
Leon terus menggerutu di dalam kamarnya, ia kesal karena wanita itu pergi tapi dia juga tidak bisa mencegahnya.
Ia juga tidak faham dengan perasaannya saat ini, ia berharap wanita itu kembali dan menahannya untuk jangan pergi atau setidaknya ikut dengannya.
"Bagaimana pak, apa anda sudah siap?"
Pertanyaan seseorang menyadarkan Leon, seorang perawat yang akan merawatnya di rumah sudah siap. tapi kali ini bukan seorang perempuan , dia memilih perawat laki-laki.
"Bisa nggak saya minta tolong!"
"Apa pak?"
"Tolong titipkan ini untuk suster Nisa, saat dia kembali!" ucap Leon sambil menyerahkan selembar kertas yang sudah di lipat dengan begitu rapi.
"Baik pak!"
Perawat itu kemudian menitipkan surat itu kepada salah satu perawat yang kebetulan berjaga di kamar sebelah.
Perawat laki-laki itu kembali menghampiri Leon yang sudah bersiap-siap untuk pergi.
Leon sudah duduk di kursi rodanya dengan slang infus yang sudah di lepas.
"Mari pak!"
Perawat itu mendorong kursi roda Leon dan di depan rumah sakit sudah di sambut dengan mobil dan beberapa anak buah Leon.
Berkali-kali Leon menoleh ke belakang, berharap wanita itu kembali dan mengucapkan salam perpisahan.
Tapi tetap saja tidak ada, wanita itu mungkin sedang tidak mengingatnya sekarang.
Hehhhh
Helaan kasar terdengar dari nafasnya, dia terlalu banyak berharap.
Leon pun sekarang benar-benar yakin untuk masuk ke dalam mobilnya.
Bersama dengan gadis yang sama selama beberapa Minggu, membuatnya terlalu terbiasa dengannya.
Bukan berapa lama dia bersama, tapi semenjak pertama kali bertemu gadis itu sudah sangat mencuri perhatiannya.
Gadis dengan penampilan lemahnya begitu berani mempertaruhkan nyawanya untuk menolong dirinya.
Sejak saat itu, rasa untuk ingin mengenal gadis itu begitu besar, hingga ia menyuruh seseorang untuk menyelidiki semua tentang gadis itu.
Banyak hal yang sengaja Leon lakukan agar bisa dekat dengan gadis itu salah satunya memintanya menjadi perawat pribadinya.
Walaupun sedikit jutek tapi gadis itu begitu lembut di beberapa hal, saat merawatnya gadis itu begitu telaten.
Seperti mimpi indah yang sempat singgah di hidupnya, bertemu dengan Nisa adalah sebuah anugrah.
Mungkin ini yang di rasakan Alex saya pertama kali bertemu dengan Aisyah.
Dia berada di tempat yang jauh berbeda dengan gadis yang bernama Nisa, tapi hatinya bertekad untuk bisa memilikinya.
Ada dorongan kuat yang ingin mengantarnya ke sana suatu saat nanti.
Ia masih punya janji yang belum dia tepati untuk kakak sekaligus atasannya, memastikan hidupnya bahagia dan bersatu kembali dengan keluarganya.
...🌺🌺🌺...
Hari Leon di habiskan di rumah, tapi ada yang berbeda dari yang ia selalu pegang sebelumnya.
__ADS_1
Beberapa hari lalu, saat perawatnya akan pulang, dia memintanya untuk membelikan satu buku yang bisa ia gunakan untuk belajar agama. Tapi perawat itu bukan hanya membelikan satu tapi beberapa buku sekaligus, ada buku tata cara sholat, buku-buku tentang indahnya Islam dan sebagainya.
Hari-hari Leon selama masih belum bisa pergi ke mana-mana, di sela waktunya bekerja dia jadi tertarik untuk mengerti soal agama Islam.
Hingga setelah dua minggu di rawat Leon pun benar-benar sembuh, walaupun ada beberapa bekas luka yang masih tersisa.
Hari pertama saat ia benar-benar di nyatakan sembuh yang ia lakukan adalah menemui Alex.
Satu bulan sudah cukup baginya untuk berdiam di rumah tanpa melakukan apapun, tanpa berolah raga.
Kedatangannya langsung di sambut oleh seorang petugas,
"Mas Leon, lama tidak ke sini?"
"Iya pak, ada sedikit musibah!"
"Baru tiga hari lalu, gadis yang berhijab yang biasa membawakan berkas untuk pak Alex datang tapi bukan bawa berkas, dia membawa makanan untuk pak Alex!"
Leon mengerutkan keningnya, "Nisa?"
"Iya, namanya Nisa, dia datang sama pria yang sepertinya saudaranya!"
Kenapa Nisa masih ke sini? Aku tidak memintanya!
"Terimakasih pak atas informasinya, bisa sekarang saya bertemu dengan kak Alex?"
"Silahkan!"
Dan Leon tahu di mana Alex selalu berada di jam-jam seperti ini, Leon melepas kaca mata hitamnya. matanya langsung tertuju pada pria yang sedang duduk sendiri di bangku kayu yang ada di bawah pohon.
Leon berjalan perlahan menghampiri pria itu, ia berdiri di sebalik kiri bangku kayu itu dan menerawang apa yang sedang di tatap pria itu.
"Le!"
"Bagaimana kabar mas Alex?"
"Duduklah!"
Leon pun duduk saat Alex sudah menggeser duduknya, memberi tempat untuk Leon.
Dua pria itu sedang duduk dengan mata yang sama-sama melayang jauh.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah benar-benar sembuh?"
Leon menoleh, walaupun tidak ada yang cerita. Ia tahu Alex pasti akan mengetahuinya, "Sudah!"
"Maaf ya!"
"Kenapa mas Alex jadi minta maaf?"
"Kamu tidak akan mengalami semua ini jika bukan gara-gara aku! Sudah waktunya kamu memikirkan hidupmu sendiri, aku baik-baik saja tanpa kamu, jadi pergilah!"
Leon hanya tersenyum mendengar ucapan Alex, mau sekeras apapun pria itu mengusirnya, sekeras itu juga dia akan bertahan.
"Kamu terlalu keras kepala!" ucap Alex lagi yang mengerti dengan arti senyuman Leon.
"Mas Alex sudah tahu jawabannya dan aku tidak akan mengulangnya lagi, mas!"
"Menikahlah!"
Tiba-tiba kata-kata itu muncul dari mulut Alex, Leon terdiam. Dia tidak pernah menceritakan apapun dengan pria di sampingnya tentang kehidupan pribadinya. Tapi tiba-tiba kata-kata itu muncul di saat yang bersamaan dengan hatinya yang sekarang sedang ada seseorang yang dia inginkan.
__ADS_1
"Gadis itu baik!"
Lagi-lagi Leon mengerutkan keningnya, belum juga dia bercerita tapi Alex seperti tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini.
"Mas!?"
Alex menoleh padanya dan tersenyum, "Jangan sia-siakan gadis baik, jangan sampai seseorang mendahului kamu dan kamu akan menyesal!"
Leon jadi teringat bagaimana Alex mendapatkan Aisyah, pernikahan mereka berdasarkan paksaan. Aisyah adalah gadis baik, mungkin jika saja Alex tidak melakukan itu dulu, Aisyah sudah menjadi istri seorang Gus Fahmi.
Proses yang salah itu, tapi tidak akan pernah di sesali. Alex malah sangat bersyukur karena proses yang salah itu telah mempertemukannya dengan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya.
Tapi sepertinya Leon berpikir ulang pada proses yang salah itu, jika dia ingin memiliki seseorang dalam hidupnya, dia harus melakukannya dengan proses yang benar.
Tapi sulit baginya untuk langsung mengakui kalau kali ini dia sedang menginginkan seseorang, apalagi sekarang keadaanya sudah cukup membuatnya sulit.
Dia tidak mungkin mengikat seseorang dalam janji suci jika keluarganya belum benar-benar bersatu.
"Aku tidak akan menikah sebelum mas Alex bersatu kembali dengan Aisyah!"
"Jangan memutuskan sesuatu karena kamu sedang terbawa emosi! Aku ataupun Aisyah pasti akan sangat bahagia melihat kamu menikah! Apalagi dengan gadis yang baik pula!"
...🌺🌺🌺...
Leon tidak bisa melupakan kata-kata Alex, matanya menerawang jauh ke luar mobil. Rintik air hujan seakan sedang menyampaikan rindunya pada seseorang.
Hehhh
Lagi-lagi helaan nafas, seolah menyadarkannya bahwa masih banyak yang harus dia lakukan sebelum memikirkan dirinya sendiri.
"Kita berhenti di kafe depan!" ucapnya pada sopir. Ia sedang ingin menikmati kesendiriannya tanpa siapapun.
"Baik pak!"
Sopir pun menghentikan mobilnya di depan di sebuah kafe.
"Kamu pulang dulu saja, saya akan pulang dengan taksi!"
"Baik pak!"
Leon pun segera turun dari mobil dan berlari kecil masuk ke dalam kafe dengan tangan yang ia gunakan untuk menutupi kepalanya agar tidak basah. Ia tidak menyadarinya dari arah lain juga ada seseorang yang juga sedang berlari agar tidak basah kehujanan.
"Hahhh, basah kan!" suara dari sampingnya dan berhasil mencuri perhatian Leon.
Seperti sebuah mimpi, gadis yang beberapa hari ini memenuhi pikirannya sedang berdiri di sampingnya dengan segala keluh kesahnya.
Sudut bibir Leon melengkung ke atas, menunggu sampai gadis itu menyadari keberadaannya.
Dan benar saja, saat gadis itu mendongak. Dia tampak begitu terkejut.
"Mas Leon!?"
Bersambung
..."Apa yang kita kira itu sebuah cobaan yang pahit seringkali menjadi berkah yang tersamarkan." - Oscar Wilde...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...