Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Kebahagiaan yang lengkap)


__ADS_3

"Dan anak yang di temukan Merry itu aku?" walaupun dia cerdas tapi sekarang sepertinya kecerdasannya tiba-tiba hilang.


Lagi-lagi Gus Raka hanya bisa mengangukkan kepalanya tapi terlihat mata keduanya sudah mengeluarkan cairan bening walaupun hanya sampai di sudut mata dan tidak sampai jatuh ke pipi.


Leon kembali menatap Gus Raka dan memastikan apa yang ia dengar itu benar, kilatan masalalu seperti saling berdatangan silih berganti. Leon mulai memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Kamu tidak pa pa?" tanya semua yang ada di tempat itu saat melihat Leon mulai menengadahkan kepalanya.


Nisa yang begitu cemas hampir saja turun dari tempat tidur dan untung saja umi Gus Raka dengan sigap mencegahnya.


"Jangan nak, tidak pa pa, suami nak Nisa sedang mencoba mengumpulkan kembali memorinya yang hilang, memang sulit, tapi tabahkan hati kamu!"


"Baik Bu nyai!" air mata Nisa juga sudah terlihat membasahi pipi, umi Gus Raka begitu sigap menenangkan Nisa dengan menarik tubuhnya dalam pelukan hangatnya.


"Bu, saya harus telpon kakak saya, mungkin mas Leon butuh penanganan dokter!" ucap Nisa kemudian saat Leon semakin terlihat kesakitan. Gus Raka dulu juga pernah mengalami hal ini sebelum ingatannya perlahan-lahan kembali.


"Iya kamu benar!"


Nisa pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi kedua kakaknya memintanya untuk datang ke kamarnya.


Benar saja tidak berapa lama mereka datang, sepertinya mereka baru saja berlari terlihat dari nafasnya yang naik turun.


"Ada apa?" tanya dokter Ardan.


Dan di sofa panjang itu Leon sudah di baringkan, sepertinya dia pingsan.


Dokter Ardan pun segera memeriksa keadaan Leon dan di bantu oleh dokter Reza.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Alex yang terlihat begitu cemas, raut wajah cemas juga di tunjukkan oleh Gus Raka.


"Dia hanya pingsan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya dokter Ardan dan Alex pun menceritakan semuanya secara detail.


"Hal seperti ini memang wajah terjadi, bisa jadi saat ini di alam bawah sadarnya dia sedang mengingat semuanya, mungkin ada beberapa masalalu yang sangat menakutkan membuatnya sampai pingsan saat mengingatnya!" dokter Arda menjelaskan secara detail.


"Saya juga pernah merasakan lah itu!" ucap Gus Raka, sebenarnya memang nasib Gus Raka dan Leon tidak jauh beda, hanya saja Leon sepertinya lebih parah dari yang di ingat.


"Tunggu beberapa saat lagi, nanti kalau dia sadar jangan ingatkan apapun tentang pembicaraan kalian tadi, tapi jika dia sendiri yang mengingatnya itu jauh lebih baik!"


"Baik dok!"

__ADS_1


Setelahnya dokter Ardan dan dokter Reza pun kembali meninggalkan ruangan itu karena tadi sedang menangani pasien mereka.


Selang setengah jam dari kepergian dokter Reza dan dokter Ardan, akhirnya Leon kembali sadar.


Saat sadar, orang pertama yang ia tatap adalah Gus Raka.


"Aku Dika!" ucapnya lirih membuat Gus Raka tersenyum. Ada sebuah harapan besar dari ucapan Leon. Itu artinya Leon sudah mulai mengingat nama kecilnya.


"Minumlah!"


Setelah di bangunkan, Gus Raka pun segera memberikan air putih untuk saudara kembarnya itu.


"Saya sudah ingat semuanya!" ucap Leon lagi membuat semua yang ada di sana mengucapkan syukur.


"Alhamdulillah!"


"Boleh saya memeluk Gus Raka?" tanyanya dan Gus Raka pun tersenyum lalu berhambur memeluk saudaranya itu.


Mereka saling berpelukan, Alex yang awalnya duduk di samping Leon pun segera berdiri dan mengusap sudut matanya.


Jujur ada rasa kehilangan dalam dirinya tapi dia juga tidak boleh egois, Leon juga berhak merasakan kasih sayang seorang saudara kandung. Walaupun selama ini ia sudah menganggapnya sebagai saudara tetap saja rasanya akan berbeda.


"Umi dan Abi ikut senang dengan apa yang terjadi pada kalian, semoga selamanya kalian akan menjadi saudara yang saling menguatkan!" ucap umi Gus Raka, kini Nisa pun sudah ikut bergabung dengan mereka.


...***...


Kabar di temukan ya saudara Leon akhirnya sampai juga kepada keluarga Nisa.


Biasanya papa dan mama Nisa akan datang di malam hari, hari ini ia datang lebih awal. Untung semua orang sudah pergi, sebenarnya Gus Raka tadi masih enggan untuk pergi dan menghabiskan waktunya bersama Leon tapi ia tidak bisa mengabaikan kedua orang tuanya.


Ia pun berjanji akan sering berkunjung setelah ini begitupun dengan Leon. Alex dan bi Merry bahkan lebih dulu pergi karena setelahnya Alex masih ada meeting penting.


"Bagaimana ceritanya bisa begitu?" tanya mama Nisa, tapi segera mendapat kedipan oleh Nisa. Nisa masih takut menyinggung hal itu, ia khawatir suaminya akan mengalami hal yang sama seperti tadi pagi.


"Tidak pa pa, aku sudah bisa bercerita sekarang!" ucap Leon yang menyadari arah tatapan Nisa, ia mengusap kepala istrinya dan memastikan semua akan baik-baik saja.


Leon pun menceritakan semuanya di depan mertuanya, papa terlihat mengamati wajah Leon,


"Kenapa aku tidak sadar dari dulu ya!?" gumam papa Nisa.

__ADS_1


"Kenapa pa? tanya Nisa yang ikut penasaran.


"Ternyata kalau di perhatikan dengan benar, mata dan hidung Leon memang sama sama punyanya Raka! Bentuk giginya saat tersenyum juga sama!"


Nisa pun jadi tertarik untuk sekali lagi menatap sang suami,


"Masak sih pa?"


"Kamu setiap hari liat wajah Leon jadi yang nggak bakal kelihatan!"


"Apa iya!?" Nisa masih begitu penasaran membuat Leon semakin gemas, ia mencubit hidung sang istri hingga menimbulkan warna merah di hidungnya.


"Mas sakit, ahhh pasti nih hidungku kayak kacang mete! Ahhh mas kenapa tiba-tiba aku pengen banget kacang mete ya!" ucap Nisa.


"Kacang mete ya?" tanya Leon yang malah terlihat bingung, bukannya karena dia tidak tahu seperti apa kacang mete, tapi ia tidak tahu di mana mencarinya.


"Iya mas, enak pasti makan kacang mete!"


"Baiklah, aku akan mencarikannya!"


"Terimakasih mas kamu baik deh!"


Melihat senyum yang mengembang dari bibir Nisa membuat Leon Tidka sanggup untuk menolaknya.


Leon pun segera menitipkan sang istri pada mertuanya, mungkin akan sedikit lama karena dia sama sekali tidak tahu kemana harus pergi sekarang.


Akhirnya ia memilih untuk menanyakan pada salah satu perawat di rumah sakit. Sebuah toko oleh-oleh menjadi tujuannya.


Leon pun segera pergi dengan menaiki mobilnya, ternyata toko yang di maksud melewati toko buku milik Gus Raka, bibir Leon tiba-tiba tertarik ke atas. Ada kebahagiaan saat melihat toko itu, seperti ada seseorang yang harus sering ia sapa saat lewat di sana.


Ya Allah , akhirnya engkau memberiku keluarga yang lengkap dalam waktu yang hampir bersamaan, istri Sholehah, keturunan, saudara dan orang tua yang lengkap, mereka semua menyayangiku seperti Engkau menyayangiku ya Allah


Setelah melewati toko itu, Leon kembali menambah kecepatannya. Tidak mau membuat Nisa menunggu terlalu lama.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2