
“hari ini aku ikut ke pesantren ya!" ucap Aisyah dengan begitu yakin.
“Suamimu nggak jemput?” tanya Bianka karena ia tahu akhir-akhir ini suami sahabatnya itu sedang rajin-rajinnya jemput.
“kebetulan hari ini jadwalnya lepas gips, jadi mas alex nggak jemput. Hanya Leon yang akan jemput!”
"Baguslah ....!"
Aisyah bersama Bianka menuju ke depan kampus setelah selesai mata kuliahnya. Mereka berharap hari ini bahkan Leon tidak akan menjemputnya, tapi ternyata harapannya tidak menjadi kenyataan. Leon datang tepat waktu.
"Selamat siang, nona!" sapa Leon.
"Mas Leon ...., gimana kalau hari ini aku pulangnya sama Bianka saja? Soalnya aku ada urusan sebentar dengan Bianka!"
"Maaf nona, tapi tuan Alex meminta saya untuk mengantar anda kemanapun nona pergi!"
"Nggak pa pa Ay, kita ke pesantrennya dengan dia!" ucap Bianka.
"Baiklah ....!"
Kini mereka pun sudah berada dalam mobil, dengan Leon sebagai pengemudinya sedangkan Aisyah dan Bianka duduk di bangku belakang.
***
Mereka pun kini sudah berada di pesantren, tujuan utama Aisyah adalah menemui Kyai Hamid, ia ingin menanyakan tentang suaminya pada pak Kyai.
Deg
Tapi tanpa sengaja ia bertemu kembali dengan gus Fahmi yang hendak keluar dari pesantren. Rasa itu seperti masih tersisa setiap kali mereka bertemu, ada rasa yang masih berbeda dan mereka harus melupakan hal itu.
“Assalamualaikum, Aisyah!” sapa gus Fahmi setelah berhasil melewati rasa keterkejutannya, ini untuk pertama kalinya Aisyah datang lagi ke pesantren setelah menikah.
“waalaikum salam, gus Fahmi!” jawab Aisyah dan Bianka bersamaan, Aisyah sudah menundukkan pandangannya. Ia tidak mau membuat hatinya terbuka lagi pada pria di depannya itu.
Mereka seperti dua orang yang tidak saling kenal hanya sapaan kaku biasa.
"Ada perlu apa ya, Aisyah ke sini?" tanya gus Fahmi.
“Aisyah mau ketemu pak Kyai!" ucap Bianka menjawab pertanyaan gus Fahmi, walaupun ia tahu pertanyaan itu tidak di tujukan pada dirinya, tapi ia tidak mau suasananya semakin canggung saja.
"Apa pak Kyai nya ada?” tanya Aisyah setelah sekian lama terdiam.
“Oh abi, abi di dalam!” ucap gus Fahmi, "Biar saya panggilkan, masuklah kalian ....!"
Gus Fahmi segera membuka pintu dan meminta Aisyah dan Bianka untuk masuk.
"Tunggu sebentar, duduklah dulu ....!"
"Makasih mas Fahmi!" ucap Bianka, ia segera mengajak Aisyah untuk duduk di kursi kayu panjang itu.
Gus Fahmi masuk ke dalam dan mencari abi-nya. Tidak berapa ia kembali keluar dengan Kyai Hamid dan Bu Nyai Sarah.
"Aisyah ....!" ucap Nyai Sarah dengan begitu bahagia bisa melihat Aisyah lagi.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Abi ..., umi ....!" sapa Aisyah.
"Waalaikum salam!"
Mereka sudah berada di ruangan itu, ada kyai hamid dan juga Nyai Sarah. Gus Fahmi meninggalkan meraka karena masih ada yang harus ia kerjakan.
“sudah lama sekali tidak ke sini! Umi seneng lihat kamu lagi Aisyah!” ucap Umi Sarah sambil memegangi tangan Aisyah. Bianka bisa melihat kedekatan Aisyah dengan orang tua gus Fahmi. Pantas saja jika Gus Fahmi sampai jatuh cinta dengan sosok Aisyah.
"maaf, umi!” Itu yang bisa Aisyah ucapkan, ia tidak punya alasan lain selain ingin menyembuhkan luka dengan belajar menjauh sejauh-jauhnya.
“Ada perlu apa hingga membuat Aisyah ke sini? Pasti ada yang sangat penting!” tanya Kyai Hamid. Kyai Hamid sudah sangat mengenal Aisyah, mereka bahkan lebih dekat dengan Aisyah dibanding dengan putranya. Putranya dari kecil sudah di kirim ke pondok pesantren yang jauh sedangkan Aisyah dari kecil sudah belajar ilmu agama dari mereka, semenjak SD.
“Maafkan saya Kyai jika pertanyaan saya sedikit mendalam!"
"Katakan!"
"Sebenarnya saya ingin menanyakan tentang mas Alex, Pak Kyai!” ucap Aisyah, ia begitu penasaran apakah benar yang di katakan sahabatnya jika suaminya memang sedang menuntut ilmu di pesantren ini.
***
Gus Fahmi yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun hendak masuk ke dalam rumahnya, tapi tiba-tiba sebuah mobil
berhenti di depannya dan pemiliknya keluar dari dalam mobil itu.
Gus Fahmi mengerutkan keningnya, mobil itu terlalu mewah, tapi ia mengenali siapa pria yang keluar dari dalam mobil itu.
Leon adalah anak buah Alex, akan sangat tidak mungkin jika Leon tidak melaporkan kedatangan Aisyah ke pesantren.
Alex segera melepas kaca mata hitamnya dan berjalan menghampiri gus Fahmi,
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!” jawab Alex. Ini untuk pertama kalinya mereka di pertemukan lagi setelah sekian lama.
“Aisyah di dalam jika kamu mencarinya!” ucap Gus Fahmi, ia sudah yakin jika tujuan pria arrogant itu pasti menjemput istrinya, karena terlihat sekali mobil yang mengantar Aisyah tadi sudah tidak berada di tempatnya.
Tanpa menjawab ucapan gus Fahmi, Alex pun segera berjalan meninggalkan gus Fahmi yang masih berdiri di tempatnya.
Alex hampir saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tapi kembali ia urungkan, ia kembali pada gus Fahmi yang masih berdiri di tempatnya.
“Kita bisa bicara sebentar?” tanya Alex.
Gus Fahmi mengerutkan keningnya, sejak kapan pria di depannya itu tertarik untuk berbicara dengannya, “Ada apa?”
Alex pun merogoh saku celananya dan mengambil sebuah benda.
“Aku ingin mengembalikan ini!” ucap Alex sambil menyarahkan sebuah kotak kecil bludru pada gus fahmi, gus Fahmi, ia masih begitu ingat kotak itu ia berikan pada siapa. Kotak itu ia kirimkan pada Aisyah saat ia akan melamarnya saat itu. Kotak yang berisi sebuah cincin.
“Saat itu saya belum yakin untuk mengembalikan ini, tapi sekarang saya yakin mengembalikan ini karena jarinya hanya berhak memakai cincin dari ku, suaminya!”
“Kenapa bukan Aisyah sendiri yang mengembalikan?” tanya gus Fahmi.
“Apa menurut mu dia akan mengembalikannya? kamu yang tahu jawabannya!"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Dia bukan orang yang bisa dengan mudah menyakiti perasaan orang lain,! Permisi, assalamualaikum!” ucap Alex dan meninggalkan gus
Fahmi sendiri.
“Waalaikum salam!” jawab gus Fahmi masih dengan terpaku di tempatnya dengan terus menatap kotak itu bergantian dengan pria yang baru saja masuk ke dalam rumah.
***
“Assalamualaikum!”
Semua yang ada di ruangan itu segera menoleh pada pria yang barus saja masuk ke dalam ruangan itu.
“waalaikum salam!” jawab mereka bersamaan.
“nak Alex?” ucap Kyai Hamid sambil tersenyum.
“Mas Alex?” Aisyah pun tidak kalah terkejutnya. Ia sudah meminta Leon untuk tidak memberitahu Alex, tapi ia lupa jika Leon adalah anak buah Alex bukan anak buahnya.
Semua cukup terkejut dengan kedatangan Alex.
“Maaf ustad, saya mengganggu anda!” ucap Alex sambil menatap Aisyah.
“Tidak pa pa, ikutlah duduk ....! Aisyah mengajukan pertanyaan padaku, tapi sepertinya kamu lah yang paling berhak menjawab pertanyaannya ini”
“Ijinkan saya sendiri yang akan menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh istri saya, Kyai!”
“tentu, itu lebih baik!”
‘Kalau begitu ijinkan saya mengajaknya untuk pulang!” ucap Alex,. Aisyah hanya bisa menatapnya dengan kesal. Ia ingin mencari jawaban tapi Alex datang di waktu yang kurang tepat.
"Bagaimana Aisyah? seperti suamimu lebih ridho jika kamu ikut dengannya!"
"Maaf sudah mengganggu waktu pak Kyai dan Bu Nyai!”
Aisyah menatap Alex dan merasa tidak enak dengan Kyai hamid dan Nyai sarah.
"Tidak pa pa, jangan merasa sungkan! Abi dan Umi senang kalau kamu sering-sering datang ke sini!"
“Terimakasih, pak Kyai, umi! Aisyah pulang dulu!”
"Iya silahkan ....!"
“Assalamualaikum!”
“waalaikum salam!”
...Saat itu saya belum yakin untuk mengembalikan ini, tapi sekarang saya yakin mengembalikan ini karena jarinya hanya berhak memakai cincin dari ku, suaminya~Alex...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰