
Gus Raka kembali dengan aktivitasnya menjadi cleaning servis, hal yang sebelumnya Tidka pernah ia lakukan.
Hal yang paling ia sukai adalah saat harus melayani beberapa tamu dari bos besar itu, atau ia harus mencarikan minuman untuk beberapa tamunya di saat seperti itu ia bisa sambil menguping pembicaraannya dan mengenali satu per satu orang yang terlihat.
Seperti siang ini, tiba-tiba kepala cleaning servicenya meminta dirinya untuk mengantar minuman bagi para tamu dari bos besar.
Ia sangat senang karena mendapatkan tugas itu ia bergegas menuju ke ruangan bos besar dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya berisi minuman dingin.
Sesampai didepan ruangan itu ia segera mengetuk pintu dan menunggu sahutan dari dalam.
"Siapa?"
"Saya OB tuan, mau mengantar minuman!"
"Masuklah!"
Setelah mendapat persetujuan barulah Gus Raka masuk, saat seseorang membantunya membukakan pintu dan orang itu adalah Adi.
Gus Raka segera menundukkan kepalanya, takut jika pria di depannya itu mengenalinya.
"Masuklah!"
"Baik tuan!"
Gus Raka mengamati orang-orang yang ada di dalam, yang ia kenal hanya bos besar dan sopir pribadi Leon selebihnya ia tidak kenal.
Gus Raka segera meletakkan minuman itu di atas meja yang ada di depan sofa.
Tampak bos besar sedang banyak masalah, dengan wajah marahnya ia menggebrak meja yang ada di depannya. Gus Raka memperlambat aktifitasnya, itu sengaja ia lakukan untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kita kehilangan berkas itu! itu berkas penting! jika sampai berkas itu sampai kepada polisi hancurlah kita!" semua orang yang ada di sana tanpa menunduk.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu dari mereka.
"Secepatnya kita harus tahu siapa dalang di balik semua ini, jika memang ada yang menyusup maka segera cek cctv!"
"Baik bos!"
Seseorang yang berada di depan sebuah laptop sedang memasukkan flashdisk, sepertinya itu flashdisk hasil rekaman aktifitas kantor selama beberapa Minggu terakhir.
"Benar bos, di tanggal 10 Maret kemaren semua CCTV tampak tidak berfungsi selama 2 jam!"
"Termasuk ruangan saya?"
"Iya bos! malah yang tidak berfungsi adalah beberapa ruangan penting diantaranya adalah ruangan bos besar!"
Gus Raka masih terdiam ia ingin mendengarkan pembicaraan mereka selanjutnya. Sepertinya karena terlalu serius dengan pembicaraan mereka sampai tidak sadar jika di sana ada office boy yang masih mendengar pembicaraan mereka.
"Ada penyusup yang sepertinya sengaja mencari masalah dengan kita !" big bos itu kembali memukul mejanya.
Sepertinya Adi menyadari jika di dalam ruangan itu masih ada office boy.
"Kamu kenapa masih di sini, keluarlah!"
__ADS_1
"Baik tuan!" sebenarnya ini mendengar kelanjutannya tapi karena di minta keluar, Gus Raka Tidka bisa berbuat apa-apa, dari pada mereka semua curiga padanya.
Tapi sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu, ia.masih bisa mendengarkan percakapan mereka.
"Ini sepertinya seseorang yang sudah sangat lihai melakukan hal ini!"
"Tapi tidak ada orang lain selain Leon yang bisa melakukan hal ini, saya rasa Alex pun tidak berpikir sampai seperti ini!"
Gus Raka tersenyum mendengar pernyataan mereka.
Akhirnya kalian menyadarinya juga ....
Setelah itu ia benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu, ia tidak mau orang-orang itu mulai curiga padanya.
"Tapi pria itu sudah mati sekarang!"
"Justru itulah yang saya itulah khawatirkan sekarang, jangan-jangan semua itu adalah kebohongan belaka!"
"Maksudnya?"
"Kita tidak pernah tahu apa pria itu sudah benar-benar mati atau belum, kalau iya, kenapa kembarannya masih hidup?"
"Itu masuk akal, seingat saya yang terluka parah kembarannya!" Adi ikut bicara, karena memang dia saksi mata pada kejadian malam itu.
"Jika benar seperti itu, apa mungkin kuburan itu milik kembaran Leon dan yang ada di rumah itu Leon?"
"Bisa jadi seperti itu!"
"Apakah ada sesuatu yang mencurigakan sebelumnya?" tanya salah satu dari mereka.
"Sesuatu apa misalnya?" tanya bos besar.
"Misalnya seperti penyadap, atau alat sejenisnya!"
"Jika seperti itu, ruangan ini sudah tidak aman lagi, kita lanjutkan pembicaraan di tempat lain saja!"
...***...
Waktu pulang tiba, karena ia tidak memiliki tugas menjemput Nisa, Gus Raka pun mengganti motor dan bajunya.
Kini ia sudah memakai baju yang ia kenakan tadi pagi dan mengendarai mobilnya. Ia memilih pergi menemui seseorang.
Ia melakukan perjalanan yang cukup jauh yaitu ke sebuah perumahan yang sepi.
Mobilnya ia parkir di bahu jalan yang ada di seberang jalan, sengaja ia lakukan agar tidak ada yang curiga karena mobilnya di situ.
Ia memastikan dulu bahwa Tidka ada yang mengikutinya barulah keluar dari mobil.
Kedatangan nya langsung di sambut oleh seorang pria sepertinya tukang kebun.
"Masuklah!"
"Terimakasih!"
__ADS_1
Pria itu bukan hanya tukang kebun biasa tapi penjaga yang sedang menyamar menjadi tukang kebun.
" Assalamualaikum!" sapanya saat sudah masuk ke dalam rumah, ia segera melepas sesuatu yang menempel di wajahnya.
"Waalaikum salam!" seseorang menyambutnya, seorang wanita menyambutnya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Masih belum ada perkembangan!"
Gus Raka pun segera masuk ke dalam kamar yang ruangannya lebih mirip dengan sebuah ruangan di rumah sakit lengkap dengan peralatan medis.
Gus Raka segera duduk di samping seseorang yang sedang berbaring di atas tempat tidur dengan peralatan bantu pernafasan dan alat bantu kehidupan.
Gus Raka mengusap air matanya yang tiba-tiba membasahi pipinya.
"Bangunlah, aku tidak bisa jadi kamu selamanya, aku mohon! Aku tidak bisa tanpa kamu!"
Wanita yang ada di belakangnya itu kini mengusap bahunya,
"Sabar Leon, semua akan baik-baik saja!"
"Jika dia tidak bangun bagaimana bi?"
"Semua itu ketentuan Allah, kita hanya bisa menjalaninya saja!"
"Kami baru bertemu, dan harus kembali terpisah saat ini!"
" Leon, kamu harus kuat!" wanita itu memanggilku Gus Raka dengan panggilan Leon.
"Sungguh bi, menjadi orang lain itu sangat sulit, bahkan aku tidak bisa mendekat dengan istriku sendiri walaupun aku ingin memeluknya!" tampak punggung Leon bergetar, ia benar-benar Leon.
"Biarkan semuanya seperti ini dulu hingga semuanya akan menjadi baik !"
Leon pun mengusap air matanya, "Aku mengerti Bi, doakan aku agar kuat!"
Setelah melihat keadaan orang itu Leon kembali memakai topeng wajah milik saudara kembarnya itu, ia kembali menyamar menjadi Gus Raja.
"Titip dia bi, laporkan jika ada perkembangan apapun!"
"Baik, aku mengerti! Kamu juga harus mulai hati-hati, sepertinya mereka juga mulai mencurigai mu!"
"Aku tahu, aku pergi dulu! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Leon segera keluar dari rumah itu, terlalu lama berada di tempat itu takut jika ada yang mencurigainya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...