
Leon segera melajukan mobilnya, ia segera menuju ke toko buku milik Gus Raka. Ia melepas semua pekerjaan yang biasa di lakoni.oleh Gus Raka bukan tanpa sebab.
Ia tidak bisa berperan sebagai Gus Raka seratus persen, ia bukan lulusan S3 seperti Gus Raka, ia juga tidak punya jiwa dakwah atau jiwa menjadi guru. Apabila ia tetap memaksakan untuk menjadi dosen atau pengajar pondok pesantren, sudah pasti hanya satu hari saja jati dirinya akan terbongkar.
Ia memang handal dalam berbisnis tapi tidak pandai dalam mengajar, ia hanya lulusan S1, itu pun ia tempuh hanya dengan setengah hati saja. Ia melakoni kuliahnya hanya demi Oma Widya.
Sesampai di toko, ia sengaja tidak berkeinginan untuk ke perusahaan Extensio karena ia sudah mendapatkan banyak bukti dari sana, ia juga sudah mendapatkan beberapa rekaman cctv, dan rekaman suara juga, menemukan orang-orang yang terdaftar sebagai pelaku dalam kecurangan proyek yang sedang mereka perebutkan. Ia juga sudah mendapat informasi jika mereka akan melakukan penyerangan atas keluarga Alex.
Kedatangannya langsung di sambut oleh orang-orangnya yang menyamar menjadi orang biasa.
"Masuk saja!"
Orang-orang itu segera mengikuti Leon di belakangnya, kedatangan mereka cukup membuat bingung orang-orang yang bekerja di toko itu.
Kebetulan Leon berjalan di jajaran paling belakang hingga orang yang biasa di beri kepercayaan di toko itu menghentikan langkah Leon.
"Mas Raka!"
Leon yang sudah akrab dengan sapaan itu pun segera mengentikan langkahnya dan meminta orang-orang itu untuk masuk ke ruangannya lebih dulu.
"Iya?"
"Mereka siapa mas?"
"Mereka teman-teman saya, maaf ya menggangu kenyamanan kalian, Kalian kerja saja seperti biasa, anggap mereka tidak ada!"
"Baik mas!"
"Ya sudah aku susul mereka dulu!"
Leon pun segera meninggalkan karyawannya dan menghampiri orang-orangnya.
Di dalam mereka tampak begitu serius menyusun rencana, hingga jam makan siang tiba mereka baru keluar dari ruangan itu.
"Bos nggak ikut makan siang sekalin?" tanya salah satu dari mereka.
"Nggak usah kalian saja, jangan lupa besok harus tepat waktu!"
"Siap bos!"
Orang-orang itu benar-benar meninggalkan Leon yang masih berdiri di tempatnya, para karyawan merasa aneh dengan cara mereka berkomunikasi. Selama mereka bekerja dengan Gus Raka, mereka tidak pernah mendapati teman-teman Gus Raka yang seperti itu. Kalaupun ada yang datang biasanya teman dosen atau teman sesama anak pak kyai, atau beberapa pengusaha yang ingin menanamkan modal di tokonya. Tapi yang ini jelas berbeda dari biasanya, tingkah bosnya itu juga nampak bernada walaupun wajahnya sama.
"Mas Raka nggak ke mana-mana setelah ini?" tanya karyawan yang kelihatannya dulu begitu akrab dengan Gus Raka.
"Ada, tapi bukan sekarang! Aku sudah pesankan makanan untuk kalian juga, jadi tunggu sebentar ya setelah ini kita makan bersama!"
Ada rona bahagia dari semua karyawan toko itu,
"Siap bos!"
Dan tidak berapa lama, makanan yang di bicarakan Leon datang juga. Leon sengaja menolak ajakan anak buahnya untuk makan siang bersama karena ia ingin makan siang dengan karyawan toko milik saudara kembarnya itu.
"Lama ya kita nggak makan kayak gini sama mas Raka!" Leon hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan karyawannya itu. Ia baru tahu jika sebelumnya Gus Raka juga sering mengajaknya makan siang seperti ini.
"Iya, mas Raka sibuk banget sekarang! Ada proyek baru ya sekarang mas?" tanya salah satu karyawannya yang lain.
"Ya begitulah!" Leon hanya bisa menjawab asal, ia tidak mungkin menceritakan semuanya pada mereka.
__ADS_1
Ini untuk pertama kalinya ia bisa berbicara akrab dengan karyawan tokonya setelah ia berperan menjadi Gus Raka.
"Padahal kata adik saya, mas Raka sudah tidak mengajar lagi ya mas di kampus? Banyak yang merindukan mas Raka katanya, salah satunya adik saya!" ucap gadis bertubuh tambun itu sambil memasukkan makanannya ke dalam mulut hingga membuat suaranya tidak begitu jelas.
"Kalau ngomong di telan dulu makanannya, kan nggak jelas jadinya!" keluh pria yang usianya tidak jauh beda dengan Leon.
"Ya maaf, soalnya lapar sekaligus penasaran!"
"Ada-ada aja, kalau lapar ya lapar aja! Nggak usah penasaran!"
"Sewot amet sih!"
"Sudah-sudah jangan ribut, nanti kalian juga tahu alasannya!" Leon menengahi perdebatan mereka, "Ayo di habiskan, masih ada sisa itu boleh nanti kalau mau nambah, kalau nggak mau kasih sama tukang parkir di depan ya!"
"Siap bos!"
Mereka kembali tertawa dan mulai membicarakan hal-hal yang menurut mereka menarik dan sesekali tertawa karena lelucon salah satu dari mereka.
Semoga aku akan tetap menjadi bagian dari kalian walaupun mungkin hanya sebentar ...
***
Di tempat lain, dua wanita juga sedang menikmati makan siangnya. Nisa boleh makan siang tapi hanya di kantin rumah sakit itu pun harus ada yang menemani.
Nisa hanya bisa di temani Asna atau kedua kakaknya dan kali ini yang menemaninya adalah Asna.
"Na, aku ke toilet dulu ya, biasa kalau hamil besar bentar-bentar minta buang air kecil!"
"Aku temenin ya?"
"Baiklah!"
"Ponselnya aku tinggal ya, nanti kalau mas Raka telpon bilang aja aku ke toilet!"
"Mas Raka memang the best deh pokoknya, istri adik aja di jagain segitunya apalagi istri sendiri! Jadi pengen jadi istrinya mas Raka!"
"Jangan ngayal deh!"
"Nggak ngayal, Nisa! Ini do'a!"
Nisa hanya menyebirkan bibirnya dan meninggalkan Asna menuju ke toilet.
Benar saja, baru saja Nisa masuk toilet ponsel Nisa berdering.
"Yah panjang umur banget nih orang, baru juga di bicarakan udah nongol aja!" karena sudah mendapat ijin dari Nisa, Asna pun mengangkat telpon itu.
"Assalamualaikum Nisa!"
"Waalaikum salam, mas Raka! Maaf ini Asna!"
"Asna, Nisa kemana?" terdengar di seberang sana khawatir.
"Nisa ke toilet mas, jaraknya nggak jauh kok dari Asna, jadi di jamin aman!"
"Kalau lima menit nggak kembali, tolong di cek ya!"
"Iya mas!"
__ADS_1
Setelah mengusap salam kembali, Leon menutup sambungan telponnya.
"Kakak ipar yang posesif!" gumam Asna, ia tidak langsung meletakkan ponselnya, ia memilih wallpaper yang menghiasi layar ponsel Nisa.
"Ini suami Nisa! Tapi kenapa ada yang aneh ya??" gumam Asna lagi.
Ia pun segera mengambil ponselnya, seingatnya kemarin ia sempat memotret Gus Raka dari dekat.
Ia memperhatikan dua layar ponsel di tangannya dengan dua foto yang berbeda dan orang yang berbeda.
"Ada beberapa bagian yang sama ya!" gumamnya lagi.
Dorrrrrrr
Asna begitu terkejut saat Nisa mengejutkannya dari belakang hingga membuat kedua ponsel di tangannya terjatuh ke meja.
"Ya Allah Nisa, jantung aku cuma satu! Kalau sampai copot nggak akan ada gantinya!"
Nisa pun kembali duduk di tempatnya dan masih tersenyum,
"Kamu sih, serius amet! Ada apa sih?"
Asna masih kesal dengan sahabatnya itu, ia kembali mengambil ponselnya dan juga ponsel Nisa,
"Kenapa pegang ponsel aku?" protes Nisa.
"Tadi kakak ipar kamu yang posesif telpon, ya aku angkat kan kamu yang nyuruh!"
"Trus kenapa sekarang masih di ambil ponsel aku?"
"Lihat deh wallpaper kamu, itu suami kamu kan?"
Nisa menganggukkan kepalanya, "Ada apa?"
"Keramik diam-diam aku sempat fotoin mas Raka, dan lihat!" Asna kembali mensejajarkan ponsel mereka dan di layar ponselnya ada Gus Raka yang sekarang dan di ponsel Nisa ada foto Leon.
"Ada apa?" Nisa masih bingung dengan maksud Asna.
"Perhatikan baik-baik deh, ada yang aneh! Mata mereka begitu saja, senyumnya juga sama!"
Nisa pun tertarik untuk memperhatikan dengan seksama dan memang benar bentuk gigi dan mata dua foto itu sama.
"Mereka memang kembar Asna, jadi wajar dong kalau memang mereka sama!"
"Tapi kamu ingat nggak, kamu pernah ngomong kan sama aku kalau yang membedakan mereka itu, mata dan bentuk gigi!?"
Nisa kembali mengingatnya tapi sepertinya begitu sulit.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1