Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Konsultasi


__ADS_3

Setelah sholat subuh, Alex pun turun sendiri dan memberitahu pada asisten rumah tangga untuk memasak sarapan. Karena mungkin Aisyah tidak bisa memasak hari ini.


Saat ia sudah mau kembali ke dalam kamar, nenek Widya tiba-tiba muncul dari ruangan lain.


“Alex!"


"Nek ...., ngapain di situ?" tanya Alex, ia kembali menghampiri sang nenek.


"Ini nenek habis sholat tadi tiba-tiba pengen liat foto-foto.jaman dulu, makanya nenek ke ruang ini!"


"Ketemu fotonya nek!"


"Ketemu ...., dimana Aisyah? kenapa kamu yang turun?” tanya nenek Widya, karena tidak biasanya Alex turun di pagi buta, ia biasanya lebih memilih menghabiskan waktunya di ruang gym.


"Aisyah di kamar nek!"


“Apa dia sakit?" tanya nenek lagi, ia sudah terlanjur terbiasa setiap pagi di sapa oleh Aisyah dengan senyum cerianya.


“sedikit, tapi cukup membuatnya tidak bisa jalan!” ucap Alex dengan santainya sambil mengambil albu foto yang ada di tangan neneknya.


"Waah ini Alex waktu masih kecil ya nek ...., begini banget aku ...!" ucapnya sambil menunjuk foto waktu kecilnya. Nenek Widya begitu bahagia saat cucunya itu sudah bisa melihat foto-foto itu lagi tanpa menangis atau marah-marah dan histeris.


"Iya ...., kamu lucu banget nak ....! Kamu sudah tidak pa pa melihat semua itu?" tanya nenek Widya.


Ternyata Alex sedari tadi tidak menyadari perubahan dalam dirinya. Ia segera menatap kembali foto-foto itu dan ternyata tidak bereaksi apapun, bayangan-bayangan kelam masa lalu itu tidak menghantuinya lagi.


"Iya nek ...., nenek benar, aku sudah tidak pa pa!" ucap Alex sambil tersenyum dan memeluk neneknya.


"Alex sudah benar-benar sembuh nek ....!"


"Sudah lepaskan nenek ....!" ucap nenek Widya sambil berusaha melepaskan pelukan cucunya itu.


"Nenek ah ...., merusak suasana saja, Alex sedang haru nek ...!"


"Nenek melupakan Aisyah, dia yang paling berjasa atas kesembuhan mu!"


"Iya ...., kali ini nenek benar!"


“Dia sakit apa?"


"Bukan sakit yang serius!"


"Ya sudah biar nenek lihat dia!”


"Nggak usah nek, nanti dia malu!” ucap Alex, ia mengajak neneknya untuk duduk di ruang keluarga.


"Kau ini aneh-aneh aja, emang sakit apa yang membuat malu?"


"Sini biar Alex bisikin!" ucap Alex.


Ia pun menempelkan bibirnya di daun telinga sang nenek.


"Kami sudah berhasil melakukannya nek ...., jadi cicit nenek sudah dalam proses!" bisiknya.


"Benarkah?" tanya nenek Widya antusias dengan suara yang begitu nyaring.


"Nekkkk .....!" keluh Alex.


"Maaf ...., nenek kelepasan!"


Setelah mengobrol cukup lama dengan sang nenek, akhirnya pun sarapannya jadi.

__ADS_1


"Nenek sarapan sendiri nggak pa pa ya hari ini, Alex mau temenin Aisyah sarapan di kamar!"


"Iya ...., sudah sana, ambilkan makanan yang banyak!"


Alex pun mengambil dua porsi sarapan di atas nampan.


Alex segera membawa sarapannya ke dalam kamar.


Aisyah masih duduk di atas tempat


tidurnya sambil membaca buku.


Ia juga sudah merapikan sendiri tempat tidurnya Menganti seprei


yang kotor dengan yang baru.


"Mas ...!" ucap Aisyah saat melihat suaminya itu masuk. Ia segera meletakkan buku itu di pangkuannya, memperhatikan suaminya yang sedang membawa nampan.


“Sarapan dulu, Ay!” ucap Alex saat sudah duduk di depan Aisyah, ia meletakkan nampan itu di atas pangkuan Aisyah.


“Nenek nggak tanya sesuatu?” tanya Aisyah.


“Tanya!” jawab Alex sambil sibuk mengelap sendok dengan tisu.


“Lalu?"


“Lalu apa?” tanya Alex balik sambil menyuapkan makanan ke mulut Aisyah.


“Mas Alex jawab apa?”


“Ya aku jawab jika kamu nggak bisa jalan gara-gara aku!”


“Ihhhh …, mas Alex jahat banget sih!”


Alex terus menyuapi Aisyah membuat Aisyah protes.


“Mas tangan aku nggak pa pa, aku bisa makan sendiri!”


“Jangan protes, emang siapa yang bilang tangan kamu sakit!”


Akhirnya Aisyah membiarkan suaminya itu terus menyuapinya sampai makanan di piringnya habis. Ia juga melakukan hal yang sama pada Alex, ia tidak mungkin membiarkan Alex tidak makan.


“Hari ini acara mas Alex apa?” tanya Aisyah saat sudah menyelesaikan makannya.


“Hari ini aku mau seharian di kamar sama kamu!” ucap Alex sabil menyingkirkan nampan itu dan meletakkannya di atas nakas. Alex pun menggantikan nampan itu, ia tidur di atas pangkuan istrinya.


“Mas ….!” protes Aisyah.


“kenapa?” tanya Alex tanpa memindahkan kepalanya dari pangkuan Aisyah.


“Mau ke dokter Adrian?” tanya Aisyah, mau bagaimana pun ia harus tahu keadaan suaminya saat ini.


“Buat apa?”


“Ya buat masti'in sesuatu aja mas!”


“Iya aku tahu, tapi sesuatu itu apa?”


“Apa trauma mas sudah sembuh sepenuhnya apa belum, apa ****** mas Alex berkualitas apa enggak!”


Ucapan Aisyah berhasil membuat Alex bangun dari pangkuan Aisyah dan menatap istrinya itu.

__ADS_1


“kamu mikirnya kok sampek situ sih?”


"Ya kan aku penasaran mas! Masak nggak boleh penasaran aja!?”


"Ya siapa juga yang ngelarang! Aku kan cuma tanya!"


"Lalu gimana mas?"


"Yakin bisa jalan dengan baik, udah nggak sakit?"


"Ya yakin lah mas!"


“Baiklah …, tapi tunggu sampai agak siangan ya, nunggu sampek kamu benar-benar sembuh, atau nunggu kita olah raga lagi!”


“Masss …!” keluh Aisyah sambil memukul dada Alex.


Ini aja sakitnya nggak tahu kapan sembuhnya, masih mau nambah, mau buat aku benar-benar nggak bisa jalan kali mas Alex nih ...., batin Aisyah ngeri sendiri.


"Becanda sayang…!”


...***...


Benar saja siang ini mereka sudah bersiap-siap untuk pergi ke tempat praktek dokter Adrian.


Alex ingin memastikan dirinya sudah sembuh atau belum pada dokter Adrian, tak lupa ia juga pergi bersama Aisyah.


Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit tempat praktek dokter Adrian.


Kedatangan mereka langsung di sambut dengan begitu hangat oleh dokter Adrian.


“Kalian …, wah saya senang sekali kalian bisa datang bersamaan!” ucap dokter Adrian, " Ayo silahkan masuk!"


"Terimakasih dok!" ucap Aisyah, Alex pun segera menggandeng Aisyah masuk ke dalam sebuah ruangan yang waktu itu sempat Aisyah lihat dan tidak jadi masuk. Tapi karena hari ini ia datang bersama suaminya jadi ia bisa melihat bagaimana ruangan itu.


Ruangan yang luas dan cukup nyaman untuk menerima tamu.


“Ada apa ini?" tanya dokter Adrian lagi saat mereka sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Sofa sedang warna dasar putih dan motif daun bambu kecil begitu memanjakan mata.


"Saya mau konsultasi saja!" ucap Alex kemudian.


"Bagus ...., saya benar-benar menunggu saat dimana kamu tidak lagi perlu di paksa untuk datang seperti ini, ada apa katakanlah!"


“Kami sudah melakukan hubungan suami istri, apa itu berarti saya sudah normal, iya kan?”


Astagfirullah ..., mas Alex ngomongnya gitu banget sih ...., Aisyah merasa sangat malu dengan pembicaraan ini, rasanya pengen banget keluar dari ruangan itu, tapi ai juga begitu penasaran dengan hasilnya.


“Ini perkembangan yang bagus banget! Itu tanda kalau kamu sudah benar-benar sembuh!”


“lalu bagaimana dengan kualitas air mani saya?”


“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja! Tetap berkualitas asal jaga kesehatan tubuh!”


“Kami bisa memiliki anak?”


‘Bisa!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2