Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Periksa kehamilan)


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, mereka pun kembali lagi ke rumah sakit, Nisa dan Asna akhirnya berpisah. Asna harus kembali bekerja sedangkan Nisa bersama Gus Raka akan menuju ke ruang pemeriksaan kandungan yang ada di ruang obgyn atau SpOG itu.


Mereka menemui dokter kandungan, jadwal Nisa sudah ditentukan semenjak perta kali Nisa melakukan pemeriksaan kehamilan. Mulai dari tanggal dan jam yang sama setiap bulannya kecuali jika Nisa menunda atau mengubah jadwalnya menjadi lebih cepat atau lebih lambat.


Mereka pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan, awalnya Nisa keberatan saat Gus Raka ikut masuk bersamanya,


"Mas Raka sampai sini aja ya mas, biar Nisa sendiri yang masuk!"


"Sekali saja, boleh ya aku temenin kamu! Tidak pa pa kalau tidak ikut melihat, aku hanya akan mendengarkan keterangan dokter saja." wajah Gus Raka tampak memohon, hingga akhirnya seorang perawat memanggil nama Nisa.


"Suaminya di ajak masuk saja bunda Nisa!"


"Tapi dia_!"


"Kasihan suaminya kalau nggak boleh lihat anaknya!"


"Baiklah, mas Raka boleh masuk!"


Gus Raka menghela nafas lega, akhirnya Nisa memperbolehkannya masuk juga.


Selama ini Nisa memang tidak pernah bercerita kepada teman-temannya jika sang suami sudah meninggal kecuali pada Asna, dan Asna pun tidak mau membicarakan hal itu pada temannya yang lain karena menghormati Nisa sebagai teman baiknya.


Kedatangan mereka langsung disambut oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi (yang biasa disingkat obgyn atau SpOG) yang memiliki tak nama di mejanya dokter Sumiati dokter Sumiati Sp.OG pun mempersilahkan Nisa dan Gus Raka untuk duduk.


"Silahkan duduk bunda Nisa! Jadi ini suaminya?"


Karena Nisa hanya diam, Gus Raka pun membantu menjawab,


"Iya dok saya suaminya, perkenalkan saya Leon!"


"Pak Leon, lain kali bunda Nisa nya di antar lagi ya kalau periksa, kehadiran suami itu sangat mempengaruhi psikis ibu hamil!"


"Iya dok, akan saya usahakan!"


"Sibuk boleh pak Leon, tapi istri sama anak tetap nomor satu ya!"


"Iya dok!"


Nisa hanya bisa menatap Gus Raka saat dokter memarahinya,


Apakah kamu benar mas Raka? Atau kamu sebenarnya mas Leon?


"Bagaimana bunda Nisa, ada keluhan?" dokter Sumiati beralih bertanya pada Nisa.

__ADS_1


"Tidak pa pa dok, hanya saja akhir-akhir ini sering sekali menendang!"


"Seharusnya bunda Nisa ini sudah ambil cuti loh, kalau bunda Nisa hamil satu anak nggak pa pa masih sambil kerja, ini bunda hamilnya anak kembali, ukurannya juga jauh lebih besar dari kalau kita hamil satu anak!"


"Nanti akan saya pikirkan dok!"


"Pak Leon, mulai nanti malam sudah bisa ini membujuk istrinya agar istirahat saja di rumah!"


Gus Raka menatap Nisa, begitupun dengan Nisa. Gus Raka seperti mengatakan jika menurutlah sama dokter!


"Ya sudah, sekarang sudah siap pemeriksaan?"


"Siap dok!"


Dokter pun meminta Nisa untuk merebahkan diri di di ranjang pasien, seperti biasa ia akan melakukan melakukan pemeriksaan luar seperti memeriksa tekanan darah, dan detak jantung bayi, setelah itu dokter juga melakukan USG untuk bayinya.


Gus Raka duduk di depan layar monitor dan melihat penampakan bayi kembar yang ada di dalam perut Nisa, melihat perkembangan bayi yang ada di dalam perut Nisa, tanpa terasa air mata Gus Raka menetes saat mendengarkan detak jantung kedua bayi Nisa, melihat kedua bayi mungil dalam perut Nisa.


Kenapa mas Raka menangis seolah-olah bayi yang ada dalam kandunganku adalah bayi ya juga? Apa benar apa yang aku pikirkan?


Bahkan suara tangisnya saat ini bisa di dengar oleh Nisa dan dokter Sumiati,


"Jangan menangis pak Leon, bayi kalian keduanya sehat dan insya Allah bisa lahir dengan norma!"


"Saat ini usia kandungan Nissa masih 28 minggu masih ada 8 atau 9 minggu lagi untuk menunggu saat bunda Nisa melahirkan!"


Nisa pun sudah selesai melakukan pemeriksan, mereka sudah kembali duduk di tempatnya tadi.


"Setelah ini jadwal periksa jadi dua Minggu sekali ya bunda Nisa, nanti kalau sudah menginjak sembilan bulan jadi satu Minggu sekali!"


"Iya dok!"


"Pak Leon harus menemani bunda Nisa ya saat pemeriksaan!"


"Iya dok, akan saya usahakan!"


"Baiklah, ini resep vitamin dan tambah darah yang harus di minum bunda Nisa ya, pak Leon bisa menebusnya di apotik rumah sakit!"


"Baik dok, kalau begitu kami permisi dok!"


"Iya silahkan!"


Setalah berpamitan mereka pun keluar dari ruang pemeriksaan, mereka menyusuri lorong menuju ke apotek rumah sakit.

__ADS_1


"Nisa, kamu duduk dulu ya, biar aku tebus vitaminnya!" Gus Raka meminta Nisa untuk duduk di kursi tunggu yang panjang yang ada di depan loket obat.


Nisa hanya menganggukkan kepalanya, pikirannya sekarang sedang melayang memikirkan kemunkinan jika orang di depannya itu bukan Gus Raka tapi suaminya.


"Sudah, ayo pulang!" Gus Raka sudah kembali menghampiri Nisa, Nisa hari ini memang tidak lagi melanjutkan pekerjaannya, hari ini Nisa memang sengaja izin hanya untuk setengah hari kerja.


Setelah periksa kandungan Nisa ingin berkunjung ke rumah orang tuanya .


Gus Rafa sudah menyetujui permintaan Nisa untuk berkunjung ke rumah orang tuanya, memang semenjak Gus Raka datang ruang gerak Nisa sangat di batasi.


Nisa hanya boleh pergi jika di antar dan di jemput Gus Raka dan selebihnya tidak.


Sepanjang perjalanan Gus Raka terus menanyai Nisa perihal apa yang diinginkan oleh wanita hamil itu, setahu dirinya jika seorang wanita yang hamil itu akan menginginkan banyak hal tetapi selama ini, saat mereka berdekatan Nisa tidak pernah meminta apapun pada Gus Raka.


"Mintalah sesuatu, aku akan berusaha untuk mencarikannya untukmu!"


"Tidak mas, Nisa nggak ingin apa-apa!"


"Kenapa tidak menginginkan apapun dariku?"


"Karena mas Raka bukan suami Nisa yang harus Nisa mintai sesuatu!"


Perih rasanya saat mendengar Nisa mengatakan hal itu padanya.


Sebenarnya Nisa mulai merasakan keraguan dalam dirinya jika orang yang ada di sampingnya saat ini benar-benar Gus Raka atau suaminya.


Lalu Kenapa jika dia suaminya, kenapa harus menyembunyikan identitas asli dari dirinya? Ingin rasanya bertanya seperti itu tapi bibirnya terasa kelu untuk menanyakannya.


Hatinya belum siap jika ternyata apa yang ia pikirkan itu salah menerima orang yang disayangi telah benar-benar pergi membuatnya sakit.


Mereka hanya saling diam hingga mobil mereka sampai di depan rumah mertua Leon, orang tua kandung Nisa. Kedatangan mereka langsung disambut oleh ibu Nisa.


Mama Nisa memeluk sang Putri dengan begitu erat seakan-akan mereka sudah begitu lama tidak saling bertemu.


Mama Nisa juga mempersilahkan Gus Raka untuk masuk di dalam, ternyata di dalam sudah ada papa Nisa, hari ini sengaja Papa Nisa tidak berangkat kerja karena memang mendapat kabar dari putrinya jika akan datang.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2