
Orang yang lalu lalang di samping kedai tenda, menatap aneh pada mereka. Mungkin mereka berpikir kalau ada dua orang aneh yang sedang kesasar di warung tenda.
Raka terus tertawa melihat wajah kesal Leon yang menurutnya sungguh lucu.
"Aku berharap nanti anak kamu yang kembar akan sama seperti kita!" ucapnya Raka sebelum akhirnya mereka keluar dari warung.
"Kenapa harus sama sepertimu? Dia anakku, jadi jangan harap dia jahil sepertimu!" Leon berjalan lebih dulu dan Raka memilih untuk mengekor padanya.
"Dia keponakanku! Dan ingat kalau kamu terlalu membenciku besar kemungkinan dia akan menuruni sifatku!" Raka masih bicara dengan tersenyum.
"Terserahlah!"
Mereka naik mobil milik Leon yang sudah terparkir di depan toko Raka.
"Sebenarnya kita akan menemui siap?" Raka mulai penasaran dengan siapa mereka akan bertemu.
Leon yang masih kesal dengan ulah Raka menoleh dan menatapnya dengan tatapan jengah,
"Sejak kapan jadi suka bicara seperti ini sih? Atau jangan-jangan kebiasaan Asna sudah menular padamu!"
"Hehhhhh!" Raka menghela nafas karena tidak berhasil mendapat jawaban dari saudara kembarnya.
Ia memilih memperhatikan jalan, ia mungkin akan bisa menebaknya sendiri sekarang.
"Apa Asna baik-baik saja!" melihat saudaranya diam, sekarang Leon yang merasa tidak nyaman.
Raka menoleh sebentar dan tersenyum, "Ternyata mudah sekali membuatmu rindu!"
"Lupakan!" Leon kesal karena selalu di goda oleh Raka.
"Nggak pa pa! Asna baik-baik saja!" kali Raka bicara dengan nada yang cukup serius.
"Nisa sangat mengkhawatirkannya!"
Kali ini tidak ada nada becanda lagi di antara mereka.
"Katakan pada Nisa, nanti Asna akan menemui dirinya sendiri saat sudah siap!"
"Apa kalian sudah melakukannya?" sekarang gantian Leon yang penasaran dengan pernikahan saudara kembarnya.
"Melakukan apa?"
"Melakukan itu! Membuat anak!"
"Kamu itu terlalu cepat berharapnya!"
"Jadi belum?" Leon meminggirkan mobilnya dan menghentikannya, ia menatap saudara kembarnya itu memastikan memang apa yang ia dengan itu benar.
"Kenapa kamu yang begitu antusias?" tanya Raka sambil memicingkan matanya.
"Aku peduli padamu!"
__ADS_1
"Ha ha ha, aku tahu itu! Tenang saja tidak lama lagi karena aku sekarang sedang berusaha!"
Hehhhh, seharusnya aku tahu siapa dia! mendengarkan jawaban Raka membuat Leon menyesal sendiri karena telah bertanya hal itu.
Leon kembali menjalankan mobilnya dan memecah ramainya jalan raya di siang hari.
Dan akhirnya mereka sampai juga di depan pesantren milik Gus Fahmi.
"Kenapa kita ke sini? Jadi pemiliknya salah satu dari pengurus pesantren ini?"
"Menurutmu?!"
"Ya seperti itu!"
"Baguslah kalau mengerti! Mau tetap di sini atau keluar?"
Ya Allah, Leon ini galak sekali ...., gerutu Gus Raka dalam hati sambil tersenyum.
Mereka pun turun dan menuju ke tempat pengurus pesantren. Ia tahu jam-jam seperti ini pasti Gus Fahmi sedang berada di pesantren.
Kedatangan mereka tentu menjadi pusat perhatian santri-santri yang kebetulan melihat mereka. Dua malaikat tak bersayap sedang memasuki pesantren dengan wajah yang hampir mirip tapi penampilan yang berbeda.
"Ya Allah mimpi apa semalam bisa melihat dua malaikat sekaligus!" tampak beberapa santri mengagumi mereka.
"Mau dong di kirim satu untukku!"
Hingga salah satu dari mereka sepertinya mengenali pria-pria tampan itu,
Mereka pun kembali tertarik untuk memperhatikan satu per satu dari mereka.
"Ahhh iya benar, kalau yang satu! Itu sepertinya temannya ustadz Fahmi juga!"
Saat mereka sedang berdebat, dari arah lain terlihat ustadz Fahmi baru saja keluar dari kelasnya. Ia tampak begitu terkejut saat melihat Leon dan Raka datang bersamaan.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!" sambut Raka dan Leon.
"Ya Allah jadi yang di maksud mas Leon semalam ustadz Raka?"
"Jadi kalian sudah saling kenal?"
"Kami sering berada dalam satu majelis pengajian, iya kan ustadz?" Gus Fahmi menatap Raka dan menunggu pria itu membenarkan ucapannya.
"Iya!"
"Baguslah kalau kalian sudah saling kenal, kita bisa membicarakan hal ini dengan santai!" Leon yang awalnya memang tidak tahu kalau Raka maupun Fahmi sudah saling kenal.
Kini mereka memilih berbicara di salah satu gazebo yang ada di taman belakang pesantren, tempat itu merupakan tempat favorit bagi para tamu saat melakukan diskusi.
"Bagaimana?"
__ADS_1
"Jadi Raka_!" Leon sudah terlanjur terbiasa dengan panggilan akrabnya dengan Raka itu tampak meralat ucapannya, "Maksud saya, mas Raka sedang membutuhkan mesin percetakan! Kami berencana melakukan kerja sama dengan biaya sewa setiap item mesin itu perbulannya!"
Fahmi tampak menatap Raka, dan pria itu menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya saya lebih suka dengan sebutan kerja sama dari pada sewa, kebetulan saya juga punya beberapa karyawan yang saya alih fungsikan selama mesin itu tidak beroperasi. Bagaimana kalau ustadz Raka yang menjalankannya dan saya yang tanam modal sekaligus penambahan karyawannya?"
"Alhamdulillah, kalau seperti saya akan sangat setuju!"
Ternyata pertolongan Allah benar-benar datang di waktu yang tepat. Saat ia sedang kekurangan modal, Allah mengirimkan modal tanpa dia meminta.
"Baiklah, kapan ini kita bisa melihat mesinnya?" tanya Gus Fahmi.
"Bagaimana kalau hari ini juga, sebenarnya kalau bisa besok sudah mulai beroperasi!" Raka sedikit ragu mengatakannya tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu pada saudara kembarnya. Tapi melihat Leon menganggukkan kepalanya ia lega.
"Baiklah, kita sholat jama'ah dhuhur di sini dulu baru ke toko ya!" Gus Fahmi memberi saran, karena memang sebentar lagi akan tiba waktu sholat dhuhur.
Mereka berdua pun menyetujuinya,
Tepat setelah sholat dhuhur, mereka bertiga meluncur ke toko Gus Fahmi. Gus Fahmi sengaja membawa motornya sendiri karena mereka setelahnya tidak akan satu arah lagi, meskipun Leon sudah menawarkan diri untuk mengantarnya nanti. Tapi Gus Fahmi menolaknya.
Setelah sepuluh menit, mereka akhirnya sampai juga di depan toko. Tampak dari luar toko itu hanya sebuah toko buku kecil lengkap dengan mesin foto kopi dan mesin print di bagaian depan toko karena lokasinya yang dekat dengan kampus. Tapi saat masuk di bagian belakangnya, memanjang ke belakang berjejer mesin percetakan dengan merk yang bagus.
"Bagaimana mesin sebanyak ini tidak di gunakan?" Raka tampak mengagumi mesin-mesin yang berjejer itu.
"Sebenarnya dulu saya membeli toko ini sudah lengkap dengan mesinnya juga! Jadi bisa di bilang ini adalah bonus, jadi saya memang tidak punya fashion untuk melanjutkan usaha percetakan ini!" jelas Gus Fahmi.
"Tapi bukankah dulu sempat membuka usaha percetakan?" Leon sempat ingat dulu sebelum Gus Fahmi menikah dengan Bianka memang mesin percetakan ini sempat beroperasi.
"Saat ini hanya jalan Allah saja untuk saya mendapatkan jodoh, selebihnya ternyata saya harus memilih salah satunya, Allah meminta saya untuk lebih mengurus pesantren! Sungguh saya senang kalau ada yang mau memanfaatkan mesin-mesin ini, kalau mau di jual juga sayang!"
Raka menatap bangunan yang begitu besar di belakang itu, ia tidak pernah menyangka di balik toko kecil ternyata ada begitu banyak mesin di belakangnya.
"Bagaimana kalau saya mulai besok? Apa ustadz Fahmi tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak, baiklah nanti akan aku koordinasi beberapa karyawan yang masih stand by!"
"Terimakasih banyak ustadz!"
"Sama-sama ustadz Raka!"
Mereka pun langsung membuat surat perjanjian dengan pembagian keuntungan 30% banding 70%, 30% untuk pihak Gus Fahmi dan 70% untuk Raka sekaligus pembayaran karyawan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1