
Pagi ini Bianka berangkat ke kampus dari rumah Aisyah, ia sudah satu minggu dan
orang yang mencarinya sering berkeliaran di depan rumahnya, hingga ia tidak
bisa kembali ke rumahnya untuk waktu yang lama.
Setelah memarkirkan sepeda motornya, Bianka segera berjalan hendak menuju ke kelasnya.
Aisyah sudah menunggunya di kelas karena Alex mengantarnya sebelum berangkat ke
kantor, ats perintah nenek widya.
“Itu kan gus Fahmi!” Bianka sedikit mempercepat langkahnya saat melihat pria
berwajah teduh itu, sudah dua bulan terakhir gus Fahmi jarang nongol di kampus,
mungkin karena masih belum siap untuk bertemu dengan Aisyah.
“Assalamualaikum, Gus Fahmi!” sapa Bianka setelah begitu dekat dengan gus Fahmi.
Pandangan mata Bianka dan gus Fahmi bertemu saat gus Fahmi menoleh padanya, gus Fahmi pun tersenyum dan segera menundukkan pandangannya.
“Waalaikum salam, Bia!” jawab gus fahmi seperti biasa dengan senyum teduhnya,
“Lama tidak bertemu ya!”
“Gus Fahmi yang ngilang sih!”
“Bukan ngilang, tapi cuma berusaha menguatkan diri saja, biar semua menjadi baik!”
“Sadar nggak? jika ternyata gus Fahmi ini sekuat Salman Alfarisi!”
Mendengarkan ucapan Bianka, gus Fahmi mengerutkan keningnya, “Kenapa?”
“Karena Salman Alfarisi juga merelakan perempuan yang akan di lamar nya untuk Abu Darda’ , Seperti gus Fahmi yang merelakan Aisyah untuk mas Alex!”
Sekarang gus fahmi tersenyum, ia tidak mengerti sebelumnya kenapa Bianka bisa berpikiran seperti itu, tapi kemudian ia sadar dengan siapa yang di bicarakan.
“Aku tidak sekuat itu, Bi! Salman Alfarisi dan Abu Darda' bersahabat sedangkan kami
tidak, mereka tidak sengaja melamar wanita yang sama hanya saja Allah menjodohkan wanita itu dengan Abu Darda' yang sebenarnya hanya menemani Salman Alfarisi untuk melamar, sedangkan kami memang sama-sama ingin datang untuk
melamar. Yang sama hanya takdir kami yang hanya bisa mencintai dalam doa!”
Bianka tersenyum mendengarkan kalimat gus Fahmi, kekagumannya pada pria itu semakin
besar. Jika dia yang ada di posisinya saat ini mungkin ia hanya bisa menangis
meratapi hatinya yang terluka karena di tinggal nikah.
“Ayo …!” ucap gus Fahmi sambil kembali berjalan, ia tidak membiarkan Bianka berjalan
di depannya.
Tidak ada pembicaraan lagi hingga mereka sampai di depan sebuah ruangan, “Aku masuk
dulu ya, Bi! Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam …!”
Setelah gus Fahmi menghilang di balik pintu itu, Bianka kembali melanjutkan langkahnya. Ia bisa melihat di dalam kelas itu, Aisyah sedang asik dengan bukunya.
“Dooor …!”
Aisyah menjatuhkan bukunya karena terkejut dengan kedatangan Bianka,
“Bi …, salam dulu bi kalau datang!”
“Assalamualaikum cantik!”
“Waalaikum salam, bagaimana kabar ibu sama Nino?”
__ADS_1
“Mereka baik semua, makasih ya kamu dan keluarga kamu begitu baik sama aku!”
“Sama-sama, aku juga senang!”
“Oh iya Ay, aku tadi ketemu sama gus Fahmi!”
Aisyah yang melanjutkan membacanya segera menghentikan kegiatannya. Entah kenapa nama itu masih sangat membekas di hatinya, namanya sudah terlanjur tercantum dalam
setiap doanya sebelum dia menikah, tapi saat ini ia sudah berusaha keras untuk bisa
menggeser nama itu menjadi nama orang yang telah Allah takdirkan untuknya, ia
selalu mendoakan kebaikan untuk pria arrogant itu.
“Sepertinya gus Fahmi sangat terluka ya mengetahui kamu udah nikah?”
Pertanyaan Bianka berhasil membuat Aisyah menoleh padanya, tatapan penuh tanda tanya. Ia sendiri tidak tahu bagaimana harus bersikap nanti jika bertemu dengannya.
“Apakah aku yang paling bertanggung jawab atas hal itu, Bi?”
Bianka merasa salah bicara kali ini, ia mengalihkan tatapannya pada anak-anak lain
yang juga sedang asik mengobrol,
“Nggak juga, Ay!” lalu kembali beralih menatap
Aisyah, “Aku Cuma ngerasa, gus Fahmi yang paling terluka dalam hal ini!”
“Kita sama-sama terluka, tapi luka ini yang akan mengajarkan kita bahwa air mata bisa
membuat mata kita lebih jernih, dan lucunya setan suka membisikkan satu
kesedihan hingga kita melupakan seribu kebahagiaan lainnya, hanya kita saja
yang banyak ngeluh dengan kesedihan-kesedihan yang kita buat sendiri!”
Kali ini Bianka bisa tersenyum melihat ketegaran sahabatnya itu, ia tidak perlu lagi
merasa tidak enak jika membicarakan cinta mereka yang tidak sampai.
sebagai moderator, pemimpin jalannya diskusi. Bianka memang paling jago dalam
memimpin jalannya diskusi, ia sering sekali di dapuk sebagai MC di berbagai
seminar kampus.
***
Jam makan siang biasa Aisyah dan Bianka akan ke mushola kampus dulu baru ke kantin.
Aisyah sengaja mempercepat doanya agar tidak bertemu dengan gus Fahmi, ia belum
benar-benar siap untuk bertemu dengan pria itu.
Mereka pun sudah duduk di salah satu bangku kantin dengan menyantap makanan yang sudah di pesan.
“Aku gabung ya?” tanya seseorang, dia adalah Nina teman satu kelas mereka.
“Silahkan, Nin …, tumben sendiri, teman teman kamu kemana?’ tanya Bianka.
“Tadi ketemu sama gus Fahmi, mereka milih ikut pengajian! Aku mah laper banget jadi
aku milih ke kantin!”
Bianka hanya bisa menatap sahabatnya itu, ia tahu pasti rasanya masih berbeda rasanya.
“Eh kamu udah nikah ya katanya, sama siapa?” pertanyaan Nina itu berhasil membuat
Aisyah tersedak kuah baksonya.
“Kenapa Ay, aku salah ngomong ya?”
__ADS_1
“Nggak kok, iya aku udah nikah!”
“Padahal dulu sudah beredar gossip katanya kamu bakal nikah sama gus Fahmi, pasti
beruntung banget ya kalau nikah sama dia, dapat anaknya pak Kyai!”
Kali ini aisyah sudah mulai kesal,
“Tapi sekarang aku nikahnya kan nggak sama gus Fahmi, jadi kalau gus Fahmi mau nikah sam siapa aja boleh kok!”
“Kok kamu kayak kesel gitu sih, Ay! Aku kan cuma ngomong apa yang aku tahu!”
“Ya karena memang Ay sama gus fahmi hampir menikah, mereka pernah saling mencintai dalam doa!” ucap Bianka tidak kalah keselnya membuat Aisyah segera meminta
Bianka untuk menghentikan ucapannya.
“Tapi kan kamu udah nikah sekarang, Ay!” Nina masih tidak mau kalah.
“Memang perasaan Ay akan menghancurkan pernikahan mereka, cinta di masa lalu tidak
berarti masih menjalin hubungan!”
“Baiklah aku nyerah deh …, nggak bisa deh aku debat sama kalian!”
Akhirnya Nina memilih mengalah, Bianka dan Aisyah memang dua orang yang paling pinter
kalau di suruh debat.
Mereka pun kembali ke kelasnya, tapi saat yang bersamaan gus fahmi keluar dari
ruangannya. Mereka terpaksa berpapasan.
“Assalamualaikum gus Fahmi!” sapa Nina dan Bianka bersamaan, Aisyah hanya bisa menunduk. Rasanya masih pengen nangis.
“Waalaikum salam, Ay …, apa kabar?”
“Yang nyapa kita kok yang di tanya Ay sih, gus Fahmi!” protes Nina.
“Saya baik!” jawab Aisyah singkat tanpa berani mendongakkan kepalanya. Ia takut belum
bisa ikhlas.
“Ay …, apa kamu bahagia?”
Deg
Pertanyaan gus Fahmi benar-benar berhasil membuat Aisyah terkejut, apa sebegitu
terlihatnya, apa sebegitu mudahnya orang menebak jika memang tidak ada
kebahagian di pernikahannya?
“Saya bahagia …!”
“Baiklah …, semoga kau akan selalu bahagia, assalamualaikum …!”
“Waalaikum salam …!”
“Kalian beneran sama-sama suka?” tanya Nina setelah gus Fahmi meninggalkan mereka.
“Apa kalian bakalan jadian?”
“Ninaaaaa…!” Bianka benar-benar gemas dengan temannya itu, “Ay sudah nikah, ngapain
jadian sama gus Fahmi!”
“Ahhh iya …, hampir saja Ay bikin patah hati seisi kampus kalau jadi nikahnya sama
gus Fahmi!”
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰