
...Jangan memaksakan menjadi orang baik di depan orang lain, karena sebaik apapun kita kalau dia membenci kita tetap saja buruk di matanya, berusahalah jadi baik di mata Allah, karena Allah tahu kita sudah berusaha...
...🌺Selamat membaca🌺...
“Hahhh …!”
Nisa baru sadar jika kateter yang
melekat di tubuh Leon sudah di lepas sedari tadi pagi semenjak dia sadar dan di pastikan kalau semuanya baik-baik saja dan hanya ada luka luar yang tidak begitu
bermasalah kalau dia bergerak.
“Trus gimana dong?”
“Gimana sih, kamu yang perawat
kenapa tanya sama pasiennya sih!”
“Ya aku kan cewek, masak nemenin
cowok ke kamar mandi sih!”
“Nggak sampek dalam, Cuma sampek di depan pintu saja!”
‘Astagfirullah, kenapa jadi o’on sih
aku …!’ batin Nisa mengutuki kebodohannya sendiri.
Nisa pun bergegas mengambil kantong infus yang menggantung di tiangnya dan membantu Leon untuk menurunkan kakinya,
“Gimana, buat turun sakit nggak?”
“Sedikit, tapi tidak pa pa!”
“Kalau sakit, mending aku ambilkan
pistol saja ke sini ya!”
“Nggak usah, aku mau sekalian cuci
muka!”
“Yakin? Kamu baru sadar pagi ini
loh?”
“Aku tidak selemah itu!”
“Aku tahu!” ucap Nisa lirih sambil
membantu Leon memakaikan sendalnya,
“Tidak usah menuntunku, cukup bantu bawakan ini saja!” ucap Leon saat Nisa ingin memegangi Leon tapi terlihat ragu.
Leon pun berjalan dengan berpegangan pada dinding dan tidak mengijinkan Nisa untuk menyentuhnya karena dia tahu Nisa
pasti seperti Aisyah.
“Kalau untuk merawat pasien tidak pa
pa aku kontak langsung dengan lawan jenis, karena itu tugasku!” ucap Nisa saat Leon sudah hampir mencapai pintu kamar mandi, ia melihat pria itu terlihat sangat kesusahan dan juga menahan sakit.
Leon menghentikan langkahnya,
sedikit terkejut saat tangan Nisa memegang lengannya, memapahnya hingga ke dalam kamar mandi. Nisa juga menggantung kembali kantong infus leon di tiang yang ada di dalam kamar mandi.
Semenjak kejadian itu, Leon jadi
tidak segan lagi untuk meminta bantuan pada Nisa, memang di beberapa hal Leon tidak meminta bantuan Nisa. Gadis yang membuatnya terkesan di hari pertama mereka bertemu.
***
Satu minggu sudah Leon berada di
__ADS_1
rumah sakit semenjak sadar, bi merry hanya sesekali menengok dan membawakan keperluan Leon itupun tidak lama karena ia harus segera kembali ke rumah Alex.
Nisa, gadis itu hanya terus
mengamati Leon jika Leon tidak meminta bantuan padanya, dan di beberapa waktu dia akan membantu dokter untuk mengganti perban Leon.
Nisa sering menyibukkan diri dengan
ponselnya, tapi bukan untuk bermain game, ia mencatat setiap apa yang di katakan dan di lakukan Leon. Entah kenapa dia begitu penasaran dengan kehidupan Leon, menurutnya kehidupan leon cukup berbeda dengan kehidupannya.
Apalagi beberapa kali pria yang
bernama Leon itu kedatangan tamu dengan pakaian rapi dan dengan beberapa berkas yang harus dia
tanda tangani.
“Apa kamu tidak ingin pulang?”
Lagi-lagi pertanyaan Leon
membuyarkan imajinasi Nisa, ia segera menutup aplikasi wordnya dan berjalan mendekati Leon.
“Ada apa? Apa ada yang bisa saya
bantu?”
“Jika kamu tidak keberatan, tolong
antarkan ini ke rumah binaan yang ada di daerah xxx!”
“Hahhh, ke tempat siapa?”
“Namanya Alex, Kevin Alexander! Kalau dia menanyakan saya tolong bilang kalau saya baik-baik saja dan akan segera menemuinya satu minggu lagi!”
“Baiklah!”
“kamu juga boleh pulang satu hari
“Kamu tidak pa pa aku tinggal?”
“Ada bi Merry yang akan menjagaku,
sebentar lagi dia datang!”
Setelah memastikan jika tidak akan
terjadi sesuatu pada Leon, Nisa pun memutuskan untuk pergi.
Tapi kali ini dia harus melepas jas
perawatnya karena memang Leon tidak mengijinkannya terlihat seperti perawat.
Nisa memesan taksi on line seperti
biasanya, ia menunjukkan alamat yang di tunjukkan oleh Leon. Memeng cukup jauh dari tempatnya sekarang, butuh waktu dua jam untuk sampai.
Saat ini masih jam sepuluh jadi
mungkin pas dhuhur dia sampai.
Dan benar saja, azan dhuhur
berkumandang tepat saat ia turun dari taksi, ia meminta sopir taksi untuk menunggunya saja. Gamis panjang berwarna marun itu terlihat berkibar saat Nisa menyusuri tempat binaan untuk mencari masjid atau mushola terdekat hingga ia
bertemu dengan seorang polisi.
“Maaf pak, saya mau tanya!”
“Iya silahkan!”
“Mushola atau masjidnya di mana ya
pak? Saya mau numpang sholat dhuhur!”
__ADS_1
“Silahkan mbak lurus saja dari sini,
nanti belok kanan mentok, ada pohon beringin besar dan masjidnya bereda di sebelah
kanan!”
“Terimakasih pak atas informasinya!”
“Sama-sama!”
Nisa pun mengikuti petunjuk pak
polisi itu dengan memeluk tas besar berisi beberapa berkas yang harus di
tujukan pada orang yang tepat.
Hingga akhirnya langkahnya terhenti
tepat di bawah pohon beringin besar, ia menatap ke depan dan pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, puluhan nara pidana berbondong-bondong menuju
ke masjid dengan pakaian rapi dan sarung. Beberapa nara pidana wanita juga terlihat segar dengan mukena yang di selempangkan di lengan bawahnya.
“Dunia ini ternyata begitu luas,
hingga aku tidak mampu mengabsen satu per satu keindahan yang telah allah berikan! Masyaallah …!”
Rasa kagumnya pada beberapa segi
kehidupan membuatnya tertarik untuk mengabadikan dalam bentuk tulisan.
Masih suara azan, ada waktu lima
belas menit untuk puji-pujian dan iqamah. Nisa pun memanfaatkan kesempatan itu untuk membuka aplikasi work dan menuliskan apa yang ia lihat dan rasakan saat
ini, suasananya, tempatnya dan kejadiannya, semuanya ia catat tanpa tertinggal.
Setelah menyelesaikan tulisannya
yang hanya satu paragraf, Nisa segera bergabung dengan orang-orang itu. yang sebelumnya ia pikir berurusan dengan narapidana adalah hal yang sangat menyeramkan, tiba-tiba ia berubah haluan. Mereka sangat ramah, menyapanya dan mengajaknya
bersalaman seusai sholat,, wajahnya juga tidak segarang sebelumnya dan itu yang membuat Nisa cukup nyaman.
Bahkan dari beberapa orang yang di
tanyai oleh Nisa, beberapa dari mereka terpaksa melakukan tindakan kriminal karena ekonomi dan ada juga karena suaminya bertindak tidak adil padanya hingga ia menghilangkan nyawa suaminya.
Kenyataan yang sangat miris, tidak
semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan di dunia ini. Banyak dari kita
yang tidak menyadari bahwa mungkin Allah sedang menguji kita dan menaikkan derajat kita, tapi kita terlanjur su’uzhon sama Allah hingga melakukan hal-hal yang di benci sama Allah.
Nisa mengakhiri obrolannya dengan
orang-orang baru itu, karena ia ke tempat itu bukan untuk mengobrol. Ia punya tugas yang lebih penting.
Nisa pun keluar dari masjid, duduk
di tepi teras dan memakai kembali sepatunya. Matanya tidak bisa berbohong, rasa ingin tahunya begitu tinggi hingga ia menemukan sosok yang berbeda dari yang lainnya, pria dengan baju koko sedang duduk di teras yang sejajar dengannya. Dia
tampak lebih bersaing dari yang lainnya, kemeja yang di kenakan saat ini, walaupun ia tidak tahu banyak merk baju mahal, tapi merk yang di kenakan oleh pria itu sama persis seperti merk baju yang sering di pakai kakaknya, sama persis. Pasti bukan narapidana biasa, pikir Nisa.
Bersambung
...Allah sayang sama kita dengan menguji kita dengan berbagai kesulitan, agar nanti kita bisa menjadi manusia yang lebih tinggi di mata-Nya...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak ya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1