Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (32)


__ADS_3

Asna terlihat mulai membuka matanya, ia menatap sekeliling.


"Aku di mana?" Asna memegangi kepalanya yang masih pusing.


"Na, kamu sudah sadar?" Asna mengenali suara siapa itu, Asna pun menoleh ke sumber suara.


"Zaky, kamu di sini?"


"Iya, kamu tadi pingsan di depan supermarket! Jadi aku bawa ke klinik!"


"Pingsan ya!?" Asna mengingat bagaimana keadaannya terakhir kali.


"Na, aku panggil dokter ya!" Zaky hendak berdiri tapi Asna segera menahan tangan Zaky.


"Jangan, jangan pergi! Aku takut!"


Zaky menatap tangannya yang di genggam Asna, Asna yang menyadari saat ini sedang menggenggam tangan Zaky segera ia lepaskan.


"Maaf!"


"Tidak pa pa!" Zaky terlihat salah tingkah sekarang, ia pun menatap ke arah bubur yang tadi sudah sempat ia beli untuk Asna selama Asna tidak sadarkan diri.


"Oh iya Na, tadi aku belikan bubur! Kamu makan dulu ya!" Zaky pun mengambilnya, Asna mengubah posisinya menjadi duduk. Zaky mulai menyuapkan bubur itu pada Asna.


"Terimakasih ya zak!"


"Sama-sama, oh iya tadi ada yang telpon kamu beberapa kali tapi aku tidak berani mengangkatnya, mungkin sekarang kamu bis telpon balik, siapa tahu itu papa kamu yang khawatir sama kamu!"


"Bisa minta tolong, ambilkan tasku!?"


Zaky pun tersenyum dan mengambilkan tas itu.


Asna segera mengecek ponselnya, ia sampai menutup mulutnya karena terkejut,


"Tiga puluh tiga kali!" gumamnya lirih.


"Siapa na?"


"Aku harus segera belanja Zak, aku harus pulang lebih cepat!"


"Tapi kamu_!"


"Aku sudah baik-baik saja!" Asna pun segera turun dari tempat tidurnya, ia memakai kembali sepatunya dan menjinjing tas kecilnya.


"Baiklah, aku temani ya!"


Asna menoleh dan tersenyum. Mereka berjalan beriringan meninggalkan klinik yang sebelumnya berpamitan dengan dokter yang sedang jaga.


...****...


Di tempat lain, Gus Raka sudah hampir menyerah.


"Ya Allah Asna, kamu di mana? Aku harap kamu tidak pa pa!"


"Harus cari kemana lagi?"


Akhirnya ia melihat seorang scurity, "Mungkin scurity tahu!"


Gus Raka pun berlari menghampiri scurity itu dan menunjukkan foto Asna, scurity adalah orang yang berjaga. Kemungkinan besar untuk mengenal orang-orang yang masuk hari ini cukup besar.


"Ini ya? Kayaknya lihat tadi!"

__ADS_1


"Di mana mas?"


"Oh iya, tadi pingsan di depan, lalu salah satu rekan saya membawanya ke klinik!"


"Klinik, kliniknya di mana mas?"


"Ada di sebelah gedung ini!"


"Terimakasih ya mas!" Gus Raka pun segera berlari, ia benar-benar khawatir membayangkan istrinya yang sedang pingsan sendiri.


Gus Raka berlari menuju ke klinik, mungkin kalau di sekarang sedang berlari di lapangan, ikut lomba lari maraton , dia juaranya.


Untung saat ia masuk, dokter sedang berad di tempatnya.


"Maaf dok, saya mau tanya!" ucap Gus Raka dengan nafas yang tidak beraturan.


"Iya mas, ada apa ya?"


Gus Raka kembali menunjukkan foto Asna yang ada di ponselnya,


"Dok, tadi katanya dia pingsan dan di bawa ke sini! Di mana dia sekarang dok? Bagaimana keadaannya?"


"Maaf mas, dia baru saja keluar dengan teman laki-lakinya, sepertinya suaminya!"


"Suami?"


"Iya, mas yang ngantar ke sini!"


"Tapi saya suaminya!"


Dokter tiba-tiba terdiam, ia menyadari telah salah bicara.


"Terimakasih atas informasinya dok!"


"Siapa pria itu?"


Gus Raka berjalan kembali ke super market, kali ini dia tidak berlari, tangannya tanpa terasa mengepal.


"Jadi Asna pergi dengan seseorang! Pantas dia tidak mau aku antar!" sepertinya perasaan cemburunya sudah mengalahkan rasa khawatirnya yang tadi.


Hingga langkahnya terhenti saat manik matanya menemukan sosok yang sedang ia cari, Asna sedang menggandeng tangan seorang pria masuk ke toko yang tadi sudah ia ubek-ubek.


Dadanya bergemuruh saat menatap tangan yang saling bertaut itu,


"Dia pria yang kemarin!"


Dengan nafas yang sesak, Gus Raka kembali berjalan cepat menghampiri mereka.


"Dek!"


Asna yang mengenali suara itu tercekat dan menoleh ke sumber suara. Dengan cepat melepas tautan tangannya dengan Zaky.


Bukan tanpa sebab ia melakukan hal itu, ia hanya merasa aman saat menggandeng tangan Zaky.


"Mas Raka!?"


Zaky yang tidak tahu apa hubungan mereka, masih terlihat santai.


Gus Raka kembali berjalan menghampiri Asna dan menarik tangan Asna,


"Kita pulang!"

__ADS_1


"Tapi mas, aku belum belanja!"


"Sama dia!" Gus Raka menatap tajam pada Zaky. Untuk pertama kalinya Gus Raka benar-benar marah. Asna tidak berani membantah lagi, ia hanya berjalan mengikuti suaminya.


Gus Raka segera memakaikan helm untuk Asna, dan untuk dirinya sendiri. Sepanjang jalan ia terus diam membuat Asna semakin merasa bersalah.


Hingga mereka sampai di rumah pun, Gus Raka tetap diam dan melewati Asna begitu saja, ia langsung menuju ke kamar.


Asna benar-benar merasa bersalah saat ini, ia mengikuti Gus Raka ke kamar.


"Mas, tadi nggak seperti yang kamu lihat, Zaky nolong aku pas aku pingsan!"


Srekkk


Tiba-tiba Gus Raka menarik tubuh Asna dan menindihnya di tempat tidur,


"Mas, kamu mau apa?"


"Meminta hak ku!"


"Mas, aku belum siap!"


"Jadi kamu siapnya di pegang-pegang pria itu, atau kamu mau di cium pri itu!"


"Mas, kamu apa-apaan sih!"


Cup


Tiba-tiba Gus Raka menempelkan bibirnya di bibir Asna, ********** dengan begitu buas seakan ingin menghabiskan bibir itu. Asna terus meronta tapi tenaganya kalah kuat di banding suaminya.


"Astaghfirullah!" Gus Raka segera menjauhkan tubuhnya saat melihat air mata Asna, ia benar-benar tidak tahu kenapa ia sampai tidak bisa mengendalikan dirinya.


Asna terlihat menangis tanpa berani membuka matanya, apa yang di lakukan suaminya kembali mengingatkannya pada luka yang masih belum sembuh itu.


"Dek, maafkan mas! Sungguh aku tidak bermaksud melakukan itu!"


Asna bangun dan memeluk Gus Raka, membuat pria itu begitu terkejut di buatnya.


"Mas, aku takut! Jangan lakukan ini lagi!"


Gus Raka mengusap punggung Asna, rasa bersalahnya begitu besar, tapi rasa cemburu itu juga jauh lebih besar.


"Dek, dia tadi siapa?" tetap saja ia tidak bisa menahan keinginannya untuk tahu pria yang telah bersama istrinya dan berani menggengam tangan istrinya.


Asna mengusap air matanya dan melepaskan diri dari pelukannya.


"Mas, jawabannya masih sama seperti kemarin! Dia hanya rekan kerja ku di rumah sakit!"


"Tidak ada yang istimewa?"


Asna sebenarnya ingin mengatakan kalau Zaky adalah pria yang menaruh hati padanya, tapi melihat reaksi suaminya tadi sudah membuatnya takut.


"Iya mas, dia hanya teman!"


"Maaf ya mas tadi keterlaluan!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2