
Setelah berbasa-basi, akhirnya Gus Raka pun mengungkapkan maksud kedatangannya.
"Pak, saya dan Asna tadi sudah bicara dan insyaallah kami sudah sepakat untuk menikah!"
"Alhamdulillah!" tampak pak Tedi dan Bu Ayu begitu bahagia dengan penuturan Gus Raka. Akhirnya apa yang ia khawatirkan tidak terjadi.
"Kami akan menikah besok!"
"Besok!?" kali ini kedua orang tua Asna begitu terkejut, mereka hanya bisa saling menatap satu sama lain.
"Apa itu tidak terburu-buru?" tanya pak Tedi, "Maksudnya, besok itu terlalu cepat, kami harus menyiapkan semuanya!"
"Pak, hal baik tidak boleh di tunda, kami akan menikah secara agama, masalah surat-surat kami akan mengurusnya setelah ijab qabul, bapak hanya perlu mengundang beberapa warga sekitar rumah ini dan tokoh agama, masalah Snack, insyaallah sudah siap!"
"Baiklah, jika tekat kamu sudah bolat, bapak sama ibu bisa apa! Bapak nanti ba'dha magrib akan mengobrol dengan pemuka agama di sini dan beberapa perangkat!"
"Sekalian saya minta tolong pak jika bapak tidak keberatan!"
"Apa?"
"Ijin pakek mushola ba'dha magrib buat ijab Qabul!"
"Pasti, jangan khawatir! Jadi ba'dha magrib ya?"
"Iya pak!"
"Baiklah, bapak setuju saja!"
Setelah mengutarakan keinginannya akhirnya Gus Raka pun berpamitan karena sebentar lagi magrib.
Sesampai di rumah, ia segera memberitahukan kabar bahagia itu pada kedua orang tuanya.
"Leon? Apa kamu tidak ingin memberitahunya?"
"Pasti akan aku beritahu Abi, tapi aku tidak bisa mengundang mereka! Takut jika Asna akan histeris lagi!"
"Terserah kamu, tapi kamu harus bicara dengan baik-baik!"
"Pasti Abi, ya sudah Raka telpon Leon dulu ya bi!"
"Hmm!"
Gus Raka pun kembali ke kamarnya, ia tidak berniat melepas sarung dan pecinya karena sebentar lagi azan isya'.
Ia mencari benda pipih itu, rasanya sudah lama tidak memegangnya.
"Aku tinggal di mana ya?"
Lalu ia ingat terakhir kali meninggalkannya di mobil. Ia sengaja membawa mobilnya pulang karena besok pasti butuh mobil untuk memboyong beberapa orang ke rumah Asna.
Gua Raka pun kembali keluar kamar, ia sedikit berlari menuruni tangga. Umi yang sedang menyiapkan makan malam begitu penasaran apa yang sudah membuat putranya berlari.
"Ada apa Ka, Kenapa lari-lari seperti anak kecil di dalam rumah?"
"Nggak pa pa umi, ada yang ketinggalan!" ucap Raka tanpa menoleh pada uminya, ia terus berlari menuju ke luar rumah.
Abi yang baru saja keluar dari kamar mandi, segera mendekati istrinya,
"Ada apa mi, Raka?"
"Nggak tahu bi, katanya ada yang ketinggalan!"
__ADS_1
"Mungkin efek gugup karena mau nikah! Oh iya, kata Thoriq_ Raka ambil cicilan rumah di perumahan depan, apa umi tahu?"
"Nggak tahu bi, buat apa?"
"Abi juga tidak tahu, Abi tahunya juga baru tadi! Katanya Raka sudah memberi DP dan cicilan untuk tiga bulan ke depan!"
"Apa Raka berencana tinggal sendiri ya bi setelah menikah?"
"Mungkin!"
"Padahal umi berharap Abi dan istrinya bisa tinggal di sini sama kita!"
"Biarlah umi, mereka anak-anak jaman sekarang! Pasti akan lebih nyaman jika tinggal di rumah sendiri!"
"Tapi rumah kredit itu mahal loh bi, apalagi Raka kan harus nabung juga buat melunasi toko, kata pak Bahar kalau dalam satu tahun Raka nggak bisa beli toko itu akan di jual ke orang lain!"
"Ya biar nanti Abi yang bicara sama Raka! Siapa tahu Raka mau Abi bantu, Abi masih punya tabungan walaupun tidak banyak!"
"Atau Abi coba bujuk deh Raka buat ngajar lagi di kampus, kan gajinya lumayan!"
"Kalau itu Abi juga nggak bisa maksa umi!"
Perbincangan mereka terhenti saat Raka kembali.
"Abi sama umi ngobrolin apa? Serius sekali?"
"Bukan apa-apa, apa yang ketinggalan?"
"Ini, ponsel Raka yang ketinggalan!" Gus Raka menunjukkan benda pipih di tangannya.
"Sudah kamu hubungi Leon nya?"
"Sudah bi, dia juga bisa ngerti kok bi!"
"Iya Bu, bentar ya, aku cas ponsel Raka dulu!"
Gus Raka pun segera berlalu ke kamarnya.
Kini ustadz Arif sudah menunggunya di depan rumah, tidak berapa lama yang di tunggu akhirnya datang juga.
"Ayo bi!"
"Ayo!" pria paruh baya itu segera berdiri dan memakai sendalnya yang berada di tangga teras begitu juga dengan Raka.
"Ada yang Abi mau bicarakan sama Raka!"
Gus Raka berhenti sejenak dan menatap abinya, "Serius sekali bi?"
"Sedikit! Abi dengar dari Thariq kamu ambil cicilan rumah ya?"
Gus Raka sebenarnya tidak mau membicarakan hal itu agar tidak membebani orang tuanya.
"Raka ingin mandiri saja Abi!"
"Tapi bukankah kamu ingin membeli toko buku itu?"
"Insyaallah Raka bisa Abi, doakan saja ya!"
"Abi masih punya tabungan kalau Raka butuh!"
"Insyaallah Raka berusaha dulu! Raka minta doanya saja ya Bi!"
__ADS_1
"Pasti! Tapi sungguh Abi tidak keberatan jika kamu pakek tabungan Abi untuk melunasi toko!"
"Biar Raka berusaha dulu ya bi!"
Azan sudah berkumandang, mereka pun mempercepat langkahnya. Hari ini jadwal Gus Raka yang harus menjadi iman sholat, saat seperti ini santri menjadi sangat bersemangat karena suara Gus Raka yang cukup merdu.
Banyak santriwati yang berharap bisa di lirik oleh Gus Raka, selain tampan seluruh penghuni pesantren tahu jika pria itu sedang berstatus mencari pasangan.
***
Pagi ini di rumah Asna kedatangan paket, ternyata bahkan Gus Raka sudah menyiapkan kebaya untuk Asna.
"Ini untuk siapa mas?" tanya abu Ayu saat pengantar pakek menyerahkan padanya.
"Untuk mbak Asna, Bu! Dari mas Raka!"
"Terimakasih ya mas!"
"Sama-sama Bu, saya permisi!"
Bu Ayu pun segera membawa paket itu ke kamar Asna.
"Itu apa Bu?"
"Katanya kebaya buat kamu, Na! Dari nak Raka!"
"Katanya cuma ijab Qabul ma, kenapa pakek kebaya?"
"Ya mungkin nak Raka ingin lihat kamu terlihat cantik nanti! Ya udah mama tinggal ya!"
Asna pun segera membawa masuk paper bag berwarna biru itu, ia segera mengeluarkan isinya ternyata sebuah kebaya cantik berwarna putih. Air matanya luluh sudah.
Srekkkk
Dengan cepat ia melempar kebaya itu ke atas tempat tidurnya, ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menyandarkan punggungnya ke tepian tempat tidur.
"Aku tidak pantas mendapatkan ini, aku wanita kotor!" lagi dan lagi bayang-bayang menyakitkan malam itu merobek hatinya yang sudah mulai membaik.
Hiks hiks hiks
Hiks hiks hiks
"Aku hanya ingin bahagia, pergi kalian dari pikiranku, pergi_!" Asna memukuli kepalanya setiap kali mengingat kejadian kelam itu. Bayangan tawa dari orang-orang itu membuatnya membenci tubuhnya sendiri, bahkan walaupun sudah di bersihkan ratusan kali, rasa jijiknya tidak pernah hilang.
"Na ...., Na ...., kamu kenapa?" mama Asna yang mendengar tangisan Asna segera menghampiri nya, ia segera menarik putrinya itu ke dalam pelukannya.
"Ma, Asna kotor ma, Asna kotor, Asna jijik dengan tubuh Asna, ma!"
Mama Ayu tidak mampu menahan tangisnya, akhirnya ia pun ikut menangis bersama putrinya.
"Enggak sayang, mereka yang kotor! Bukan Asna! Asna tetap putri mama yang berharga!"
Ternyata papa Asna melihat hal itu, ia berdiri di balik pintu. Pria itu selalu cengeng jika menyangkut putrinya. Ingin rasanya menghabisi pria-pria itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...