Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (65)


__ADS_3

Hari-hari Asna masih sama, ia terus di sibukkan dengan urusan toko buku milik suaminya dan di sela-sela waktu senggangnya ia akan menemani suaminya di rumah sakit, sesekali umi atau mama Ayu akan datang ke rumah sakit atau ke rumah Asna untuk menghibur Asna atau kalau tidak mereka akan menemani Asna untuk periksa kehamilan, dua bulan lagi Asna akan melahirkan tapi suaminya tetap tidak ada tanda-tanda akan sadar. Ini sudah bulan ke lima suaminya koma, kata dokter pribadi Leon mungkin jika Raka sadar akan ada masalah dengan sistem saraf nya karena ini sudah terlalu lama, lebih lama dari sebelumnya.


Asna hanya bisa pasrah dan berdoa untuk kesembuhan sang suami, Leon juga hampir setiap hari menjenguk saudaranya itu hanya untuk sekedar mengajaknya bicara. Ia terus berharap saudaranya bisa bangun.


"Nak, hari ini ke pesantren sama umi ya?" suara lembut di telpon itu menemani Asna yang sedang sibuk memasak di dapur , "Biar Agus jemput nanti!"


"Maaf umi, bukannya tidak mau tapi Asna hari ini ada janji sama pemilik toko umi!"


"Jadi uangnya sudah terkumpul?"


"Alhamdulillah umi, sebenarnya kurang sedikit tapi tabungan Asna cukup untuk menambalnya!"


"Ya Allah Asna, kalau Raka tahu kamu gunain tabungan kamu, pasti Raka tidak akan suka!"


"Mas Raka jangan sampai tahu umi, lagi pula mulai bulan ini Asna sudah bisa mulai menabung umi!"


"Syukurlah kalau begitu, kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan minta bantuan Abi atau umi ya sayang!"


"Iya umi!"


"Ya sudah hati-hati ya, nanti siang kalau mau ke rumah sakit, sekalian sama umi setelah acara pengajian selesai!"


"Iya umi!"


Setelah mengucapkan salam, sambungan telpon pun akhirnya mati.


Mbak Rumi yang sedang bersih-bersih di halaman belakang masih bisa mendengar percakapan mereka, ia pun masuk untuk memastikannya.


"Mbak Asna, kalau ke rumah pemilik toko biar mbak temenin ya, saya tahu rumahnya!"


"Nggak ngrepotin mbak?"


"Ya nggak lah mbak!"


"Setelah sarapan kita langsung ke sana aja ya mbak, takut kesiangan!"


"Iya!"


Asna pun mengakhiri memasaknya, ia hanya masak seadanya. Asna tidak pernah pilih-pilih makanan meskipun sedang hamil.


Selesai sarapan, ia dan mbak Rumi bersiap-siap ke rumah pemilik toko. Mereka memesan taksi on line sepeeti biasanya.


Asna begitu takjub saat sampai di depan rumah pemilik toko,


"Masyaallah rumahnya bagus banget mbak!"


"Iya, beliau memang terkenal haji paling kaya di sini! Tokonya di mana-mana termasuk yang di tempati mas Raka! Sebenarnya pak haji tidak meminta mas Raka buat bayar sebanyak itu, tapi karena ada yang nawar toko itu sebesar itu, mas Raka tidak enak hati kalau bayarnya hanya sedikit!"


"Baik berarti ya mbak, pak haji ini?"

__ADS_1


"Insyaallah baik, tapi kalau nggak kenal kelihatannya galak banget!"


Kedatangan mereka langsung di sambut satpam yang siap membukakan gerbang.


"Mau cari siapa mbak?" tanyanya ramah.


"Apa pak haji nya ada?"


"Ada, dengan siapa ya?"


"Katakan kalau saya Asna, istrinya mas Raka!"


"Silahkan duduk dulu biar saya panggilan pak hajinya!" satpam itu meminta Asna dan mbak Rumi duduk di teras rumah lengkap dengan tempat duduk dan meja yang berbahan kayu dengan warna coklat tua mengkilat.


"Meskipun dekat jalan, tapi udaranya sejuk ya mbak!?" Asna tidak merasakan panas yang sama seperti saat mereka berada di luar gerbang tadi.


"Ya iya lah mbak, halamannya saja seluas ini, banyak pohon lagi!"


Saat mereka sedang asik membicarakan rumah mewah itu, dari dalam muncul seorang pria dengan kumis dan jenggot tebal yang sebagiannya sudah berwarna putih, pria itu hanya memakai kaos tipis berwarna putih dan celana kombor yang warnanya senada. Pria berusia sekitar enam puluh tahunan itu memang benar tampak galak.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" Asna dan mbak Rumi segera berdiri menyambut pria itu.


"Duduklah, duduklah ...!"


Setelah mendapat ijin dari pemilik rumah, Asna dan mbak Rumi kembali duduk, Tidka berapa lama dua gelas minuman dingin keluar dan di suguhkan pada Asna dan mbak Rumi.


"Terimakasih pak!" Asna dan mbak Rumi pun tanpa ragu meneguknya karena memang tenggorokannya saat ini begitu kering.


"Yang mana yang istrinya Raka?" pak haji tampak menatap Asna dan mbak Rumi bergantian.


"Saya pak!" Asna langsung menjawabnya.


"Sudah kelihatan!" Asna hanya bisa menelan Salivanya saat mendapat tanggapan tidak terduga dari pak haji.


Kalau sudah tahu kenapa pakek tanya tadi ...., gerutu Asna dalam hati.


"Saya Tutut prihatin dengan keadaan Raka, saya baru mendengar berita tentang Raka dari ustadz Arif kemarin! Kamu yang tabah ya, insyaallah Allah yang akan memberi jalan yang terbaik untuk kalian!"


Ternyata benar kata mbak Rumi, menyebalkan sekaligus baik ...


"Amin, terimakasih atas doanya pak haji!"


"Ada apa ini? Maksud saya apa ada hal penting hingga membuat kalian datang ke sini?"


Asna pun langsung mengeluarkan satu amplop besar berwarna coklat dengan stempel bank negara dengan tulisan sejumlah uang di sana.


"Saya sebenarnya ingin melunasi toko yang di tempati mas Raka, pak haji! Sebenarnya saya hanya melanjutkan akad yang pernah pak haji dan mas Raka lakukan dulu!"

__ADS_1


Pak haji pun mengambil amplop itu dan membukanya, mulai melihat isinya, sama persis seperti yang di tawarkan oleh pengusaha waktu itu.


"Ini terlalu banyak, saya akan mengembalikan sebagiannya!"


"Tidak, jangan pak haji! Jika anda ingin mengembalikannya kembalikan kelaka sama mas Raka bukan sama saya, jika mas Raka tetap tidak menerimanya, berarti memang itu sudah hak pak haji, pak haji bebas untuk menggunakan uang itu! Saya hanya melakukan sesuai akad pak haji dengan mas Raka dulu, semoga pak haji tidak tersinggung atas hal ini!"


Pak haji tampak tersenyum, "Cerdas sekali kamu, pinter Raka cari istri!"


"Terimakasih atas pujiannya pak haji!"


Pak Haji pun memanggil seseorang dari dalam, ia memintanya untuk mengambilkan sesuatu di ruang kerjanya.


"Baik pak!"


Tidak berapa lama, orang itu keluar dengan membawa sebuah map tipis berwarna hijau daun.


"Bawalah ini, ini sudah menjadi hak kamu! Saya bahkan sudah mengalih namakan surat ini atas nama Raka! Walaupun Raka tidak ada niat untuk membelinya, tetap saja toko itu akan menjadi miliknya karena saya sudah mengenalnya sedari dulu, dia anak yang baik!"


"Ya Allah, terimakasih pak haji, pak haji sangat baik!" Asna mengambil buku tipis itu dan membukanya dengan tangan bergetar dan benar saja toko beserta tanah itu atas nama Raka suaminya.


Setelah urusannya dengan pak haji selesai, Asna dan mbak Rumi pun berpamitan untuk pulang. Hari ini memang Asna sengaja tidak datang ke toko.


Mereka sudah naik taksi kembali, bibir Asna tidak hentinya tersenyum dan mengucap syukur.


"Kok ada ya mbak orang sebaik pak haji!"


"Buktinya ada kan mbak Asna, mas Raka juga sangat baik! Mbak aasna tahu, dulu saat semua orang meninggalkan saya karena saya seorang janda dengan lima anak, mas Raka yang dengan ringan tangan membantu saya, dia Carikan saya pekerjaan, setiap pulang dari mana saja dia selalu mampir ke rumah hanya untuk memberikan oleh-oleh buat anak-anak saya, mas Raka juga orang baik mbak, makanya saya tidak pikir dua kali saat mas Raka menawari saya untuk menjaga mbak Asna!"


"Terimakasih ya mbak, Asna nggak tahu jadinya apa kalau mbak Rumi tidak temani Asna di rumah!"


"Semua sudah di takdirkan sama Allah mbak, mbak Asna hanya di minta untuk sabar!"


"Insyaallah! Setelah ini kita lanjut belanja bulanan ya mbak!"


"Bukannya tadi umi Nazwa mau ngajak mbak Asna ke rumah sakit bareng!"


"Oh iya! Belanjanya gimana dong!"


"Biar saya aja mbak, mbak Asna tinggal list aja barang yang mau di beli, biar saya yang belanja!"


"Yang benar nggak pa pa?"


"Nggak pa pa mbak!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2