
Alex terpaku dengan kata-kata Kia, ia tidak menyangka istrinya masih tetap membanggakan dirinya di depan anaknya walaupun kenyataannya ia punya masalalu yang sangat kelam.
Setelah menyelesaikan sambutan singkatnya, Kia pun segera turun. Ia kembali menghampiri papanya dan memeluknya dengan begitu erat.
Alex menghujani putrinya itu dengan ciuman yang bertubi-tubi.
"Ini piala Kia buat papa!"
Kia menyerahkan piala itu kepada papanya.
"Benarkah untuk papa?"
"Iya!" ucap Kia sambil menganggukkan kepalanya mantap.
"Tapi Papa tidak ingin piala ini karena piala papa sesungguhnya adalah Kia, Kia menjadi anak yang shalihah dan sukses adalah piala kemenangan buat papa!"
"Kia sayang papa!"
...***"""***...
Di tempat lain, Aisyah sudah sampai di rumah yang menjadi tempat ibunya bekerja.
"Assalamualaikum!"
Salamnya saat memasuki rumah itu. Rumah terlihat begitu sepi karena memang sudah di tinggalkan oleh penghuninya.
Aisyah mulai membersihkannya, mencuci piring kotor, menyapu lantai dan merapikan rumah tamu, pemilik rumah itu juga sudah meletakkan baju kotor ya di depan kamar jadi Aisyah tidak perlu masuk ke dalam kamar.
Memang peraturannya, dilarang masuk ke kamar pribadi pemiliknya. Setelan baju tidur, jas, kemeja dan celana panjang.
Aisyah tidak terlalu mengamati pakaian kotor itu, ia segera memasukkannya ke mesin cuci.
Setelah pekerjaan nya selesai, Aisyah pun segera meninggalkan rumah itu dan bergegas ke rumah makannya dengan motor miliknya.
Ia tidak membawa Arsyi sekalian jadi nanti akan pulang lebih cepat.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di warung makan miliknya.
"Assalamualaikum!" sapanya.
"Waalaikum salam!" sahut dari dalam.
"Kok sepi sih mbak?" tanya Aisyah karena di depan ia tidak menemukan motor atau mobil yang terparkir.
"Masih pagi kali mbak!" jawab wanita itu dengan tersenyum, masakan belum ada bagaimana tidak sepi.
"Ya sudah aku mulai masak dulu ya, mbak Wiwin sudah siapkan semuanya kan?"
"Sudah mbak!"
Aisyah pun segera melepas tasnya dan mulai berjibaku dnegan sayuran dan bahan masakan lainnya.
Biasanya memang mbak Wiwin yang masak beberapa menu dan untuk menu utamanya, Aisyah atau bu Santi sendiri yang masak.
...**"**...
Acara dua jam yang penuh hari bagi ayah dan anak, kini Kia dan papa Alex duduk di bangku taman yang ada di sekolah Kia.
"Kia sayang, Kia bisa janji sama papa?"
"Apa pa?"
"Jangan katakan apapun tentang pertemuan kita ini pada nenek, paman Nino dan mama ya!"
"Kenapa?"
"Papa kan janjinya perginya lima tahun, tapi ternyata Allah baik banget sama papa, jadi papa mau buat surprise untuk mama!"
"Benarkah?"
"Iya sayang! Oh iya papa mau tanya, anak laki-laki yang bersama Kia siapa?"
"Dia Arsyi, adik Kia! Dia pintar sekali pa!"
Deg
Alex tertegun mendengar ucapan Kia, Adik ....
"Maksudnya anaknya paman Nino?"
__ADS_1
Ha ha ha ......
Mendengarkan pertanyaan papa Alex, Kia malah tertawa terpingkal-pingkal hingga ia memegangi perutnya.
"Stop sayang ...., kenapa malah menertawakan papa sih sayang?"
"Papa lucu sih!"
"Papa lucunya di mana sayang?"
"Paman Nino kan belum menikah pa, bagaimana bisa punya anak!"
"Lalu Arsyi?"
"Arsyi anak mama, dia adik Kia pa!"
Anak mama, adik Kia ....
Alex mengulang kembali ucapan Kia dalam pikirannya. Ia berharap salah mencerna ucapan putrinya itu.
"Di rumah Kia ada siapa saja?"
"Ada nenek, mama, Arsyi, paman Nini dan Kia!"
"Lalu siapa lagi?"
"Sudah pa, nggak ada!"
Saat Alex ingin bertanya lagi, tiba-tiba Kia berdiri.
"Itu paman Nino!"
"Ya sudah Kia pulang dulu ya, besok papa pasti nyusul! jangan katakan apapun pada siapapun, okey!"
"Iya pa! Assalamualaikum pa!"
"Waalaikum salam, Kia!"
Alex masih berdiri tertegun menatap kepergian Kia, ia segera menyembunyikan wajahnya saat Nino menatap ke arahnya.
"Assalamualaikum paman!"
"Karena Kia sedang senang!"
"Apa yang membuat Kia nya uncle Nino ini senang?"
"Ada dua paman!"
"Ok Kia, kita naik dulu ceritanya sambil jalan, pakai helmnya!"
Nino membantu Kia memakaikan helm karena tangan Kia sedang membawa piala.
Kia memang selalu membawa piala pulang setiap kali ada lomba, jadi bukan hal yang istimewa lagi.
"Sudah?" tanya Nino pada Kia.
"Sudah!"
Nino pun segera menjalankan motornya meninggalkan sekolah Kia.
"Sekarang Kia sudah boleh cerita!"
"Kia juara satu mewarna!"
"Benarkah? Biasanya juga gitu!"
"Tapi hari ini istimewa, Kia mendapatkan ini bersama seseorang!"
"Siapa? Bu guru Kinan?"
"Bukan, tapi ini rahasia! Kia sudah berjanji untuk tidak mengatakan kepada siapapun!"
"Kia curang nih sama paman!"
...**""**...
Setelah Kia pergi, Alex pun segera menghubungi seseorang. Ia membutuhkan data akuran tentang kelahiran Arsyi.
"Tolong cari tahu di mana tempat Aisyah melahirkan, saya membutuhkan datanya segera!"
__ADS_1
"Baik pak!"
Alex pun kembali mematikan sambungan telponnya. Sambil menunggu informasi, ia pun kembali mengecek pengerjaan sekolah itu di temani oleh mas Irwan.
Setelah satu jam, ponsel Alex kembali berbunyi, ia memilih menjauh dari tempat proyek.
Setelah berada di tempat yang sepi, dengan cepat Alex mengangkat telpon itu, itu telpon dari orang yang beberapa waktu lalu ia hubungi.
"Hallo, bagaimana?"
"Saya sudah berhasil melacak datanya pak, nyonya Aisyah Ratna melahirkan di rumah sakit xxx tiga tahun yang lalu, sekitar bulan april! Saya akan mengirim data lengkapnya di email bapak!"
"Baik terimakasih!"
Setelah sambungan telponnya terputus, Alex pun kembali menghampiri mas Irwan.
"Mas Irwan, saya harus segera pulang, ada yang harus saya urus di sana, tidak pa pa kan mas Irwan melanjutkan sendiri!"
"Iya pak, tidak pa pa!"
"Kalau ada berkas yang harus saya tanda tangani, kirim saja besok pagi ke rumah saya!"
"Baik pak!"
"Saya permisi!"
Alex tidak perlu mengucapkan salam karena mas Irwan bukan orang muslim.
Ia pun segera menuju ke mobilnya, ia harus segera samai di rumah dan membuka laptop.
Sebuah berkas pasti besar, jadi tidak mungkin membukanya di ponsel, lagi pula ia juga butuh ketenangan jangan sampai sesuatu yang tidak di persiapkan dengan benar malah akan membuat semuanya runyam.
Alex mulai melajukan mobilnya meninggalkan gedung sekolah, ia menyusuri jalan raya di tengah panasnya matahari.
Setelah sepuluh menit akhirnya ia sampai juga di rumahnya, ia memarkirkan kendaraannya di halaman depan rumah.
Dengan cepat Alex masuk ke dalam rumah, sudah waktunya sholat dhuhur. Sebelum membuka laptopnya ia memilih mandi dan melaksanakan sholat lebih dulu.
Setelah selesai, ia segera ke dapur untuk membuat kopi lalu membawanya ke meja makan dengan laptop yang sudah berada di atas meja.
Bersambung
Hari ini aku sengaja nggak buat kata-kata ya, aku mau buat pengumuman saja.
NB :
Assalamualaikum para pembaca setia keluarga besar finityGroup group.
Ada berita bagus nih .....
Mau tahu aja atau mau tahu banget?
Aku kasih tahu ya
Kisah sekuel MBMH sudah launching.
Seperti janji saya beberapa bulan lalu, saya akan menulis di sana sekalian, dengan judul yang sama, jangan khawatir di awal kisahnya aku kasih cover mereka
The Twins
langsung buka aja di my bos is my hero
Scroll ke bawah dan bisa langsung di baca di sana.
Kenapa nggak di buat cerita baru?
karena berdasarkan koment kalian kemarin pada banyak yang milih di lanjut di situ saja.
Sekian dan terimakasih
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1