Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (70)


__ADS_3

Asna memilih duduk di kursi panjang berbahan besi itu, terlihat sekali saat ini sia sedang was was.


Hingga beberapa menit kemudian seorang perawat keluar, tampak ia mengedarkan pandangannya pada seluruh keluarga.


"Bagaimana sus?" tanya ustadz Arif.


"Siapa di sini yang saudara kembarnya?" sepertinya perawat sedikit kebingungan karena tidak menemukan sosok wajah yang sama dengan pasien yang ada di dalam, hanya mirip dan itu belum tentu saudara kembar. Bisa adik atau kakak.


"Saya!" Leon segera maju menghampiri perawat.


"Pasien ingin bertemu dengan anda!"


"Baik, mari!" Leon pun ikut masuk dengan perawat.


Asna terdiam di tempatnya, sebenarnya ada rasa senang sekaligus rasa sedih karena saat suaminya bangun bukan dirinya yang di ingat dan ingin di temuinya pertama kali.


Leon berjalan cepat menghampiri ranjang Raka, dan benar saja ia mendapati Raka yang sudah bangun, matanya benar-benar terbuka.


Dokter tetap memantau perkembangan pasien ya sedangkan perawat memilih mundur untuk memberi tempat pada Leon.


"Hai ka, bagaimana kabar kamu?"


"Leon!"


"Kamu mengingat namaku?"


"Iya, aku masih mengingat nama kamu!"


"Apa lagi yang kamu ingat!"


"Kamu sudah menikah!"


"Lalu kamu?"


"Jangan memancingku dengan bertanya seperti itu!" suara Raka masih terlihat lemah meskipun nadanya ingin berdebat.


"Maksudnya?"


"Aku ikhlas Nisa jadi istri kamu, jadi jangan mengungkitnya lagi!"


"Ka, lalu Asna?"


"Asna_?" Raka tampak berpikir keras untuk mengingatnya. Nama itu begitu tidak asing di ingatannya tapi ia tidak bisa mengingat siapa pemilik nama itu.


"Iya Asna? Apa kamu lupa? Abi sama umi? Apa kamu juga lupa?"


"Tidak aku tidak lupa, Abi sama umi begitu baik padaku!"


"Lalu Asna!"


Raka terdiam, tidak berapa lama ia kembali menatap Leon, "Dia sahabatnya Nisa!"


"Hanya itu?"


Raka menganggukkan kepalanya yang masih tertahan oleh beberapa alat yang masih menempel pada kepalanya.


Leon pun menatap dokter satu per satu, dokter meminta Leon untuk menanyai Raka hingga tahu di mana ia kehilangan memorinya.


"Kamu ingat aku punya anak kembar?"

__ADS_1


"Kamu jangan becanda, kamu baru menikah beberapa bulan lalu, bagaimana bisa punya anak kembar!"


"Minggu?"


Aku sudah menikah hampir tiga tahun, bagiamana beberapa bulan saja?


"Apa kamu tahu kalau kakek sudah meninggal?"


"Jangan mengada-ada Lee, baru beberapa hari lalu kita bertemu dengannya di Bali!"


"Jadi setelah itu, kita ke mana?"


"Kita?"


"Iya, apa yang kita lakukan setelah dari Bali?"


"Aku tahu kalau kamu saudara kembar ku ya telah hilang!"


"Setelah itu?"


Raka tampak kembali memegangi kepalanya, sepertinya setelahnya ingatannya kabur. Ia tidak mengingat kembali.


"Maaf, sebaiknya tidak terlalu memaksakan untuk mengingat! Saya perlu bicara dengan anda untuk memastikan keadaan pasien!" dokter memperingatkan Leon untuk ikut bersamanya.


Setelah dokter dan Leon keluar, Asna dan kedua orang tua Raka pun bergantian masuk.


Saat ini Leon sudah berada di ruangan dokter.


"Apa ini artinya saudara saya mengalami amnesia sebagian?"


"Jika melihat bagaimana ia lupa dengan sebagian memorinya, ada sesuatu yang membuatnya ingin sekali melupakan kejadian itu. Apa sebelumnya pernah ada kejadian yang menakutkan dalam hidupnya?"


"Ada, sekitar dua tahun lalu, kami hampir saja mati karena di serang saat di Bali!"


"Termasuk istri dan anaknya?"


"Kemungkinan seperti itu, tapi jika perkiraan saya benar, amnesia ini tidak akan lama, asal pasien bisa berdamai dengan kejadian masa lalunya, ingatannya akan kembali pulih!"


"Kalau tidak?"


"Dia akan terus mengulang kejadian masalalu dan kembali berhenti di kejadian menakutkan itu!"


Mendengar keterangan itu, Leon jadi tahu betapa tertekannya saat itu saudara kembarnya.


Ada rasa senang saat mengetahui jika Raka bisa sembuh tapi juga ada rasa takut jika Raka sampai tidak ingin mengingat kembali kejadian itu.


Sekeluarnya dari ruangan dokter, Leon tidak lantas langsung ke ruangan saudaranya, ia memilih untuk menyendiri di balkon rumah sakit, ia sedang ingin menenangkan diri.


...***...


Di ruangan Raka.


Raka langsung tersenyum saat umi, Abi dan Asna masuk.


"Nak bagaimana keadaanmu?" umi langsung mengusap kepala putranya itu.


"Alhamdulillah Raka baik umi! Umi sama Abi baik kan?"


"Baik nak!"

__ADS_1


Lagi dan lagi, Asna sama sekali tidak di sapa oleh Raka. Ia seperti melihat orang asing yang bersama kedua orang tuanya, hanya senyum yang di berikan oleh Raka.


"Nak, kamu ingat ini siapa?" umi Nazwa langsung menarik lengan Asna Agara posisinya lebih dekat.


"Hai Asna, apa kabar?" sapaan seperti orang asing, bukan dek lagi.


"Asna baik mas!" Asna berusaha untuk tersenyum lebih lebar agar ia tetap terlihat baik-baik saja.


"Kamu tidak ingat Asna ini siapa?"


"Ingat umi, dia sahabatnya Nisa!"


"Hanya itu?"


Raka kembali terdiam, ia memang merasa bukan hanya itu tapi ia tidak tahu apa.


"Nggak pa pa umi!" Asna segera memegang tangan ibu mertuanya dan seolah mengatakan dia tidak pa pa.


"Asna ke kamar mandi dulu, umi!"


Setelah berpamitan, Asna pun segera berlari menuju ke toilet wanita, ia segera menumpahkan air matanyanya di sana.


"Bagaimana bisa mas, saat kamu bangun kamu bahkan melupakan aku!"


"Aku benar-benar sakit mas, sakit banget!"


Air mata Asna seolah tidak bisa di bendung lagi, bahkan saat ini dadanya sedang memburu, begitu sesak. Ingin marah tapi marah sama siapa. Ia lupa saat berdoa, ia hanya ingin melihat suaminya bangun tapi ia lupa tidak meminta suaminya mengingatnya.


"Ya Allah jika aku meminta, apa aku harus meminta lebih spesifik lagi?"


Setelah puas menangis di toilet, Asna pun segera membersihkan wajahnya agar kembali terlihat segar. Ia tidak mau semua orang tahu kalau dia baru saja menangis.


Setelah sedikit lebih segar dengan polesan make up tipis, Asna kembali bergabung dengan keluarga, ternyata di sana sudah ada apa dan mamanya.


Sama-sama ia bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa menantu bahkan tidak bisa mengingat kami?" papa Tedi tampak emosi sekarang.


"Sebenarnya ingatan Raka berhenti di dua tahun lalu, pak!"


"Maksudnya dia hilang ingatan?"


"Iya, tapi syukur ini hanya sementara!"


"Itu artinya dia juga tidak mengingat Asna sebagai istrinya?"


"Tidak!"


Papa Tedi begitu terluka, hingga ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi tunggu dan memegangi kepalanya yang mulai nyeri. Asna berjalan cepat menghampiri orang tuanya.


"Papa, Asna sungguh tidak pa pa! Mas Raka sadar saja sudah anugrah terbesar bagi Asna! Asal Asna bisa lebih sabar lagi, aku yakin mas Raka akan segera mengingat Asna!"


Bersambung


...Selamat hari raya idul Fitri, minal aidzin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2