
Alex cukup lama berada di bawah meja, setelah puas menangisi kepedihannya. Ia pun memilih beranjak dan merapikan mejanya lalu menghapus air matanya.
"Aku harus segera menemui Aisyah dan bu Santi, aku harus minta maaf pada mereka! Sudah cukup penderitaan yang aku bebankan pada mereka!"
Kesal, sedih, putus asa, apalagi yang lebih menyedihkan dari itu, pria itu sedang dalam masa yang sangat terpuruk. Sebelumnya ia merasa apa yang di lakukan adalah kebenaran, sangat benar dan semua akan kembali baik-baik saja.
Tapi setelah mengetahui kebenarannya, ia jadi merasa ragu kalau mereka akan dengan mudah memaafkan apapun yang ia perbuat.
Alex kembali masuk ke kamar mandi, ia membersihkan wajahnya dari sisa air matanya.
Masih jam tiga sore, mungkin sekarang semuanya sudah di rumah. Alex mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan hendak keluar rumah.
Tok tok tok
Langkahnya terhenti saat mendengar pintu ya di ketuk dari luar.
Deg
"Aisyah ....!" gumamnya. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak begitu kencang.
"Itu pasti Aisyah ....!"
Baru saja ia begitu yakin untuk menemui wanita itu, tapi saat ia yakin kalau yang sedang berdiri di luar pintu itu Aisyah ia malah terlihat panik, bahkan bibirnya bergetar saat menyebut nama itu.
"Bagaimana ini?"
Alex mengedarkan pandangannya, tiba-tiba tenggorokannya begitu kering. Alex segera berlari ke dapur dan meneguk air putih.
"Assalamualaikum ....!"
Mungkin karena tidak ada sahutan dari pemilik rumah, orang yang berdiri di balik pintu itu mengucapkan salam.
Tapi jantung Alex semakin menjadi saja, ia sangat mengenali suara itu, suara salam yang selalu membuat Alex jatuh cinta pada sosok itu.
"Aisyah ....!"
Alex dengan cepat melangkahkan kalinya ke depan, ia kembali berdiri di balik pintu. Menenangkan kembali perasaannya yang terasa jungkir balik.
Hehhhhh hehhhhhhh ....
He ...... hehhhhhh .....
Tangannya mulai meraih gagang pintu itu dan ...
Ceklek
Pintu perlahan terbuka, seperti sebuah hembusan angin yang menerpa wajahnya. Senyum bahagia tidak bisa ia sembunyikan lagi, bibirnya bahkan bingung bagaimana harus bersikap.
__ADS_1
Ia menarik sudut bibirnya hingga melukis garis lengkung ke atas tapi terdapat titik air di sudut matanya.
"Waalaikum salam, Ay ...!"
Ternyata hal yang serupa juga terjadi pada wanita yang kini berdiri di depan pintu itu,
Salam yang tadi ucapkan dengan begitu lantang tiba-tiba menghilang, bibirnya bergetar dan matanya yang sayu menatap pria di depannya, pria yang sangat ia rindukan. Pria yang di setiap sujudnya selalu mananya yang ia sebut.
"Mas Alex!"
Kakinya bahkan seakan kehilangan kekuatannya, kantong plastik yang ada di tangannya tiba-tiba berlepas begitu saja, untung reflek Alex masih sangat bagus, ia segera meraih kanton plastik dan juga tubuh Aisyah.
"Kita masuk ya!"
Alex menarik tangan Aisyah ke dalam rumahnya, Aisyah hanya bisa pasrah. Ia masih terlalu terkejut.
Alex meletakkan kantong plastik itu di atas meja. Ia juga sudah menutup kembali pintunya dan kembali menghampiri Aisyah.
Srekkkkk
Alex dengan cepat memeluk tubuh istrinya itu. Memeluknya dengan begitu erat.
"Aku sudah bilang aku pasti akan menemukanmu kembali!"
Aisyah masih tetap berdiri terpaku, ia juga tidak bermaksud membalas pelukan suaminya itu.
Pria itu menggenggam erat bahu istrinya, sedikit menunduk agar bisa melihat jelas wajah istrinya.
"Sayang ...., apa kau marah sama aku? Aku tahu kesalahanku terlalu besara, bahkan aku sudah membiarkan kamu menderita sendiri, hamil sembilan bulan tanpa aku, kamu merawat anak-anak kita sendiri!"
Tapi Aisyah masih tetap diam membuat Alex semakin bingung.
"Kamu boleh menghukum aku, tapi jangan membenciku, aku mohon berbicaralah ...., bicaralah padaku!"
Alex sampai menggoyangkan bahu Aisyah dengan begitu keras, tapi Aisyah masih diam.
Ia melepas bahu Aisyah, memutar tubuhnya empat puluh lima derajat dan mengusap kepalanya kasar. Ia benar-benar tidak akan sanggup jika sampai Aisyah membencinya. Air matanya sudah tumpah juga.
Alex kembali menatap Aisyah dan meraih tangan Aisyah dengan sangat kasar dan memukul-mukulkannya ke wajahnya dengan begitu keras.
"Ayo pukul aku ...., pukul aku sepuas kamu ...., pukul aku ..., tapi jangan diamkan aku, aku akan mati ....!"
Aisyah pun mengeluarkan air matanya,
"Berhenti ....!" teriak Aisyah membuat Alex menghentikan tangannya.
Alex menatap Aisyah lagi,
__ADS_1
"Apa yang mas Alex lakukan? Kenapa menyakiti diri sendiri seperti itu?"
Aisyah menakup wajah Alex yang memerah karena pukulannya.
"Ini pasti sangat sakit mas!" ucap Aisyah khawatir.
"Bagaimana bisa kau mengkhawatirkan aku!"
Hiks hiks hiks .....
Aisyah bukannya menjawab ucapan Alex, ia malah mengeraskan tangisannya.
Meluapkan perasaannya, sedih, harus, terkejut, senang, semuanya bercampur menjadi satu sampai ia kehilangan suaranya.
Srekkkkk
Alex dengan cepat menarik tubuh Aisyah dalam pelukannya. Memeluknya dengan begitu erat, kali ini Aisyah pun membalas pelukannya.
Mereka hanya saling berpelukan meluapkan rasa rindunya tanpa ingin bicara. Hanya ingin memeluk dengan begitu erat.
Air mata Aisyah sudah membasahi kaos putih di tubuh Alex,
Biarkan seperti ini ...., hari ini adalah saat yang paling aku tunggu ..., dari 1444 hari yang ku lalui tanpa kamu kini terbayar sudah ..m, terimakasih karena sudah hadir dalam hidupku, menjadi lilin kecil di tengah gelapnya hati ini ...., terimakasih ...
Alex melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Aisyah dan menatapnya.
"Terimakasih ya!"
"Untuk?"
"Untuk waktu yang sudah kamu habiskan untuk menungguku ...!"
"Karena aku tahu mas, mas Alex pasti akan menemukan kami ..., tanpa aku harus memberi tah_!"
Ucapan Aisyah menggantung saat tiba-tiba ....
Cup
Tiba-tiba bibir Alex mendarat di bibir Aisyah membuat Wanita itu terdiam.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰