Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Memastikan


__ADS_3

Aisyah pulang dengan Leon. Seperti biasa nenek Widya pasti langsung menyambutnya dan menanyakan banyak hal padanya. aisyah menjelaskan sebisanya tentang kegiatannya


hari ini kecuali kunjungannya ke klinik dokter Adrian. Leon pun sudah dimintanya untuk tidak menceritakan apapun dan pada siapapun termasuk nenek Widya.


Aisyah segera ke kamarnya dan membersihkan diri, karena kelamaan mendengarkan cerita


dokter Adrian, ia pulang sangat malam, tapi tetap saja lebih sore dibandingkan


dengan Alex. Cerita dokter Adrian benar-benar berhasil membuat Aisyah


kepikiran, ia sudah duduk di atas tempat tidur dengan buku di tangannya tapi


tidak berniat untuk membacanya.


Ceklek


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, kedatangan pria arrogant itu berhasil menarik


perhatiannya. Ia mendongakkan kepalanya menatap gerak suaminya itu. Sebenarnya


memang pria itu yang di tunggu.


Masak sih mas Alex nggak bereaksi? Lalu kemarin dia mencium ku, apa maksudnya …? Batin Aisyah dengan tetap menatap kemanapun Alex pergi.


Alex melepaskan kemejanya dan melemparnya asal, kini menyisakan kaos dalam tanpa


lengan yang melekat sempurna di tubuh alex yang saling menonjolkan otot kekarnya.


Karena Aisyah terus memperhatikannya, membuat Alex terpancing untuk mendekatinya, alex menghampiri Aisyah yang duduk di atas tempat tidur dengan bersila itu.


Alex jongkok di depan Aisyah dengan kedua tangannya ia letakkan di atas paha Aisyah.


“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Alex.


“kenapa mas Alex berjongkok seperti itu, bangunlah mas!” ucap Aisyah sambil


menyingkirkan tangan Alex, ia masih merasa risih saat alex menyentuhnya.


Alex menyisihkan tangannya dan berdiri, ia pun kemudian duduk di samping Aisyah.


Aisyah menurunkan kakinya dan memiringkan tubuhnya berusaha menatap Alex.


“Ada yang ingin kamu tanyakan?” tanya Alex sambil menatap Aisyah. walaupun sedikit


mendongak Aisyah berusaha keras untuk mencari tahu apa yang sedang di pikirkan


oleh pria itu, ia masih tidak percaya pria sebejat Alex tidak bereaksi pada wanita.


Lalu sama wanita yang bersama Hanna? Bukankah mereka sudah bertunangan ....


“Kalau nggak ada yang ingin kamu tanyakan, jangan menatapku seperti itu terus, nanti


kamu bisa jatuh cinta sama aku!” ucap Alex lalu meninggalkan Aisyah dan masuk


ke dalam kamar mandi.


Aisyah tertegun, bukan apa-apa. Ia masih begitu heran sekaligus tidak percaya.


“Masak sih …?” gumam Aisyah pelan. Ia juga tidak mungkin menggoda pria itu hanya untuk


bisa membuktikan jika ucapan dokter Adrian benar.


Lama menunggu, akhirnya Alex keluar juga dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh


yang lebih segar. Rambutnya juga terlihat basah.


“Kenapa belum tidur?” tanya Alex heran karena melihat Aisyah masih berada di posisi


yang sama.

__ADS_1


“Mas jangan marah ya!”


“Apa?”


“bagaimana reaksi mas saat mencium ku kemarin? Maksudnya apa mas Alex mengalami sesuatu?”


“Nggak tahu, aku mabuk!”


“Aku serius mas!”


"Aku juga serius, apa mau aku ulang agar kamu tahu reaksiku?" tanya Alex sambil mendekati Aisyah.


Alex yang sudah kembali mendekat pada Aisyah, ia mendekatkan tubuhnya hingga membuat Aisyah memundurkan tubuhnya, membuat tubuh Aisyah condong ke belakang karena Alex terus mendekatkan wajahnya ke wajah Aisyah.


"Mas ....!" pekik Aisyah, ia sebenarnya begitu takut sangat takut tapi ia berusaha keras untuk menahannya.


Aisyah kehilangan keseimbangan tangannya membuatnya dengan reflek menarik kaos Alex,


hingga membuat tubuh Alex menindih sempurna tubuh Aisyah.


Mata mereka kembali bertemu, entah kenapa tapi Alex tidak mau beranjak dari atas


tubuh itu, ia mencium bau parfum wanita itu, ia ingin semakin menciumnya.


“Mas …, bangunlah …!”


Dia cantik sekali ....


Tapi Alex tetap tidak mau beranjak dari tubuh itu. “Gimana kalau aku mau sama kamu?”


“maksud ....! Maksud mas Alex?” tanya Aisyah yang begitu kesusahan menelan salivanya sendiri.


Alex segera menggelengkan kepalanya dan bangun dari tubuh Aisyah,


“Anggap saja saya tidak pernah bicara hal itu!” ucap Alex dan langsung berlalu keluar dari kamar.


berada dalam posisinya, ia merentangkan tangannya di atas tempat tidur. Ia


merasakan jantungnya berdetak tidak stabil.


“Apakah itu artinya …, mas Alex!” Aisyah segera bagun dari tidurnya, ia berusaha keras


menelan salivanya sendiri,


“Mas Alex bereaksi…!”


***


Alex yang meninggalkan Aisyah, memilih ruang kerjanya sebagai tempat yang aman, ia sudah berada di ruang kerjanya dan kedua tangannya mengepal sempurna dan beberapa kali


meninju meja yang tidak bersalah apapun padanya.


“Ban*s*t kamu Alex, ban*s*t …!" Alex terus memaki dirinya sendiri.


"Ini benar-benar gila …!”


Ia merasakan tubuhnya begitu panas saat menempel pada tubuh Aisyah. sudah lama


sekali ia tidak merasakan perasaan seperti ini.


Walaupun tubuhnya tertutup sempurna sama kain tapi tetap saja, bayangan gadis itu yang


muncul dan sekarang dia benar-benar membuktikannya.


“Kenapa harus dia? Aku kira dulu Nadin …, dan ternyata  …!”


Lagi-lagi tangannya mengepal dan memukul meja begitu keras. Sebenarnya ia tidak menyesal dengan apa yang terjadi, itu berarti ia sudah mulai sembuh tapi ia belum siap


nerima Aisyah dalam hidupnya. Aisyah bukan tipenya, tapi kehadiran Aisyah

__ADS_1


menjadikannya orang yang lebih baik.


Setelah merasa tenang, Alex pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Ia sudah mendapati


Aisyah terlelap di atas tempat tidur dengan hanya bercahaya kan temaram lampu


tidur.


Alex segera duduk di tempat tidur yang masih kosong, ia terus memperhatikan wajah


wanita itu. Ia masih tidak mengerti kenapa jantungnya berdetak saat berdekatan dengan wanita di depannya, apa istimewanya wanita itu?


***


Pagi ini Alex sengaja tidak menunggu atau mengantar Aisyah ke kampus, ia berangkat


lebih pagi. Mobilnya berhenti di depan sebuah gerbang dengan tulisan besar di


atasnya ‘Pesantren Darul Hikmah’


Alex tidak tahu kenapa tempat itu yang menjadi tujuannya kini, ia merasa penting


untuk datang ke tempat itu, pertama kalinya waktu itu ia sudah merasakan hal


yang berbeda dari tempat itu.


“Kyai …!”


Seorang pria bersarung dan sorban yang selalu mengalung di lehernya dengan wajah teduh


itu mendekati Alex, “Nak Alex, sudah datang? Bagaimana kabarmu?”


“Maaf menggangu waktu Kyai, saya baik!”


“Tidak …, saya malah senang kalau nak Alex mau sering-sering datang ke sini!”


Mereka menuju ke sebuah gazebo yang berada di belakang rumah utama Kyai Hamid dan


berada tepat di sebelah pesantren. Nyai Sarah juga sudah menyuguhkan dua gelas


the hangat di sana dan juga lengkap dengan camilannya,


“Apa yang sudah membuat nak Alex memutuskan untuk datang ke sini?”


“Saya bingung Kyai sebenarnya mau bicara sama siapa, saya ingin berbagai dengan Kyai


bagaimana saya sebenarnya karena saya percaya Kyai bisa menjaga pembicaraan


ini!”


“Insyaallah …!”


“Saya tidak tahu takdir apa yang sudah Allah berikan untuk saya hingga saya


dipertemukan dengan Kyai beberapa kali, menjodohkan saya dengan wanita salehah


seperti Aisyah! saya bukan orang baik yang pantas berkenalan dengan


orang-orang seperti pak Kyai, bu Nyai atau Aisyah!”


“Nak Alex …, bukan manusia yang bisa menentukan seseorang itu pantas atau tidak,


tapi Allah! Di hadapan Allah semua manusia itu sama, yang membedakan itu ketakwaannya!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2