Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (56)


__ADS_3

"Kenapa mukanya di tekuk gitu sih mas?, jelek tahu!"


Raka tidak langsung menjawab pertanyaan sang istri, ia memilih menarik kursi plastik berbentuk lingkaran dan mendekatkannya ke arah tempat tidur Asna.


"Mas benar-benar kayak buron yang tertangkap basah, dek!"


Ha ha ha ...


Asna sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa hingga membuat Raka begitu khawatir, tangan Raka langsung mengusap perut Asna yang masih rata,


"Dek, jangan kencang-kencang ketawanya! Kasihan anak kita nanti terguncang!"


Asna langsung terdiam, ia ikut mengusap perutnya tapi tangannya langsung di genggam oleh Raka,


"Maafin mas ya dek, mas kelewatan banget tadi sampai hampir membahayakan anak kita!"


Tiba-tiba Asna terdiam dan menatap suaminya, "Mas yakin kan ini anak kita?"


"Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Ya jelas ini anak kita, kamu yang ngandung dan aku suami kamu!"


"Bukan karena manusia-manusia bejat itu?" lagi-lagi Asna merasa miris harus mengatakan hal itu, ia takut suaminya meragukan hal itu.


Raka pun langsung menggengam erat tangan sang istri, "Dek, ini anak kita! Biarkan nanti jika ada yang mengatakan hal itu sama kamu, tapi percayalah mas tidak pernah meragukan hal itu!"


"Asna takut mas!" pasti di luar sana akan ada yang berpendapat seperti itu, apapun itu cukup membuat hatinya nanti terguncang. Hanya suaminya yang ia harapkan bisa menjadi penguat hatinya yang sudah sangat rapuh ini.


"Kejadian itu sudah empat atau lima bulan lalu, dan kita menikah dua bulan kemudian, dan usia kandungan kamu masih lima Minggu tepat setelah kamu datang bulan, jadi tidak ada yang bisa di ragukan lagi!"


"Terimakasih ya mas, aku nggak tahu harus bagaimana kalau mas Raka meragukannya!"


"Tidak sayang! Sudah istirahatlah mas akan jagain kamu!" Raka mengusap kepala sang istri dan mengecup keningnya.


"Mas nggak pa pa puasa?" tiba-tiba Asna yang sudah memejamkan matanya kembali membukanya dan menanyakan hal itu. Ia teringat betapa suaminya itu tidak pernah bisa jauh dari tubuhnya saat ia berada di dekatnya.


"Sebenarnya masalah banget! Tapi mas lebih sayang sama anak kita!" Raka bicara sambil menunjukkan senyum termanisnya membuat Asna merasa iri karena senyumnya bahkan tidak bisa semanis senyum sang suami.


"Mas, jangan banyak senyum ya kalau di sini!"


"Kenapa?"


"Asna kesal kalau lihat mas senyum gitu! Nanti para perawat yang cantik-cantik itu terpesona lihat senyumnya mas Raka!"


"Kamu ada-ada aja! Tapi kamu tahu nggak ada perawat yang berhasil membuatku tidak bisa berhenti tersenyum!?"


"Mas gitu ih! Siapa orangnya?"


"Ini di depan mas, suster Asna! Dia itu berhasil banget menawan hatinya mas hingga tidak mungkin bisa pindah ke lain hati!"

__ADS_1


"Gombal banget sih mas!" Asna benar-benar tidak bisa menahan senyumnya.


"Mas bicara sungguhan kamu bilang gombal!"


"Abis ucapan mas itu bikin hati Asna klepek klepek sih!"


"Ya sudah tidur dek, biar nggak di gombali mas lagi!"


...***...


Pagi ini seperti janji mama Ayu, ia sudah datang ke rumah sakit. Mereka sudah sepakat jika pagi mama Ayu dan sore hari umi Najwa yang datang berkunjung sedangkan para laki-laki hanya akan datang untuk mengantar atau menjemput.


"Sudah Ka, kamu berangkat saja jangan khawatir mama akan jagain Asna!"


"Terimakasih ya ma!"


Raka pun kembali menghampiri sang istri dan berpamitan.


"Mas berangkat dulu ya, kalau butuh sesuatu hubungi mas!"


"Iya mas!"


Setelah mengucap salam, Raka pun benar-benar meninggalkan kamar Asna, ia masih begitu banyak pekerjaan yang tertunda kemarin dan sekarang ia harus menyelesaikannya dengan cepat.


Apalagi saat ini Asna yang masuk rumah sakit, cukup memangkas tabungannya. Ia juga belum bisa menentukan sampai berapa lama istrinya di rumah sakit, hingga membuatnya harus lebih giat lagi bekerja untuk menutup semuanya. Ia tidak mungkin memangkas uang nafkah yang ia berikan pada Asna walaupun jumlahnya tidak sedikit, ia hanya takut jika suatu saat tidak bisa memberi nafkah yang sama dengan saat ini, Asna tidak punya tabungan.


"Na, kamu nggak bawa hp ya?" tanya mama Ayu saat sedang menyuapi putrinya itu.


"Kayaknya ketinggalan di tokonya mas Raka deh ma!"


"Jadi kemarin pas kamu pendarahan di toko nya Raka?"


"Iya!"


"Kalian ini benar-benar, mama jadi ingat pas masih muda dulu!"


"Kenapa ma? mama juga suka kayak mas Raka ya?"


"Iya! Dia itu nggak bisa jauh-jauh sama mama, sampai kalau kerja aja mama di bawa tuh ke mana-mana, pas tau hamil kamu papa berat banget tuh buat ninggal pergi-pergi, tapi mama nya juga nggak mungkin di bawa-bawa karena hamil!"


Asna tersenyum dan mengingat bagaimana lengketnya sang suami saat dekat dengannya, "Semua laki-laki ternyata sama ya ma!"


"Ya, laki-laki yang sangat mencintai wanitanya!"


"Tapi sekarang papa nggak gitu?"


"Kamu nggak tahu aja itu, Na!"

__ADS_1


"Jadi papa masih suka gitu?"


"Iya, tapi jaga image aja di depan anak-anak nya, kalau anak-anaknya nggak ada manjanya minta ampun!"


"Papa, aku jadi tambah sayang sama papa!" Asna membayangkan jika nanti pernikahannya dengan Raka akan berlangsung lama seperti pernikahan papa dan mamanya, usia tidak akan mengubah semuanya. Meskipun mereka sudah tidak cantik dan tampan lagi tapi tetap saja di mata pasangan mereka yang paling cantik dan tampan.


"Ya Allah, mama sampai lupa!"


"Apa ma?"


"Nisa telponin mama semalam, pengen lihat kamu! Ia tahu dari suaminya kalau kamu masuk rumah sakit!"


"Pasti Nisa telponin hp Asna sama mas Raka ya?"


"Iya katanya!"


"Ya udah pinjam hp nya kalau gitu ma, biar Asna ngomong sama Nisa!"


Mama Ayu pun segera meletakkan piring Asna yang tinggal beberapa sendok lagi. Ia mengambil hpnya yang ia simpan di dalam tas.


Mama Asna segera melakukan panggilan video call pada Nisa agar Nisa bisa melihat dengan jelas keadaan Asna.


Asna tersenyum saat melihat wajah Nisa sudah memenuhi layar ponsel mamanya,


"Assalamualaikum, Nisa!" sapanya kemudian membuat wanita yang ada di seberang sana langsung tersenyum dan menutup mulutnya tidak percaya.


"Waalaikum salam, Asna! Ya Allah aku benar-benar mengkhawatirkan kamu, kata mas Leon kamu masuk rumah sakit, kenapa?"


"Nggak papa Nisa, nih aku baik! Mau aku kasih kabar gembiranya?" Asna menunjukkan dirinya sedang baik-baik saja, bahkan lebih baik dari sebelumnya.


"Apa?"


"Aku hamil Nis!"


"Hamil?" lagi-lagi Nisa di buat terkejut dengan ucapan Asna.


"Iya, lima Minggu!"


"Alhamdulillah, ya Allah aku ikut senang!"


Mereka pun terus mengobrol sampai melupakan masih ada mamanya di sana. Begitu banyak yang ingin mereka ceritakan, hingga mungkin satu hari tidak akan cukup bagi mereka untuk menghabiskan waktu hanya untuk saling bertukar cerita mulai dari hal kecil hingga hal-hal yang mampu membuat mereka saling tertawa dan menangis.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2