Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Mulai Menggoda


__ADS_3

Setelah mendapat beberapa wejangan dari Umi Sarah, Bianka pun di ajaknya ke pesantren putri untuk di kenalkan dengan beberapa teman mengajinya.


Umi Sarah mengantar Bianka ke pesantren khusus putri dan menunjukkan kamar untuknya di bantu salah satu santri yang di tunjuk sebagai ketua santri.


"Mari umi saya antar!"


"Terimakasih ya, Imah ....!"


Ketua santri itu namanya Fatimah, biasa di panggil Imah, sejenis dnegan ketua OSIS di sekolah. Tugas Imah dan beberapa teman pengurusnya bertugas memfasilitasi santri-santri yang lain mengenai banyak hal termasuk pendalaman pelajaran, pendisiplinan dan mengatur beberapa jadwal yang biasa mereka diskusikan dengan pengurus pesantren seperti ustad dan ustadzah atau pak Kyai.


"Kamar yang masih bisa di isi satu anak lagi masih ada kan, Imah?"


"Masih ada umi, kebetulan satu kamar dengan saya, umi!"


"Alhamdulillah kalau begitu, berarti kamu nanti bisa membantu Bianka untuk mendalami ilmu agama!"


"Insyaallah umi! Mari masuk umi, Bia!" ajak Imah dengan tubuh menunduk di depan umi Sarah tanpa berani menegakkan kepalanya.


Mereka masuk ke dalam kamar yang luasnya hanya sekitar tiga kali empat meter, dan biasanya satu kamar di


tempati tiga sampai empat santri dengan ranjang susun.


"Bagaimana Bia? Apa suka dengan kamarnya?"


"Alhamdulillah, senang umi! Bia pasti betah di sini apalagi punya teman seperti mbak Imah ini!"


"Syukurlah ...., umi ikut senang!"


“terimakasih umi, umi sama pak Kyai sudah baik banget sama Bia, Bia nggak tahu harus balas kebaikan umi sama pak Kyai pakek apa!”


“Umi senang bisa membantumu, kalau mau balas pakek belajar yang rajin ilmu agamanya!”


"Insya Allah umi!"


Semenjak itu bianka menjadi sangat rajin menuntut ilmu agama, ia bukannya tidak mengenal agama, hanya saja ia selama ini begitu takut saat keberadaannya tidak di hargai


oleh orang lain dan di pesantren ini ia bisa di hargai.


***


Di tempat lain, Alex sedang asik menatap wajah Aisyah yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya yang sudah menumpuk gara-gara ia banyak ijin.


"Mas Alex kenapa menatap Aisyah nya kayak gitu? Emang ada yang aneh ya sama wajah Aisyah?" tanya Aisyah sambil sibuk memegangi wajahnya.


"Mau tahu apa yang aneh?" tanya Alex balik dan Aisyah pun mengangguk.


"Jangan terlalu serius seperti itu, jika seperti itu kau benar-benar membuatku takut!" ucap Alex sambil kembali menatap Aisyah dengan nada seriusnya.


"Benarkah ....? Jangan menakuti ku!" Aisyah jadi merinding sendiri dengan ucapan suaminya itu. Ia segera menutup laptopnya dan berlari naik ke atas tempat tidur di samping Alex.


"Mas ...., apa kamar ini ada penghuninya?" tanya Aisyah dengan wajah ketakutan.


"Iya ....!" ucap Alex dengan sedikit berbisik, "Wanita berambut panjang dan suka mengganggu para pria dewasa!"

__ADS_1


"Mas Alex jangan menakut-nakutiku ya!"


"Kurang kerjaan banget menakut-nakuti kamu, Ya udah aku mau tidur!"


Alex pun segera meletakkan ponselnya dan mematikan lampu kamarnya Menganti dengan lampu tidur. Tangan dan kakinya masih terlalu sakit untuk di gerakkan, ia harus pelan-pelan jika bergerak.


Melihat Alex sudah memejamkan matanya, Aisyah pun segera mengatur posisi dengan tidur membelakangi suaminya itu.


Hehhhh


Alex menghela nafas panjang saat melihat Aisyah membelakanginya, kemudian sebuah ide muncul di benaknya untuk mengerjai istrinya itu.


Pleeeekkkk


Dengan sengaja Alex meletakkan tangannya di atas pinggang Aisyah, Aisyah yang terkejut segera membalik badannya hingga lengan itu berpindah ke atas perutnya.


"Mas ....., apa-apaan ini?" tanya Aisyah tanpa berani memindahkan tangan itu. Ia hanya berani menunjuknya. Lengan itu berada persis di atas piama nya.


"Tanganku sakit kalau nggak ada sandarannya, jadi biarkan seperti ini saja! Kalau begini lebih nyaman!" ucap Alex tanpa membuka matanya.


Mendengar alasan Alex yang seperti itu, Aisyah tidak bisa protes. Ia membiarkan tangan itu tetap berada di tempatnya.


Aisyah menjadi tidak bisa memejamkan matanya lagi setelah itu. Ia jadi terpikirkan dengan kata-kata Alex sebelum kecelakaan itu, kata-kata yang ia tanyakan di pesta itu.


"Mas!" panggil Aisyah, tapi Alex masih tidak menjawabnya.


"Mas Alex sudah tidur ya?" Tanya Aisyah lagi, "Beneran sudah tidur ya, ya udah selamat tidur mas Alex!"


"Hemmmmm!"


Aisyah yang hampir memejamkan matanya kembali menoleh padanya dan memastikan jika pria itu belum tidur.


"Jadi mas Alex belum tidur?"


"Hemmmm ....!"


"Males banget jawabnya!" keluh Aisyah.


"Apa?" kali ini gantian Alex yang bertanya tapi tetap dengan mata tertutupnya.


"Mas Alex ingat di pesta itu?"


"Hemmm!"


"Mas Alex saat itu tanya sesuatu! Bisa nggak ulang pertanyaannya?"


Pertanyaan Aisyah berhasil membuat Alex kembali membuka matanya dan menatap Aisyah.


"Nggak usah di pikirin! Itu kita bicarakan besok saja, tidurlah!" ucap Alex sambil mengeratkan tangannya di perut Aisyah membuat Aisyah terkejut. Tiba-tiba saja seperti ada aliran listrik dengan tegangan tinggi mengalir ke seluruh tubuhnya.


"Mas ...., longgarin dong tangannya!" pinta Aisyah tapi bukannya melonggarkan tangannya, Alex malah menimpakan kakinya yang sakit di atas lutut Aisyah hingga Aisyah kesulitan untuk bergerak.


"Mas ....., aku nggak bisa gerak!" protes Aisyah.

__ADS_1


"Siapa suruh kamu bergerak, diam dan tidurlah atau aku akan menimpakan tubuhku di atas tanah tubuhmu!"


Dan ancaman dari Alex itu berhasil membuat Aisyah tidak berani bergerak lagi. Hingga mereka sama-sama tertidur dalam posisi berpelukan.


***


Pagi ini seperti biasanya, walaupun masih belum sembuh betul, Alex tetap mengantar Aisyah ke kampus. Ia tidak mau kejadian beberapa hari lalu akan menimpa Aisyah.


"Assalamualaikum mas, aku berangkat dulu ya!" ucap Aisyah sebelum turun.


"Waalaikum salam, Ay!"


Dan seperti biasa, Alex akan tetap menatap Aisyah hingga istri kecilnya itu menghilang di balik kampus.


Aisyah segera menuju ke kelasnya, ia harus menyelesaikan tugasnya yang belum selesai gara-gara suaminya.


“Assalamualaikum, Ay!” sapa seseorang membuat Aisyah menghentikan sejenak kesibukannya dan mendongakkan kepalanya.


“Waalaikum salam! Bi .....!" Aisyah menjawab salamnya dengan terpaku saat melihat penampilan baru dari sahabatnya itu, "Bi ...., bagaimana bisa?"


"Panjang Ay ceritanya!"


Bianka pun segera menceritakan semuanya pada Aisyah tanpa melewatkan satu hal pun termasuk pertemuannya beberapa kali dengan Gus Fahmi.


"Alhamdulillah, bi! Aku ikut senang!"


"Jadi kamu nggak marah sama aku? Maksudnya nggak cemburu dengan gus Fahmi!"


"Enggak Bi, aku justru senang, setidaknya jika bukan aku maka sahabat aku yang akan menjadi bagian dari doanya!"


"Makasih ya, Ay! Aku beruntung sekali punya sahabat sebaik kamu!"


"Sama aku juga! Gimana? Kamu betah kan di pesantren!”


“Alhamdulillah, aku betah! Terimakasih ya Ay, sekarang aku bisa tahu bagaimana rasanya di


hargai, bagaimana melakukan sesuatu karena Allah!”


“Alhamdulillah, aku ikut senang kalau


begitu!”


Kali ini Bianka terlihat lebih sopan,


bukan karena ingin di puji atau ingin di anggap oleh orang lain tapi karena ia tahu bagaimana cara menghargai dirinya sendiri.


Hargai diri sendiri sebelum menghargai orang lain, kenali diri sendiri sebelum mengenal orang lain dan cintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain~ MAvsMS


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2