Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Nisa & Leon 7)


__ADS_3

...Saat seorang pria mengatakan 'saya terima' dalam sebuah akad pernikahan, maka itu berarti ia mengatakan 'bahwa saya menerima tanggung jawab untuk melayani, mencintai, dan melindunginya...


...🌺Selamat membaca🌺...


Papa Nisa terlihat menghampiri Leon yang sedang berdiri di bawah tenda pernikahan bersama beberapa orang, sesekali pria yang baru melepas masa lajangnya sekitar satu jam yang lalu itu menjawab setiap pertanyaan tamu yang kebetulan menyapanya.


"Nak Leon!"


"Iya pak!" Leon menoleh ke arah papa mertuanya itu.


"Istirahatlah sebentar, nanti saat acara resepsi tubuhnya terlihat segar!"


"Tidak pa pa pak, insyaallah tidak pa pa!" Leon terlihat sungkan dengan papa mertuanya. Jelas di usia papa mertuanya saja masih sangat segar sedangkan dia yang masih muda tidak mungkin membiarkan papa mertuanya menyambut tamu yang sedari tadi hilir mudik sendiri saja


"Jangan, nggak usah sungkan!"


Karena papa Nisa terus memaksa membuat Leon mengiyakan. Leon pun masuk ke dalam rumah ia terlihat bingung.


Kemana?


Leon mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang mungkin ia kenal. Keluarga inti Nisa misalnya.


"Mas Leon ya?" pertanyaan seseorang menyadarkannya, ia pun menoleh ke sumber suara.


Seorang pria berbaju batik menghampirinya, sepertinya dia salah satu asisten rumah tangga di rumah Nisa karena hanya ada lima orang yang memakai batik yang sama dengan yang di pakai orang itu dan kata salah satu kerabat, papa Nisa sengaja membuatkan seragam untuk para asisten rumah tangganya.


"Iya!" Leon bisa bernafas lega, setidaknya di sela kesibukan orang-orang itu ada yang memperhatikannya.


"Mari mas, saya antar ke kamarnya mbak Nisa!"


Kamar Nisa, rasanya tidak percaya ia di minta ke kamar Nisa. kamar seorang gadis.


"Mas, kok malah bengong? ayo!" pria yang menyapanya tadi sudah berjalan beberapa langkah di depan Leon.


"Baik!" Leon pun mengikuti langkah pria itu, pria dengan kisaran usia empat puluh tahunan.


Mereka berjalan menyusuri tangga, pria itu terus bicara sepanjang berjalan. Menceritakan seluk beluk rumah itu, sepertinya pria itu sudah bekerja lama di rumah Nisa.


"Mbak Nisa itu suka ceroboh, dia biasa meninggalkan barang-barang nya di sembarang tempat dan saat butuh dia akan uring-uringan sendiri, jadi nanti mas Leon nggak usah kaget!


Kalau bapak itu memang kelihatannya tegas, kaku, galak tapi nanti kalau sudah ketemu setiap hari kelihatan humornya.


Kalau ibu, dia itu paling sayang sama mbak Nisa, maklum lah mas, mbak Nisa anak bontot, sejak kecil kemana-mana sama ibu. Kakak-kakaknya juga memanjakan mbak Nisa jadi nanti jangan heran kalau mereka sering menasihati mas Leon!"


Leon hanya terus mendengarkan sambil berjalan tanpa berkeinginan untuk menjawabnya atau menagnggapinya. ia lebih suka mendengarkan dan menhayalkan hal itu terjadi, selama ini ia tidak pernah merasakan yang namanya kehangatan keluarga seperti keluarga-keluarga lainnya.

__ADS_1


Hubungannya dengan Alex juga tidak sedekat itu, mereka baru bisa dekat saat Alex keluar dari penjara.


Hingga tiba-tiba pria itu menghentikan langkahnya membuat Leon yang tidak siap untuk berhenti hampir menabrak pria itu , untung tangannya dengan sigap menahan tubuhnya di dinding agar tidak menabrak pria itu yang jelas tubuh ha lebih pendek darinya.


"Sudah sampai mas!"


"Maaf, saya belum siap tadi!"


"Mas Leon ini aneh, saya yang harusnya minta maaf mas! kita sudah sampai di kamar Mbak Nisa mas!"


Leon menatap kamar dengan pintu tertutup berwarna putih itu.


"Ini ya?"


"Iya mas, kalau begitu saya tinggal ya mas!?"


Leon masih bengong dan melihat ke arah pintu itu, "Aaah iya!"


Setelah pria itu pergi, Leon pun kembali menatap pintu yang tertutup itu. beberapa kali saat ia mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu lagi-lagi ia urungkan. Jantungnya sepertinya mulai berdetak hebat saat ini.


Bismillah, setelah meyakinkan dirinya sendiri, Leon pun benar-benar mengetuk pintu itu.


Tok tok tok


"Saya, boleh saya masuk?" Leon berdiri di depan pintu tanpa bermaksud untuk membukanya. Tapi tidak ada sahutan dari dalam, hingga tiba-tiba pintu terbuka.


ceklek


Senyum merekah dari wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu.


"Mas Leon, masuklah!"


Leon pun akhirnya masuk dan Nisa kembali menutup kamarnya. Leon langsung di suguhi kamar dengan nuasa warna merah jambu khas kamar wanita.


Bahkan ia melihat sprei yang menutup kasurnya begitu juga dengan selimutnya berwarna merah jambu, sebagian temboknya di tempeli wallpaper dinding bermotif bunga warna merah jambu juga.


Yang benar saja, Leon benar-benar mengamati kamar itu, sungguh jauh berbeda dengan kamarnya.


"Duduklah mas!" Nisa meminta Leon untuk duduk di atas tempat tidur.


"Terimakasih!" sebelum duduk, Leon pun melepaskan jas pengantin ya terlebih dulu begitu juga dengan pecinya dan meletakkannya di atas sofa. Nisa hanya terdiam, ia seperti sedang mencoba untuk baik-baik saja.


"Nggak ganti baju sekalian mas?"


Leon mengehentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Nisa yang berdiri tidak jauh di belakangnya, "Aku lupa tidak membawa baju ganti tadi!"

__ADS_1


"Biar Nisa ambilkan baju kak Reza ya!" Nisa pun berbalik hendak meninggalkan kamar, tapi dengan cepat Leon menahannya.


Srekkkkk


Nisa terkejut saat tiba-tiba pergelangan tangannya di genggam oleh Leon hingga membuatnya berbalik badan.


"Nggak usah, kamu di kamar saja temani aku!"


Temani? Maksudnya apa ya? Nisa menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba tubuhnya seperti merasakan sesuatu yang berbeda saat tangan Leon menggengam tangannya.


Leon pun dengan cepat melepaskan tangannya saat melihat nisa hanya terdiam, "Maaf kamu pasti tidak begitu nyaman!"


Enggak, sama sekali nggak gitu., Nisa hanya bisa pasrah saat tangan Leon melepaskan tangannya. Padahal dia saat suka dengan sentuhan pria itu.


.


Leon pun menuruti perintah Nisa untuk duduk dia atas tempat tidur lalu membuk kancing kemeja atas dan juga bagian lengannya, lalu melipatnya hingga di bawah siku, terlihat begitu cool.


"Kamu juga duduklah!" Leon menepuk tempat kosong yang ada di sampingnya. Nisa yang sudah di mengganti gaunnya dengan dress berbahan kaos berwarna abu-abu dengan kombinasi warna hitam sedikit di bagian lengan. jilbab bergo juga begitu pas melekat di kepala Nisa.


Walaupun tampak ragu-ragu, Nisa pun akhirnya duduk juga di samping Leon.


"Boleh nggak pegang tangannya?" Leon sudah menatap Nisa dengan tatapan datarnya.


Nisa menganggukkan kepalanya dan meletakkan telapak tangannya di sampingnya duduk.


Leon yang merasa mendapatkan lampu hijau perlahan mengeset tangannya dan perlahan muya tangan Nisa. Leon tersenyum saat berhasil memegang tangan Nisa.


Leon tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya, tapi saat memegang tangan Nisa, ia seperti tertarik untuk mengusap pipi bersih Nisa. Bu


Tangannya perlahan ia angkat dan tepat mendarat di pipi Nisa, walaupun terlihat terkejut Nisa tampak berusaha untuk mengendalikan keterkejutannya.


Leon mengusap pipi Nisa lembut dan ternyata usapan itu membuatnya terus ingin tangannya tetap berada di situ. Perlahan Leon mencondongkan tubunya agar mendekat ke arah Nisa hingga wajah mereka begitu dekat.


...Seorang suami ibarat rumah. Jika engkau mematuhinya, ia akan melindungi dan mencukupi kebutuhanmu. Namun, jika engkau mengkhianatinya, maka ia akan berpaling darimu....


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2