Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Sakit apa?)


__ADS_3

Leo. sudah berjalan dengan langkah lebarnya menyusuri lorong rumah sakit mencari wanita yang bernama Asna.


Wanita itu mengatakan jika dirinya berada di depan sebuah ruangan yang ada di pojok.


Bodohnya aku kenapa tidak menghubungi dokter Reza ...


Leon pun masih dengan berlari merogoh benda pipih yang bersarang di jasnya. Ia mencari nomor pria yang mejadi kakak dari sang istri. Dengan nafas tersengal ia segera menempelkan benda pipih itu ke daun telinga saat suara di seberang sana mulai terdengar.


"Dokter, bagaimana keadaan Nisa?"


"Kamu langsung saja ke ruangannya, dia di rawat di ruangan VIP lantai 2!"


Sebenarnya keterangan dari dokter Reza tidak jauh beda dengan keterangan yang di berikan oleh temannya Nisa.


Leon segera mengantongi kembali benda pipih itu, karena tidak sabar menunggu pintu lift yang terbuka, Leon pun memilih berlari melalui tangga darurat, memikirkan apa yang terjadi dengan Nisa membuatnya semakin tidak tenang.


Dengan nafas yang terengah-engah, ia memegangi dada dan lututnya berdiri tepat di depan ruangan yang di depannya ada teman Nisa.


"Mbak Asna ya?" tanyanya dengan masih memegangi dadanya.


"Iya,_!"


Belum sampai Asna menyelesaikan ucapannya, Leon nyonong begitu saja melewati tubuh mungil wanita dengan jilbab instan itu dan membuka pintu.


Betapa terkejutnya Leon saat di ruangan itu ia mendapati begitu lengkap keluarga Nisa, mama, papa, dokter Ardan, dokter Reza dan juga kakak perempuannya sedang mengelilingi tubuh lemah Nisa.


Leon terdiam di tempatnya, tenggorokannya tercekat, seolah tidak peduli dengan yang ada di sekelilingnya, Leon hanya menatap tubuh lemah yang sedang terbaring di atas tempat tidur itu,


Semua orang yang ada di sana pun sama, obrolan yang tadi sempat tercipta tiba-tiba hilang dengan datangnya Leon, semua menatap Leon yang masih dengan nafas yang terengah-engah, bahkan jasnya kini sudah terjatuh ke lantai dengan kemeja yang sudah entah bagaimana bentuknya, tidak di masukkan ke celana dengan sempurna, bahkan kancingnya sudah terlepas dua bagian yang paling atas, keringatnya membasahi kemeja yang berwarna biru muda itu.


"Ni_sa!" ucapnya dengan menahan keringnya tenggorokan.


Leon kini mulai berjalan perlahan mendekati tempat tidur Nisa, wanita itu masih memakai seragam perawatnya. Keluarga yang lain pun mundur untuk memberi jalan pada Leon, menantu termuda di rumah mereka.


Leon tidak duduk, ia memilih memegang tangan Nisa yang terhubung dengan slang infus. Punggungnya membungkuk dan tangan lainnya sibuk mengusap pipi Nisa.


"Kamu kenapa?"


"Mas, aku tidak pa pa, duduklah!" wanita yang terlihat lemah itu masih bisa menyunggingkan senyumnya.


"Kamu jangan macam-macam, kenapa masih bisa bicara seperti, lihat bagaimana pucatnya kamu, kalau sakit kenapa nggak bilang dari pagi? Aku bisa mengantarmu ke dokter! Apa kamu tahu, aku begitu khawatir tadi, dan sekarang pun masih. Kau benar-benar ingin membuatku jantungan!"


Mendengar ceramah panjang lebar Leon yang di kenal dalam keluarga jika pria itu tidak banyak bicara tiba-tiba menjadi terlihat cerewet membuat mereka terdiam menatap pria yang masih begitu khawatir itu.


"Yakin tadi yang ngomong laki kamu, Nis?" dokter Reza yang memang terkenal paling rame di rumah tidak bisa menutupi rasa herannya.

__ADS_1


"Kak!" protes Nisa sambil tersenyum.


Hehhh


Leon hanya menghela nafas saat menyadari jika dirinya tadi terlalu banyak bicara,


"Apa yang terjadi?"


Belum sempat ada yang menjawab tiba-tiba pintu ketuk dan seorang perawat datang dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Maaf, saya mengatakan hasil USG suster Nisa!" ucap perawat itu.


"Kasih saja sama suaminya, sus!" perintah dokter Ardan dengan sikap tenangnya.


Perawat itu terlihat bingung memilah siapa yang sebenarnya menjadi suami Nisa, rekan kerjanya itu. Memang waktu pernikahan Nisa, suster itu sedang berjaga jadi ia datang tidak pas hari H nya jadi Tidka sempat bertemu dengan Leon.


"Saya suaminya!" Leon mengacungkan tangannya seperti anak sekolah saat semua terdiam, perawat itu pun menghampiri leon dan menyerahkan benda yang di katakan hasil USG.


Setelah menyerahkan hasil USG itu, perawat itu berpamitan keluar. Kini di ruangan itu tinggal keluarga Nisa dan Leon.


Leon masih terlihat bingung dengan benda yang berada di tangannya, dia bukan orang yang mengerti tentang ilmu kedokteran. Tapi dia juga penasaran ingin tahu sebenarnya sakit apa yang di alami oleh sang istri.


Tatapannya kemudian terarah pada dokter Reza, ia lebih dekat dengan dokter Reza dari pada dengan dokter Ardan. Mungkin jauh lebih baik jika dia meminta bantuan dokter Reza untuk membaca hasil tes Nisa.


Yang di panggil pun segera menoleh padanya dengan tatapan penuh tanya,


"Apa dokter bisa membantuku?" Leon masih merasa tidak enak, mau bagaimanapun Nisa di keluarga. Tetap saja sekarang Nisa sudah menjadi tanggung jawabnya, sampai tidak menyadari kalau sang istri sedang sakit membuatnya merasa bersalah.


"Apa?"


"Saya tidak tahu apa arti hasil tes ini, bisa bacakan untukku?"


Pertanyaan polos Leon seketika. mendapat tawaran dari seluruh anggota keluarga, bahkan dokter Ardan yang dingin pun ikut tertawa di buatnya.


"Ya Allah, Leon ..., Leon ...., aku kita tadi udah ngerti, pantes aja mukanya datar banget dapat berita gembira!" mama Nisa ikut menimpali, ia tidak menyangka ternyata suami putrinya bisa sepolos itu.


"Maaf ma, sungguh aku tidak mengerti!" Leon semakin merasa bersalah karena tidak tanggap dengan keadaan istrinya.


Papa Nisa menepuk bahu Leon beberapa kali,


"Tidak pa pa, lain kali, kedua atau ke tiga atau ke empat pasti tahu itu bacanya apa!"


Kenapa sakit harus ada selanjutnya? Leon benar-benar tidak faham dengan jalan pikiran papa mertuanya itu. Mengetahui Nisa sakit, hanya sekali saja sudah membuatnya kalang kabut apalagi jika ada kedua, keringat, tempat atau seterusnya, bisa mati berdiri, pikir Leon. Tapi dia hanya bisa mendengarkan penuturan dari papa mertuanya itu dan memilih diam menunggu apa yang akan di jelaskan oleh dokter Reza.


Dokter Reza terlihat serius membaca, atau tepatnya pura-pura serius. Nyata ya dia sudah tahu apa yang di alami oleh adik bungsunya itu. Ia hanya ingin semakin membuat sang suami dari adik bungsunya itu kalang kabut.

__ADS_1


"Dokter, katakan! Apa ini sangat serius? Apa perlu penanganan khusus?" tanya Leon kembali memastikan, ia sungguh merasa tidak sabar.


"Memang ini perlu penanganan khusus, Nisa tidak boleh terlalu capek, banyak tidur, makan makanan bergizi, minum vitamin dan parahnya lagi kamu harus siap menuruti apa saja yang dia mau, kalau tidak ini akan berpengaruh terhadap emosinya dan lagi yang paling penting, untuk satu bulan ini di usahakan jangan terlalu sering melakukannya!" ucap dokter Reza sambil mengatupkan kedua jari telunjuknya.


"Melakukan apa?" Leon malah semakin bingun.


"Ahhh, Nisa nanti juga tahu!" ia tidak mungkin menjelaskan terlalu gamblang karena ada kedua orang tuanya juga di sana.


"Sebenarnya sakitnya apa? kenapa banyak sekali tantangannya? Apa Nisa tetap bisa beraktifitas seperti biasa?"


Anggota keluarga yang lain masih memilih diam dan menahan agar tidak sampai tertawa.


Nisa pun akhirnya menarik tangan suaminya agar sang suami mau menatapnya,


"Biar Nisa kasih tahu mas!" ucapnya dengan suara pelan membuat Leon membungkukkan badannya lagi menatap sang istri sambil mengusap pipinya.


"Apa?" tanyanya dengan wajah was-was. Ia sudah membayangkan hal yang sangat serius menimpa istrinya dan adanya seluruh keluarga di ruangan itu.


"Pegang deh perut Nisa mas!" perintah Nisa lagi, Leon pun dengan ragu melakukannya. Mengusap perut rata Nisa.


"Kamu maag, atau asam lambung, atau ada sesuatu di perut kamu, apa begitu serius?" lagi-lagi Leon tidak sabar, ia memilih untuk lebih dulu menyimpulkan apa yang ada dalam pikirannya sekarang.


"Ada kehidupan di sana mas!"


"Kehidupan apa sih maksudnya?" mungkin karena terlalu khawatir membuatnya tidak bisa berkonsentrasi mengenai apa yang ia dengar.


"Ya salam, gini banget sih orang kalau pinternya kelewat!" dokter Reza terlihat sudah geram. Ia pun menarik kursi kecil dan duduk tepat di depan Leon yang bersekat tempat tidur Nisa.


Nisa berada di antara mereka, "Ini adalah hasil USG kandungan Nisa, istri kamu ini sekarang sedang hamil enam Minggu!"


Leon terdiam, bukan karena tidak tahu tapi ada debaran halus di uluh hatinya, ingin rasanya segera berteriak kegirangan dan loncat-loncat di sana, jelas itu tidak akan dia lakukan karena ada mertuanya juga di sana.


Jadi jika enam Minggu, berarti tepat di saat masa subur Nisa, setelah menstruasi itu, benih itu tumbuh.


...Sebelumnya, mendapatkan cintanya saja sudah sebuah kebahagiaan dan karunia terindah yang Allah kasih untukku, hingga sekarang Allah juga menumbuhkan benih cinta diantara kita, lalu kebaikan apa lagi yang tidak akan aku syukuri, bahkan tanpa aku meminta Allah sudah memberi jawabannya...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2