
"Walaupun sudah di perbolehkan pulang, tetap ya pak belum boleh buka puasa dulu sampai kontrol pertama nanti bagaimana perkembangannya!"
"Kapan dok kotrolnya?"
"Tiga hari lagi!"
"Baik dok!"
Akhirnya setelah tiga hari di rumah sakit, Asna di perbolehkan pulang juga.
Raka juga sudah meminta salah satu karyawannya untuk menjemput dengan mobil. Ia sengaja melarang kedua orang tuanya dan mertuanya untuk ikut menjemput. Raka meminta mereka untuk menunggu di rumah saja.
"Mas gendong ya!"
"Nggak usah mas, Asna duduk di kursi roda aja!"
"Baiklah!" Raka pun mengambil kursi roda yang memang sudah di sediakan di sudut ruangan karena memang Asna tidak boleh terlalu banyak berjalan.
Raka pun menggendong Asna, memindahkannya dari tempat tidur ke kursi roda, karyawannya sudah menunggunya di depan dan membawakan tas besar baju ganti milik Raka dan Asna.
Hingga di depan rumah sakit, langkah mereka langsung terhenti saat melihat Leon berjalan menghampiri mereka.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam, kamu di sini?"
"Iya, ini jadwal Nisa dan anak-anak periksa kesehatan!"
Kemudian Leon beralih menatap Asna, "Asna, kalau Raka macam-macam pecat saja jadi suami!"
Plekkk
Hal itu langsung mendapat pukulan dari Raka, "Enak aja kalau ngomong!?"
"Issstttt! Sudah tahu istri hamil masih aja nggak tahu tempat!" ledek Leon membuat Raka seketika melirik pada karyawannya yang tiba-tiba pura-pura sibuk.
"Awas ya, nanti aku bikin perhitungan ya sama kamu!" Raka memilih tidak menanggapi ledekan saudara kembarnya dan memasukkan Asna ke dalam mobil.
Tapi saat Raka juga ingin masuk, Leon menepuk bahu Raka,
"Selamat ya ka, aku bahagia untukmu!" senyum manis yang di tunjukkan oleh Leon selalu berhasil meluluhkan hati Raka, ia benar-benar tidak bisa marah pada saudara kembarnya itu.
__ADS_1
Raka kembali keluar dan langsung memeluk saudaranya itu,
"Kita akan jadi keluarga besar setelah ini!"
Pertemuan yang awalnya di warnai dengan perdebatan itu berubah menjadi hari. Asna yang memperhatikan mereka dari dalam mobil, tidak bisa membendung air matanya, ia mengusap sudut matanya yang mulai berair.
Sungguh indah hubungan persaudaraan mereka, perdebatan hanyalah sebagai bumbu sebuah buhungan, dan selengkapnya hanya penuh dengan kasih sayang.
"Aku pulang dulu!" setelah sekian lama berpelukan akhirnya Raka berpamitan.
Leon melambaikan tangannya saat mobil yang di tumpangi Raka dan istrinya mulai melaju meninggalkan rumah sakit, terlihat Leon menyeka sudut matanya yang sedikit berair. Ia sudah bisa merasakan memiliki keluarga yang utuh sekarang, saudara -saudara yang menyayanginya, istri yang sangat ia cintai dan anak-anak yang menggemaskan.
"Ya Allah, nikmat mana lagi yang bisa saya dustakan, bahkan untuk pendosa seperti saya, Engkau begitu baik dengan menghadirkan orang-orang baik di sekeliling saya!"
...***...
Sesampai di rumah, kedatangan mereka langsung di sambut kedua orang tua Asna, sedangkan Abi dan umi kebetulan masih ada acara di luar kota hingga ia berencana akan datang esok hari. Di sana juga sudah ada mbak Rumi, begitu tahu Asna akan pulang dari rumah sakit, mbak Rumi bergegas ke rumah Asna dan Raka untuk menyambut kedatangan mereka. Selama Asna di rumah sakit, mbak Rumi juga masih datang untuk membersihkan rumah itu sehingga tidak terlihat kotor meski di tinggal tiga hari.
"Ya Allah mbak Asna, selamat ya mbak atas kehamilannya!" mbak Rumi segera memberi selamat pada Asna.
"Terimakasih ya mbak!"
"Tadi mbak juga sudah masak buat mas Raka sama mbak Asna! Sengaja mbak buat beda karena yang punya mbak Asna nggak terlalu pedas!"
"Mbak Asna sama mas Raka juga baik sama saya, jadi sudah sepantasnya jika saya membalas kebaikan mbak Asna sama mas Raka!"
Setelah puas berbincang dengan Asna, mbak Rumi pun pamit ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Mama Ayu terlihat sibuk mengeluarkan barang-barang Asna dari tas besar itu sedangkan papa Tedi memilih mengobrol dengan Raka di ruang keluarga, mbak Rumi segera membuatkan minum untuk mereka dan tidak lupa membuatkan camilan dan mengeluarkan beberapa makanan ringan, buat jaga-jaga jika tetangga datang untuk menjenguk juga, karena mereka bukan tinggal di kota, gotong royong antar warna masih sangat kental.
Dan benar saja, belum satu jam Asan di rumah, beberapa tetangga sudah datang untuk menjenguk dan menanyakan kabar Asna. Begitu banyak buah tangan yang mereka bawa, apa lagi Raka yang statusnya adalah seorang ustadz di pesantren membuatnya sangat di hormati.
Sore hari, gantian beberapa pengurus pesantren yang datang, awalnya mama Ayu dan papa Tedi ingin segera pulang tapi tidak jadi karena kasihan jika meninggalkan Asna dan Raka sendiri sedangkan masih begitu banyak tamu yang datang.
"Papa sama Mama tidur di sini saja ya! Ini sudah sangat malam!" pinta Raka yang tidak tega membiarkan mertuanya untuk pulang malam-malam seperti ini. Apalagi mengendarai motor, angin malam sangat tidak baik untuk usia-usia mereka.
"Kalau mama terserah papa, gimana pa?"
"Ya nggak pa pa sih, Mama temenin Asna di dalam biar papa tidur di depan tv sama Raka! Tapi jangan lupa hubungi anak-anak buat kunci pintu ya dari dalam ya, besok sepulang sekolah suruh langsung ke sini saja!"
"Iya pa!"
__ADS_1
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menginap, lagi pula mereka juga tidak tega meninggalkan putrinya sendiri saat sedang sakit seperti ini.
...****...
"Ya Allah ma, jangan repot-repot begini ma, Raka bisa order makanan!" Raka merasa sungkan saat pulang dari masjid sudah melihat mama mertuanya sibuk di dapur.
"Nggak pa pa ka, mama sudah biasa seperti ini kalau di rumah!" Mama Ayu tidak melihat siapapun di belakang menantunya, padahal tadi suaminya pergi dengan sang menantu, "Papa kamu di mana Ka?"
"Oh papa, tadi ketemu sama tetangga depan rumah trus lanjut ngobrol ma!"
"Kebiasaan papa kamu tuh!"
"Kalau gitu Raka lihat Asna dulu ya ma, siapa tahu butuh bantuan!"
"Iya sama, tadi mama bangun belum bangun dianya, siapa tahu butuh bantuan ke kamar mandi!"
"Iya ma! Mama juga nggak usah capek-capek!"
"Iya! Sudah sana, jangan ganggu mama masak!"
Raka pun segera masuk ke kamarnya setelah diusir mama mertuanya.
"Assalamualaikum, sayang! Sudah bangun?"
"Waalaikum salam mas, Asna mau ke kamar mandi mas, bisa bantu nggak?"
Tanpa menjawab, Raka langsung mengangkat tubuh Asna dan membopongnya ke kamar mandi, ia mendudukkan Asna di atas closed duduk.
"Mas keluar dulu, aku mau buang air!"
"Biar mas temenin ya!"
"Nggak bisa keluar mas, nanti kalau Asna selesai panggil lagi mas, janji!"
"Baiklah!" walaupun sedikit berat, akhirnya Raka bersedia keluar dan menunggu di depan pintu kamar mandi.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...