Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (61)


__ADS_3

"Mas Raka!" Asna dengan cepat menggeser tombol hijau saat melihat ada nama suaminya di layar ponselnya.


"Assalamualaikum mas, aku sangat mengkhawatirkanmu!"


"..."


Tapi senyum itu berubah tegang saat ada orang lain di balik telpon itu, bukan suara suaminya.


"Iya pak, ini saya!" air mata Asna tidak terbendung lagi. Mbak Rumi yang melihat itu segera menghampiri Asna yang sudah tergugu dengan tangan bergetar.


"Ada apa mbak? Ada apa?"


Asna tidak menjawab, tapi memilih menyerahkan ponsel itu pada mbak Rumi.


"Astaghfirullah hal azim!"


"...."


"Di mana pak?"


"...."


"Baik pak, kami akan ke sana!"


Mbak Rumi segera mematikan ponselnya dan memeluk Asna yang sedang terguncang.


"Tenang mbak, semua akan baik-baik saja! Insyaallah! Ada saya!"


"Aku harus bagaimana sekarang mbak?"


"Biar saya yang menghubungi ustadz Arif, biar beliau bawa mobil ke sini!"


"Iya mbak, Asna siap-siap dulu!"


Mbak Rumi pun segera menghubungi mertua Asna dan mengabarkan apa yang terjadi selagi menunggu Asna yang bersiap-siap, ia tidak mungkin keluar dengan baju dasternya.


...***...


Raka


Raka yang masih trauma membawa mobil sendiri, tiba-tiba berpapasan dengan sebuah truk besar, seketika ingatannya kembali pada traumanya di masa lalu, trauma itu sudah pernah sembuh dan harus kembali kambuh saat peristiwa penyerangan itu.


Ia seperti kembali ke masa lalu disaat kejadian kecelakaan bus yang menimpanya dan Leon.


Di saat yang bersamaan, ponselnya berdering. Dengan tangan yang gemetar ia berusaha untuk merogoh dasboard nya, mencari benda pipih itu. Tapi kepalanya terlalu pusing, ia bahkan sudah kehilangan konsentrasinya, tubuhnya menggigil hebat.


Raka yang kembali mengingat traumanya, tiba-tiba melepas begitu saja stang stirnya hingga mobil oleng begitu saja dan menabrak sebuah pohon yang ada di tepi jalan, beruntung mobil truk bisa menghindari mobil Raka yang oleng itu hingga truk dan mobil tidak sampai bertabrakan.


Dasboard yang terbuka membuat ponsel Raka terjatuh ke bagian bawah mobil.


Kepala Raka membentur setir mobil hingga membuatnya tidak sadarkan diri, bagian depan mobilnya remuk hingga membuat tubuh Raka terjepit.


Beruntung polisi patroli melintas di sana dan melihat kejadian itu,


"Komandan, itu ada kecelakaan!"


"Berhenti!"


Beberapa polisi pun turun dan menghampiri mobil Raka yang sedikit mengepul.


"Ada satu korbannya, komandan!"


"Periksa!"


"Siap komandan!"


Salah satu polisi terlihat memeriksa denyut nadi Raka,


"Masih hidup komandan!"


"Segera evakuasi, saya akan panggil ambulans!"

__ADS_1


"Siap komandan!"


Polisi yang di panggil komandan itu segera menelpon bala bantuan termasuk ambulans terdekat.


Dengan cepat mereka mengevakuasi mobil dan membawa Raka ke rumah sakit terdekat karena masih merasakan detak jantung Raka.


"Sepertinya ini kecelakaan tunggal!"


"Benar komandan!"


"Kita harus menghubungi keluarganya!"


Polisi pun mulai mencari benda pribadi milik Raka dan akhirnya menemukan sebuah ponsel. Ada banyak sekali panggilan masuk dengan tulisan "my Wife".


"Ini nomor istrinya!"


"Hubungi saja!"


"Baik komandan!"


Salah satu polisi pun menghubungi nomor telpon Nisa.


"....."


"Waalaikum salam, selamat siang! Apa benar ini istri dari pak Raka?"


"...."


"Saya polisi!"


"...."


"Iya, suami anda mengalami kecelakaan tunggal di jalan xxxxx!"


Tapi tidak ada jawaban dari seberang sana membuat polisi itu kembali memanggil berkali-kali.


"Mbak, anda masih di sana? Mbak! Mbak! Apakah anda masih bisa mendengar suara saya?"


"Iya, ini siapa?"


"Saya polisi!"


"Ada apa pak!"


Pak polisi pun mengatakan yang sama seperti yang ia katakan tadi pada Asna.


"..."


"Korban akan kamu bawa ke rumah sakit daerah xxx untuk mendapatkan penangan!"


"..."


"Terimakasih atas kerjasamanya!"


Polisi pun segera mematikan sambungan telpon nya.


"Sudah komandan!"


"Baiklah , langsung ke rumah sakit saja, sedang mobil korban di amankan ke markas!"


"Baik komandan!"


Raka pun di bawa ke rumah sakit dengan menggunakan ambulan.


...***...


Asna sudah sampai di rumah sakit yang di maksud oleh polisi, kali ini ia datang dengan Abi dan umi sedangkan mbak Rumi di minta ustadz Arif untuk menunggu rumah Asna.


Raka saat ini sedang berada di rumah UGD sejak satu jam yang lalu, jarak rumah dengan rumah sakit tempat Raka di rawat cukup jauh, berada di luar kota.


"Suster, ruang atas nama Raka, korban kecelakaan di mana ya?" tanya ustadz Arif.

__ADS_1


"Pasien masih dalam penanganan di ruang UGD pak, silahkan kalian lurus dan ada di ujung ruangannya!"


"Terimakasih!"


Mereka pun berjalan menuju ke ruang UGD, umi terus mengandeng Asna, walaupun saat ini ia juga dalam keadaan lemah tapi ia harus menguatkan menantunya yang sedang hamil besar.


Terlihat ruangan itu masih tertutup rapat, umi mengajak Asna untuk duduk terlebih dahulu.


"Sayang, tenangkan hatimu ya! Berdoa terus sama Allah, minta keselamatan atas suami kamu!"


Asna hanya bisa terus menangis, ia tidak bisa tenang sebelum melihat keadaan suaminya saat ini. Rasa takut kehilangan terus membuatnya tidak mampu menahan tangis.


Hingga dua polisi menghampiri mereka.


"Keluarga korban?"


"Iya, saya abinya, orang tuanya!"


Polisi itu menyerahkan satu kantong barang kepada ustadz Arif.


"Ini adalah barang-barang pribadi milik korban, karena ini termasuk kecelakaan tunggal jadi kami tidak bisa mengurus jasa Raharja milik korban!"


"Terimakasih pak polisi karena sudah menolong anak saya!"


"Sama-sama pak, untuk mobil korban kami amankan di kantor! Pihak keluarga nanti bisa mengambilnya di kantor kami!"


"Iya pak!"


"Kalau begitu kami permisi!"


Kedua polisi itu pun segera meninggalkan ruangan itu lagi.


Ustadz Arif pun mendekati Asna dan menyerahkan barang pribadi itu ke pada Asna.


"Nak, simpan ini! Insyaallah nanti kamu akan membutuhkannya!"


Asna pun mengambilnya dan membuka kantong plastik itu. Bersisi dompet dan ponsel suaminya.


Asna hanya bisa menangis menatap ponsel suaminya. Ia kembali teringat bagaimana ia menunggu balasan pesan dari suaminya.


Kenapa balasannya seperti ini mas, kenapa?


Hingga pintu yang tertutup rapat itu mulai terbuka. Ustadz Arif segera mendekati dokter yang keluar dari balik pintu itu begitu juga dengan Asna dan umi.


"Bagaimana dok, putra saya?"


"Keadaan pasien sangat kritis! Kita hanya bisa berdoa semoga pasien bisa melewati masa kritisnya ini!"


Tangis Asna seketika pecah hingga kakinya tidak mampu menopang berat tubuhnya saat ini.


"Asna!?" umi dengan sigap menangkap tubuh Asna.


"Umi, bagaimana kalau mas Raka ninggalin Asna umi? Bagaimana? Aku nggak akan sanggup!"


"Istighfar Asna! Istighfar!"


Asna terus menangis dan meraung hingga akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadarannya.


"Ya Allah Asna!" Umi Nazwa begitu terkejut saat Asna benar-benar pingsan, "Dokter bagaimana ini?"


"Suster, tolong bawa ke ruang perawatan!"


Beberapa perawat membawakan ranjang dorong untuk Asna dan mengangkat tubuh Asna ke atas ya dan membawanya ke ruang perawatan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2