
Dua malaikat kecil itu terlihat begitu bahagia saat mendapati orang baru di rumahnya.
"Ya Allah, aunty Nisa kapan ke sininya, kok tiba-tiba di sini?" kiandra yang baru melihat Nisa di dapur begitu kegirangan.
"Semalam, aunty mau bangunin Kia nggak enak, kasihan soalnya malam-malam, tadi malam tiba-tiba dedek bayinya pengen makan buah kedondong jadi om Raka antar aunty ke sini!"
"Om Raka ke sini juga?" wajah Kia bertambah sumringah mendengar Raka juga ikut bersama Nisa.
"Iya, itu di teras sama papa Kia!"
"Kia ke sana dulu ya, aunty!" gadis itu pun segera melambaikan tangannya dan berlari menuju ke teras belakang.
Pembicaraan serius dua pria dewasa itu terpaksa terhenti karena kedatangan Kia.
"Om Raka!"
Pria yang di panggil Raka itu segera menoleh dan tersenyum pada Kia.
"Hai Kia, sudah bangun ya? Sini, om Raka kangen nih!"
Kia berjalan mendekat, tapi wajahnya tampak mengamati pria yang akrab di panggil om Raka itu.
"Om Raka beda ya?"
"Benarkah?"
Alex yang melihat putrinya berkata demikian ikut tersenyum,
Ternyata putriku sama pekanya denganku ....
"Om Raka nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Kia lagi, ia seolah menanyakan orang lain pada pria yang berada di depannya.
Leon pun mengerutkan keningnya dan menoleh pada Alex yang sedari tadi tetap tersenyum.
"Memang om Raka kenapa?"
"Ya nggak pa pa! Ya udah, Kia mandi dulu ya om, pa!"
Kia yang curiga memilih pergi begitu saja dari pada menanyakan hal aneh lainnya.Walaupun begitu, tetap saja ia terus berpikir sepanjang menuju ke kamar.
"Apa iya itu tadi om Raka? Kayaknya bukan!" gumamnya sambil berjalan hingga ia tidak menyadari di depannya ada sang mama.
"Kia! Mama kok di tabrak sih?!" protes Aisyah.
"Maaf ma, tadi Kia sedang nggak fokus!"
Aisyah pun segera berjongkok mensejajarkan dengan kiandra.
"Memang putri mama lagi mikirin apa sih?"
"Jodoh Kia kayaknya berubah deh, ma!"
Aisyah mengerutkan keningnya, putri kecilnya yang masih berusia tujuh tahun tiba-tiba membahas tentang jodoh.
"Memang siapa jodoh Kia?"
__ADS_1
"Om Raka!" ucapnya dengan polos, "Tapi sekarang nggak deh ma, om Raka udah sama kayak om Leon, nggak asik!"
Lagi-lagi Aisyah di buat tercengang dengan ucapan putrinya.
"Udah ah Ma, Kia mau mandi!" Gadis kecil itu segera lari ke kamarnya dan meninggalkan Aisyah dengan rasa bingung.
Aisyah pun kembali berdiri dan menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak merasa curiga dengan Gus Raka yang sekarang karena secara wajah memang begitu mirip, atau lebih tepatnya sama.
Aisyah kembali melanjutkan langkahnya, ia menuju ke dapur untuk menghampiri Nisa. Ia sudah melarang Nisa untuk melakukan apapun tadi, tapi Nisa begitu keras kepala.
"Sudah kamu istirahat aja, duduk biar mbak yang siapkan semuanya!"
"Nggak ah mbak, badan Nisa pegal-pegal suruh diam terus, nggak di rumah nggak di sini bawaannya suruh diam aja!"
"Mbak nggak tega liat perut kamu Segede itu!"
"Mbak ih, selalu gitu!" Nisa merasa begitu dekat dengan Nisa, bahkan dia tidak sedekat ini pada kakak perempuannya yang nomor satu. Saat kakak perempuannya menikah, ia masih kecil jadi mereka tidak terlalu dekat.
Aisyah hanya tersenyum, lalu berlalu meninggalkan Nisa. Ia kembali mengambil beberapa baskom lagi berisi makanan.
Pagi ini mereka sarapan bersama untuk pertama kalinya, walaupun Leon masih menyamar menjadi Gus Raka, itu tidak mengurangi rasa bahagianya.
Walaupun juga setelah ini akan ada badai yang akan menggoyahkan akar kuat mereka agar mereka semakin kuat lagi mencengkeram tanah.
"Arsy sama Kia berangkat sekolahnya sama om Raka aja ya! Biar papa di rumah temenin mama!" Leon sudah siap di samping mobil.
"Sama aunty Nisa juga?" Arsy tampak tersenyum senang saat Leon mengatakan hal itu.
"Iya, nanti aunty Nisa sekalian pergi ke tempat kerja!"
"Ya sudah, pamit sama papa sama Mama dulu!"
Kia dan Arsy pun kembali menghampiri Alex dan Aisyah untuk berpamitan begitu juga dengan Leon dan Nisa.
Mobil yang mereka tumpangi sudah melaju meninggalkan rumah Alex dan Aisyah. Arsy dan Kian duduk di belakang bersama dengan Nisa sedangkan Leon duduk di samping pengawal yang sengaja menjadi sopir mereka.
Hingga mereka sampai juga di depan sekolah Arsy dan Kia,
"Nisa, kamu ke rumah sakit sama sopir nggak pa pa ya? Atau kamu ikut aku aja di sini jagain Kia sama Arsy untuk sementara waktu?, soalnya aku nggak tega juga biarin kamu pergi sendiri!"
Leon jelas tidak bisa tenang jika membiarkan Nisa berangkat sendiri ke rumah sakit walau ada pengawal juga.
"Kebetulan aku shif nya agak siangan, jadi nggak pa pa deh mas, aku berangkatnya nanti aja, aku di sini sama kamu!"
Leon bisa bernafas lega sekarang, Kia yang sudah faham dengan pembicaraan mereka jadi ikut penasaran.
"Om sama aunty nungguin Kia sama Arsy sampai pulang sekolah?"
Leon segera menganggukkan kepalanya,
"Kenapa? Biasanya mama nggak nungguin Kia sama Arsy?" tampak wajah Kia begitu cemas.
"Nggak pa pa, kalau Kia sama Arsy nggak nyaman, om akan awasi dari jauh!"
"Ya udah nggak pa pa, tapi jangan bilang ke temen-temen Kia kalau om kenal sama Kia ya om!"
__ADS_1
"Insyaallah!"
"Kok insyaallah?"
"Karena yang pasti itu hanya milik Allah sayang!" Leon mencubit hidung Kia gemas.
Arsy dan Kia pun segera masuk ke sekolah, ternyata di belakang mereka ada satu mobil lagi, beberapa pengawal juga di tempatkan di setiap sudut sekolah dengan penampilan yang orang biasa yang tidak mencurigakan. Ada yang berpakaian satpam, tukang kebun, guru olah raga, guru biasa, tukang bersih-bersih dan sebelum itu Leon lebih dulu meminta ijin pada pihak sekolah.
Mereka berpencar di posisi masing-masing, Leon mengajak Nisa duduk di warung yang ada di depan sekolah.
"Apa kamu ingin sesuatu?" tanya sang suami yang masih menyamar menjadi kakak ipar.
"Aku minum aja deh mas!"
Leon segera mengabulkan air minum kemasan dan menyerahkannya pada Nisa.
"Ada yang mau lagi?"
"Ini dulu, nanti kalau aku butuh lagi, aku kasih tahu deh mas!"
Leon tersenyum tanpa berani menyentuh Nisa karena mereka sedang berada di tempat umum.
"Tahu nggak kenapa singa jantan begitu takut dengan betinanya ?" pria itu berbicara tanpa berani mendekat pada wanita hamil yang berstatus istrinya itu.
"Kenapa?" Nisa mengerutkan keningnya.
"Karena Seekor singa betina memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang disangka singa itu." ucap Leon sambil tersenyum, "Terutama singa yang ini! Dia mungkin berani melawan musuh sehebat apapun, tapi dia akan tunduk pada betinanya!"
Untung penjual mengijinkan mereka duduk di sana, Leon terus memantau anak buahnya dari ponsel yang saling terhubung itu, memastikan jika semuanya aman.
Hingga saat jam istirahat barulah Leon mendapat pesan dari salah satu anak buahnya jika di belakang ada yang mencurigakan.
"Kita masuk dulu ya, ada yang mencurigakan di dalam!"
"Nisa di sini aja mas, nanti Nisa malah memperlambat mas Leon apalagi dengan perut Nisa yang besar begini, di sini ada bapaknya juga!" Nisa menunjuk pada pria penjual di balik meja mereka duduk, "Nisa insyaallah aman di sini!"
Walaupun ragu, tapi akhirnya Leon beranjak juga, "Pak minta tolong jagain istri saya ya!"
Leon berpikir berbicara seperti itu karena pak penjual jelas tidak tahu latar belakang mereka.
"Iya mas!"
Leon pun berjalan cepat ke gerbang sekolah, ia masuk ke dalam sekolah untuk melihat hal yang mencurigakan itu.
Tepat di gerbang belakang, anak buah Leon melihat ada sebuah mobil yang sedari tadi mengintai sekolah, tapi kaca mobil itu tidak pernah sekalipun turun dan semenjak mobil itu berhenti, tidak ada satupun orang yang keluar dari dalam mobil itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1