
Asna memang tidak begitu tahu tentang berapa-berapa gaji yang biasanya di berikan oleh suaminya, ia hanya tahu jika suaminya selalu meminta karyawannya untuk mengambil uang dan membaginya sesuai kerja mereka.
Asna di temani mama Ayu akhirnya sampai juga di toko, kedatangannya langsung di sambut oleh Ridwan.
"Mbak Asna!" Ridwan adalah karyawan yang paling dekat dengan Asna dan Leon karena ia sering datang ke rumah untuk mengantar jemput Raka atau Asna.
"Mas Ridwan, hari ini kan waktunya gajian, saya boleh minta tolong!?"
"Silahkan mbak, apa aja!"
"Siapa yang biasa di percaya mas Raka buat ambil uang dan membaginya sesuai jam kerjanya?"
"Ada mbak, Alan sama Reva!"
"Panggil mereka ke ruangan mas Raka ya, aku tunggu di sana!" Mau tidak mau Asna harus bangkit, ia tidak mau mengecewakan suaminya. Ia takut saat suaminya bangun nanti usaha yang sudah di bangun suaminya dengan susah payah hancur begitu saja.
Asna dan mama Ayu pun masuk ke ruangan Raka. Tidak berapa lama dua karyawan masuk dengan membawa buku besar, sepertinya pembukuan bulanan.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam, masuklah!"
Mereka berdua pun masuk ,
"Duduklah!"
"Tadi mbak Asna memanggil kami?"
"Iya, sebenarnya saya ingin meminta bantuan kalian! Saya tahu mas Raka pasti sudah sangat mempercayai kalian, saya ingin kalian melakukan hal yang sama setiap bulannya. Menghitung gaji karyawan lainnya dan membaginya secara adil, setelah itu saya ingin lihat pembukuannya dan bukti pencairan!"
"Baik mbak, ini catatan untuk bulan ini, sebenarnya kemarin kami sudah ingin membicarakan ini sama mbak Asna, tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan kami pun memutuskan untuk melakukan penundaan gajian sampai mbak Asna siap untuk mengambil alih selama mas Raka sakit!"
"Jangan! jangan telat gajiannya, mereka pasti sangat menunggu hari ini, kalian bisa kan membaginya hari ini juga? Termasuk di tempat percetakan?"
"Insyaallah mbak!"
"Terimakasih ya atas bantuannya!"
"Sama-sama mbak, kami juga Terimakasih akhirnya mbak Asna mau ke sini!!"
"Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menggantikan mas Raka selama mas Raka sakit!"
"Oh iya mbak, beberapa hari lalu pemilik perusahaan penerbitan yang beberapa waktu lalu kita kirim bukunya meminta kepastian kapan buku sisanya akan di kirim!"
"Kenapa tidak di kirim?"
"Sebenarnya, sisanya ada di mobilnya mas Raka!"
"Astaghfirullah hal azim, saya lupa! Baiklah saya akan meminta seseorang untuk mengambilnya!"
__ADS_1
"Baik mbak!"
"Sudah kalian pergilah ke bank untuk ambil uang dan siap-siap membaginya!"
Setelah kedua karyawan itu berpamitan, kini di ruangan itu tinggal Asna dan mama Ayu.
"Gimana ya ma ngambil mobilnya mas Raka?"
"Minta bantuan saja sama papa Na!"
"Tapi papa_!"
"Papa pasti tidak akan keberatan!"
"Baiklah ma!"
...****...
Kini Asna mulai menata kembali hidupnya, ada belasan nyawa yang bergantung pada kelangsungan toko buku milik suaminya, ia tidak bisa lepas tangan begitu saja apalagi ia ingat uang simpanan suaminya masih kurang beberapa lagi untuk melunasi toko. Dan ini masih ada waktu satu bulan lagi.
Beruntung seluruh biaya perawatan Raka mulai dari di rumah sakit daerah hingga rumah sakit Surabaya, semuanya di tanggung oleh Leon. Ia tidak membiarkan Asna mengeluarkan sepeserpun uang untuk biaya rumah sakit suaminya.
Pagi ini setelah menjenguk suaminya di rumah sakit, Asna langsung menuju ke toko karena ia mendapat kabar jika mobil milik Raka sudah selesai di perbaiki dan di bawa ke toko beserta isinya.
Asna tidak pernah mengendarai motor atau mobil sendiri, ia memilih fasilitas taksi on line untuk transportasi nya setiap hari.
Sesampai di toko, ia melihat beberapa karyawan tampak menurunkan kembali buku yang sudah di kemas waktu itu.
"Waalaikum salam!"
Asna pun segera mendekat dan mengecek keadaan buku.
"Bagaimana semuanya?"
"Hampir separoh mbak yang rusak!"
"Jadi kita tidak bisa kirim sekarang ya?"
"Iya!"
"Ya sudah tolong hitung berapa jumlah buku yang perlu di perbaiki atau perlu cetak ulang, lalu hubungi percetakan untuk mencetak ulang sejumlah itu!"
"Baik mbak!"
Asna pun segera masuk ke ruang kerja suaminya.
"Ya Allah, berat ternyata!" keluhnya.
"Anak mama, kamu pasti kuat menjalani semua ini, demi mama dan papa ya sayang!" Asna mengusap perutnya yang semakin hari semakin membesar saja. Beruntung di kehamilannya itu tidak begitu menyusahkan.
__ADS_1
Asna teringat dengan ponsel suaminya, ia segera merogoh tasnya. Selama ini ia Tidak pernah membuka ponsel suaminya, tetap saja baginya membuka ponsel suaminya tanpa ijin itu tidak sopan. Tapi karena keadaan seperti saat ini, ia tidak punya pilihan lain.
"Maafin Asna ya mas!" Asna harus mencari pemilik perusahan penerbit untuk melaporkan keterlambatan pengiriman dalam dua atau tiga hari lagi.
"Assalamualaikum, apakah ini nomor pak Gani?"
"Waalaikum salam, iya saya sendiri! Ini nomor mas Raka?"
"Iya pak, maaf mengganggu waktu anda, saya istri mas Raka! Untuk sementara waktu sampai mas Raka sembuh saya yang akan mengambil alih tanggung jawab percetakan!"
"Oh begitu, syukurlah saya hampir saja mencari percetakan lain untuk melanjutkan tugas yang tertunda pada perusahaan suami anda!"
"Maaf pak, kami akan segera mengirim sisa bukunya, tapi kami meminta waktu dua sampai tiga hari lagi pak, bagaimana? Semoga anda tidak keberatan!"
"Baiklah, menimbang bagusnya kinerja perusahaan anda, kami tidak akan mempermasalahkan keterlambatan itu lagi, tapi saya minta setelah ini tolong tepat waktu!"
"Insyaallah pak, kami akan berusaha sebaik mungkin! Terimakasih atas kesempatannya!"
Sekarang perasaan Asna bisa sedikit lega akhirnya tidak ada masalah yang serius.
Setelah menemukan berapa banyak buku yang harus cetak ulang, Asna segera meminta karyawannya untuk mempercepat pekerjaan mereka karena mereka hanya punya waktu sampai tiga hari.
Setelah menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda, sore hari Asna tidak langsung pulang ke rumah, ia memilih mengunjungi suaminya terlebih dahulu, tidak lupa ia selalu menanyakan keadaan suaminya pada dokter yang berjaga hari ini, walaupun jawabannya masih sama tapi Asna tidak pernah pesimis.
Hal yang menyakitkan sekaligus melegakan bagi Asna saat memasuki ruangan itu, sakit karena suaminya tidak kunjung bangun, lega karena setiap kali ia masuk ia masih bisa mendengar alat-alat itu berbunyi.
Asna menarik sudut bibirnya, ia tidak mau terlihat sedih di depan suaminya.
"Assalamualaikum mas, apa kabar hari ini?"
Asna berdiri dan mengusapkan tangan Raka ke perutnya yang semakin besar itu.
"Ya Allah mas, anak kita langsung nendang pas kamu usap mas, dia bisa merasakan kedatangan papa nya ternyata!"
Asna pun lanjut dengan bercerita semua yang ia lakukan hari ini, tidak ada yang terlewat satupun mulai dia bangun tidur hingga petang, menceritakan tentang makanan yang ia makan, mbak Rumi, karyawan Raka di toko dan semua pekerjaannya.
"Semua menyenangkan mas!" Asna mengakhiri ceritanya dengan mengusap sudut matanya yang mulai berair. Walaupun suaminya tidak bisa merespon semua ucapannya, ia hanya bisa berharap semoga suaminya bisa mendengarkannya dan segera bangun.
"Sudah malam mas, Asna pulang dulu ya, jaga diri mas! Besok Asna pasti ke sini lagi!" Asna mengecup kening sang suami sebelum ia meninggalkannya.
Sebenarnya ingin tetap menemani suaminya, tapi ia tidak bisa mengabaikan anak dalam kandungannya, apalagi dokter bilang jika dia sampai terguncang sekali lagi akibatnya bisa fatal pada bayinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...