
Asna akhirnya keluar meninggalkan Nisa yang akan berjuang untuk melahirkan bayinya. Leon yang memang sudah siap untuk menemani Nisa di dalam pun segera masuk setelah mendapat ijin dari dokter.
Keluarga Nisa sudah menunggu di depan juga, sedangkan kedua kakaknya sedang sibuk menangani pasien lainnya.
Mama Nisa segera menghampiri Asna yang baru saja duduk.
"Asna, Tante senang akhirnya kamu mau memaafkan Nisa!"
Asna yang menundukkan kepalanya ikut merasakan suasana tegang di dalam segera mendongakkan kepalanya,
"Bukan salah Nisa Tante, hanya saja Asna yang belum siap menerima semuanya!"
"Terimakasih ya!" mama Nisa segera memeluk Asna dan mengusap punggung Asna, "Nisa pasti sangat bahagia sekarang!"
Setelah cukup lama saling berpelukan, papa Nisa pun ikut bergabung. Mereka menceritakan banyak hal hingga Asna berpamitan untuk mencarikan makanan untuk mereka,
"Tante, Asna mau ke mushola dulu ya sekalian Carikan minuman dan camilan buat Tante sama om ya!"
"Nggak ngrepotin nih?"
"Nggak kok Tante! Apa sekalian kita ke mushola sama-sama?"
"Tante sholat di ruangan Ardan saja, di sana ada tempat solatnya! Tapi kamu beneran nggak pa pa sendiri, atau sekalian ke tempatnya Ardan?"
"Nggak usah Tante, kan Asna mau sekalian beli camilan!"
"Bener nih nggak pa pa, atau biar om temenin? Soalnya kaki Tante suka kelu kalau jalan jauh!"
"Nggak usah Tante, nggak pa pa! Jangan khawatir!"
Asna pun segera berdiri dan berjalan menuju ke mushola rumah sakit, ia sudah sangat hafal dengan seluk beluk rumah sakit yang pernah menjadi tempat kerjanya itu.
Tapi tetap saja ia mengenakan masker agar orang-orang yang mengenalinya tidak begitu mengenalinya lagi. Tapi tetap saja beberapa dari mereka ada yang masih menatap Asna dan memastikan kalau itu benar-benar Asna yang mereka lihat.
Asna mempercepat langkahnya saat melewati beberapa perawat yang baru saja kembali dari mushola, mereka berpapasan tapi tidak begitu mengenali tapi setelah beberapa langkah melewati Asna, barulah mereka berhenti.
"Bukankah itu tadi Asna?"
"Iya deh kayaknya Asna!"
Mereka kembali berbalik menatap Asna yang sudah masuk ke dalam mushola.
"Iya itu tadi Asna, pasti ini gara-gara Nisa melahirkan, makanya dia ke sini!"
"Tapi bukankah beritanya mereka tidak lagi akur setelah kejadian itu!"
"Iya, bahkan Asna tidak mau menemui siapapun!"
Mereka terus membahas soal Asna hingg sampai di tempatnya masing-masing.
Ternyata ada yang sedang memperhatikan obrolan mereka sedari tadi, pria itu adalah Zaki.
"Lagi ngomongin siapa sih? Asik bener?"
__ADS_1
"Eh mas Zaki, itu mas di depan mushola kayaknya tadi lihat Asna deh!"
"Asna?"
"Iya, mungkin lagi nemenin Nisa melahirkan!"
Zaki pun segera meninggalkan mereka setelah mendengarkan kabar tentang Asna.
"Ehhh, bukankah mas Zaki dari dulu suka sama Asna?"
"Iya ya! Kasihan mas Zaki!"
"Yang kasihan itu bukan mas Zaki, tapi Asna! Kalian tuh gimana sih!"
Zaki benar-benar menyusul Asna di mushola tapi sayang ternyata Asna memilih untuk bertahan di mushola sampai waktu isya' agar tidak perlu bolak-balik lagi.
Sedangkan Zaki yang belum tahu pasti kalau itu benar-benar Asna memilih menunggu di luar mushola.
Asna sembari menunggu waktu isya', ia memilih untuk mengecek ponselnya siapa tahu suaminya sudah menghubunginya. Tapi juga tidak mungkin sekarang karena pulangnya setelah isya'.
Hingga waktu isya' tiba, Zaki tidak juga melihat Asna keluar.
"Apa mungkin Asna sudah keluar ya?"
"Atau memang Asna sengaja menunggu hingga isya'! Biasanya dia suka males kembali dan kembali setelah isya'!"
"Baiklah, kalau begitu lebih baik aku sholat dulu!" Zaki pun memilih untuk masuk ke mushola dan ikut jama'ah sholat isya'.
...***...
Raka segera memarkirkan motornya di depan dan masuk seperti biasa. Tapi kali ini pintu tidak di kunci.
"Assalamualaikum, dek!" seperti biasa Raka akan langsung menuju ke kamarnya. Tapi saat tangannya hendak menarik handle pintu tiba-tiba Mbak Rumi muncul dari dapur.
"Mbak, kok embak di sini?" Raka mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.
"Iya mas, soalnya di suruh mbak Asna!"
"Asna? Maksudnya tidak terjadi apa-apa kan sama Asna?"
"Tidak mas, justru mbak Asna minta saya ke sini soalnya takut kalau mas Raka khawatir!"
"Maksudnya gimana nih mbak?"
"Jadi gini mas, tadi mbak Asna ke rumah sakit, katanya temennya melahirkan. Nanti kalau mas sudah pulang di suruh nyusul ke rumah sakit!"
"Melahirkan?"
"Iya, begitu tadi katanya mbak Asna!"
"Mbak lihat ponsel aku nggak?"
"Itu di atas meja depan tv mas!"
__ADS_1
Raka pun segera menghampiri meja yang berada di depan tv dan melihat siapa yang melakukan panggilan terhadapnya.
Ternyata begitu banyak panggilan tak terjawab dari Leon dan juga ada satu panggilan yang di terima.
Raka pun segera melakukan panggilan pada Asna tapi tidak di jawab. Mungkin Asna sudah tidak mengaktifkan ponselnya karena sudah hampir masuk waktu isya'.
Raka pun segera masuk ke kamarnya dan menyambar jaket, dompet dan juga sarung tangan. Ia kembali keluar dan mengambil helmnya.
"Mbak, aku nyusulin Asna! Kalau mbak mau pulang, pulang aja nggak pa pa, mbak kunci ya pintunya!"
"Iya mas!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Raka kembali menaiki motornya dan menuju ke rumah sakit.
Jarak rumah dengan rumah sakit cukup jauh, butuh waktu seperempat jam untuk sampai di sana.
Sesampai di rumah sakit, setelah memarkirkan kendaraannya. Raka segera mencari ruang persalinan atas nama Nisa.
Sesampai di depan ruangan tempat bersalin Nisa, hanya ada kedua orang tua Nisa.
"Assalamualaikum, paman, bibi!"
"Waalaikum salam, nak Raka!"
"Apa Asna tadi ke sini?"
"Iya, tadi sih pamitnya mau ke mushola buat sholat magrib lalu ke kantin, tapi sampai sekarang kok nggak kembali-kembali ya, bibi jadi khawatir!"
"Kalau begitu biar Raka susul bi, Asna nya!"
"Iya lebih baik seperti itu, bibi jadi khwatir. Apalagi keadaanya baru saja membaik!"
"Iya!" Raka sudah hampir berbalik tapi ia kembali berbalik menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup.
"Apa semua baik-baik saja?" tanyanya lagi.
"Insyaallah semua baik-baik saja, Nisa harus menjalani operasi Cesar karena memang bayinya kembar!"
"Alhamdulillah, kalau begitu saya cari Asna dulu ya bi, paman!"
Setelah benar-benar berpamitan, Raka pun segera meninggalkan mereka. Bagi Raka cukup sulit menemukan letak mushola karena memang dia jarang ke rumah sakit ini.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...