
Raka sudah siap dengan baju Koko rapi, sarung dan peci. Jika di lihat seperti itu dia benar-benar lebih menawan.
Asna yang baru menghabiskan jusnya hendak meletakkan gelas kotornya di dapur di kejutkan lagi dengan kedatangan tidak terduga dari sang suami.
"Dek!"
Jantung Asna seperti hendak melayang mendengar panggilan itu dari arah belakang, ia bahkan hampir menjatuhkan gelas yang ada di tanganya, beruntung sikap refleknya cukup baik.
"Astaghfirullah mas, tadi mas Raka yang panggil Asna dek?"
Raka menganggukkan kepalanya, "Iya!"
"Mas Raka juga sudah ingat panggilan buat aku?"
"Tidak, hanya dari membaca! Baiklah jangan di perpanjang, aku berangkat dulu!" ucap Raka tak acuh sambil mengulurkan tangannya hingga hampir sampai di hidung Asna yang tubuhnya lebih mungil dari dirinya.
Asna malah terlihat linglung, dia bingung harus apa sekarang.
"Aku mau berangkat, kamu tidak mau mencium tanganku?"
"Ahhhh!" Asna melepas keterkejutannya dan tersenyum, ia segera meletakkan gelas kosongnya di meja dapur dan menyambut tangan Raka, menciumi punggung sekaligus telapak tangan suaminya berkali-kali,
"Assalamualaikum, mas!"
Raka tersenyum dan mengusap kepala Asna yang masih tertutup hijab, "Waalaikum salam!"
Asna dengan berat hati membiarkan suaminya pergi, ia terus memegangi jantungnya tidak siap untuk menunggu nanti malam, ia berharap suaminya akan melakukan spontanitas yang sama.
"Ahhh, aku harus segera mandi!"
Setelah membersihkan gelasnya ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi sekalian mengambil wudhu.
Malam hari, Raka kembali di antar oleh Bilal. Tampak jalan Raka kembali tertatih, Asna yang melihat sambil menggendong Shahia segera menghampiri sang suami,
"Mas Raka, mas Raka kenapa?" Asna menatap ke arah Bilal dan suaminya.
"Assalamualaikum mbak Asna!"
"Waalaikum salam, mas Raka kenapa?" Raka yang tidak mengindahkan pertanyaan Asna memilih segera duduk di teras rumah karena kakinya yang terasa begitu nyeri.
"Tadi tiba-tiba Gus Raka kembali merasakan nyeri pada kakinya, mbak!"
__ADS_1
"Mas Raka jatuh ya?"
"Enggak kok mbak, tadi pas habis ngasih pengajian, mau bangun tiba-tiba kakinya kayak kram!"
"Aku nggak pa pa dek, ini hanya gara-gara efek seharian aku buat jalan terus, nanti juga sembuh lagi!" Raka segera mematahkan kekhawatiran sang istri.
"Kamu pulang aja Bil, lagi pula aku sudah tidak pa pa?"
"Beneran Gus, apa aku panggilakan tukang urut aja yang Gus?"
"Jangan, nggak usah! Sama dokter juga nggak boleh di urut!" sepertinya memang beberapa Minggu ini ia sudah tidak pernah datang ke dokter untuk memeriksa keadaannya karena merasa sudah lebih baik.
Fisik Raka yang masih terbilang lemah memang tidak boleh melakukan aktifitas terlalu banyak, sesekali hal seperti ini akan datang, seperti punggung sakit, kaki nyeri bahkan kadang. jantungnya akan tidak terkontrol. Merasakan nyeri di ulu hati, tapi semua itu akan kembali membaik saat di gunakan untuk istirahat sejenak. Menurut dokter, Raka memang belum boleh beraktifitas terlalu banyak dalam satu tahu ke depan sampai semua organ tubuhnya benar-benar pulih.
"Ya sudah kalau begitu saya pergi dulu ya Gus, mbak Asna. Nanti kalau ada apa-apa hubungi saya saja!"
"Iya pasti, terimakasih ya Bil!"
"Sama-sama mas! Saya permisi dulu! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
"Mas, sakit banget ya?"
"Nggak pa pa, sebentar lagi juga baikan, sepertinya tadi salah gerak saja!"
"Bentar ya mas!" Asna pun kembali masuk meninggalkan Raka yang masih di depan. Ia sengaja meninggalkan Raka untuk menurunkan Shahia terlebih dulu.
"Tunggu sebentar di sini ya sayang!" Asna menurunkan Shahia di karpet yang ada di depan tv, memberinya beberapa mainan agar putri kecilnya itu tidak berpindah dari tempatnya.
Setelah memastikan Shahia aman dengan mainannya, Asna pun kembali menghampiri Raka,
"Mas, aku bantu!" tanpa permisi ia segera memeluk suaminya dan bersiap untuk memapah tubuh sang suami.
Tapi hal itu malah mendapat respon berbeda dari sang suami, sang suami yang terkejut mendapat sentuhan ekstrim dari Asna malah terpaku, merasakan detak jantungnya yang bekerja semakin ekstra, Raka pun mendorong Asna agar tidak terlalu dekat dengannya,
"Jangan terlalu dekat!" Raka takut Asna mendengarkan detak jantungnya karena kini kepala Asna tepat menyender di dadanya.
Asna yang kembali menjauh pun menatap sang suami dengan tatapan protes,
"Mas, mana bisa tidak dekat! Kalau Asna nggak dekat mas Raka bisa jatuh!"
__ADS_1
Asna pun melakukan hal yang sama seperti tadi hingga telinganya menempel tepat di letak jantung Raka.
"Jangan mendengarkan apapun, tutup telingamu!"
Mendengarkan peringatan dari sang suami, Asna malah semakin penasaran dan saat ia menajamkan telinganya, benar ia bisa mendengar detak jantung sang suami yang begitu cepat. Asna tersenyum, ia sendang menikmatinya saat ini. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mau berdiri, kalau kamu memelukku seperti itu, aku tidak akan bisa berdiri!"
"Ahhh iya, maaf!" Asna pun kembali melonggarkan pelukannya tapi tetap berjaga agar suaminya tidak terjatuh.
"Aku bisa jalan sendiri, cukup ambilkan tongkatku saja!"
"Nggak mau, Asna mau Asna yang jadi tongkat mas Raka!"
"Keras kepala sekali!" gerutu Raka tapi Asna tidak peduli, ia tetap memapah suaminya sampai di dalam rumah.
"Mau langsung ke kamar atau di mana dulu?"
"Aku mau menemani Shahia bermain dulu!"
Asna pun menuruti perintah suaminya, ia membantu Raka duduk di sofa yang ada di belakang Shahia.
Mereka bertiga layaknya keluarga yang lengkap, sesekali terdengar tawa saat Shahia melakukan hal yang lucu hingga Shahia yang mulai mengantuk pun meminta di pangku sang papa, saat Asna merayu Shahia, bayi kecil itu malah menangis, ia tetap ingin bersama papanya dan akhirnya tertidur di pangkuannya.
"Biar aku baya Shahia ke kamar mas, kayaknya sudah pulas tidurnya!"
Raka pun menyetujuinya, kakinya juga sudah mulai kram saat ini. Asna pun mengambil alih Shahia dan membawanya ke kamar, terlihat sudut bibir Raka tertarik ke atas. Hal yang ia rindukan kemarin kini telah kembali, dan benar ini yang ia inginkan.
Aku akan berusaha keras untuk memperbaiki semuanya dengan ingatanku yang terbatas ini ....
Bersambung
...Oh iya ada pengumuman nih, mulai bulan Juni aku bakal kasih season 2 dokter tampan itu suamiku tapi kisah Rangga dan Zea, jadi jangan sampai kelewatan kisah mereka ya, kasihan soalnya sama Rangga kalau nggak ada pasangannya, sudah tampan, pemilik cinta tulus lagi, sayang kan kalau dianggurin. Aku tunggu komentar-komentarnya kalian yang seru lagi nanti...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1