
Satu per satu jama'ah mulai meninggalkan masjid, beberapa juga memilih untuk berhenti di masjid untuk sekedar ngobrol sebelum akhirnya pergi.
Pemuda dengan songkok hitam yang melekat di kepalanya itu tampak masih duduk di teras masjid, matanya terus mengawasi pria yang sudah membesarkan dia selama ini, tampak pria paruh baya itu masih berbincang-bincang dengan beberapa orang yang mengerubunginya, sepertinya sedang membahas sesuatu.
Tidak berapa lama, satu persatu bapak-bapak yang mengerubungi pria paruh baya dengan serban yang mengalung di lehernya itu mulai berpamitan, pemuda yang masih setia menunggu di teras itu mulai tersenyum lega sekarang.
"Mari Gus!" bapak-bapak yang melewatinya menunduk hormat saat melintas di depannya.
"Monggo, Monggo ....!" pemuda itu pun menyambutnya dengan ramah dan tersenyum.
Sepertinya pria paruh baya itu menyadari jika putranya masih menunggu di luar, setelah semua yang mengelilinginya pergi pria itu pun akhirnya berdiri dan menghampiri putranya.
"Masih nungguin Abi, Ka?"
Pemuda yang di tanya itu pun mendongakkan kepalanya dan tersenyum, "Iya Abi, Raka sudah nggak sabar pengen denger hasil pertemuannya teman Abi!"
Pria dengan sorban yang melingkar di lehernya itu pun ikut duduk di depan putranya, mereka duduk bersila saling berhadapan.
"Sebenarnya ada hal penting yang ingin Abi bicarakan sama kamu, ini sangat sensitif!"
Gus Raka terlihat begitu cemas menunggu apa yang akan di katakan selanjutnya oleh sang Abi.
Ustadz Arif menoleh ke sekitar dan memastikan tidak ada orang di sekitar mereka hingga kecil kemungkinan ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Ustadz Arif pun menceritakan apa yang di katakan oleh sahabatnya tadi, mengatakan musibah apa yang baru saja menimpa putri sahabatnya itu.
Gus Raka malah tersenyum mendengarkan cerita abinya, sama sekali tidak ada wajah menyesal karena telah menjatuhkan pilihan pada gadis putri sahabat abinya.
"Sungguh Abi, Raka tidak mempermasalahkan hal itu! Raka ikhlas jika harus menerimanya dengan segala kekurangannya!"
"Apa kamu yakin?"
"Insyaallah Raka yakin jika Asna adalah gadis yang baik!"
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, Abi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu, tapi akan lebih baik jika kamu juga mengatakan hal ini pada umi, Abi hanya tidak mau suatu saat hal ini akan menjadi masalah!"
"Raka akan meyakinkan umi, seperti Raka meyakinkan Abi! Kapan rencananya Abi mau ke sana lagi?"
"Abi janji Minggu depan akan bertemu lagi!"
"Apa itu tidak terlalu lama Abi? Bagaimana kalau besok Abi?"
Ustadz Arif hanya bisa tersenyum melihat tekat putranya, bahkan kali ini lebih bersemangat di bandingkan dengan saat Gus Raka meminta ustadz Arif untuk mengantarkan lamarannya pada Nisa dulu.
"Kamu tidak ada maksud lain kan dalam hal ini?"
Gus Raka juga sama tersenyumnya, ia memang tidak punya perasaan apa-apa dengan gadis itu tapi hal malang yang menimpanya dan menimpa Asna mungkin adalah tanda isyarat jika memang mereka harus memulai semuanya dari awal dengan saling menguatkan.
"Insyaallah Raka mencari kebaikan atas apa yang Raka putuskan, semoga Allah dan Abi meridhoi apa yang Raka putuskan!"
"Baiklah jika tekat kamu sudah bulat, Abi akan menghubungi Tedi untuk bertemu lagi besok!"
"Terimakasih Abi!"
"Sudah ayo pulang, umi pasti sudah menunggu kita!" pria paruh baya itu pun segera berdiri dan di susul oleh putranya.
Mereka berjalan beriringan menuruni tangga dan berjalan menuju ke rumah sambil terus berbincang.
Ternyata benar, wanita dengan jilbab lebar itu sudah menunggu dua orang yang ia sayangi itu di teras depan.
"Assalamualaikum!" sapa mereka berdua sambil tersenyum menghampiri wanita itu. Senyum merekah juga keluar dari bibir wanita itu.
"Waalaikum salam! Kenapa baru pulang? Ada apa di masjid?"
"Tidak ada umi, hanya sedang ingin berdiam diri di masjid saja sebentar sama Abi, iya kan Abi?"
__ADS_1
Pria yang di tanya itu hanya tersenyum dan mengangguk, "Sudah masuk saja umi, sepertinya putra kamu itu ada yang mau di bicarakan!"
Wanita paruh baya dengan wajah bersih putih itu beralih menatap putranya,
"Di dalam umi!" sahut Raka dan mengulurkan tangannya meminta Abi dan uminya berjalan lebih dulu.
Abi dan umi Gus Raka pun berjalan beriringan memasuki rumah sedangkan Gus Raka mengikutinya di belakang.
...***...
Di rumah lain, terlihat pak Tedi terus saja merenung di teras samping rumahnya, biasanya ba'dha magrib seperti ini jika di rumah dia akan menghabiskan waktunya untuk berbincang dengan anak-anaknya atau hanya sekedar bermain kartu bersama kedua putranya.
"Pa, ada apa?" wanita yang sudah menikah dengannya dua puluh lima tahun dengannya itu sepertinya curiga dengan suaminya karena semenjak pulang dari bertemu ustadz Arif, suaminya itu berubah menjadi pendiam.
"Duduklah ma!" pria itu menepuk bangku kosong yang ada di sampingnya.
Wanita itu meletakkan cangkir yang sedari tadi ia pegang di atas meja dan duduk di bangku kosong yang di tunjuk suaminya.
"Ada apa pa? Apa ada masalah? Ustadz Arif mengatakan sesuatu? Apa tentang Asna?" sepertinya bu Ayu mulai menduga banyak hal.
"Iya ma, ....!" pak Tedi menceritakan semuanya tentang apa yang mereka bicarakan tadi dengan ustadz Arif.
"Lalu apa tanggapan papa?"
"Terpaksa papa menceritakan semua yang terjadi pada Asna, papa tidak mungkin menyembunyikan semuanya dari Arif, jika pun nanti benar-benar terjadi hubungan yang baik ini, papa ingin hubungan ini tidak di landasi dengan kebohongan!"
"Mama mengerti, mama juga setuju! Tapi sebelum itu Asna harus tahu semuanya, mama nggak mau Asna merasa jika kita tidak mengabaikan keinginannya!"
"Papa tahu, nanti mama ya yang cerita sama Asna!"
"Kok mama sih pa?"
"Papa nggak bisa ma, kan mama yang lebih dekat sama Asna, papa nggak sanggup jika lihat air mata Asna! Sudah cukup bagi papa luka yang orang-orang bejat itu berikan pada putri kita, papa nggak sanggup lagi jika ini melihat air mata Asna!"
"Memang papa pikir mama bisa!?"
"Baiklah, semoga nanti Asna setuju!"
"Tapi jangan bilang dulu, Arif belum hubungi papa lagi! Kita akan janji bertemu lagi nanti Minggu depan!"
Belum sampai mereka selesai berbincang tiba-tiba ponselnya berdering panjang, pasangan suami istri itu reflek melongokkan kepalanya ke ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Panjang umur ma, Arif telpon!"
"Angkat pa!"
Pria itu segera memberi isyarat pada istrinya untuk diam sejenak dan menggeser tombol hijaunya lalu menempelkannya ke daun telinga.
"Waalaikum salam! Ada apa Rif?"
".....!"
"Begitu ya! Kapan?"
"....!"
"Besok?"
".....!"
"Nggak ada sih, baiklah di tempat biasa kan?"
"....!"
"Baiklah, ba'dha dhuhur ya!"
__ADS_1
"......!"
"Waalaikum salam warahmatullahi wa barakhatu!"
Sambungan telpon pun terputus, pria itu kembali menghampiri istrinya yang tampak begitu penasaran dengan apa yang baru saja di bicarakan suaminya dengan sahabatnya.
"Bagaimana pa?"
"Arif minta ketemu besok!"
"Katanya Minggu depan? Kenapa cepat sekali? Atau jangan-jangan putranya menolak ya pa?"
"Nggak tahu ma, biar besok kita ketemu dulu, papa juga penasaran dengan keputusannya!"
"Semoga Asna mendapatkan yang terbaik!"
"Aminnn!"
Tanpa mereka sadari ternyata pembicaraan mereka di dengarkan oleh putra keduanya.
"Pa, ma ....!"
Mereka terlihat begitu terkejut, Aslan berdiri di ambang pintu memperhatikan mereka.
"Aslan!?"
Aslan pun berjalan mendekati kedua orang tuanya itu,
"Papa sama Mama mau jodohin kakak ya?"
"Duduk dulu nak, biar papa jelasin!"
Mama Ayu segera berdiri dan memberi tempat pada putranya itu,
"Nggak usah ma, mama duduk aja!"
Memang bangku di teras itu hanya ada dua dan Aslan memilih berdiri dari pada membiarkan mamanya yang berdiri.
"Baiklah, dengarkan cerita papa baik-baik ya, ...!" papa Tedi pun menceritakan semuanya pada putranya yang berusia delapan belas tahun itu, ia yakin putranya itu sudah tahu apa yang mereka alami selama ini.
"Apa tidak ada cara lain selain perjodohan pa?"
"Ini bukan perjodohan Lan, putra temannya papa meminta kak Asna untuk jadi istrinya, lagi pula Aslan kan juga sudah tahu sendiri kemari bagaimana etitut putra temennya papa, dia baik, sopan, pandai dan pastinya ilmu agamanya juga bagus, pasti bisa membimbing kak Asna menjadi manusia yang lebih baik!"
"Tapi kelihatannya kak Asna nggak begitu suka dengan pria itu pa, buktinya Kak Asna sampai sekarang masih berdiam diri di kamar setelah bertemu dengan temennya papa!"
"Kita tidak tahu sebelum kita bertanya sama yang bersangkutan nak, jangan suka memutuskan sesuatu tanpa bertanya pada orangnya!"
"Papa juga gitu buktinya itu tadi, papa mau memutuskan perjodohan kak Asna tanpa bertanya dulu sama kak Asna!"
"Bukan enggak Lan, ini papa masih membicarakan pada mama untuk mengatakan semuanya sama Asna!"
Papa Tedi harus super sabar, setiap anak pasti pernah mengalami fase ini, fase di mana ia selalu merasa benar dengan pendiriannya. Dan Aslan saat ini sedang berada di fase itu, Aslan adalah remaja yang sedang mencoba mencari jati diri, dimana dia akan membenarkan apa yang dia pikirkan.
Dan untuk menghadapi fase itu, orang tua tidak bisa berperan sebagai orang tua sepenuhnya, ia harus juga berperan sebagai teman agar anak-anak nyaman untuk bercerita atau mengutarakan pendapatnya.
Karena hanya dengan di dengar pendapat mereka, mereka akan merasa di anggap di dalam keluarga dan tidak mencari pembenaran di tempat lain.
Akhirnya setelah di beri pengertian oleh papa dan mamanya, Aslan pun mau mengerti dan tidak membicarakan hal ini dulu pada sang kakak.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...