
...Bahkan dia bisa memikirkan orang lain yang bahkan orang lain mungkin tidak pernah pikirkan. ~Nisa...
...🌺Selamat membaca🌺...
Kini Nisa dan Leon sudah siap untuk berangkat, terlihat sebuah koper ukuran sedang di tarik oleh Leon dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang tangan sang istri.
Kaca mata hitam bertengger di panggul hidungnya, mereka sedang berjalan menuju ke tempat antrian penumpang.
Seorang penjaga segera menghentikan mereka untuk melihat surat dan tiket yang mereka bawa. Ini pengalaman pertama Nisa naik pesawat, sebelumnya ia tidak pernah berani untuk naik. Tapi kali ini beda, ada sang suami yang siap menjaganya.
Setelah ada aba-aba dari petugas bandara, mereka pun segera masuk ke pesawat, Nisa memilih untuk duduk di dekat jendela agar bisa melihat langit tapi terlihat sekali tangannya tidak pernah lepas dari genggaman sang suami.
"Mas!" panggilan Nisa berhasil membuat Leon menoleh pada Nisa, ia mengusap kepala Nisa dengan sebelah tangannya.
"Hmmm?"
"Aku mau tidur aja, jangan bangunin aku sampai pesawatnya turun ya mas!" ternyata pilihan untuk melihat awan masih kurang tepat untuknya, hanya membayangkan saja sudah cukup membuatnya pusing. Apalagi saat ia ia sedang haid membuat moodnya naik turun tidak stabil. Ia tidak mau sampai membuat suaminya kesal karena menangis saking takutnya.
Srekkkk
Leon seperti paham dengan apa yang di rasakan sang istri, ia pun menarik kepala Nisa dan membawanya ke atas bahunya, tangan kirinya terus mengusap kepala istrinya agar sang istri lebih tenang.
Hingga sang co-pilot memberikan pengumuman jika perawat akan segera terbang. Pramugari pun memberi arahan agar para penumpang mengencangkan tali pengamannya. Leon bisa merasakan jika genggaman tangan sang istri kini semakin kencang hingga sedikit berkeringat.
"Tenanglah, ada aku!" Leon mengusap punggung tangan Nisa dengan jari jempolnya.
"Aku tahu, semua pasti baik-baik saja!" walaupun dengan mata terpejam, Nisa berusaha untuk tetap bersikap baik-baik saja.
Hingga ia merasakan sedikit getaran pada pesawat dan terdengar mesin pesawat mulai berbunyi. Geteraan itu semakin lama semakin menghilang begitu juga dengan suara mesinnya. Nisa mulai membuka matanya perlahan agar bisa melihat apa yang terjadi.
Srekkkkk
Tiba-tiba Nisa bangun dari bahu suaminya, matanya begitu berbinar saat melihat luar melalui jendela kecil pesawat,
"Kamu nggak pa pa?" Leon begitu terkejut, ia begitu khawatir tadi.
Nisa tersenyum dan menoleh ke arah sang suami, "Mas, mas lihat nggak, itu indah banget!"
Hehhhh
Akhirnya Leon bisa bernafas lega, ia ikut tersenyum melihat tingkah sang istri.
"Iya!"
Sepanjang di pesawat, Nisa terus saja mengoceh sana sini, membicarakan ini itu dan Leon hanya tersenyum melihat senyum di wajah sang istri.
Bahagia itu sederhana ya, hanya dengan melihatnya tertawa, banyak bicara, sesekali merengek membuatku istimewa, membuatku merasa di inginkan olehnya ...
__ADS_1
Leon menggelengkan kepalanya tak percaya, Nisa yang ia kenal sekarang lebih terbuka dalam segala hal, Nisa yang ceria dengan cerewetnya dan segala yang ia inginkan, ia impikan.
Hingga akhirnya pesawat mereka mendarat juga di bandar udara Ngurah Rai Bali. Saat mereka turun, kedatangannya langsung di sambut oleh mobil resort tempat mereka akan menginap.
"Dengan mas Leon dan mbak Nisa?" tanya pria dengan berpakaian khas Bali, baju putih dengan sarung pendek motif hitam putih dan juga pengikat kelapa lengkap dengan bunga Kamboja yang di sisipkan di atas daun telinga. Logatnya juga terdengar berbeda, ada penekanan pada pengucapan huruf T, sepertinya pria itu memang orang Bali asli.
"Iya!" Leon sudah memakai kembali kaca matanya, Nisa dengan gamis panjangnya masih bisa serasi dengan penampilan sang suami yang super rapi.
kayak gini deh kira-kira penampilan mereka, si Nisa yang kadang cerewet juga manja dan si Leon yang murah senyum tapi sedikit naif dan kadang bisa menjadi bodoh di beberapa hal.
Pria berpakaian khas Bali itu membukakan pintu untuk Leon dan Nisa,
"Saya di minta atasan saya untuk memastikan mas Leon dan mbak Nisa sampai di resort dengan selamat, silahkan!"
Leon pun mempersilahkan Nisa masuk lebih dulu, dan setelah memastikan jika Nisa benar-benar masuk, Leon bergantian masuk. Ia duduk di samping Nisa dengan koper yang sudah di taruh di bagasi belakang oleh pria itu.
"Ada jemputannya juga ya mas?" Nisa benar-benar di buat surprize dengan penyambutan yang ia peroleh.
"Ini pasti ulah mas Alex dan mbak Aisyah!"
"Kalau udah pulang berarti kita harus berterimakasih sama mereka mas!"
"Iya kamu benar!"
Mobil pun sudah mulai berjalan meninggalkan lapangan bandar udara, di sela percakapan mereka pria yang mengemudikan mobil mereka pun akhirnya bertanya.
Leon pun menoleh ke arah Nisa, ia tidak keberatan jika istrinya ingin mengunjungi suatu tempat terlebih dulu sebelum ke resort tempat mereka menginap, lagi pula ini juga hampir tiba waktu dhuhur. Mungkin makan siang dan sholat dulu juga lebih bagus.
"Mas Leon kepikirannya sama kayak aku nggak?"
Mana aku tahu? Leon hanya bisa membatin, ia merasa kadang-kadang pemikiran wanita itu sulit di mengerti.
"Nggak_, maksudku nggak tahu!"
"Sebenarnya aku lapar, kalau mas Leon tidak keberatan kita bisa cari makanan dulu yang dekat dengan mushola atau masjid!"
Leon pun tersenyum dan menatap ke depan, "Mas, carikan tempat yang seperti di sebutkan istri saya!"
"Baik mas!"
Mobil yang terus melaju itu akhirnya berhenti juga di sebuah restauran berlebel halal, tidak menjual daging babi atau lainnya.
Menunya juga terlihat familiar di lidah orang Jawa. Leon pun turun lebih dulu dan membantu Nisa untuk turun.
"Mas, ikut masuk yuk!" ajak Nisa pada pria itu, kasihan jika membiarkan pria itu sendiri di mobil sedangkan mereka enak-enakan makan siang.
__ADS_1
"Nggak usah mbak, saya sudah bawa bekal, silahkan mbak sama mas nikmati liburannya!"
"Baiklah, kami ke dalam dulu ya mas!"
"Silahkan!"
Nisa dan Leon pun berjalan beriringan ke dalam Restaurant, awalnya mereka berjalan sendiri-sendiri tapi saat Leon menoleh ke pasangan yang kebetulan juga berjalan di samping mereka, pasangan itu bergandengan tangan.
Apa mungkin wajib ya jika sudah menikah, bergandengan tangan ..., leon bahkan sampai menghentikan langkahnya hanya untuk mengamati pasangan muda itu hingg membuat Nisa berjalan beberapa langkah di depannya.
Saat ia menoleh ke beberapa pasangan yang lain, bahkan ada yang saling berpelukan. Leon pun tersenyum dan segera menyusul sang istri, ia menarik pinggang istrinya hingga mereka begitu dekat. Nisa yang terkejut mendongakkan kepalanya untuk menggapai wajah sang suami.
"Aku suamimu dan kau istriku, jadi begini sepertinya lebih baik!" ucapnya sambil tersenyum.
Nisa tidak berkomentar apapun, ia tersenyum senang mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Mereka pun masuk dan memilih salah satu tempat duduk. Seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa buku menu.
Leon dan Nisa memilih beberapa menu kesukaan mereka.
"Oh iya mbak, bungkuskan juga seporsi makanan yang sama persis seperti yang kami pesan dan antarkan ke mobil berwarna silver itu!" Leon menunjuk mobil yang baru saja mereka tinggalkan lagi.
"Baik tuan!"
Nisa hanya tersenyum melihat apa yang di lakukan suaminya.
Bahkan dia bisa memikirkan orang lain yang bahkan orang lain mungkin tidak pernah pikirkan.
Pelayan itu pun akhirnya pergi meninggalkan Nisa dan Leon.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Leon mengedipkan matanya dan menyanggah dagunya dengan satu tangannya menatap sang istri.
"Tidak pa pa, aku hanya merasa beruntung saja!"
"Beruntung kenapa?"
"Beruntung karena memilih mas Leon menjadi suamiku, beruntung karena Allah telah mempertemukan kita dalam ikatan yang sangat indah!"
"Amiiin, semoga apa yang kamu pikirkan tentangku tidak akan pernah berubah saat kamu juga melihat kejelekan dariku!"
"Insyaallah!"
...Bahagia itu sederhana ya, hanya dengan melihatnya tertawa, banyak bicara, sesekali merengek membuatku istimewa, membuatku merasa di inginkan olehnya ... ~ Leon...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...