
Aisyah menyimpan semua barang pemberian dari gus fahmi kecuali buku itu, ia membaca
buku itu setiap ada waktu luang, ia mendapatkan banyak pelajaran dari buku itu.
Siang ini menjadi titik ia harus segera mengambil keputusan, sudah tiga hari yang
lalu dan ia harus menjawabnya.
Sebelumnya, ia sempat ke pesantren untuk menemui Nyai Sarah. Ia sengaja menemui beliau untuk menanyakan tentang keputusannya.
“Ada apa nak, kenapa?” tanya Nyai Sarah dengan lembut.
“Ummi…, apa ummi tahu jika kemarin pak Kyai datang ke rumah untuk mengkhitbah ku?”
“Ummi tahu, nak…, ada apa? Jika kamu tidak yakin, kamu bisa menolaknya!”
“Apa tidak pa pa?”
“Jika kamu tidak yakin dan ada yang membuatmu berat, maka sholat lah istiqarah meminta petunjuk pada Allah, biarkan Allah yang akan menuntunmu!”
“Terimakasih ummi atas nasehatnya!”
“Semoga kamu terus bahagia nak, restu ummi selalu menyertai segala keputusan yang akan
kamu ambil!”
"Ucapan umi sudah membuat hati Aisyah tenang!"
"Ingat nak, jika jodoh yang Allah berikan tidak dekat dengan-Nya! Itu berarti Allah ingin kamu yang menjembatani agar dia mengenal Allah!"
"Jadi umi tahu?"
"Umi hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, semoga ini menjadi ladang amal untukmu, tetaplah sabar dan ikhlas maka Allah akan memudahkan setiap langkahmu!"
***
Setelah mendapatkan nasehat dari Nyai Sarah, Aisyah menjadi sedikit lebih tenang. Ia
melakukan seperti yang di minta Nyai sarah, ia melakukan sholat istikharah memohon
petunjuk pada Allah.
Dan dari beberapa kali ia melakukan sholat istikharah, Allah mengirimkan jawaban yang sama, tapi entah kenapa jawaban itu membuatnya merasa berat.
"Ya Allah aku pasrah atas semua keputusan-Mu ya Allah, jika ini yang terbaik untukku, maka hamba akan mencoba untuk ikhlas!" Aisyah mengakhiri doanya, ada wajah Nino di setiap doanya. Ia tidak mungkin bahagia di atas penderitaan adiknya, jika kesembuhan itu bisa di usahakan, maka Aisyah berusaha keras untuk menempuhnya walaupun akan sangat berat nanti.
__ADS_1
***
Siang ini Aisyah sudah bersiap untuk menemui seseorang, ia memakai baju yang biasa ia pakai dengan hijab yang tidak terlalu panjang dan baju berwarna merah jambu, begitu pas di tubuh Aisyah, walaupun longgar tapi tidak menutupi pesona seorang Aisyah, lembut dan berkarakter.
Bu Santi sudah duduk di depan tv menatap Aisyah dengan penuh harap. Ia membuatkan TV itu menyala tapi tak ada keinginan untuk menontonnya, seperti nya perasaan bu Santi sama gundahnya dengan Aisyah.
"Bu ....., Aisyah berangkat dulu ya!" ucap Aisyah sambil mencium tangan ibunya.
“Nak…, ibu hanya berharap kamu bisa mengambil keputusan dengan bijak, pikirkan
adikmu, dia akan bisa hidup normal setelah ini!”
“Aisyah tahu bu, doakan Aisyah ya bu! Semoga keputusan yang Aisyah ambil adalah keputusan terbaik!”
“Pasti! iya nak, cepatlah berangkat! Ibu tahu kamu sudah dewasa untuk bisa mengambil
keputusan yang tepat!”
Aisyah pun berdiri dari duduknya, ia segera mengambil tas dan map itu. Ia membenahi
gamisnya.
“Assalamualaikum, bu!”
“waalaikum salam!”
ingin menghentikan waktu saat itu juga agar tidak ada keputusan yang memberatkan baginya.
Seandainya ia bisa memilih menjadi anak kecil saja yang hanya bisa bermain dan menangis karena mainan ia akan memilih untuk tetap
menjadi kecil.
Ternyata menjadi dewasa itu berat, ia harus pura-pura tertawa walaupun hatinya menangis,
ia harus terbiasa dengan kata biarlah, ya sudahlah, dan tidak pa pa…
Kejadian besar selalu bisa membuat orang cepat dewasa. Mereka tidak bisa menghindar, tidak bisa melawan.
Mereka hanya bisa memeluk semua kesedihan, memeluknya erat-erat. Begitulah saat
ini yang harus di lakukan oleh aisyah, ia harus berdamai dengan kesedihan dan
merelakan.
Langkah Aisyah terhenti di ujung
__ADS_1
taman itu, ia menatap luasnya taman yang telah membuatnya merasa sesak itu. Ia
menghembuskan nafasnya kasar seperti sedang berusaha untuk mengeluarkan semua
masalah yang ada dalam hidupnya.
Matanya menatap sosok yang sedang
berdiri membelakanginya, ia berdiri dengan begitu angkuhnya, walaupun tak
melihat wajahnya, ia bisa mengenali jika dialah orang yang sedang ia cari saat
ini.
Aisyah mulai melangkahkan
kakinya, begitu pelan hingga rumput pun tak mampu bergoyang karena terpaan
kakinya, langkahnya yang ragu. Hingga langkahnya terhenti tepat di belakang
pria itu.
“Assalamualaikum tuan Alex!” sapa
Aisyah, pria angguk itu segera menoleh pada sumber suara, ia melepas kaca mata
hitam yang menutupi kedua matanya dan menggenggamnya.
“Aku kira tidak akan datang!”
ucap Alex dengan senyum sarkasnya.
“saya pasti datang!”
“baguslah …!”
Mereka saling diam sesaat, Aisyah
melangkah kakinya kembali hingga mereka berdiri berjejer, walaupun sebenarnya
aisyah begitu gugup menghadapi pria arrogant itu tapi tidak boleh mundur.
“Bagaimana?’ tanya Alex pada Aisyah.
. Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰😘😘