Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Tetangga baru


__ADS_3

Pagi ini, Aisyah berangkat kuliah lebih santai. hari ini jadwal gus Fahmi mengajar


tapi karena gus fahmi tidak bisa hadir, ia hanya meninggalkan tugas untuk para


mahasiswanya.


Jam Sembilan pagi, sudah bukan waktunya orang-orang berbelanja sayur di pinggir


jalan atau melepas lelah dengan olah raga pagi. Sebagian besar dari mereka sudah melakukan aktifitasnya masing-masing. Ada yang sudah berangkat ke kantor, ke sekolah, memasak atau melakukan tugas rumah lainnya. Hari ini Nino pun juga sudah berangkat sekolah. Keadaannya sudah lebih baik dari pada


kemarin-kemarin.


Aisyah melangkahkan kakinya dnegan sedikit santai, dengan sesekali mengedarkan


pandangannya, mencari hal-hal yang istimewa di sekitarnya. Matanya tertarik


pada satu hal, ia melihat Nadin sedang mengelilingi sebuah rumah yang berada


tepat di depan rumah Nadin.


“Apa yang sedang di lihat kak Nadin ya …?”


Aisyah pun tertarik untuk menghampirinya, ia ikut penasaran dengan apa yang di lihat


Nadin. Tanpa menyapanya dulu, Aisyah memilih untuk memegang pundak nadin.


Belum sampai Aisyah bertanya, nadin sudah lebih dulu berucap tanpa melihat siapa yang


ada di belakangnya, sepertinya Nadin begitu terkejut, membuat Aisyah tersenyum


melihat wajah panik Nadin.


“Aku hanya penasaran dengan penghuni rumah ini saja, tidak ada yang lain!” ucap Nadin tanpa membalik badannya.


Aisyah tersenyum, “Assalamualaikum kak ….!”


Tampak dari wajah Nadin, ia begitu lega. Terdengar hembusan nafas kelegaan dari wanita itu sambil memegangi dadanya.


“Astaga …, kau mengagetkanku saja ..!”


“jawab salam ku dulu kak!’


“Waalaikum salam!’


Aisyah ikut celingukan ingin tahu apa yangs edang di lihat Nadin, “Sedang apa kakak di


sini?”


“Tidak, ayo ke rumah kakak!” Nadin segera menarik tangan Aisyah dan meninggalkan rumah itu, mereka pun sampai di dalam rumah. Nadin segera mengambil air minum,


tenggorokannya terlanjur kering gara-gara di kejutkan oleh Aisyah.


Aisyah sampai lupa kalau dia akan berangkat ke kampus. Ia ikut ke rumah Nadin tanpa


membatah.


“Apa yang kakak lakukan di rumah itu?”aisyah masih begitu penasaran, setahunya rumah


itu lama kosong dan baru kemarin di huni tetangga baru.


“Tidak ada!’ jawab nadin sengaja menutupi sesuatu, melihat Nadin salah tingkah aisyah


semakin penasaran saja.


“Kakak penasaran ya?”


“Enggak!”


Aisyah tampak berfikir, seingatnya yang membeli rumah itu pria muda berjas, ia jadi


ingat pria yang bersama pria dingin itu tempo hari, mungkin yang membelinya suami Nadin.


Iya …., aku rasa benar memang

__ADS_1


penghuninya suaminya kak Nadin, di pak RT kemarin juga gitu, data atas nama Narendra Rendiansyah, itu pasti nama suami kak Nadin….


“Kakak nggak bisa bohong, tuh liat pipi kakak sudah memerah …!”


“Enggak Ais, tadi itu aku hanya …!”


“Hanya ingin liat suami kakak kan!”


Nadin hanya diam mendengarkan ucapan Aisyah, ia tidak menyangka jika Aisyah


mengetahuinya. Berada di dekat pria itu membuatnya ingin sekali mendekat, tapi


egonya telah membuatnya kalah.


“Dia sudah punya istri dan anak, Ais ! aku nggak boleh egois dengan terus memintanya


bersamaku!”


“Siapa bilang kak, setahuku dia di sini sendiri, dia tinggal sendiri. Dia juga ngasih


kk nya pada pak RT, dalam kk itu masih ada nama kakak!’


“kamu tahu dari mana?”


“kemarin aku di mintai bantuan sama pak Rt buat data beberapa warga baru!”


“Tapi kk, masih bisa di palsukan. Apa lagi dia punya uang!”


“jangan terlalu berprasangka buruk kak, belum tentu apa yang kakak pikirkan itu benar,


lebih baik bicaralah baik-baik kak!”


“Kau ini persis seperti ustadzah aja!’


“Aku masih belajar kak! tapi Bianka juga ngomong gitu he he he …!”


Aisyah melihat jam dinding sudah jam setengah sepuluh, nggak terasa sudah setengah jam ia di tempat itu.


“Kak aku harus berangkat, sudah telat banget soalnya!”


“Astagfirullah kak!”


“Iya …, astagfirullah, jadi kamu dari tadi mau kuliah, kenapa nggak bilang. Sudah


sana berangkat ...!”


“Iya …, assalamualaikum kak!”


“Waalaikum salam …!” aisyah segera berlari meninggalkan rumah Nadin, ia sudah sangat


terlambat sekarang. Jam kuliah masuk pukul sepuluh.


Seperti biasa Aisyah lari ke gang depan, menunggu angkot datang, cukup lama ia berdiri


di tepi jalan tapi angkot tak juga lewat. Sudah hampir lima belas menit hingga


sebuah mobil berhenti tepat di depannya.


Aisyah merasa tidak mengenali mobil itu, tapi kaca mobil bagian belakang terbuka ada


sosok yang ia kenal di belakang.


“Tuan Alex!”


“Masuklah, kami akan mengantarmu!”


“Tidak usah tuan, pasti akan sangat merepotkan!”


“Terserah…, Jalan!”


Alex menutup kembali kaca mobilnya dan meminta sopir untuk kembali menjalankan


mobilnya. Aisyah hanya tertegun di buatnya dengan bibir yang terbuka sempurna.

__ADS_1


“yah …, yah …, yah …., nggak niat banget ngasih tumpangan, aku kan tadi hanya


basa-basi ….!”


“Nggak peka banget jadi orang!” aisyah kesal sendiri dengan pria arrogant itu.


“Ah iya …, minta Bianka buat jemput aja deh!”


Aisyah segera merogoh tasnya, ia mengambil benda pipih itu dan mengetikkan sebuah


nomor, setelah tersambung ia segera meletakkan benda pipih itu di daun


telinganya.


“Assalamualaikum, Bi!”


“…”


“jemput aku di depan gang rumah ya!”


“…”


“Iya makasih, waalaikum salam!”


Aisyah segera meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia kembali duduk dan menunggu


Bianka. Sepuluh menit kemudian barulah Bianka datang dengan motornya.


“Maaf Sya, lama ya!”


“Nggak kok!”


Bianka menyerahkan helmnya pada Aisyah, ‘Pakai helmnya!”Aisyah pun segera memakainya.


“Makasih!”


“Bu nyai nggak pa pa nih motor?!” goda Bianka.


“Sudah biasa kali Bi!” aisyah segera naik ke atas motor Bianka. “Pegangan yang erat,


aku akan sedikit ngebut!”


Dan benar saja, Bianka menggunakan kecepatannya agar segera sampai di kampus.


“Bi…, jangan ngebut-ngebut …!” protes Aisyah, tapi Bianka tidak peduli, ia malah


menambah kecepatannya.


Hanya butuh waktu sepuluh menit saja mereka sudah sampai di kampus. Aisyah


benar-benar di buat kliyengan gara-gara Bianka.


“Bi …, kamu ya, benar-benar mau bunuh aku ya, astagfirullah …, ya allah ampuni


aku!”


“Nggak semudah itu kali Sya mati ….!”


“tapi gara-gara motormu, bisa bikin aku mati muda, Bi!”


Ha ha ha


Bianka hanya bisa tertawa melihat wajah pucat Aisyah. ia tidak menyangka jika Aisyah


begitu takut dengan kecepatan.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya Kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰😘❤️


__ADS_2