Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (4)


__ADS_3

Betapa mama Asna terkejut saat mendapati kamar Asna terkunci dan tidak ada siapapun yang menyahut panggilannya. Ia pun begitu panik dan memenggil kedua putranya yang kebetulan sedang libur.


Dengan di bantu sopir, mereka mendobrak pintu kamar, mendapati Asna yang tergeletak di lantai dengan tangan yang bersimbah darah.


"Ya Allah Asna!" teriak sang mama sebelum akhirnya tumbang, Abizar menopang tubuh sang mama sedangkan abangnya, Aslan segera membopong tubuh lemas Asna meminta sopir untuk menyiapkan mobil, dan melarikan Asna ke rumah sakit.


"Bizar, kamu tetap di rumah jaga mama, biar Abang yang antar kakak ke rumah sakit!" pesannya pada sang adek.


"Iya bang!"


Aslan berlari menuruni tangga dengan membopong tubuh sang kakak yang memang terbilang mungil, kemeja putih yang di kenakan Asna berlumuran darah begitupun dengan jilbab bergo nya.


Mobil sudah siap di depan pintu, dan Aslan segera masuk bersama tubuh Asna.


Sesampai di rumah sakit, dokter langsung menanganinya, darah yang keluar sudah cukup banyak.


Aslan segera menghubungi sang papa yang kebetulan ada pekerjaan di luar kota, pekerjaannya sebagai pemborong membuatnya sering bepergian ke luar kota.


"Bagaimana dok keadaan kakak saya?" tanya Aslan saat dokter yang menangani sang kakak keluar, pemuda yang masih duduk di bangku SMA itu tampak begitu bertanggung jawab.


"Untung adek segera membawa kakaknya ke rumah sakit sebelum kehabisan darah, untuk sementara kakaknya harus mendapatkan penanganan intensif! Siapa yang bertanggung jawab atas perawatannya?"


"Saya dok!"


Dokter mengerutkan keningnya, di hadapannya bukan orang dewasa. Tapi remaja berusia delapan belas tahun.


"Mama saya pingsan di rumah dan papa masih di luar kota, saya yang tertua di rumah setelah mereka!"


"Baiklah, mari ikut saya!"


Aslan segera mengikuti dokter, dan membicarakan semua yang terjadi pada kakaknya. Setelah itu Aslan juga harus mengurus administrasi atas perawatan Asna.


Beruntunglah, satu jam kemudian sang papa datang. Sepertinya pria paruh baya itu memilih langsung datang ke rumah sakit dari pada mampir dulu ke rumah.


"Bagaimana keadaan kakak kamu?"


"Kak Asna mencoba bunuh diri, pa!"


"Astaghfirullah hal azim!" pria yang kepalanya mulai di tumbuhi uban itu terduduk dan menyunggar rambutnya ke belakang. Aslan ikut duduk di samping sang papa dan mengusap punggung pria yang begitu berjasa dalam hidupnya itu.


"Pa, kak Asna tidak pa pa!"


"Papa harus bagaimana sekarang?"


"Papa hanya perlu sabar, kak Asna butuh proses untuk menyembuhkan lukanya!"

__ADS_1


Walaupun masih remaja tapi Aslan cukup dewasa karena sejak kecil papanya selalu mengajarkan pada remaja itu untuk bisa bertanggung jawab pada mama, kakak perempuan dan adiknya karena dia pria tertua setelah sang papa.


Satu hari Asna di rumah sakit, mama Asna juga sudah datang ke rumah sakit sedangkan Aslan harus pulang dan bergantian di rumah bersama Bizar.


Walaupun begitu terluka dan menyesali perbuatannya, Asna berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Maafkan Asna ya ma, Asna sudah menyusahkan mama sama papa!"


"Enggak sayang, Asna tidak pernah sekalipun menyusahkan papa atau mama! Mama cuma mohon sama Asna jangan pernah lakuin hal itu lagi, janji sama mama!" Asna mengangukkan kepalanya.


***


Di tempat lain, Gus Raka akhirnya benar-benar sembuh. Alex juga sudah memberitahukan yang sebenarnya pada orang tua angkat Gus Raka.


Begitu pulang, ia pun langsung di antar ke rumah orang tua angkatnya. Kedatangannya tentu sangat di nanti. Mereka seperti menemukan anak mereka yang hilang.


"Terimakasih atas bantuannya selama ini pak Alex!"


"Sama-sama pak kyai, saya juga minta maaf karena kami, Raka jadi ikut terbawa-bawa!"


"Semua sudah takdir, Allah yang menentukan!"


Setelah mengantar Gus Raka, Alex pun pulang begitu juga dengan Leon.


"Abi, umi, Raka langsung istirahat di kamar ya!"


Ia menelusuri kamar yang masih begitu sama, Leon sepertinya juga tidak merubah kamarnya.


"Alhamdulillah!"


Gus Raka segera duduk di atas tempat tidur, mengusap seprei yang sepertinya baru di ganti oleh uminya.


Tok tok tok


Pintu di ketuk dan di barengi dengan suara seseorang yang Raka yakin itu uminya,


"Umi boleh masuk?"


"Masuk saja umi, pintunya tidak di kunci!"


Bu nyai pun membuka pintu, masuk dan duduk di samping Raka. Mereka memang ibu dan anak tapi mereka tidak terikat hubungan darah, oleh karenanya umi membuka lebar pintu kamar Raka saat mereka sedang berbicara di dalam kamar.


"Ada apa umi?"


"Sebenarnya Abi sama umi punya rencana!"

__ADS_1


"Rencana apa?"


"Temennya Abi punya seorang anak gadis, kami berencana ke sana untuk melihatnya untukmu, apa kamu tidak keberatan?"


"Umi_!" Gus Raka sedikit keberatan karena dia baru saja kembali, dia masih begitu lemah untuk membicarakan soal pernikahan.


"Bukan sekarang Raka, Abi sama umi kebetulan memang ada janji untuk ke rumah mereka, siapa tahu nanti kamu cocok sama dia, apa Raka mau ikut?"


"Kalau untuk silaturahim Raka insyaallah tidak keberatan umi, kapan rencananya?"


"Akhir pekan ini, kebetulan temennya Abi ini jarang di rumah makanya kalau ke sana harus cari waktu!"


"Insyaallah Raka usahain umi buat ikut, tapi Raka nggak janji ya umi, semoga tubuh Raka sudah benar-benar sehat jadi bisa ikut Abi sama umi!"


"Amin, ya sudah kamu istirahat, umi mau menenin Abi kamu dulu!"


"Iya umi!"


Setelah sang umi keluar Gus Raka pun memilih untuk merebahkan tubuhnya.


Rasanya belum siap untuk membicarakan soal pernikahan, apalagi baru saja ia terbebas dari sebuah musibah yang besar.


Apa iya aku sudah harus memikirkan hal itu?


Semenjak keluar dari rumah sakit, aktifitas Gus Raka tidak sebanyak dulu, dia masih harus membatasi semua kegiatannya. Kalaupun ke toko dia masih harus di antar dan belum berani naik motor sendiri karena jelas koma yang cukup lama itu mempengaruhi kerja ototnya, ia juga harus rajin berolah raga sekarang. Setelah sholat subuh biasanya Gus Raka menghabiskan waktunya untuk gym di kamar atau lari pagi di jalanan dekat kompleks perumahan.


Empat hari sudah ia mulai beraktifitas di toko, melihat-lihat tokonya dan melihat pembukuan toko. Ternyata selama koma, saudara kembarnya bekerja dengan sangat baik, bahkan ia Meraka lebih baik dari dirinya.


"Mas Raka, di luar ada yang nyariin!" ucap salah satu karyawannya yang menyusul ke ruang kerjanya.


"Siapa?"


"Saudaranya mas Raka!" sudut bibir Gus Raka langsung tertarik ke atas, ia tahu siapa yang di maksud.


Ia sudah sangat merindukan pria itu, pria yang lahir di hari dan tanggal yang sama dengannya itu.


"Baiklah, aku akan temui dia!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2