Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (21)


__ADS_3

Gus Raka pun menepuk bantal itu beberapa kali dan menata posisi paling nyaman untuk tidur karena sofa itu cukup kecil jadi sudah bisa di pastikan jika tubuhnya akan menekuk.


Walaupun ingin segera memejamkan matanya karena tubuhnya juga sudah sangat lelah, tapi sepertinya pikiran nya sedang tidak bisa di ajak kompromi, berkali-kali memejamkan matanya tetapi selalu gagal. Ia terus memikirkan wanita yang sedang duduk di atas tempat tidur.


Malam semakin larut, ia masih belum bisa memejamkan matanya, sebagaimana laki-laki normal, ini adalah malam pertamanya sudah bisa di pastikan jika pikirannya sekarang sedang berkelana.


"Ya Allah, kuatkan hambaMu ini!" berkali-kali Gus Raka mengucapkan tasbih agar ia dapat mengalihkan dari memikirkan Asna.


Hingga hampir menjelang subuh barulah Gus Raka bisa memejamkan matanya.


***


Pagi ini Asna bangun lebih dulu, ia bisa melihat Gus Raka yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Katanya ustadz, tapi kok bangun kesiangan!" gumam Asna sambil berjalan menuju ke kamar mandi dan tidak berniat untuk membangunkan pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


Asna segera membersihakan diri dan sekalian mengambil wudhu. Walaupun beberapa waktu lalu sempat menyalahkan Allah atas apa yang terjadi dengannya, tapi bukan berarti ia lupa untuk tetap beribadah padanya, walaupun setiap selesai sholat dan berdoa ia kerap kali melayangkan protesnya.


Gus Raka perlahan membuka matanya saat mendengar Asna mengaji ,


Masyaallah, sholehahnya istriku ....


Sebuah senyum tersungging di bibirnya hingga ia tersadar dengan sendiri.


"Astaghfirullah, sudah lewat waktu subuh!" pekiknya sambil berdiri dan segera berlari menuju ke kamar mandi.


Ia segera mengambil wudhu, saat keluar dari kamar mandi ia sudah mendapati Asna yang merapikan peralatan sholatnya.


"Dek, kok nggak bangunin mas sih?!" protesnya sambil membetulkan sarungnya yang memang sejak semalam tidak ia lepas dan memakai baju kokonya. Mengambil pecinya dan menyibakkan rambutnya yang masih karena air wudhu. Sesaat Asna terkesima, ia tidak bisa memungkiri kalau suaminya itu cukup tampan.


"Katanya ustadz, kok bisa bangun kesiangan!" Asna meluapkan apa yang ia pikirkan tadi tentang pria di depannya.


"Ustadz juga manusia dek!"


"Mau sholat atau mau ngobrol sih!"


"Ahhh iya mas hampir lupa!" Gus Raka pun segera mengelar sajadah dan melakukan kewajibannya.


Hingga saat Gus Raka selesai sholat, ia masih bisa melihat istrinya itu tetap santai sambil memainkan ponselnya, bukan untuk melihat media sosial pribadinya, atau membalas begitu banyak pesan dari teman-temannya. Bahkan ia Sudah mendapatkan surat peringatan dari rumah sakit karena terlalu lama tidak masuk kerja tanpa ijin, Asna seolah tidak peduli dengan hal itu. Ia seperti tidak punya kekuatan lagi untuk datang ke rumah sakit, bertemu dengan orang banyak, berkontak langsung dengan orang asing.


Gus Raka melipat sajadahnya, ia menghampiri istrinya dan duduk di samping Asna. Asna dengan reflek melompat dan berdiri.

__ADS_1


"Apaan sih tiba-tiba duduk di sini?"


Gus Raka pun tersenyum, "Aku kan suami kamu dek, jangan khawatir nggak bakal ngapa-ngapain kalau kamu belum siap, sudah duduk di sini!"


"Nggak mau!" jawab Asna dengan ketus. Sikapnya benar-benar mirip seperti ABG yang baru saja di dekati oleh cowok.


"Baiklah, bagaimana kalau kita buat peraturan!?"


"Sejak kapan anda punya hak untuk mengatur saya?" Asna terlihat begitu kesal.


"Sejak kemarin, saat mas ucapkan ijab Qabul!"


"Apaan sih!?"


"Itu kenyataannya! Baiklah, mungkin kita bisa mulai buat aturan di rumah kita nanti, kenapa kamu berdiam diri di kamar seperti ini dek!"


"Kamar, kamarku! Ya urusanku dong!"


"Bukankah saat ini mama sedang melakukan pekerjaan rumah! Masak misalnya!"


"Jadi maksudnya aku suruh ikut masak?"


"Iya itu pinter kamu dek!"


"Baiklah, kalau kamu malas! Biar aku aja yang bantu mama masak!" Gus Raka pun kembali berdiri dan meninggalkan kamar. Setelah Gus Raka berlalu Asna menatap ke arah pintu yang sudah tertutup kembali.


"Apa benar dia mau masak? Memang bisa?" gumamnya begitu penasaran tapi tidak berniat untuk melihatnya.


***


Sarapan sudah siap, untuk pertama kalinya Asna bersedia untuk sarapan bersama keluarga pastinya atas paksaan dari sang suami.


"Nah gitu dong sayang, mama sama papa kan itu senang kalau kamu mau sarapan bareng begini!"


Mendengarkan ucapan mamanya, Asna hanya tersenyum hambar.


"Oh iya, ini yang masak suami kamu jadi kamu harus mencobanya!" mama Ayu menunjuk pada sayur kangkung dan mengambil satu sendok ke piring Asna.


Jadi tadi beneran dia masak? Asna masih menatap Gus Raka tidak percaya dan yang mendapat tatapan seperti itu hanya tersenyum dan tiba-tiba menggengam tangan Asna membuat Asan begitu terkejut, tapi ia berusaha keras untuk tidak histeris atau terkejut berlebihan.


Setelah berhasil menarik kembali tangannya, Asna menatap tajam pada Gus Raka. Tapi pria itu memilih untuk tetap tersenyum.

__ADS_1


"Kak Raka, setelah ini ada acara apa?" tiba-tiba suara Abizar mengalihkan perhatiannya.


"Em_!" Gus Raka menatap Asna, ia berharap Asna akan mengajaknya atau setidaknya memberi pendapat tapi wanita itu memilih untuk tetap fokus pada makanannya, "Nggak ada!"


"Mau dong di antar kak Raka ke sekolah!"


"Kenapa minta di antara kak Raka segala? Biasanya juga sama Aslan!" protes sang papa.


"Iya Bizar nih!" Aslan setuju dengan ucapan papa Tedi.


"Ya nggak pa pa, pengen saja!" Abizar dengan santainya.


"Nggak pa pa Pa, lagi pula Raka hari ini tidak akan kemana-mana!" Gus Raka tidak keberatan sama sekali karena ia yakin tidak akan punya acara.


"Siapa bilang kita nggak ke mana-mana, katanya kita mau pindahan kan?" ternyata Asna sedari tadi tetap memperhatikan pembicaraan mereka.


Mama Ayu begitu terkejut, ia pikir Asna akan setuju dengan usulan orang tuanya, "Masak secepat itu sih Asna, tinggal lah di sini beberapa hari lagi sama suami kamu!"


"Iya, papa juga nggak bisa kalau kamu tiba-tiba pergi dari rumah!"


"Tapi pa, Asna mau kita cepat pindah!"


"Kenapa kamu nggak betah tinggal sama mama?"


"Bukan seperti itu ma, Asna cuma mau belajar mandiri, Asna juga akan sering-sering datang ke sini, iya kan mas?" Asna meminta pembelaan pada Gus Raka.


"Iya pa, ma! Dengan kami tinggal berdua, kamu akan tahu pahit manisnya membangun rumah tangga!"


"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, papa sama Mama hanya bisa mendoakan!"


"Tapi pagi ini selagi Asna mengemasi barang-barangnya, kak Raka bisa nih antar Abizar!"


Abizar yang sudah menekuk wajahnya karena larangan sang kakak segera melompat kegirangan.


"Ye ...., akhirnya berangkat di antar mas Raka!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2