
Setelah acara pernikahan dadakan itu, saat ini di pesantren kembali di adakan acara di walimatul 'urs dadakan.
Banyak tamu yang datang, gus
Fahmi dan Bianka sudah duduk di depan menyambut beberapa tamu yang datang.
Aisyah kali ini tidak bisa datang karena Alex masih harus melakukan terapi beberapa hari kedepan.
Acara yang hanya di isi ramah tamah dan sedikit ceramah oleh ustad yang sengaja di undang untuk mengisi mauidhotul khasanah.
Banyak yang datang untuk memberi selamat kepada kedua mempelai, dia atas langgengnya pernikahan di tujukan untuk kedua mempelai.
Ini adalah acara nikahan pertama di pesantren bagi Bianka, terlihat sekali kalau dia begitu canggung, apalagi saat ini teman-teman sesama santrinya jadi begitu menghormatinya. Ia sekarang harus menyandang gelar ning, sebuah panggilan yang di tujukan untuk anak pak Kyai.
Gus Fahmi juga terlihat begitu sibuk menyalami beberapa tamunya yang menyempatkan datang ke pernikahannya, banyak di antaranya adalah dosen yang juga mengajar di kampus yang sama, kampus di mana Bianka kuliah.
Setelah semua tamu meninggalkan pesantren kini hanya tinggal keluarga inti dan beberapa santri yang membantu merapikan kembali tempatnya.
Bianka sedang duduk bersama bu Nyai Sarah.
"Umi ....!" ucap Bianka.
"Iya nak ada apa?" tanya bu Nyai Sarah.
“Bianka kembali ke kamar bianka dulu ya umi!"
"Kamar yang mana?"
"Kamar Bianka di pesantren!"
"Untuk apa nak?" tanya umi Sarah.
"Saya mau mengambil beberapa barang Bianka yang masih tertinggal di sana!”
“Nggak perlu, besok pagi aja nggak pa pa, sekarang kamu istirahatlah …!” ucap umi Sarah.
“Baik umi! Kalau begitu Bia ke kamar dulu ya umi!”
"Iya ...!"
Bianka pun segera menuju ke dalam kamar, kamar yang semenjak kemarin menjadi kamarnya.
Ia sudah sangat gerah dengan kebayanya. Sesampai di kamar, Bianka segera mengganti kebayanya dengan baju tidur yang lebih nyaman, sebuah baju panjang yang berbahan kaos. Mencuci wajahnya dan segera naik ke atas tempat tidur.
Gus Fahmi masih sibuk dengan tamu-tamu, ada beberapa tamu yang memang teman gus Fahmi yang kebetulan tinggal di pesantren.
Saat matanya sudah mulai tertutup karena begitu mengantuk tiba-tiba pintu kamar itu di ketok dari luar membuat Bianka kembali bangun.
Tok tok tok
"Aku masuk ya?" tanya seseorang dari luar, Bianka hafal suara siapa itu.
"Iya...!" ucap Bianka, ia pun segera duduk kembali.
__ADS_1
Seperti sudah menjadi kebiasaan baru bagi gus fahmi sekarang jika masuk kamar ia akan mengetuk dulu pintunya.
“Assalamualaikum!” ucap gus Fahmi saat ia sudah masuk ke dalam kamar.
"Waalaikum salam mas!” jawab Bianka. Ia sudah duduk di tepi tempat tidur, ia tidak ingin terlihat lelah di depan suaminya itu.
“Kamu sudah mandi?” tanya gus Fahmi sambil melepas pecinya dan meletakkannya di atas meja
"Sudah mas ....!" ucap Bianka.
"Ya sudah aku mandi dulu ya, gerah banget!" ucap gus Fahmi sambil melepaskan kemejanya hingga menyisakan kaos tipis di tubuhnya.
Salah nggak ya di liatin terus ...., batin Bianka yang terpesona dengan tubuh suaminya itu.
"Tadi Bia juga sudah siapkan air hangat untuk mas! Tapi mungkin sudah hampir dingin lagi, biar Bia angetin lagi ya!” Bianka pun segera beranjak dari duduknya.
"Nggak usah ...!" ucap gus Fahmi sambil menahan tubuh Bianka.
"Kenapa?" tanya Bianka.
“Nggak usah, gerah banget soalnya!” ucap gus Fahmi sambil mengusap puncak kepala Bianka dan tersenyum.
Gus Fahmi segera mengambil handuk yang ada di sandaran kursi itu dan segera masuk ke kamar mandi.
Melihat suaminya masuk ke dalam kamar mandi tanpa membawa baju ganti, Bianka segera menyiapkan baju ganti untuk suaminya dan meletakkannya di atas tempat tidur.
Ceklek
Gus Fahmi keluar setelah sepuluh menit berada di dalam kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
“Iya mas …, itu bajunya mas fahmi udah aku siapkan!” ucap Bianka sambil menunjuk baju yang sudah ia siapkan.
“bentar ya aku pakek dulu!” ucap gus Fahmi sambil mengambil baju itu.
Bianka mengangguk.
Gus Fahmi kembali ke dalam kamar mandi untuk memakai bajunya, ia belum terbiasa memakai baju di depan istrinya.
Setelah tidak lama, gus Fahmi kembali keluar, ia begitu terkejut saat melihat Bianka sudah melepaskan jilbab instannya hingga menunjukkan rambut Bianka yang terurai panjang sebahu.
Bianka segera mengikat kembali rambutnya, “Mas …!” ucap Bianka yang tidak kalah terkejutnya. Dulu memang dia terbiasa tidak memakai jilbab tapi sekarang setelah memakainya, ia jadi begitu canggung saat melepas jilbabnya.
“kenapa di ikat?" tanya gus Fahmi, lalu berjalan mendekati Bianka. Kedua tangan Bianka masih menggantung di rambutnya.
“hehhh …?”
Gus Fahmi mendekat dan menyingkirkan tangan Bianka dari rambutnya. “Begini lebih cantik!” ucapnya dengan tubuh yang begitu dekat dengan tubuh Bianka, bahkan Bianka bisa mendengarkan detak jantung gus Fahmi.
“Kita ambil wudhu yuk!” ajak gus Fahmi membuat Bianka membelalakkan matanya, seingatnya mereka sudah sholat isya' tadi.
“tapi aku sudah sholat isya’ mas, mas Fahmi belum sholat isya’?” tanya Bianka tidak mengerti.
“Sudah!” ucap gus Fahmi sambil tersenyum yang tertahan.
__ADS_1
“Kenapa kita wudhu lagi? Apa sebelum tidur mas Fahmi biasa berwudhu? Ah iya mungkin itu ...!” ucap Bianka menduga-duga sendiri.
“Bukan itu!"
"Lalu?"
"Kita sholat dua raka’at yuk!” ucap gus Fahmi. Hal itu membuat jantung Bianka semakin berdegup saja, rasanya seperti mau perang saja. Andai ada alat pendeteksi detak jantung, mungkin saat ini detak jantungnya lah yang paling kuat.
“Hahhh iya ...!"
Akhirnya Bianka dan gus Fahmi pun kembali mengambil wudhu setelah itu
mereka pun melaksanakan sholat dua rakaat dan di lanjut dengan berdoa sebentar.
Setelah merapikan kembali alat sholatnya, Bianka dan gus Fahmi kini sudah duduk berhadapan di atas tempat tidur.
“Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya gus Fahmi. Ia ingin istrinya tahu semua tentangnya sebelum masuk ke tahap selanjutnya pernikahan mereka, ia tidak ingin istrinya itu kecewa terhadapnya.
“Apa?”
“Apa saja tentang aku yang ingin kamu ketahui!”
“aku sudah cukup mengenalmu mas, lebih dari mengenal diriku sendiri! Aku tidak tahu kenapa bahkan aku lebih mengagumi mas Fahmi dari pada mengagumi diriku sendiri!”
“jangan …!”
“Kenapa?”
“Cintai aku sekedarnya saja, selebihnya cintai aku karena Allah!”
“Insyaallah mas!”
“Apa mas Fahmi tidak ingin bertanya sesuatu tentangku?”
“Biar kamu sendiri yang akan bercerita tanpa perlu aku bertanya, jika kamu sudah benar-benar siap!”
‘Mas …, masa lalu ku tidak sebaik yang mas tahu saat ini!”
“Masa lalu biarkan menjadi pembelajaran, yang terpenting saat ini adalah kamu mau belajar menjadi lebih baik!”
“Iya mas …!”
“Bolehkan serang kita …?”
Bianka pun mengangguk sambil tersenyum.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰