Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (33)


__ADS_3

Asna sebenarnya ingin mengatakan kalau Zaky adalah pria yang menaruh hati padanya, tapi melihat reaksi suaminya tadi sudah membuatnya takut.


"Iya mas, dia hanya teman!"


"Maaf ya mas tadi keterlaluan!" Gus Raka jauh merasa bersalah karena tidak bisa mengendalikan diri, ia benar-benar takut apa yang di lakukan barusan dapat membuat hubungan mereka kembali renggang.


"Aku mau tidur mas!" Asna tidak mau melanjutkan perbincangan yang begitu menguras batinnya. Seharian ini sudah cukup membuatnya lelah, di tambah apa yang di lakukan suaminya walaupun ia sadar itu bukan sepenuhnya salah suaminya.


"Baiklah, tidurlah!" Gus Raka mengusap kepala Asna dan membiarkan istrinya itu tidur, sebelum meninggalkan Asna, Gus Raka lebih dulu menyelimuti tubuh istrinya.


Ia tidak bisa memaksakan istrinya untuk menerima semua alasannya.


Gus Raka memilih untuk menyiapkan makanan untuk mereka, ia yakin istrinya pasti belum makan. Sudah sore, sudah tidak sempat makan. Lagi pula Gus Raka tidak bisa masak berbagai makanan. Ia hanya bisa masak yang simpel, seperti mie atau telur dadar.


***


Di kantor Leon


Setelah pertemuannya dengan Gus Raka, Alex pun segera menemui Leon. Ia tidak bisa menemani Raka karena memang masa lalu mereka, kadang membuat rasa itu masih sedikit terselip di hatinya. Rasa cemburu mengingat betapa dekatnya dulu sang istri dengan pria yang akan di temui Raka.


"Mas Alex, ada apa?" Leon yang baru kembali dari meeting terkejut karena Alex sudah berada di ruangannya, biasanya Alex menyuruhnya datang bukan Alex yang datang sendiri.


"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu!"


Leon pun ikut duduk, mereka duduk di sofa. Alex duduk di sofa yang lebih besar sedangkan Leon duduk di sofa yang lebih kecil.


"Aku tadi bertemu dengan Raka!"


"Raka?" tidak biasanya Alex membahas soal Raka, "Apa ada masalah?"


Rasa traumanya karena hampir saja kehilangan Raka membuatnya takut.


"Bukan, sepertinya ada sedikit masalah dengannya, tadi kami bertemu di toko mesin, dia sepertinya sangat membutuhkan mesin percetakan, lalu aku menyarankan untuknya bekerja sama dengan Fahmi, aku rasa mesin milik Fahmi sekarang kembali terbengkalai karena dia fokus mengurus pesantren!"


"Itu ide bagus mas, selain toko Gus Fahmi sudah memiliki nama, mesin di sana juga cukup banyak!"


"Iya benar, besok datanglah ke tokonya!"


"Pasti!"


Mereka menghentikan percakapannya saat sekretaris Leon menyuguhkan dua gelas kopi untuk mereka.


"Terimakasih!"


"Sama-sama pak, kalau begitu saya permisi!"


Leon tersenyum dan membiarkan sekretarisnya kembali keluar.

__ADS_1


"Minumlah mas!"


"Hmm!" Alex pun mengambil cangkirnya dan menyesap kopi yang tampak masing mengepulkan asap.


"Mas Alex serius mau ke Jogyakarta?"


"Iya! Kata Dini, ia sudah memberitahukan ibunya tentang kepindahan kami! Saudara suaminya juga kebetulan tinggal di sana!"


"Aku sebenarnya inginnya mas Alex tetap di sini, tapi kalau menurut mas ini yang terbaik untuk anak-anak, saya hanya bisa mendukung keputusan mas dan keluarga! Nanti insyaallah kalau Nisa sudah lahiran, kami akan sering-sering berkunjung ke sana!"


Alex tersenyum dan kembali menyesap kopinya, "Aku juga akan sering datang ke sini, walaupun sendiri tanpa Aisyah dan anak-anak!"


Mereka pun akhirnya mengobrol panjang, melepaskan kerinduan yang panjang yang akan segera mereka lalui, Alex dan keluarga akan segera pindah setelah Kiandra kenaikan kelas agar pindahnya lebih gampang dan mudah saat mengikuti pelajarannya.


...***...


Sore hari, Leon pun bergegas untuk pulang. Ia masih menitipkan istrinya di rumah mertua, sengaja karena tidak mau meninggalkan Nisa sendiri.


Sekarang kamar Nisa sudah berpindah di lantai bawah agar Nisa tidak kerepotan untuk naik turun, Leon sengaja menyulap kamar tamu menjadi kamar mereka dengan nuansa sama persis seperti kamar Nisa yang di atas.


"Assalamualaikum!" sampai Leon, ia melihat Nisa dan mama mertuanya sedang duduk sambil melipat baju bayi yang baru saja Leon datangkan.


"Waalaikum salam!" dua wanita beda generasi itu segera menoleh.


"Mas, tadi yang datangin toko ke rumah mas Leon ya?"


Cuma gara-gara percakapan mereka semalam, Leon tiba-tiba mendatangkan seisi toko ke rumahnya.


"Mas, satu bulan lagi Nisa lahiran loh, tapi kita belum beli apapun untuk bayi kembar kita!" Nisa duduk sambil menyandarkan kepalanya di atas dada suaminya. Leon yang sedang memainkan gadgetnya segera menatap ke arah istrinya.


"Biar aku yang belikan!"


Selalu begitu ...., keluh Nisa. Padahal yang ia inginkan bisa pergi ke mall dan jalan-jalan, selama hamil besar suaminya benar-benar tidak membiarkan ia pergi kemanapun tanpa sang suami.


"Nggak mau mas, Nisa mau memilih sendiri semua barang keperluan anak kita!"


"Baiklah!"


"Berarti besok kita ke mall?"


"Tunggu saja besok!"


Nisa sudah benar-benar senang karena merasa mendapatkan lampu hijau dari suaminya. Ia pun segera tidur.


Pagi-pagi sekali saat Nisa selesai mandi, ia melihat suaminya sudah sangat rapi.


"Mas, hari ini jadi kan?"

__ADS_1


"Jadi!" tetap saja Leon dengan gaya cool nya.


"Kok pakek jas sama kemeja?"


"Aku harus ke kantor, hari ini ada meeting penting! Beberapa investor dari luar negri datang untuk melihat kinerja perusahaan!"


"Tapi_!"


Cup


Tiba-tiba bibir Leon mendarat di bibir Nisa, lalu beralih ke kening dan tangannya mengusap perut besar Nisa.


"Aku pergi dulu ya! Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam, nggak sarapan mas?"


"Nanti di kantor!" Leon sudah berlalu, tampak sekali kalau pria yang akan segera menjadi calon ayah itu sedang terburu-buru karena ia harus menjemput kliennya di bandara.


Flashback off


"Gimana kamu suka?" tanya Leon dengan santainya, ia ikut duduk bersama dengan mertua dan istrinya.


"Mas, tapi Nisa maunya nggak begini!"


"Jangan banyak protes sayang, suami kamu benar loh! Kamu kan nggak bisa jalan-jalan terlalu lama!" mama Nisa ikut membela Leon.


"Mama kok malah bela mas Leon sih, Nisa kan juga pengen sekali-kali pergi jalan-jalan ma! Mas Leon enak setiap hari bisa pergi ke luar, Nisa boro-boro kerja aja udah di suruh cuti!"


Leon dan mama mertuanya hanya bisa saling pandang, mereka bisa memaklumi memang suasana hati wanita hamil sering labil.


"Baiklah, bagaimana kalau sore ini kita jalan-jalan!?"


Nisa begitu senang mendengarkan ucapan suaminya, bibirnya tertarik ke atas hingga menunjukkan gigi putih bersihnya yang berjajar begitu rapi.


"Nisa mau!"


"Siap-siaplah, mas akan mandi dulu!"


"Siap mas!" Nisa bergegas bangun tapi tampak begitu susah, Leon dengan sigap membantunya bangun dengan memegangi tangan dan punggung Nisa.


"Hati-hati!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2