Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (39)


__ADS_3

Setelah menyelesaikan meeting dengan Gus Fahmi, Raka dan Leon pun berpamitan untuk pergi. Leon mengantar Raka ke toko terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor.


"Pak Alex benar mau pindah?"


Pertanyaan dari Raka berhasil menarik perhatian Leon, ia kira hanya dirinya yang tahu karena Alex tidak banyak cerita.


"Kamu tahu?"


"Kemarin pak Alex cerita!"


Hehhhhh


Leon menghela nafas, ia sebenarnya begitu berat untuk berpisah dengan Alex, tapi demi kebaikan anak-anak apa boleh buat.


"Pasti berat ya setelah ini?" Raka menyadari bagaimana perasaan saudaranya itu.


"Begitulah! Sebelumnya aku tidak pernah sendiri, dan tiba-tiba harus melakukan semuanya sendiri."


"Ada aku!" Raka mengusap bahu saudara kembarnya itu, "Tidak pa pa, jangan khawatir!"


Leon menoleh dan tersenyum, benar_ Allah sudah menggantinya dengan saudara baru bahkan sebelum saudaranya pergi.


"Lagi pula pak Alex juga mengatakan dia akan sering datang berkunjung kan!"


"Iya, benar!" tetap saja rasanya berbeda dengan saat pria Arrogant itu berada di dekatnya.


"Sudah sampai!" ucap Leon saat mobil mereka sampai di pelataran depan toko Raka.


"kamu tidak mampir dulu?"


"Aku masih ada urusan, lain waktu saja!"


"Baiklah, hati-hati di jalan!"


Raka segera turun dari mobil dan kembali menutup pintu ya dari luar.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Raka segera memundurkan tubuhnya saat mobil mulai bergerak meninggalkan pelataran toko.


Tangan Raka melambai hingga mobil itu tidak terlihat lagi, tiba-tiba ada yang hilang saat mereka saling berjauhan lagi.


"Hehhhh, seandainya aku bertemu denganmu lebih cepat, pasti kita punya waktu banyak untuk hanya berdua!" gumamnya sebelum kemudian masuk ke dalam toko.


Ia masih memiliki banyak pekerjaan di dalam, membantu beberapa karyawannya yang mengedit beberapa naskah yang hampir siap untuk di cetak.


Tidak lupa ia sudah memesan makanan untuk para karyawannya, karena mungkin beberapa hari ini mereka akan lembur.


"Kalian sudah makan siang?"


"Belum mas, bentar lagi!"


"Bentar lagi makan siang datang, kalian bagi ya!"


"Terimakasih banyak mas Raka!" senyum sumringah selalu muncul dari bibir para karyawannya membuat lelah Raka sedikit menghilang.


"Aku ke ruangan dulu ya, nanti setengah jam lagi aku akan menyusul!"


"Iya mas, silahkan!"


Ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan sebelum melanjutkan aktifitasnya.

__ADS_1


Raka segera duduk di kursi kerjanya, mengambil ponsel yang sudah tidak ia perhatikan dari pagi.


"Dia sama sekali tidak mengirimiku pesan!" walaupun terlihat kecewa tapi tetap saja hal itu tidak menyurutkan rasa rindunya pada sang istri.


Dengan pasti ia mencari kontak nomor istrinya, dan melakukan panggilan video call.


"Assalamualaikum, dek!" senyum mengembang dari bibir Raka saat wajah sang istri memenuhi layar ponselnya.


"Waalaikum salam, mas! Ada apa?"


"Suami telpon kok ada apa sih!"


"Ya kan pasti ada sebabnya telpon!"


"Ya ada, sebabnya karena suami ini sedang merindukan istrinya yang cantik!"


"Mas, sejak kapan sih mulai gombal?"


"Sejak punya istri secantik kamu! Tapi sungguh mas Nggak bisa gombal!"


"Itu apa namanya kalau nggak gombal!"


"Ini kenyataannya sayang!"


"Mas, kapan pulang?"


"Sudah kangen ya sama mas?"


"Bukan begitu!" saat ini wajah Asna tampak memerah menahan malu karena ketahuan suaminya, "Aku kan cuma nanya!"


"Tapi kenapa wajahnya bersemu merah seperti itu?"


"Mas, kalau godain Asna terus. Aku matiin ya telponnya!"


"Ya jangan dong, mas kan belum selesai kangen-kangenan nya! Gimana di sana nggak ada masalah kan?"


"Dek, ada masalah?"


Asna hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau membuat orang lain terlalu mencemaskannya.


"Aku akan pulang kalau kamu tidak mau jujur!"


"Tidak ada sungguh, sudah ya mas aku harus bantu umi memasak buat makan malam!"


"Tapi Na_!"


"Assalamualaikum mas!"


"Waalaikum salam!"


Raka meletakkan ponselnya saat sambungan telponnya terputus.


"Semoga tidak terjadi apa-apa!"


...***...


Kali ini Raka tidak ikut lembur, ia harus segera pulang dan memastikan jika istrinya baik-baik saja.


Sesampai di rumah orang tuanya, hal pertama yang ia tanyakan adalah istrinya.


"Assalamualaikum Abi, Asna baik-baik saja kan?"


"Waalaikum salam!" ustadz Arif tersenyum dan mengusap bahu putra angkatnya itu. "Tuh di dapur sama umi kamu!"

__ADS_1


Ada perasaan lega yang seketika hinggap di hati Raka.


"Nanti temenin Abi buat ngasih tausiyah bisa?"


"Insyaallah bi, kalau begitu Raka temui Asna dulu ya bi!"


Setelah abinya memberi persetujuan, Raka pun segera melenggang meninggalkan sang Abi.


Dan benar saja, Asna sedang menyiapkan makanan untuk mereka makan.


"Assalamualaikum, dek!"


"Waalaikum salam, mas sudah pulang? Katanya mau lembur?"


"Nggak jadi!" Raka memilih duduk dan memperhatikan istrinya yang sedang meletakkan baskom sayur di atas meja.


"Kenapa?"


"Soalnya mas lagi kangen berat!"


"Mas_, nanti kalau umi sama Abi dengar gimana!?" tampak Asna begitu panik mendengar gombalan sang suami.


"Nggak pa pa, kan mereka malah senang melihat kita semakin lengket!"


"Ehhh, Raka sudah pulang!?" umi yang baru saja keluar dari dapur segera menyapa Raka.


"Iya umi!" Raka segera bangkit dan meraih tangan uminya, mencium punggung tangannya dan kembali duduk.


"Kata Abi malam ini ada pengajian di masjid, sudah di kasih tahu belum sama Abi kamu?"


"Sudah umi!"


"Ya sudah sana kamu mandi dulu, nanti siap-siap ya!"


"Iya umi!" Raka pun segera berdiri dan menuju ke kamarnya. Ia menuju ke kamarnya.


"Sudah ini kamu tinggal dulu, urus suami kamu dulu!"


"Baik umi!" Asna yang sudah mendapat perintah dari ibu mertuanya itu segera menyusul suaminya ke kamar.


Saat ia menutup pintu, dirinya di buat terkejut karena tiba-tiba suaminya memeluk dari belakang.


"Mas_!"


"Maaf, mas mengagetkan mu ya?"


"Mas, lepaskan!" Asna berusaha meronta tapi Raka malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Biarkan seperti ini sebentar saja! Aku mohon! Aku dengan ingin menghirup aroma tubuh kamu!"


Mendengar suara suaminya yang melemah membuat Asna tidak mampu menolak lagi, ia akhirnya setuju membiarkan suaminya seperti itu.


Raka meletakkan dagunya di bahu Asna dengan mata yang terpejam. Tangannya melingkar sempurna di pinggang ramping Asna, walaupun harus menunduk tapi tetap saja Raka merasa nyaman dengan posisi ini.


"Terimakasih ya sayang! Kamu tahu rasa lelahku kini sudah tergantikan!?"


"Hmmm!" entah kenapa Asna mulai merasakan debaran yang membuat dadanya seperti susah bernafas saat ini. Tubuhnya seperti terkena sengatan listrik yang mengalir deras di sekujur tubuhnya hingga membuat sendi-sendi nya tidak mampu lagi menolak.


BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2