
...Ada saatnya kamu memperjuangkan dan diperjuangkan oleh seseorang. Bersabarlah dan fokuslah untuk memantaskan dirimu. Yakinlah Allah akan hadirkan dan tunjukkan penyempurna agamamu di saat yang tepat, jika dia memang jodohmu maka Allah akan mempermudah jalanmu untuk mendapatkannya...
...🌺Selamat membaca🌺...
Setelah melihat kepergian Gus Raka, Leon pun menyusul untuk pergi. Cukup lama Leon berdiri di halaman rumah Nisa, ia seperti kehilangan jati diri saat berhadapan dengan Gus Raka, pesona pria itu benar-benar terpancar.
Ya Allah, dia saingan yang begitu dekat dengan-Mu, mampukah doaku mengalahkan kesaktian doanya , sedangkan Engkau lebih sayang pada-Nya.
Berkali-kali Leon mencoba meyakinkan dirinya, Jika doa yang setiap hari ia bisiknya lebih sungguh-sungguh dari apapun.
Nisa, ternyata gadis itu sedang mengamati pria itu dari atas, ia bisa melihat kepergian Leon dari balkon kamarnya yang ada di lantai dua.
"Maaf ya mas, pasti mas Leon sedang sangat terluka hari ini!" gumam Nisa.
"Ya Allah, dia pria yang baik, jangan biarkan kebaikannya melukai hatinya!" ucap Nisa sambil mendongakkan kepalanya seolah sedang bicara ke langit.
Ingin rasanya memanggil pria itu dan mengajaknya mengobrol sebentar sebelum pria itu benar-benar pergi.
Hehhhh .....
Nisa memikirkan perasaan Leon sekarang yang pastinya sedang kacau karena ada Gus Raka.
Mas Leon pasti merasa Gus Raka adalah saingan yang berat, Gus Raka punya semuanya, keduddukan, agama, ilmu, keluarga ....
Hingga Leon pergi dari halaman rumahnya, Nisa masih berada di tempatnya, menatap mobil yang semakin menghilang dari pandangannya.
Nisa hendak berbalik tapi tiba-tiba papanya sudah merasa di belakangnya,
"Papa!?"
Papa Nisa ternyata sedang berdiri mengamati Nisa sedari tadi.
Papa Nisa pun berjalan mendekati putrinya,
"Papa pengen bicara sebentar sama Nisa!"
Mereka pun memutuskan untuk duduk di balkon, di kursi kecil yang terbuat dari anyaman rotan.
"Papa sudah lihat bagaimana mereka berdua, data mereka juga, kamu juga sudah tahu kan?"
"Iya pa!"
"Raka punya pendidikan yang bagus, agama yang bagus, dia juga pengasuh pesantren, tampan, punya usaha!"
"Jadi menurut papa, mas Raka lebih pantas?"
"Semua orang tua pasti menginginkan menantu seperti Gus Raka ini, sopan, baik dan agamanya juga baik!"
"Kalau mas Leon?"
"Kita tidak tahu seluk beluknya, orang tuanya sudah tidak ada sedari kecil, bahkan kerabatnya tersandung kasus, masa lalunya kurang baik!"
"Pa, jika Nisa tidak setuju dengan pemikiran papa bagaimana?"
__ADS_1
"Jangan cepat mengambil keputusan, pikirkan omongan papa baik-baik!" ucap papa Nisa sambil menepuk bahu Nisa, ia pun berdiri dari duduknya.
"Sudah waktunya sholat magrib, kita sholat dulu ya!" ucap papa Nisa dan berlalu meninggalkan Nisa.
Hehhhh
Helaan nafas itu terdengar lagi, kali ini jauh lebih berat. Ia tahu pasti papanya berpikir seperti itu, jodoh kakak pertamanya pasti menjadi kiblat orang tuanya untuk menentukan jodohnya.
Ia masih berharap jika pemikiran papa ya agan segera berubah,
"Raka memang sangat baik tapi dia terlalu sempurna untuk Nisa!" gumam Nisa sebelum ia benar-benar beranjak dari duduknya.
...🌺🌺🌺...
Leon memacu mobilnya sedikit lebih pelan dari sebelumnya, pikiran dan perasaannya sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Ia tidak tahu harus bercerita kepada siapa saat ini, keluarga satu-satunya yang ia miliki hanyalah Alex. Dan pria itu sekarang sedang memperjuangkan hidupnya sendiri di sana.
Sesekali terlihat Leon memukul stang stirnya berharap sesuatu yang mengganjal dalam hatinya segera pergi. Tapi ternyata tetap saja tidak bisa.
Leon pun akhirnya mengehentikan mobilnya di bahu jalan, di samping taman kota, ia ingin membebaskan pikirannya dengan menikmati senja.
Leon turun dari mobilnya dan duduk di cap depan mobilnya, matanya terus menerawang menatap ramainya orang yang sedang saling bergandengan tangan.
Taman itu mulai ramai dengan anak muda yang berpasang-pasangan.
"Gila, begitu enaknya mereka saling bergandengan seolah dunia milik berdua!" gumam Leon memperhatikan anak muda yang sedang berjalan di depannya.
Sitttttt .....
Ia hanya duduk mengamati para pemuda yang sedang asing bersenda gurau dengan teman-temannya atau sejoli yang sedang di mabuk asmara sambil menunggu waktu magrib, berharap hatinya sedikit lega.
...🌺🌺🌺...
Sudah dua hari semenjak kedatangannya ke rumah Nisa, Leon bahkan tidak berani mengirimkan pesan pada Nisa.
Pria itu sedang duduk di ruangannya, tangannya terus memegang ponselnya seolah-olah akan menghubungi seseorang tapi nyatanya ia sedang mengintip status seseorang.
Walaupun begitu ia hanya berani mengintip tanpa berani menanggapi, terakhir kali ia melihat status Nisa sedang berfoto bersama dengan kucing kesayangannya dengan caption
...'Aku tidak pernah mencarinya, kamu pun juga demikian, tapi Allah mendekatkan kita, semoga setelah ini Allah juga yang menyatukan kita'...
Ingin rasanya membalasnya, tapi ia tidak yakin itu di tujukan padanya.
"Apa sekali saja, aku perlu menemuinya?" Leon bertanya pada dirinya sendiri dan mencoba mencari jawabannya sendiri.
"Iya, apapun yang terjadi nanti, aku harus meyakinkan Nisa bahwa aku baik-baik saja!"
Ia pun memutuskan untuk menemui Nisa di rumah sakit, ini bukan kali pertama datang ke tempat itu setelah keluar dua tahun lalu, bahkan Leon sering datang tanpa sepengetahuan Nisa.
Tapi kali ini Leon sengaja datang untuk menemui Nisa.
Leon berjalan cepat menuju ke pintu lift yang masih tertutup, hanya beberapa detik dan pintu itu pun terbuka.
__ADS_1
Sedari tadi ia sibuk berbicara dengan seseorang dengan aerophone yang menempel di telinganya.
Sesampai di lantai bawah, langsung di sambut oleh beberapa orang,
"Saya akan pergi sendiri, mana kuncinya?"
"Ini pak!"
"Mana pesanan saya?"
Dan orang lainnya menyerahkan satu kantong plastik berisi kotak makanan dan minuman.
"Ini pak!"
"Terimakasih!"
Seseorang sudah siap membukakan pintu mobil untuknya dan Leon pun segera masuk, ia meletakkan makanannya di bangku kosong yang ada di sampingnya.
Leon pun memacu mobilnya dengan dengan lebih cepat agar ia sampai sebelum jam makan siang berakhir. Ia ingin memberikan makan siang untuk Nisa dan membicarakan sesuatu padanya.
"Semoga apa yang aku lakukan ini benar!" gumamnya lagi sambil terus fokus pada kemudinya.
Hingga akhirnya mobilnya memasuki area rumah sakit, ia segera memarkirkan mobilnya di lahan parkir rumah sakit bersama mobil-mobil yang lain, di tempat itu dia tidak punya hak istimewa seperti yang ia dapatkan di perusahaannya.
Leon pun segera turun dan mengambil kantong makan siangnya. Ia berjalan cepat menuju resepsionis.
Belum juga ia bertanya pada resepsionis, ia melihat dari arah lain orang yang ia kenal, orang yang dekat dengan Nisa.
"Suster Asna!" panggilnya membuat wanita bertubuh mungil itu menghentikan langkahnya, bibirnya seketika tersenyum saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Ehh mas Leon, mau titip salam salam ya sama Nisa? Aku salamin!"
"Enggak, saya mau pesan tolong bilangin sama Nisa, saya menunggunya di taman samping!"
"Serius nih?"
Leon tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Siap, tunggu ya!"
Asna begitu senang seolah-olah dia sendiri yang mendapatkan salam dan akan bertemu.
Ia berlalu meninggalkan Leon dengan berjalan begitu cepat, sepetinya dia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Nisa dan menyampaikannya.
Bersambung
...Cinta itu selalu tahu siapa pemiliknya, sejauh apa pun ia pergi bila memang sudah jodohnya pasti akan kembali. Sesulit apapun jalannya, jika memang jodoh pasti akan mudah di lalui...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...