Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (26)


__ADS_3

Gus Raka sudah keluar dari kamar mandi tapi dia tidak mendapati istrinya berada di kamarnya lagi. Ia yakin istrinya pasti merasa tidak nyaman karena belum mandi.


Ia segera melaksanakan sholat subuh karena sudah begitu terlambat, setelahnya ia mencari sang istri. Ternyata istrinya itu sedang berada di dapur.


"Dek, ngapain di sini?"


"Aku mau masak, tapi nggak ada apa-apa selain mie instan dan telur!"


"Kan sudah aku bilang kemarin, sebaiknya kita belanja saja ya nanti setelah aku dari toko!"


"Nggak janji, udah ah aku mau mandi!" Asna memilih menghindar dari Gus Raka.


Gus Raka pun mengambil ponselnya, selagi Asna mandi ia pun memesan dua bungkus pecel lele untuk sarapan mereka berdua.


Saat ini Asna keluar dari kamar dengan penampilan yang lebih segar, ia tercengang saat melihat Gus Raka sudah duduk di meja makan lengkap dengan makanannya.


"Dapat dari mana?"


"Ada, tadi pesan! Duduklah!" Gus Raka berdiri dan memundurkan kursi untuk Asna.


"Terimakasih!"


"Sama-sama!"


"Sama-sama untuk apa?" Asna tidak merasa melakukan satu kebaikan pun untuk suaminya itu.


"Karena kamu mau menjadi istriku!"


"Bukan hal yang lucu, jadi nggak usah senyum!" Asna tidak terlalu suka jika Gus Raka begitu manis padanya, ia masih merasa takut untuk tergantung pada pria di depannya itu.


"Aku senyum karena menurutku senyumku ini adalah ibadah!"


"Iya kalau yang di kasih senyum senang! Tapi sayangnya yang di kasih senyum nggak suka, jadi bakal jadi dosa!"


Hhhhhh, Gus Raka hanya bisa menghela nafas karena Asna yang mood nya tidak tentu itu.


"Baiklah aku tidak akan senyum, sekarang makanlah!" Gus Raka berusaha keras untuk tidak senyum hingga sang istri selesai makan, mungkin karena sedang haids jadi moods Asna tidak stabil.


Mereka hanya saling diam selama makan, hingga akhirnya Asna kembali buka suara.


"Aku mau nanti belanja!"


Gus Raka kali ini tersenyum, ternyata benar dugaannya. Istrinya pasti karena sedang ada pengaruh hormon.


"Baiklah, aku akan pulang cepat nanti lalu kita belanja!"


"Kamu mau ke mana?" Asna lupa jika suaminya memiliki kegiatan sedangkan dia hanya akan berdiam diri di dalam rumah.


"Aku kerja!"

__ADS_1


"Lalu aku?"


Benar juga, bahaya meninggalkan Asna sendiri di rumah.


"Bagaimana kalau kamu aku titipkan di rumah papa selama mas kerja?"


Asna pun menganggukkan kepalanya.


"Atau ada hal yang ingin kamu lakukan, misalnya ikut pengajian umi atau Abi?"


"Enggak, aku di rumah papa saja!"


"Baiklah, bersiaplah! Kita akan segera berangkat!"


Asna terlebih dulu membawa piring kotor itu ke tempat cuci piring tanpa di suruh oleh Gus Raka dan mencucinya.


***


Kini mereka sudah berada di rumah papa Tedi, setelah menitipkan Asna pada mama Ayu_ Gus Raka pun segera berpamitan.


"Insyaallah Raka nanti tidak sampai sore , ma!"


"Nggak pa pa kalau kamu sibuk, jangan sungkan menitipkan Asan di sini, papa kamu juga pasti sangat senang!"


"Iya ma, tapi kebetulan sore ini saya dan Asna mau belanja bulanan!"


"Kalian sudah mau berangkat ya?"


"Iya kak, kakak sama Kak Asna mau menginap di sini lagi ya?" terlihat binar bahagia dari Abizar.


"Enggak, tadi hanya menitipkan kak Asna aja selama kakak tinggal kerja!"


"Ohhh!"


"Ya sudah kak Raka berangkat dulu ya, kalian belajar yang rajin!"


"Siap kak!" sahut kedua adik kakak itu, memiliki kakak yang jauh lebih tua dari mereka membuat mereka merasa lebih aman.


Setelah berpisah dengan kedua adik iparnya, Gus Raka pun segera memacu motornya menuju ke toko buku, banyak hal yang harus ia lakukan. Ia memiliki banyak tanggungan di tahun ini jika ingin tetap memiliki toko itu, ia harus bisa membelinya atau dia harus mencari toko lain yang bisa ia sewa. Letak tokonya yang strategis mungkin cukup untuk banyak peminatnya sehingga berbondong-bondong untuk membelinya. Untung si pemilik berbaik hati dengan memberinya waktu satu tahun sampai Gus Raka bisa membelinya.


Sesampai di toko, ia segera melakukan meeting kecil kepada para karyawan. Ia meminta saran agar toko semakin ramai. Beberapa saran sudah ia terima, ia mulai dari promosi melalui beberapa media sosial baik milik toko atau media sosial pribadi mereka.


Selain itu, mereka juga mengadakan beberapa promo menarik agar semakin banyak yang melakukan kerja sama termasuk cetak buku dan sebagainya.


Salah satu perusahaan besar yang sudah bekerja sama dengan tokonya saat ini adalah perusahaan milik Leon dan Alex. Mungkin selanjutnya ia akan mencari beberapa perusahaan lagi yang bisa kerja sama dengan percetakan miliknya.


Beberapa penerbit ternama, ia sudah mengumpulkan kontaknya untuk bisa di hubungi satu per satu. Karena memang mesin cetaknya tidak terlalu banyak, ia berencana untuk menambah beberapa lagi dan juga tentu menambah beberapa karyawan yang khusus editing dan cetak buku.


Tidak terasa sudah jam empat sore, setelah mengerjakan sholat ia pun segera bergegas untuk menjemput istrinya agar tidak kemalaman saat belanja.

__ADS_1


Setelah berpamitan, mereka pun kembali naik motor dan menuju ke mall.


"Dek kalau di bonceng itu, pegangan!"


Asna tetap diam saat Raka memintanya membuatnya menghentikan motornya.


"Kenapa berhenti di sini?" Asna melihat ke sisi kanan kiri, jauh dari pusat perbelanjaan.


"Pegangan atau nggak usah jalan!"


"Kok maksa sih!"


"Aku nggak mau kamu sampai jatuh dek!" Gus Raka pun segera menarik tangan Asna dan melingkarkannya ke pinggangnya.


"Nah kalau begini kan aman!"


Gus Raka sengaja meminta Asna untuk melingkarkan lengannya ke pinggang agar mereka sesering mungkin kontak fisik, kemungkinan besar Asna akan lepas dari traumanya saat ia sudah terbiasa dengannya.


Motor pun melaju, mereka sampai juga di parkiran pusat perbelanjaan.


"Turun dek!"


Asna terlihat ragu untuk turun, ia begitu malu saat harus bertemu dengan banyak orang seperti ini.


"Apa kita sebaiknya kembali saja!?"


"Jangan dong, kita kan sudah sampai di sini, masak mau kembali! Ini mas punya masker untuk kamu, pakek ini aja ya!" Gus Raka mengeluarkan masker yang masih baru dan memakaikannya pada Asna.


"Nah kalau begini kan tidak ada yang bisa liat wajah Asna!"


"Ya benar?"


"Benar dek, percaya kan sama mas! Selama di dalam tetap genggam tangan mas, okey!"


Walaupun ragu tapi akhirnya Asna menganggukkan kepalanya. Gus Raka pun menggengam erat tangan Asna dan membawanya masuk ke pusat perbelanjaan.


Mereka mengambil troly belanja dan Gus Raka segera mengeluarkan list belanjaan yang sudah ia tulis semalam.


"Kita cari yang segar-segar dulu ya!" ajak gus Raka dan Asan hanya bisa mengikutinya dari belakang dengan tangan yang tetap tidak mau lepas dari tangan suaminya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2