
"Ini kok semakin jauh ya mas malahan dari daerah xxx?" tanya Nisa lagi setelah sekian lama terdiam.
"Iya mbak, sebentar aku harus menemui teman aku dulu, orangnya di depan!"
"Kok gitu sih, ya nggak bisa dong! Ya sudah aku mau turun aja deh! Hentikan taksinya!" tangan Nisa sudah hampir memegang handle pintu mobil tapi dari belakang kepalanya tiba-tiba ada yang menodongnya dengan sebuah pistol.
"Diam di tempat, atau peluru ini akan menembus kepala kamu!"
Seketika Nisa menjauhkan tangannya dari pintu mobil dan mengangkat kedua tangannya.
"Nah begitu, jangan berani macam-macam, kabur atau berteriak, mengerti!"
Nisa segera menganggukkan kepalanya, selama ponselnya tidak di ambil atau di matikan oleh orang-orang itu ia merasa masih aman, pikirnya.
Nisa benar-benar kooperatif pada penjahat-penjahat itu agar mereka tidak sampai menyakitinya apalagi mengambil ponselnya.
"Saya akan nurut, tapi jangan sakiti saya mas, kasihan bayi dalam kandungan saya!"
"Masalah itu, tergantung perintah dari bos, kalau bos perintah kita untuk bunuh kamu ya kami bunuh, iya kan?" pria di belakang nisa bertanya pada pria yang memegang kemudi.
Saat pria itu menoleh, ia baru sadar jika pria itu tidak sama dengan id card yang menggantung di depan.
Ahhhh, kenapa aku bisa tidak curiga dari tadi sihhh ...., keluh Nisa dalam hati tapi jelas sudah terlambat karena ia sekarang sudah di tangan mereka.
Mobil terus berjalan melewati jalan yang sepi, jauh dan Nisa sama sekali tidak mengenali daerah itu, Nisa hanya begitu khawatir jika saja mereka akan membuangnya ke jurang atau apa.
Ya Allah, lindungi kami. Aku hambaMu yang lemah, tolong beri hamba kekuatan, jangan biarkan kezaliman menang ya Allah, Rabbanaa, aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban naar
Nisa terus berdoa dalam hati, meminta perlindungan dzat yang telah memberi hidup.
Entah di daerah mana, hingga taksi yang ia tumpangi berhenti di depan sebuah rumah tua dan tampak lama tidak di huni, rumah itu juga sudah di tumbuhi oleh rumput liat, bahkan banyak tumbuhan golor yang baik ke atas atap dan menjulur-njulur ke bawah.
"Ayo turun!" pria itu menarik Nisa dengan kasar hingga Nisa hampir saja terjatuh di buatnya, untung Nisa dengan cepat menahan tubuhnya dengan tangan.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh satu orang,
"Berhasil juga akhirnya!" pria itu tersenyum senang saat mengetahui temannya berhasil menjalankan tugas.
"Pria itu memang tidak sepintar Leon, buktinya bisa di kecoh juga!"
Nisa hanya tersenyum samar saat orang-orang itu membicarakan suaminya.
Kalian salah, kalian tidak tahu saja jika singa itu sudah bangun dan mereka tidak tahu jika Napas diam singa yang terluka lebih berbahaya daripada aumannya. dan kalian tidak tahu, dengan membawaku ke sini berarti kalian sudah melukai singa itu.
__ADS_1
"Wanita ini tenang sekali?" tanya pria curiga pada Nisa, "Kamu nggak takut mati?"
"Hidup dan mati sudah menjadi milik Allah, jika saya di takdirkan mati di sini, maka Allah akan mengambil nyawaku dengan caranya dan jika Allah tidak menakdirkan aku mati di sini, maka Allah akan menyelamatkan saya!" ucap Nisa dengan begitu tenang.
"Bagus, jadi sekarang minta tuhanmu untuk menyelamatkanmu, aku ingin tahu sebesar apa tuhanmu akan melindungi mu!" pria itu pun kembali menatap supir taksi, "Seret dia masuk, jadikan satu dengan wanita itu!"
"Baik bos!"
Sopir taksi itu menarik tangan Nisa dengan begitu kasar dan membawanya masuk ke dalam, melempat tubuh Nisa begitu saja hingga tersungkur di lantai tepat di depan kaki seseorang.
Saat Nisa mendongakkan kepalanya, ia begitu terkejut melihat sahabatnya itu dalam keadaan yang begitu kacau dengan beberapa luka di wajah dan tangannya, mungkin juga di tubuhnya karena bekas pukulan.
"Asna?" Air mata Nisa kali ini benar- benar jatuh saat mendapati Asna di tempat itu juga, "Asna, bagaimana bisa_?"
Nisa pun perlahan berdiri dan memeluk sahabatnya itu, Asna hanya terus menangis,
"Aku tidak tahu Nisa, aku tidak tahu, aku takut!"
Nisa mengusap punggung sahabatnya itu,
"Kamu tidak di sakiti kan sama mereka? kamu di apakan?" Nisa takut jika sampai sahabatnya itu di lecehkan oleh mereka.
"Aku di pukul Nisa!"
Tapi Asna terus menangis membuat Nisa begitu khawatir dengan sahabatnya itu, tapi tetap dia tidak berani bertanya lebih saat sahabatnya sedang benar-benar terguncang.
Beberapa orang masuk ke dalam ruangan itu, Nisa menoleh kepada orang-orang itu dan Nisa bisa mengenali salah satu dari mereka, dia adalah supir di rumahnya.
"Adi!"
"Nyonya Nisa, apa kabar? Lama tidak bertemu!"
"Apa maumu sebenarnya? Kenapa melakukan semua ini pada ku dan temanku?"
"Kalian tidak salah, tapi suami kamu yang salah!"
"Suamiku kurang baik apa sama kamu? Kenapa kamu mengkhianatinya?"
Adi mendekat dia menarik dagu Nisa tapi dengan cepat Nisa tepis tangannya pria itu,
"Jangan berani menyentuh saya!" ucapnya dengan penuh amarah.
"Nyonya Nisa, nyonya Nisa! Anda jangan jual mahal, anda pasti kesepian kan? Butuh sentuhan dari lelaki sepertiku, suamimu sudah tidak ada, sayang kan tubuh seksimu ini di biarkan begitu saja, apalagi dengan perut besarmu itu, kamu semakin terlihat seksi!"
__ADS_1
"Jaga ucapanmu ya, jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tertidur!"
"Singa itu nggak akan pernah bangun, jadi jangan harap bisa menolongnya! Kamu tahu, aku begitu kesal saat kalian begitu mesra di depanku, aku senang karena aku punya kesempatan untuk melenyapkannya!"
"Apa maksud kamu?"
"Nisa_!" Adi kembali meraih dagu Nisa tapi kembali di tepis oleh Nisa, "Kamu tahu aku sudah menyukaimu bahkan sebelum Leon menyukaimu, aku pria yang sudah kamu tolong waktu itu!"
Nisa menatap pria di depannya itu dan benar saja, sekitar dua tahun yang lalu ia menolong seorang pria yang mengalami patah tulang karena terserempet mobil dan pria itu ternyata Adi. Sopir di rumah suaminya.
"Kamu tahu, aku setiap hari datang ke rumah sakit hanya untuk menemuimu, melihatmu, tapi kamu sama sekali tidak melihat ke arahku hingga aku mendengar berita jika kamu akan menikah, kamu tahu betapa hancur hatiku saat itu, aku benar-benar hancur!"
"Saat aku tahu kalau kamu menikah dengan pria itu, aku pun memutuskan untuk melamar menjadi sopir di rumah itu, aku bekerja dengan baik agar aku mendapat kepercayaan pria itu, agar aku bisa melihatmu setiap saat!"
"Tapi ternyata melihatmu setiap hari bersama dengan pria itu membuatku sakit, aku sakit, aku benci!"
"Aku senang saat ada yang menawariku pekerjaan untuk memata-matai nya, mencelakainya, itu adalah kesempatan emas bagiku, setelah itu aku pasti akan bisa mendapatkanmu!"
"Kamu gila!" Nisa benar-benar tercengang dengan pernyataan pria di depannya itu. Ia tidak menyangka jika pria itu begitu terobsesi dengan dirinya.
"Iya kamu benar, aku tergila-gila sama kamu! Aku benar-benar ingin memilikimu, jika aku tidak bisa memilikimu maka orang lain juga tidak boleh memilikimu!"
Leon yang juga sudah sampai di lokasi penyekapan Nisa, ia tidak langsung melakukan tindakan, ia sedang membaca situasi, ia harus menjebak pemimpinnya agar masuk lebih dulu baru melakukan penyergapan.
Sebelum itu, ia juga mengirim lokasi pada Alex agar mereka menyusul bersama polisi tapi menunggu aba-aba darinya.
Leon terus mengepakkan tangannya, ia bersembunyi di balik tumpukan jerami yang tampak sudah berjamur, mungkin sudah begitu lama, ia sengaja meninggalkan mobilnya di tengah hutan agar tidak ada yang curiga. Ia menuju ke lokasi dengan jalan kaki agar bisa mengendap-endap dan memperhatikan situasi.
Ingin rasanya segera meringkus dan memberi pelajaran pria yang bernama Adi itu karena telah berani menyentuh istrinya, tapi ia tahan untuk melancarkan aksinya.
Selagi itu tidak membahayakan Nisa, Leon masih bisa menahannya.
..."Singa itu mengajar untuk menghindari konfrontasi, tetapi untuk berdiri dengan ganas bila perlu. Melalui kekuatan cinta, kelembutan, dan kesabaran, singa menyatukan komunitasnya."...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1