
Pagi ini Aisyah sengaja sholat subuh berjamaah di masjid, ia ingin mendengarkan
tausiyah dari Kyai Hamid, karena biasanya jika subuh kyai hamid akan mengisi
kuliah subuh di masjid kampungnya.
Ada tausyiah Kyai Hamid yang paling melekat di benak Aisyah pagi ini,
"Bagaimana kita belajar ikhlas, ingatlah ucapan sahabat Rasulullah SAW, Ali bin abi thalib saat di tanya tentang doa, bagaimana doa yang tidak di kabulkan, makan beliau berkata ' Jika Allah mengabulkan doaku, maka saya bahagia, tapi jika Allah tidak mengabulkan doaku saya lebih bahagia, karena yang pertama adalah pilihanku dan yang ke dua adalah pilihan Allah' Jadi jangan khawatir jika doa kita tidak terkabul, berarti Allah tahu apa yang lebih baik untuk kita dan itu bukan yang kita sebut dalam doa kita"
Aisyah keluar paling akhir, ia begitu malas untuk melangkahkan kalinya keluar dari
masjid, menurutnya masjid adalah tempat ternyaman nya untuk menenangkan diri.
“Aisyah!”
tiba-tiba seseorang memanggilnya sebelum ia memakai sendalnya, ia hafal suara
siapa itu. Itu suara Kyai Hamid.
Aisyah segera memutar tubuhnya menghadap Kyai hamid, kyai Hamid berjalan
menghampirinya.
“Assalamualaikum, Aisyah!”
“Waalaikum salam, Kyai!”
“Kamu tidak terlalu terburu-buru kan?” tanya Kyai hamid.
“Tidak Kyai!”
“Kita bicara sebentar ya!”
Mereka pun memilih teras masjid untuk berbicara, mereka duduk di anak tangga itu
dengan berjarak satu meter di antara mereka.
“Kyai sudah mendengar tentang keputusanmu menerima khitbah dari nak Alex!” ucapan
Kyai hamid membuat Aisyah terkejut, ia tidak menyangka jika berita itu langsung
di dengar oleh Kyai Hamid.
“Kyai hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kamu, semoga pernikahan yang akan kamu
jalani adalah pernikahan yang dilandasi karena Allah, bukan karena hal lain!”
Sekali lagi ucapan Kyai Hamid berhasil menggugah hati aisyah, ia seperti sedang mencuri dan ketahuan, rasa bersalah itu kini telah menumpuk di dadanya, ingin sekali
menangis dan memohon ampun.
“Itu saja yang ingin kyai katakan, oh iya apa kamu sudah tahu jika Fahmi sudah
kembali?”
Kali ini benar-benar berhasil membuat aisyah menoleh pada Kyai Hamid, ia ngin sekali
mendengar kabar pria itu, walaupun itu salah tapi perasaannya tidak bisa di
hindari.
Aisyah hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia takut jika suaranya keluar hanya akan ada getaran dari bibirnya saja, dengan rapat ia mengatupkan bibirnya.
"Insyaallah Fahmi akan menemuimu, selesaikan yang belum selesai agar tidak ada yang berat di kemudian hari!"
Lagi-lagi Aisyah tidak mampu menjawabnya. Ia terlalu takut jika air matanya tumpah saat ini juga.
“Semoga Allah memberikan keikhlasan untuk kalian berdua, jaga dirimu. Insyaallah kami
akan datang di pernikahan kalian, assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!” aisyah menatap nanar punggung Kyai hamid, ucapan Kyai hamid seperti sebuah amunisi, ia seperti batu saja di sadarkan dari gelombang besar dosa yang
siap menyeretnya, tapi beliau juga sudah memberi jalan keluar untuk masalahnya,
IKHLAS. Sebuah kata ampuh yang harus ia dalami setelah ini.
***
__ADS_1
Setelah sarapan, Aisyah segera berpamitan pada ibunya. Bu santi sengaja tidak jualan
tiga hari ke depan karena harus mempersiapkan pernikahan Aisyah.
“Bu…, Aisyah ke rumah Bianka ya hari ini!”
“Iya tapi jangan sampek sore ya, soalnya ibu mau nemenin adik kamu ke rumah
gurunya!”
“Iya bu!”
Setelah berpamitan dnegan ibunya, aisyah segera mengambil tas rangselnya dan berjalan
ke gang depan rumahnya. Ia tidak lagi menggunakan angkot, ia memilih ojek
online untuk mengantarnya, ia memilih ojek online yang pengemudinya wanita.
“Mbak, antar ke alamat ini ya!” ucap Aisyah saat mbak ojek online nya sudah sampai sambil
menunjukkan alamat Bianka.
“Siap mbak!”
Mbak ojek online itu mengendarai motornya menyusuri jalanan kota Surabaya. Sesekali
mbak ojek online bertanya banyak hal pada Aisyah. perjalanan dari gang depan
rumahnya hingga rumah Bianka memakan waktu lebih dari seperempat jam.
Mereka akhirnya sampai juga di sebuah kompleks perumahan. Dan akhirnya mereka
berhenti tepat di depan rumah khas perumahan, kecil dengan halaman yang sedikit
luas.
Aisyah pun segera turun dari motor dan menyerahkan helmnya ke mbak ojek online. Tak
lupa ia juga menyerahkan uang senilai dengan yang di sebutkan oleh mbak ojek
online.
“Siap!”
Setelah mbak ojek online meninggalkannya, ia kembali mengamati rumah itu. Tapi matanya
terfokus pada mobil yang terparkir di seberang rumah Bianka.
‘Bukankah itu mobil tuan Alex!” gumam Aisyah. ia mengurungkan niatnya itu masuk ke rumah
Bianka. Ia lebih tertarik untuk memeriksa mobil itu.
Ia melihat mobil itu terparkir begitu saja di depan gang tanpa ada penghuninya,
Aisyah mengelilingi mobil itu memastikan jika tidak ada orang di dalamnya, tapi
langkahnya lagi-lagi terhenti saat ia melihat adri kaca sebelah kanan depan yang sedikit terbuka.
“Astagfirullah!”
Aisyah terpekik, ia segera menutup mulutnya. Ternyata pekikan Aisyah
membangunkan pemilik mobil itu.
Di dalam mobil itu Alex telanjang dada dengan seorang wanita dengan pakaian yang
tidak terpakai sempurna sedang tidur sambil berpelukan. Alex mengedipkan
matanya, ia menyesuaikan cahaya yang mauk ke dalam matanya.
Alex melihat Aisyah di luar mobilnya sambil membalik tubuhnya memunggunginya. Aisyah sudah memuntahkan semua isi perutnya di sana, ia menjadi sangat mual melihat semua itu.
Alex segera membangunkan gadis yang ada di sampingnya itu.
“Pagi Honey!” sapa gadis itu begitu manja saat matanya terbuka, membuat Aisyah begitu
merinding mendengarnya.
Ya allah orang seperti apa yang
__ADS_1
telah engkau kirimkan untukku ini ya Allah …
“Pakai bajumu dan keluar dari mobilku!” ucap Alex dengan arrogantnya.
“Tapi Honey!”
“saya sudah mentransferkan bayaran mu ke rekening!”
Gadis itu pun segera mengenakan kembali pakaiannya yang berserakan dan segera
meninggalkan mobil Alex. Aisyah masih diam di tempatnya dengan memegangi perutnya yang masih merasa mual. Ia begitu terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat.
Alex memakai kembali kemejanya tanpa mengancingkan nya, ia segera membuka pintu
mobilnya dan menghampiri Aisyah, ia meraih tangan Aisyah.
“Lepas!”
teriak Aisyah sebelum Alex berhasil menarik tangannya dengan benar.
“jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu!” teriak Aisyah dengan mata yang memerah
menatap Alex dengan penuh kebencian.
“Ok Fine ….!"
"Makluk seperti apa sebenarnya anda ini?" teriak Aisyah lagi dengan air mata yang sudah membendung di matanya.
"Kamu harus siap dengan ini semua setiap hari, nanti setelah kita menikah!”
“Kamu benar-benar menjijikkan!” ucap aisyah lagi dengan sedikit berteriak. “Rasanya
pengen muntah!”
“Pelankan suaramu, jangan sampai semua penghuni kompleks ini keluar gara-gara
teriakan mu!”
Benar saja, ternyata Bianka bisa mendengar teriakan Aisyah, ia segera keluar dari alam rumahnya dan menghampiri Aisyah.
‘Ada apa Sya?” tanya Bianka sambil memeluk tubuh sahabatnya yang bergetar itu.
“Dia siapa Sya?”
Tapi Aisyah sepertinya tidak sanggup lagi menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, ia
terlalu syok dengan yang baru saja ia lihat.
“Kita ke rumah saja, Sya!”
Bianka tidak mau lagi berlama-lama, ia segera membawa Aisyah ke dalam rumahnya,
meniggalkan Alex di sama.
Bianka segera mendudukkan Aisyah di sofa rumahnya dan mengambilkannya segelas air. Ia
menunggu hingga sahabatnya itu siap untuk bercerita.
“Sekarang ceritakan padaku, Sya! Sebenarnya ada apa?”
Walaupun masih sedikit gemetar, Aisyah sedikit lebih tenang sekarang.
“Pria itu adalah tuan Alex, Bi. Dia yang akan menikah denganku!”
“Pria itu?” Bianka benar-benar terkejut mendengarkannya, menyayangkan sekali jika sahabatnya itu menikah dengan pria seperti itu.
“Iya, Bi!”
“Ya Allah, Sya …! Kenapa kau tidak menolaknya saja sih Sya, dia bukan pria baik-baik!”
“Seandainya bisa, Bi! Aku pasti akan menolaknya!”
Bianka hanya bisa memeluk sahabatnya itu, ia tidak bisa melakukan apapun selain hanya dukungan yang terbaik untuk sahabatnya.
Bersambung
Simpan dulu tisunya, bawangnya masih ada besok satu kilo sengaja aku rajang buat kalian
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰😘