Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Air mata Aisyah


__ADS_3

Saat sudah hampir masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ia merasakan tangannya di tarik,


itu tidak mungkin Leon, ia yakin jika itu Alex. Dengan kasar Alex mendorong


tubuhnya ke mobil, menahan satu lengannya di kaca mobil.


“Kamu pikir dengan menjadi istri seorang alex, kamu bisa membentak ku?”


“Lepas mas!” pinta Aisyah yang tubuhnya kini sudah terhimpit mobil dan tubuh kekar


seorang Alex.


Bukannya menjauh, Alex malah mencium Aisyah dengan sangat agresif. Aisyah  berusaha keras untuk tidak membuka mulutnya


tapi ternyata ia kalah, Alex terus saja me*mu*at bibir Aisyah dnegan begitu


kasar.


Aisyah berusaha keras mendorong tubuh Alex, tapi pria itu terlalu kuat. Leon bukannya


membatu Aisyah ia malah memilih berbalik badan, ia tahu itu pasti terjadi karena mereka suami istri.


Hingga akhirnya Aisyah berhasil memalingkan wajahnya, aisyah mengatur nafas dan


kembali menatap Alex yang masih mendekap tubuhnya.


“Lepaskan mas, aku tidak mau kau memperlakukanku seperti ini, jika kau menuntut hak dariku. Maka perlakukan aku selayaknya seorang istri, aku bukan pelac*r yang bisa seenaknya mas sentuh semau mas …!”


Alex masih diam, ia bahkan tidak bergeming dari tempatnya.


“Lepas!”


Melihat air mata Aisyah yang mulai menetes, membuat alex sedikit merenggangkan


tangannya. Aisyah segera menggunakan kesempatan itu untuk mendorong tubuh Alex.


***


Aisyah menghampus air matanya ketika Leon masuk ke dalam mobil, Leon harus mengurus


Alex lebih dulu. Ia meminta anak buahnya untuk mengantar Alex pulang.


“Nona tidak pa pa?” tanya leon sebelum menghidupkan mesin mobilnya, “apa perlu, nona kemana dulu biar lebih segar?”


“Tidak usah, kita langsung pulang aja ya, nenek pasti sangat khawatir!”


“Baik, nona!”


Sepanjang perjalanan, air mata aisyah tidak mampu ia bendung. Ia bahkan tidak tahu ia


begitu merasa sakit karena yang mana.


Hingga mobil memasuki halaman rumah nenek Widya, aisyah segera mengusap air matanya


kembali. Ia tidak mau nenek Widya sampai melihat air matanya.


Ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat nenek Widya masih duduk di kursi rodanya.


“Sayang, sudah pulang, mana Alex?”


“Mas Alex sebentar lagi pulang kok nek, nenek istirahat ya!”


“Alex tidak melakukan apa-apa kan?”


‘Nenek istirahat ya, jangan khawatir semua baik-baik saja!”


Aisyah pun mendorong kursi roda nenek Widya ke kamarnya dan memapahnya hingga ke

__ADS_1


tempat tidur, mematikan lampu kamar dan menggantinya dnegan lampu tidur,


menyelimuti nenek Widya.


“Istirahat ya nek! Ucap Aisyah saat hendak meninggalkan kamar nenek Widya.


“kamu juga ya!”


‘Iya!”


Aisyah menutup kamar nenek Widya dan masuk ke dalam kamarnya. Aisyah segera masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Seakan bau alcohol yang ikut menempel di


bibirnya masih begitu menyengat walaupun ia berkali-kali berkumur.


Aisyah kembali menangis, ia berulang kali mencuci bibirnya, ia tidak suka di


perlakukan begitu kasar oleh suaminya. Setelah puas menangis, ia segera menganti bajunya dan segera berbaring di atas tempat tidur, menutup sebagian tubuhnya dengan selimut hingga ia terlelap.


Sebenarnya Leon sudah mengajak Alex untuk tidur di rumah Alex sendiri, tapi ia memaksa


untuk tetap pulang ke rumah nenek widya. Akhirnya anak buah Alex pun mengantarnya ke rumah.


Tak berapa lama pintu kamar kembali terbuka, alex datang dnegan penampilan yang


berantakan dengan bau alkohol yang menyengat dari tubuhnya.


Dengan hati-hati Alex menghampiri Aisyah yang sudah terlelap itu. Walaupun dalam


kegelapan ia masih bisa melihat jika istrinya itu menangis dalam tidurnya, alex


mengusap kening Aisyah.


“Maafkan aku!” bisiknya.


Deg


menyesal?’ batin Aisyah.


Cup


Kembali perlakuan lembut Alex membuat Aisyah seperti kehilangan nafasnya, alex tiba-tiba mengecup keningnya tanpa ijin. Setelah itu ia berlalu menuju ke kamar mandi.


Aisyah segera bangun saat Alex berada di kamar mandi, ia kembali menangis. Ia merasa


bingung dengan pria yang sudah menikahinya. Di satu waktu dia sangat kasar dan


lian waktu ia bisa berubah begitu lembut.


“Kamu belum tidur?” tanya Alex, yang tanpa di sadari aisyah jika pria itu sudah keluar dari kamar mandi.


Aisyah tidak berniat menjawab, ia sebenarnya belum siap berbicara kembali dnegan pria


itu. Ia kembali menangis.


Alex yang melihat aisyah semakin menangis, ia pun mendekati aisyah. alex kembali


menyalakan lampu tidurnya. Ia bisa melihat jelas pria itu walaupun terhalang


oleh air mata.


“Mas Alex tahu…, mas Alex sudah membuat luka yang begitu besar di hati, Ay!” ucap


aisyah dengan air mata yang terus menetes.


Alex pun hanya bisa mengangguk, memang benar dan dia pun tidak berusaha untuk mengingkarinya.


Tidak seharusnya ia menikahi gadis

__ADS_1


yang berjarak dua belas tahun lebih muda darinya. “Kamu benar, aku tidak pantas


untuk kau maafkan!”


Aisyah menganggu membenarkan ucapan suaminya itu, tapi entah kekuatan dari mana hingga Alex punya keberanian untuk menarik tubuh Aisyah ke dala pelukannya. Aisyah


tidak menolaknya, hanya saja air matanya semakin deras saja dalam pelukan pria


arrogant itu.


“Maaf, Ay!”


Setelah sekian lama, akhirnya Aisyah menarik tubuhnya dan mendongakkan kepalanya menatap Alex, alex pun demikian. Ia menunduk menatap Aisyah. Alex mengusap air mata


Aisyah yang membasahi pipinya.


“Maaf karena aku selalu menyakitimu, aku bukan suami yang baik seperti yang kau


inginkan!”


“Tidak bisakah mas Alex berusaha menjadi manusia yang lebih baik, menjadi imam Aisyah


yang benar-benar imam yang akan membimbing Aisyah nantinya?”


“Aku tidak janji!”


“Tapi mas Alex sudah berjanji di hadapan allah, jika mas Alex akan jadi imam Aisyah!”


“Jangan memaksa!”


Hehhh ….


Aisyah hanya bisa menghela nafas, berbicara dengan pria arrogant itu butuh debat yang


panjang.


“Ay buatin jahe hangat dulu, sepertinya alkohol sangat mempengaruhi otak mas Alex!”


Aisyah kembali turun dari tempat tidurnya dan memakai kembali jilbabnya. Ia keluar


kamar dan menuju ke dapur. Sedangkan Alex memilih memeriksa ponselnya yang sedari tadi dia anggurin karena terlalu marah pada Aisyah.


Sepuluh menit kemudian, Aisyah kembali dengan membawa secangkir jahe hangat dan


meletakkannya di depan Alex.


“Di minum dulu mas jahe hangatnya!”


Alex yang tidak menyadari kedatangan aisyah segera menoleh pada secangkir jahe


hangat itu, ia tidak menyangka jika Aisyah masih begitu perhatian padanya


setelah apa yang sudah ia lakukan padanya.


Aisyah tidak menunggu Alex menjawabnya, ia segera kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.


Alex pun segera menikmati secangkir teh hangat buatan Aisyah. ia tidak memahami


wanita yang sudah ia nikahi itu. Sosok wanita yang begitu kuat tapi kadang ia


akan menangis di titik terlemahnya, tapi dia juga begitu lembut dan perhatian. Wanita itu tidak memakinya setelah apa yang ia lakukan padanya bahkan dia melayaninya selayaknya istri pada suami walaupun belum sepenuhnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2