
...Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku. ~Umar bin Khattab...
Kami keluar dari pusat perbelanjaan, barang belanjaan kami sudah di bawa oleh karyawan toko dan di masukkan ke dalam bagasi mobil. Sesekali mata ini masih terus berkeliling, berharap bisa melihat Gus Raka lagi. Dia belum memberikan sesuatu yang bisa aku jadikan pelajaran. Kata-kata bijaknya setiap kali bertemu dengannya selalu aku tunggu.
Kami sudah packing barang-barang bawaan, hanya barang yang baru saja kami beli yang belum di packing, itu tidak masalah bagiku, aku tinggal menyuruh beberapa orang untuk mengurusnya.
"Mau makan dulu?" sebenarnya aku belum lapar, tapi aku sengaja mengajak Nisa untuk makan agar kebersamaan kita di Bali tidak terbuang sia-sia.
Aku tahu pasti dia akan menoleh dan tersenyum padaku, senyum itu yang sekarang dan kedepannya akan selalu aku nanti,
"Mau!"
"Kita ke restauran itu ya?" aku menunjuk sebuah rumah makan ala lesehan yang berlebel halal yang berada di samping tempat kami belanja.
Nisa lagi-lagi menganggukkan kepalanya dan tangan ini menjadi begitu terlatih menggandeng tangannya, membawa kaki ini menyusuri jalan bervaping dan berhenti di restauran terbuka.
Walaupun letaknya dekat dengan gedung bertingkat, tapi rumah makan itu menjadi tempat ternyaman untuk beristirahat, karena selain di kelilingi oleh kolam ikan, beberapa air mancur kecil sengaja di pasang di tengah taman-taman kecil di setiap tepian tempat duduk yang beralaskan karpet dan meja pendek.
Kami memilih tempat yang dekat dengan pintu masuk,
"Duduklah!" Aku membantu Nisa untuk naik ke tempat duduk yang ada pampangnya untuk membedakan lantai dan tempat duduk.
"Mau makan apa?"
"Bebek bakar aja deh mas!"
"Minumnya?"
"Es jeruk!"
Aku pun memesan yang sama seperti yang di pesan Nisa, aku tidak punya pengalaman makan tempat seperti ini, sebenarnya tadi hanya asal tunjuk saja.
Nisa terus bercerita sepanjang menunggu pesanan kami, aku mulai terbiasa dengan cerita-cerita nya, walaupun sebenarnya bukan hal yang penting yang harus di dengarkan tapi mendengar Nisa bercerita membuatku senang.
"Mas Leon kok diam sih, aku terlalu cerewet ya?"
Aku tertawa kecil mendengar kan pertanyaan Nisa, bagaimana dia baru sadar kalau sebenarnya begitu cerewet.
"Malah ketawa sih?"
"Hanya sedang berpikir saja, sejak kapan orang cerewet sadar kalau dirinya cerewet!"
"Ihhh, mas Leon sengaja!" Nisa tersenyum manja padaku, aku suka. Jantungku sering berdebar jika seperti itu, aku bingung harus melakukan apa, ku alihkan pandanganku ke tempat lain untuk menormalkan detak jantungku.
"Silahkan pesanannya!"
Aku bernafas lega saat pelayan datang mengantarkan pesanan. Dua piring bebek bakar, sambal dan dua gelas es jeruk.
__ADS_1
Tidak ada sendok, garpu atau pisau seperti yang aku pikirkan, hanya ada dua buah baskom kecil yang berisi air, aku tidak tahu apa guna baskom itu. Aku menatap Nisa.
"Mas, doa dulu!"
Nisa mengingatkanku, aku tersenyum dan mulai membaca doa, Nisa tinggal mengamininya.
Nisa terlihat mencelupkan tangannya ke dalam baskom, dan mulai makan.
"Mas, ayo makan! Enak loh!" Nisa sudah mulai menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
"Iya!" aku melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Nisa, mencelupkan tangan ke baskom. "Apa di sini tidak ada garpu atau pisau?"
Nisa mengerutkan keningnya, lalu tertawa.
"Mas Leon jangan nglawak deh, nggak pantes!"
"Aku serius!"
Mungkin karena melihat wajah serius ku, Nisa menghentikan tawanya dan menatapku.
"Mas Leon beneran serius nggak bisa makan kayak gini?"
"Dulu sepertinya bisa, tapi aku lupa!"
"Baiklah, biar Nisa bantu!"
"Agggg, makanlah!"
Aku secara otomatis membuka mulutku dan makanan beserta tangan Nisa masuk ke dalam mulut, aku mengunyahnya setelah Nisa kembali menarik tangannya. Rasanya berbeda, ini lebih nikmat.
"Gimana? Enak kan?" tanya Nisa dan aku mengangyukkan kepala. Aku pun mulai mempraktekkan apa yang di lakukan Nisa, cukup sulit, beberapa kali gagal tapi Nisa dengan telatennya mengajariku hingga bisa makan menggunakan tangan.
Bukan karena aku terbiasa hidup enak sejak kecil tapi karena aku tidak pernah ada yang mengajari bagaimana rasanya makan di tempat umum seperti ini, menikmati waktu luang bersama keluarga. Dalam hidupku hanya ada berbalas Budi, aku di besarkan oleh orang yang bukan keluargaku, aku tidak bisa hidup seenaknya walaupun mereka menyayangiku tetap saja rasanya akan berbeda.
Aku kembali teringat dengan Gus Raka, ternyata pria itu juga tidak jauh beda denganku, hanya saja ia cukup beruntung karena berada di keluarga yang normal-normal saja, tidak ada persaingan atau kekerasan, tidak ada kuat dan lemah, tidak ada teori mati atau mematikan.
Sekarang kami sudah berada di Banda udara nasional, beberapa koper sudah kami masukkan ke kargo barang kami hanya tinggal menunggu panggilan untuk penumpang.
Kami duduk di ruang tunggu, lagi-lagi Nisa menyandarkan kepalanya ke bahuku, aku senang tapi aku sekaligus khawatir.
"Apa kamu sakit? Atau kalau kamu keberatan kita naik pesawat kita bisa naik mobil sampai Surabaya?"
"Mas, Nisa nggak pa pa, hanya ingin begini saja, ini rasanya nyaman!" entah kenapa saat ia mengatakan nyaman, rasanya berbunga-bunga, seperti ada yang meletup-letup di sana.
"Baiklah, tidurlah!" aku menarik kepala Nisa lagi ke bahuku, kali ini bahkan tangan kiriku mengusap kepalanya.
Pesawat akan berangkat setengah jam lagi, setengah jam bukan waktu yang sebentar. Sambil mengusir kebosanan, aku kembali melihat foto-foto kita selama berlibur, aku memilih satu foto dan kujadikan walpaper ponselku.
__ADS_1
"Ini bagus, dia imut sekali!" ucapku lirih.
Aku kembali mencari foto yang bagus, bukan hanya saat berlibur, sepertinya aku juga punya kebiasaan baru sekarang, aku sering mengambil foto diam-diam Nisa saat tertidur.
Hingga tanganku terhenti pada foto yang aku ambil beberapa waktu lalu, foto akan kecil itu.
"Gus Raka!"
Leon pun mengirimkan foto itu pada seseorang tidak lupa ia juga mengirimkan sebuah pesan.
//Cari anak yang ada di dalam foto ini, dia hilang sekitar dua puluh tahun lalu dalam kecelakaan bus Bali- Surabaya// send, read.
//Baik tuan// Read.
Aku kembali menyimpan ponselku, berharap dengan cara ini bisa menemukan keluarga Gus Raka.
Tidak berapa lama terdengar panggilan untuk semua penumpang tujuan suaranya, kali ini aku terpaksa membangunkan Nisa, kami tidak mungkin menunggu pemberangkatan pesawat selanjutnya karena barang-barang kami sudah terlanjur masuk ke dalam pesawat.
"Maaf ya!" ucapku saat kami sudah duduk di dalam pesawat.
"Untuk apa mas?"
"Karena aku sudah membangunkannya!"
"Kalau mas Leon tadi meninggalkanku di bandara baru deh mas Leon boleh minta maaf!"
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu!"
"Berarti nggak perlu minta maaf!"
"Aku serius!"
"Aku juga lebih serius!" cara terakhirku adalah mengusap puncak kepalanya, aku mengaku kalah jika berdebat dengannya.
Kami kemudian saling diam, pesawat mulai terbang. Nisa mengambil tab nya dan sepertinya dia dengan menulis saat ini, aku membiarkannya dan tidak ingin menggangunya sampai dia selesai menulis, menulis pasti butuh konsentrasi tinggi.
Aku memilih memejamkan mataku, karena setiap malam aku enggan untuk memejamkan mata, rasanya sayang jika melewatkan satu detik saja tanpa menatap wajah lelapnya, dia begitu manis. Aku sering mencuri ciuman darinya saat dia terlelap, semoga saja dia tidak marah gara-gara aku melakukan itu.
...Jangan membenci apa yang tidak kamu ketahui, karena sebagian besar pengetahuan terdiri dari apa yang tidak kamu ketahui ~ Ali bin Abi Thalib...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...