanya.
"Shahia sudah bangun ya, kok nggak bangunin mama?" Raka mendekat perlahan ke arah putrinya, ia hanya takut jika gadis kecil itu akan takut melihat kedatangan dirinya.
Bayi mungil itu begitu sibuk memainkan bonekanya hingga tidak menyadari kedatangannya. Saat mendengar suara Raka, Shahia segera melepaskan bonekanya dan mengulurkan tangan pada pria yang seharusnya berstatus sebagai papa baginya.
"Ohhh Shahia mau gendong om Raka ya, sini!"
"Pa pa pa pa ....!" Shahia berceloteh seperti sedang memanggil papa pada Raka.
"Bukan sayang, ini om Raka!" Ra pun segera berpindah posisi dari atas kursi roda ke tempat tidur Shahia.
Shahia langsung merangkak dan memeluk Raka, sepertinya Shahia bisa merasakan kalau dia benar-benar ayahnya walaupun mereka belum pernah bertemu secara langsung.
"Kamu cantik sekali, tapi kayaknya nggak mirip mama kamu!" Raka memperhatikan wajah bayi mungil itu, merasa tidak asing tapi ia sendiri tidak tahu wajah siapa yang melekat di wajah bayi mungil itu, matanya, hidungnya, bahkan bibirnya, semua terasa tidak asing.
"Ohhh mau main boneka lagi ya?" walaupun tidak mendapat jawaban dari sang putri, Raka tetap tersenyum. Walaupun ia belum bisa mengingat jika itu putrinya, tapi hatinya sudah cukup merasa dekat dengan bayi mungil itu.
"Dia kenapa cantik sekali!?" gumamnya sambil mengamati wajah mungil itu.
Sesekali Raka ikut memainkan boneka Shahia yang lainnya, berbicara renyah dengan bayi mungil yang baru belajar berceloteh itu.
Hingga suara Asna membuat permainan mereka terhenti.
"Shahia, mandi dulu sayang!"
Raka segera menoleh ke sumber suara dan kembali menatap bayi kecil itu, saat perhatiannya kembali ke bayi cantik itu Asna sudah duduk di sisi lain tempat tidur dan mengulurkan tangannya pada bayi itu.
"Na, nggak usah di mandiin deh Shahia nya, ini sudah mau magrib! Kasihan pasti dia kedinginan!"
"Kan mandinya pakek air hangat mas!"
"Tetap aja, untuk hari ini nggak usah di mandiin ya!" Raka kembali beralih menatap Shahia, "Iya kan Shahia, kamu kedinginan?"
"Shahia belum ngerti mas kalau di tanya kayak gitu, nanti kalau nggak mandi malah malamnya nggak bisa tidur karena gerah!"
"Dielap aja tubuhnya!"
"Ya udah lah mas, Asna ikut aja! Ayo sayang!" Asna kembali mengulurkan tangannya.
"Katanya nggak pa pa nggak di mandikan, kok masih ayo?"
__ADS_1
"Kan dielap mas, tetap aja di lepas bajunya!"
"Baiklah, tapi jangan di mandikan ya? Aku siap-siap ke masjid dulu ya!"
"Nggak usah ke masjid dulu lah mas, kan masih sakit!"
"Aku akan meminta Bilal ke sini buat jemput aku! Oh iya, kamu tahu ponselku di mana nggak?"
"Ada, sama aku!"
"Kenapa sama kamu?"
"Ya karena klien di toko semuanya tahu nomor mas Raka, kalau aku nggak bawa ponsel mas Raka bagaimana kalau mereka hubungi?"
"Baiklah, sekarang di mana?"
"Ambil aja di meja dekat tv!" Asna masih sibuk melepas pakaian yang di kenakan oleh putri kecilnya itu. Sedangkan Raka segera berdiri dan beralih ke kursi roda. Kalau hanya sebentar sebenarnya kakinya masih sanggup menopang berat tubuhnya tapi jika terlalu lama, kakinya akan mati rasa lagi.
Asna memutuskan untuk tidak menghapus apapun yang ada di dalam ponsel suaminya, ia ingin suaminya mulai mengingat dirinya mulai dari ponsel pribadinya, karena Asna yakin di dalam ponsel itu banyak kenangan mereka berdua.
Asna melakukan seperti yang di perintahkan oleh suaminya, ia hanya mengelap tubuh putrinya agar tidak lengket, sebenarnya memang salahnya karena ia bangun terlalu sore.
Setelah Shahia sudah cantik Dena berganti baju, Raka kembali masuk ke dalam kamar dengan penampilan yang sudah lengkap dengan sarung, Koko dan peci hitamnya, begitu tampan.
"Na, kenapa aku nggak bisa buka kunci ponsel ku ya?" Raka duduk di atas kursi rodanya sambil mengacungkan ponselnya.
"Mas Raka ingat passwordnya nggak?"
"Aku kok bisa lupa ya, kayaknya tanggal lahirku deh!"
"Bisa nggak?"
"Nggak bisa, password salah terus!"
"Sini!" Raka pun mendekat dan menyerahkan ponselnya pada Asna.
"Nih!" setelah berhasil membuka password ponsel suaminya, ia kembali menyerahkannya pada pemiliknya.
"Kamu kok bisa? Kamu ya yang ganti password nya?"
"Kok nuduh sih mas?"
"Aku cuma tanya kan tadi!"
"Password nya hari pernikahan kita!"
"Mulai deh ngaconya!" Raka segera pergi sambil menghubungi pria yang bernama Bilal, dia adalah salah satu pengurus pesantren dan memintanya untuk menjemput di rumah.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰 ...