
"Aku suapi ya!" ucap Gus Raka setelah menyetujui untuk pulang malam ini juga membuat Leon menatap saudaranya tidak mengerti.
"Ada apa?"
"Tidak pa pa, ingin saja menghabiskan moment terakhirku di sini sama kamu dengan begitu indah!" ucap Gus Raka sambil tangannya yang sudah menyodorkan sesendok nasi lengkap dengan lauknya.
Walaupun ragu tapi tetap saja Leon membuka mulutnya,
"Sekarang suapi aku juga!" Gus Raka menatap ke arah piring Leon yang masih berisi makanan walaupun tidak sebanyak punya Gus Raka.
Leon pun menuruti apa yang di minati oleh saudara kembarnya.
"Terimakasih ya!" ucap Gus Raka setelah mendapat suapan dari Leon. Senyumnya selalu mengembang seperti tidak akan terjadi sesuatu.
Tapi hal itu malah membuat Leon semakin cemas saja,
"Setelah ini kamu harus bisa menjaga diri dengan baik, jangan suka emosi! lakukan semuanya atas petunjuk dari Allah, insyaallah Dia yang paling tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan!"
"Jangan khawatir, aku ada kamu yang akan selalu mengingatkanku, ada mas Alex yang akan selalu menguatkan ku!" ucap Leon dengan pasti.
"Umur tidak ada yang tahu, aku juga tidak mungkin menemanimu selamanya, jika ternyata hari ini adalah hari terakhir kita bersama, aku tidak akan keberatan karena aku bisa bersama kamu!"
"Kenapa bicara kamu seperti itu? Kamu seperti menempatkan dirimu dalam situasi yang seakan-akan kamu akan pergi meninggalkan aku, bagaimana kalau sebaliknya, aku yang pergi?"
Mendengar pertanyaan Leon, Gus Raka terdiam. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan saat ini. Tapi sungguh ada sesuatu yang membuatnya terluka karena ucapan Leon.
Seakan mengingatkannya bahwa umur seseorang itu adalah misteri dari Allah yang siapapun bisa salah memprediksinya.
"Buka mulutmu!" ucapan Leon berhasil membuatnya kembali sadar, Gus Raka pun membuka mulutnya, "Aku juga akan melakukan hal yang sama, kita akan melakukan perjalanan jauh sama-sama, jika ada bahaya berarti nyawa kita berdua yang terancam, jadi sekarang dengarkan aku! Jika terjadi sesuatu padamu, maka aku orang yang pertama membelamu, dan jika Allah menakdirkan aku untuk mati malam ini, maka jagalah Nisa seperti aku menjaganya!"
"Lee!" Ada gurat kesedihan yang bersemayam di dalam hatinya saat ini, ucapan Leon benar-benar seperti pisau yang menghujam jantungnya, rasa tidak rela jika Allah mengambil saudaranya lebih cepat membuatnya lupa juga Allah yang sudah mengatur semuanya termasuk kedatangan mereka ke sini.
"Ka!" apa yang di rasakan Gus Raka tidak jauh beda dengan apa yang di rasakan Leon. Untuk pertemuan yang singkat ini, rasanya jika membicarakan soal perpisahan masih begitu jauh. Rasa sakit di ulu hatinya membuatnya membayangkan hal-hal yang buruk yang belum tentu terjadi.
"Perjalanan panjang kita malam ini_!" Gus Raka menghentikan ucapannya dengan menyisipkan sebuah helaan nafas, "Akan jadi perjalanan yang berkesan untuk kita!"
"Jika kamu tahu sesuatu, katakan sebelum terlambat!" ucap Leon lalu berdiri dari duduknya dan melipat bungkus makanannya yang sudah kosong dan membawanya ke dapur, hal itu di lakukan juga oleh Gus Raka.
__ADS_1
Mereka kembali sama-sama di dapur, Gus Raka pun mengambil sendok dari tangan Leon dan membiarkan dia yang mencucinya,
"Buang saja bungkusnya di tempat sampah yang di depan agar besok pagi ada yang mengambilnya, sama sampah lainnya juga!"
Tanpa menjawab ucapan Gus Raka, Leon pun segera berlalu dengan membawa sekantong plastik sampah ke depan, karena pagi-pagi buta akan akan tukang sampah yang mengambilnya.
Leon hanya memperhatikan sekitar yang terlihat sudah sepi, berbeda dengan di kota yang jika malam hari masih ada orang yang berlalu lalang, dari arah ujung jalan ia bisa melihat sebuah mobil sedang berjalan mendekatinya.
"Bli Leon ya, saya Ade! Yang akan mengantar bli Leon sama bli Raka ke bandara!" ucap pria yang usianya tidak jauh beda dengan dirinya dengan logat Bali.
"Iya, silahkan masuk dulu, saya siap siap!" ucap Leon.
"Tidak usah bli, saya nunggu di sini saja!"
"Baiklah, tunggu sebentar!"
Leon pun kembali masuk ke dalam rumah, Gus Raka sudah tidak ada di dapur, itu artinya dia sudah siap-siap di dalam kamar. Leon pun segera berjalan menuju ke kamar, ia tersentak kaget hingga hampir kembali mundur saat melihat seseorang yang berdiri di depan cermin itu.
"Ka, apa yang kamu lakukan?"
"Bagaimana menurutmu? Aku sudah sama kan sama kamu?"
"Kamu becanda ya?" tanya Leon tanpa menaruh curiga sama sekali.
Bukannya menjawab pertanyaan Leon, Gus Raka malah mengambil pakaiannya yang sudah ia siapkan dari tadi dan menyerahkannya kepada Leon.
"Pakailah ini, tidak banyak waktu! Cepetan kasihan masnya kalau menunggu lama."
"Tapi ini apa Ka?"
"Biarkan aku menjadi Leon malam ini saja, bagaimana?" ucapnya sambil tersenyum dan menarik Leon agar segera memakai bajunya.
Leon pun akhirnya pasrah, ia segera mengganti bajunya dan memakai pakaian yang style milik Gus Raka lengkap dengan kopyahnya.
"Ini sebenarnya sudah aku impikan sedari kecil, seru kan bisa bertukar posisi seperti ini?"
Leon merasa saudaranya itu sekarang jadi banyak bicara, Leon hanya memutar bola matanya. Tetap saja sedikit berbeda karena memang ada beberapa bagian wajahnya yang tidak sama, tapi jika orang melihatnya cuma sekilas pastilah tidak ada yang mengenali jika mereka bertukar posisi.
__ADS_1
"Kita akan bertukar posisi sampai kapan?" tanya Leon kemudian setelah mereka berjalan keluar kamar.
"Sampai kita di bandar udara Surabaya!"
"Baiklah, bukan waktu yang lama!"
"Kenapa tidak nyaman ya jadi aku?" tanya Gus Raka yang sudah menghentikan langkahnya.
"Bahuku semakin berat kalau jadi kamu!"
"Kenapa?"
"Banyak tanggungan yang harus aku topang di bahuku, mengajar di universitas, mengajar di pesantren , menjadi ulama besar, aku tidak akan sanggup!"
"Itu tidak lebih besar dari mengurus satu perusahaan besar!"
"Satu perusahaan besar yang aku miliki hanya akan sampai di dunia saja, sedangkan pekerjaanmu itu adalah amanat sampai akhirat, jika salah sedikit saja maka aku akan membawa kesesatan bagi ratusan nyawa!"
Gus Raka tersenyum mendengar jawaban cerdas dari saudaranya itu, memang kalau di lihat dari penampilan yang sedang ia jalani sekarang, Leon tidak punya hal yang istimewa untuk di banggakan selain kehandalannya dalam mengelola bisnis, tapi saat mengenalnya, kita akan tahu jika pria dengan penampilan tegas berwibawa itu memiliki banyak keunggulan yang ia dapat dari hobinya yaitu membaca buku.
"Baguslah kalau kamu sadar, tapi jangan khawatir jika memang seperti itu, kamu bisa menyerahkan posisi itu pada orang yang menurutmu pantas untuk mengembannya!"
Leon menatap saudara kembarnya itu, ingin mengerti apa maksud dari ucapannya yang sebenarnya. Dengan tiba-tiba meminta berganti posisi pasti bukan tanpa sebab,
"Hanya kamu yang pantas untuk menduduki posisi itu!"
Setelah itu mereka kembali saling diam dan memilih untuk berlalu meninggalkan rumah itu, mereka sekarang sudah sampai di depan rumah, menatap kembali ke dalam untuk mengenang kembali sepuluh hari kebersamaan mereka.
Singkat tapi begitu banyak kenangan yang tidak bisa mereka saling lupakan, canda tawa sebagai sepasang saudara.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...