
Asna baru saja menyelesaikan pekerjaannya, ia mulai lihai mengedit beberapa yang kurang tepat. Bisanya saat malam hari sang suami akan memeriksanya.
"Ahhh akhirnya selesai juga!" Asna terlihat meregangkan otot-ototnya.
"Mbak Asna!" mbak Rumi yang melihat pintu ruang kerja itu segera menghampiri Asna.
"Iya mbak?"
"Sudah siang, sudah waktunya mbak Asna makan siang! Kasihan bayinya kalau sampai asupannya kurang!"
"Ahhh iya, bentar ya mbak!" Asna terlihat celingukan mencari sesuatu, "Oh iya mbak, lihat hp Asna nggak?"
"Tadi kayaknya di sofa tv mbak, mau saya ambilkan?"
"Nggak usah mbak, Asna sekalian ambil sekalian makan siang! mbak Rumi temenin makan ya, kayaknya mas Raka siang ini nggak pulang katanya tadi sangat sibuk!"
"Iya mbak!"
Asna pun segera bangun dari duduknya, langkahnya terlihat sulit karena perutnya yang sudah semakin besar saja dengan tubuh mungilnya.
Asna tidak langsung memeriksa ponselnya begitu menemukannya, ia memilih memeriksa sambil menyantap makan siangnya yang sudah di siapkan oleh mbak Rumi.
Mbak Rumi dengan cekatan menggeser kan kursi yang akan di duduki Asna,
"Terimakasih ya mbak!"
"Iya mbak!"
"Mbak Rumi sekalian duduk ya!"
Asna pun segera duduk dan mengambil makanan yang ia inginkan, terlihat sayur mayur dan lauk lengkap. Raka yang selalu mengawasi asupan makanan yang harus di makan oleh sang istri, di balik kesibukannya ia masih terus memantau perkembangan istri dan anaknya. Bahkan Asna terlalu terbiasa sekarang dengan sang suami, apapun di lakukan oleh sang suami.
"Mas Raka sangat mencintai mbak Asna ya! Sungguh salah orang-orang di luar sana yang menggunjing mbak Asna, seandainya saja mereka tahu bagaimana perlakuan mas Raka sama mbak Asna, mereka pasti akan sangat iri!" mbak Rumi begitu mengagumi cinta yang di berikan Raka pada Asna.
"Aku sangat beruntung mbak memiliki cinta mas Raka! Seandainya tidak ada mas Raka yang menguatkan Asna, entahlah mungkin aku sudah gila waktu itu!"
"Mas Raka juga beruntung mbak dapetin mbak Asna, sudah baik cantik lagi!"
"Aku tahu!" Asna kemudian teringat dengan ponselnya yang belum sempat di buka. Ia pun segera mengambil ponselnya dan membuka ponselnya. Bibirnya langsung tersenyum saat melihat pesan dari sang suami.
//Assalamualaikum sayang, mas kerja dulu ya, jangan capek-capek jaga diri kamu dengan baik dan anak kita, salam sayang dari suamimu yang selalu menyimpan cintanya dalam doa dan sujud ku, love you //
Sebenarnya Asna ingin segera membalasnya tapi saat ia melihat kapan pesan itu di kirim, ia urung untuk membalasnya.
"Yah sudah dua jam lalu!" Asna kembali meletakkan ponselnya.
"Dari mas Raka ya mbak?"
"Iya mbak!"
"Di balas aja mbak, siapa tahu mas Raka lagi nungguin balasan dari mbak Asna!"
"Iya ya mbak!"
Asna pun mulai mengetikkan balasan pesan untuk sang suami.
__ADS_1
//Waalaikum salam, mas Raka imamku di dunia dan insyaallah juga di akhirat nanti, mas juga jaga diri ya demi aku dan anak kita, semoga senyumnya mas Raka hanya untuk Asna, I love you too//
Setelah selesai mengetikkan balasan, Asna pun segera mengirim pesan itu. Tapi ternyata centangnya masih tetap abu-abu walaupun sudah centang dua.
"Kok sedih mbak?" tanya mbak Rumi yang menyadari senyum yang hilang dari bibir Asna.
"Nggak di balas mbak!"
"Mungkin mas Raka nya lagi sibuk, mbak!"
"Iya kali ya mbak!"
"Sudah di habiskan saja makannya, nanti mas Raka marah kalau mbak Asna tidak habiskan makanannya!"
Asna hanya bisa mengangukkan kepalanya lalu meletakkan ponselnya dan mengambil kembali sendoknya, menyuapkan makanan ke mulutnya dengan begitu malas.
Setelah dengan susah payah menghabiskan makanannya ia pun bergegas untuk berdiri.
"Mau ke mana mbak?"
"Ambil air putih!"
"Biar saya ambilkan saja ya!" mbak Rumi segera berdiri dan meminta Asna untuk duduk saja, ia mengambilkan segelas air putih untuk Asna.
"Terimakasih ya mbak!"
Mbak Rumi hanya menganggukkan kepalanya, Asna segera mengambil gelasnya dan meneguknya hingga habis. Baru saja ingin mengembalikan gelas ke ata meja tapi tiba-tiba gelas itu terlepas dari tangannya.
Pyarrrrrrr
"Astaghfirullah hal azim!" Asna langsung beristigfar.
"Ada apa mbak?"
"Nggak tahu mbak, tiba-tiba lepas saja dari tangan Asna!"
"Sudah nggak pa pa, mbak Asna pindah aja, biar saya yang bersihkan!"
Asna yang masih sangat terkejut segera berdiri dan menghindari pecahan-pecahan gelas itu.
"Asna sholat dulu ya mbak, Asna nggak tenang banget!"
"Iya mbak!"
Asna pun akhirnya benar-benar meninggalkan meja makan dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, ia memang belum melaksanakan sholat dhuhur.
Asna segera melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam, selesai sholat ia tidak langsung berdiri, ada perasaan yang begitu mengganjal di dadanya saat ini, rasa sesak yang sulit di artikan. Entah karena apa.
Ya Allah, ya Rabb, hamba ini hanya hambaMu yang lemah, kautkanlah hati hamba jika ini mengenai cobaan kesedihan, lapangkanlah hati hamba selapang-lapangnya agar hambi bisa menerima setiap ujian kehidupan yang Engkau haruskan untuk hamba, rabbana atinna fiddunya khasanaha wa fil akhirati khasanah wakina adabba nar, amiiin ya robbal Al-Amin
Asna mengakhiri doanya, ia segera melepas mukenanya dan melipatnya dengan rapi berserta alas sholatnya.
Ia masih belum merasa tenang sekarang, ia pun memutuskan untuk mengambil ponselnya yang masih tertinggal di meja makan. Di meja makan sudah bersih begitu juga dengan pecahan gelas yang berserakan di lantai, di atas meja ia hanya mendapati ponselnya.
"Mbak Rumi pasti sedang membuang pecahan kaca!"
__ADS_1
Asna segera membawa ponselnya ke ruang tv, ia duduk di sofa dengan posisi ternyamannya.
Ia melihat pesan yang di kirim pada suaminya belum juga di baca. Hingga ia memutuskan untuk melakukan panggilan.
Hingga beberapa kali tapi panggilannya tidak terjawab.
"Ya Allah, ada apa ya? Nggak biasanya mas Raka nggak jawab telpon Asna, apa mungkin mas Raka meninggalkan ponselnya? Tapi nggak mungkin! Perasaan Asna kok jadi tambah nggak karu-karuan ya!" gumam Asna dengan parasaan gundahnya.
Asna kembali melakukan panggilan, ia berharap suaminya segera mengangkat telponnya, ini sudah panggilannya yang ke dua puluh kali, tapi masih saja tidak ada yang mengangkatnya.
"Apa aku telpon ke toko aja ya?" beruntung Raka menyimpan nomor telpon toko di ponsel Asna untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu dirinya tidak bisa di hubungi.
Asna pun segera melakukan panggilan dan langsung ada jawaban.
"Hallo, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam, dengan toko Nurul Jannah di sini!"
"Saya Asna!"
"Mbak Asna, ada yang bisa kami bantu mbak?"
"Mas Raka nya ada? Soalnya aku telpon di hp nya nggak di angkat-angkat!"
"Mas Raka lagi keluar mbak, tadi dia maksa buat bawa mobil sendiri kirim buku, soalnya mobil box nya nggak muat!"
"Bawa mobil? Sendiri?"
"Iya mbak, sebenarnya kami tadi sudah melarang, tapi mas Raka nya maksa!"
"Terimakasih ya atas informasinya, kalau ada kabar dari mas Raka tolong kasih tahu saya ya!"
"Iya mbak!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!" Asna pun segera menutup sambungan telponnya, setelah menghubungi toko bukan membuat perasaannya lega malah semakin khawatir.
Ia sampai meremas ponselnya karena begitu khawatir. Asna sampai Tidka menyadari mbak Rumi yang melintas di depannya.
Kring kring kring
Tiba-tiba ponselnya berdering membuat Asna dengan cepat melihat siapa yang melakukan panggilan.
"Mas Raka!" Asna dengan cepat menggeser tombol hijau saat melihat ada nama suaminya di layar ponselnya.
Tapi senyum itu berubah tegang saat ada orang lain di balik telpon itu, bukan suara suaminya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...