
...Beruntungnya aku karena mereka menyerahkan putrinya yang sudah mereka rawat bertahun-tahun dengan begitu saja tanpa syarat apapun...
...🌺Selamat membaca🌺...
Mobil sudah berhenti di depan rumah mama dan papa, walaupun mengatakannya aku tau kalau dia pasti tahu arah kami akan pulang ke mana.
"Turunlah dulu, aku akan menyusul!"
"Mas Leon mau ke mana dulu?"
"Ambil hadiah buat mama sama papa!"
"Kan sudah aku bawakan tadi pagi!"
"Itu kan dari kamu, aku belum kasih!" mas Leon bicara dengan nada di buat manja, bibirnya yang merah menunjukkan jika pria yang sudah aku nikahi ini memang tidak merokok.
"Baiklah, jangan lama-lama ya mas!"
Mas Leon menanggapi ucapanku dengan senyuman.
Aku pun segera turun dari dalam mobil dan masuk ke rumah. Jika di lihat dari mobil yang terparkir di depan itu tandanya papa juga sudah pulang.
Aku mempercepat langkahku saat mendengar samar-samar obrolan dua orang yang begitu berjasa dalam hidupku.
"Tadi papa ketemu sama Gus Raka!"
"Ada apa pa?"
"Ya nggak pa pa, papa cuma sayang saja pria sebaik itu tidak jadi menantu kita!"
"Leon juga pria yang baik pa!"
"Aku tahu, seandainya saja papa masih punya satu putri lagi yang masih lajang, sudah pasti papa ingin menjodohkannya dengan Raka!"
Aku sengaja berhenti untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Sedikit ada rasa yang tidak enak, tapi mau bagaimana lagi kalau ternyata Allah menjodohkanku dengan orang lain yang berbeda dari perspektif mereka.
Ku ukir senyumku dan kembali berjalan, aku harus bersikap biasa saja.
"Assalamualaikum!" sapaku membuat kedua orang tuaku itu segera menghentikan pembicaraannya. Pasti mereka juga tidak akan merasa enak jika mereka tahu aku telah mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Waalaikum salam!"
Mama segera berdiri menyambutku, seperti biasa dia akan segera memelukku, padahal tadi pagi kami sudah bertemu.
"Ada apa nih romantis romantisan?" tanyaku saat aku sudah duduk di antara mereka.
__ADS_1
"Ya mau bagaimana lagi, begini kalau sudah tua, anak-anak nya akan tinggal di rumahnya masing-masing dan para orang tua hanya bisa gigit jari di rumah!" papa mengatakan hal itu dengan nada yang pelan tapi terdengar penekanan di sana.
Mungkin papa mengatakan hal itu karena ia ingin mencurahkan isi hatinya padaku.
"Papa, Nisa akan tetap sering ke sini pa, kasihan kan pa kalau mas Leon harus bolak balik ke sini dan balik ke rumah." aku mencoba memberi pengertian pada papa. Baik aku ataupun mas Leon pasti juga tidak ingin hal ini terjadi.
"Dan lagi, anak kemana anak itu, membiarkan kamu ke sini sendiri!" ada apa sebenarnya dengan papa, tiba-tiba dia terus memprotes keberadaan mas Leon.
"Mas Leon ada pa, dia_!" belum aku menyelesaikan ucapanku tiba-tiba mas Leon mengucapkan salam.
Deg
Semacam itu rasanya, aku sedikit khawatir jika mas Leon mendengarkan ucapan papa tadi, dia pasti akan terluka.
"Maaf saya terlambat!" ucapnya ketika sudah duduk bergabung dengan kami, "Sebenarnya saya ingin memberikan ini, oleh-oleh kecil, semoga mama sama papa suka!"
Mas Leon menyerahkan dua buah paper bag, entah kapan mas Leon membelinya.
"Terimakasih ya Leon, harusnya kamu nggak perlu repot seperti ini, tadi pagi Nisa juga sudah memberi oleh-oleh untuk kami!"
Mama benar-benar berhasil membuat perasaanku sedikit lebih tenang. Apa lagi cara mama bicara begitu lembut.
"Yang tadi pagi dari Nisa, dan ini dari saya!"
Aku pun mengajak mas Leon untuk ke kamar kami setelah mas Leon berpamitan pada papa dan mama.
Selama berjalan menuju ke kamar, tidak ada percakapan di antara kami, aku benar-benar merasa tidak enak dengan mas Leon. Dia pasti terluka mendengar ucapan papa tadi, papa memang suka seperti itu, jika tidak suka dia akan mengatakan apa yang ada pada perasaannya.
Hingga kami sampai di kamar pun mas Leon masih diam, dia sudah melepas jas nya dan segera ku ambil untuk aku masukkan ke keranjang baju kotor.
Kulihat mas Leon melepaskan kancing kemeja bagian atas dan juga kancing lengannya, melipat lengan kemejanya hingga ke siku. Terlihat sekali wajah capeknya, mungkin bukan hanya oleh pekerjaan. Pasti juga gara-gara omongan papa tadi.
Mas Leon duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa, aku ikut duduk di sampingnya.
Seperti aku tidak ada, mas Leon sana sekali tidak tertarik untuk menatapku. Dia seolah-olah tidak menyadari keberadaan ku saat ini.
Aku tidak tahan dengan keadaan ini,
"Mas!"
"Hmm?" mas Leon bahkan tidak menoleh padaku.
"Mas, maafkan papa ya, papa memang suka seperti itu! Dia suka bicara ceplas-ceplos tapi percaya deh, papa hatinya baik! Dia hanya sedikit khawatir denganku, mungkin karena aku yang tidak pernah jauh darinya, sekali jauh papa akan merasa kehilangan!"
Aku tidak tahu bagaimana ekspresi pria yang ada di sampingku saat mendengarkan ucapanku, aku terlalu takut untuk melihatnya. Aku memilih menunduk.
__ADS_1
"Kamu bicara apa sih?"
Tanggapan yang kudapat ternyata jauh berbeda dengan yang aku pikirkan, aku menoleh pada pria di sampingku itu. Dia ternyata sedang menatapku.
"Mas, apa mas Leon tadi mendengarkan ucapan papa?" aku jadi sangsi kalau pria itu mendengarkan ucapan papa melihat tanggapan mas Leon.
"Dengar!" ucapnya dengan begitu santai padahal aku sudah sangat khawatir.
"Trus?"
"Trus apa?"
Gimana sih ini, aku jadi bingung sendiri. Aku tidak tahu bagaimana jalan pikiran pria yang ada di sampingku itu. Jika aku berada di posisi mas Leon, sudah jelas aku terluka.
"Mas Leon nggak marah?"
Mas Leon meletakkan benda pipih di tangannya itu ke atas meja, ia menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Haruskan aku marah pada orang yang sangat menyayangiku?"
"Hahh?"
"Tidakkah kamu tahu, papa dan mama kamu sudah sangat baik terhadapku, sedikit kata protes sudah pasti wajar di utarakan padaku saat aku tidak bisa seperti yang mereka harapkan. Siapa orang yang begitu sayang padaku selain orang tua kamu?"
Aku mengerutkan keningku, entah isi kepalaku yang terlalu cetek atau memang suamiku yang terlalu pintar, mungkin sedikit penjelasan lagi akan membuatku mengerti,
"Aku hanya orang asing tapi dengan iklas orang tua kamu menyerahkan putri yang sudah bertahun-tahun mereka rawat tanpa syarat apapun! Pantaskah aku marah?"
Aku sudah tahu maksud mas Leon sekarang, aku menggelengkan kepalaku pelan. Pemikirannya bahkan sangat membuatku terharu, dia bukan pria yang sangat mendalami agama, tapi pemikirannya jauh lebih baik dari yang aku tahu.
"Pantas jika mereka marah, mungkin ada sesuatu yang tidak sengaja membuat mereka kecewa, untuk itu bantu aku untuk memperbaikinya!" ucapnya sambil mengusap kepalaku, kali ini mata kami saling bertatap. Ada gejolak yang tak menentu di jantungku.
Tiba-tiba wajah kami menjadi semakin dekat dan sangat dekat hingga aku bisa merasakan hembusan nafas halus dari pria yang setiap harinya membuat cinta dalam hatiku semakin bersemi dengan segala yang dia lakukan, sesuatu yang begitu tidak terduga dari pria biasa yang ternyata begitu luar biasa.
...Kamu mungkin tidak sempurna, kamu mungkin bagi orang lain biasa saja. Tapi tahukan kamu, bahkan ucapanmu, senyummu, perilakumu, selalu membuatku luar biasa...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1