
"Apa mungkin nona Dini, tuan!"
"Hubungi dia!"
Leon pun segera mencari kontak atas nama Dini. Setelah melakukan panggilan dan menanyakan keberadaan Aisyah, ternyata Dini pun tidak mengetahuinya.
"Bagaimana?"
"Nona Dini juga sudah lama mencari tahu tentang keberadaan nyonya Tuan!"
Alex kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, ia memegangi kepalanya, mencoba untuk memikirkan sesuatu.
"Apa mungkin Kyai Hamid mengetahuinya ya, atau mungkin Bianka?"
"Biar saya ke sana tuan, tapi terakhir kali saya menanyakan, mereka bilang tidak tahu.
"Biar saya saja!"
Alex pun segera bangun, rasanya istirahat bukan tujuannya untuk keluar.
Dalam setiap doanya, ia ingin segera di pertemukan dengan belahan jiwanya saat keluar.
Aku sudah berjanji, dan aku pasti akan menepatinya ....
Mobil mereka sudah berada di depan pesantren itu, empat tahun ternyata sudah merubah segalanya.
Pesantren yang dulu kecil itu sekarang jadi lebih besar dengan beberapa bangunan baru, bahkan terlihat lebih bagus.
Kyai Hamid sudah menyambutnya di depan rumah, Alex segera mempercepat langkahnya. Wajah arrogant nya sekarang sudah berubah menjadi lebih bersahaja.
"Assalamualaikum!" sapa Alex, ia segera meraih tangan pak Kyai dan mencium punggung tangannya.
"Waalaikum salam, nak Alex kapan keluarnya?"
"Baru hari ini pak Kyai, Alhamdulillah dapat keringanan hukuman!"
"Ayo masuk masuk!"
Mereka sekarang sudah berada di ruang tamu, bu Nyai Sarah begitu senang menyambut kedatangan Alex.
"Saya mendengar semua tentang nak Alex dari Fahmi, nak Alex begitu semangat belajar agama!"
"Terimakasih bu Nyai, saya senang punya teman seperti gus Fahmi!"
"Iya iya ....!"
Obrolan mereka begitu hangat hingga kemudian Alex mulai membicarakan inti kedatangannya ke pesantren.
"Bu Nyai, bolehkan saya bertanya sesuatu?"
"Iya silahkan,, boleh!"
"Apa Aisyah mengatakan sesuatu pada bu Nyai sebelum pergi, atau memberitahu tentang keberadaannya saat ini, saya ingin mencari mereka!"
Bu Nyai Sarah menggelengkan kepalanya, "Tidak! Umi juga tidak tahu kenapa Aisyah pergi, seharusnya dia bisa tinggal di sini saja menunggu hingga kamu kembali kan!?"
"Saya yang menyuruhnya untuk pergi bu Nyai, saya tidak mau mereka hidup dalam bayang-bayang sebagai istri seorang narapidana!"
"Kamu yang sabar ya, jika Allah sudah menentukan kalian bertemu, Allah akan mempertemukan kalian dengan keadaan yang lebih indah, insyaallah!" ucap Kyai Hamid mencoba menenangkan Alex.
"Insyaallah pak Kyai, saya minta doanya agar di mudahkan!"
"Iya pasti!"
Setelah mendapatkan jawabannya, Alex pun berpamitan untuk pulang karena yang di cari pun juga sudah tidak di sana, Bianka dan gus Fahmi sudah punya rumah sendiri.
"Kalau begitu kami permisi pak Kyai!"
"Iya hati-hati ya nak Alex!"
__ADS_1
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Alex pun segera masuk ke dalam mobil begitupun dengan Leon.
Mobil mereka mulai berjalan meninggalkan halaman pesantren, tapi saat sampai di gerbang, sebuah mobil berpapasan dengan mobil Alex dan Leon.
"Itu nona Bianka, tuan!"
"Berhenti dulu Le!"
"Baik tuan!"
Alex pun segera keluar dari dalam mobil membuat mobil yang melintas itu segera berhenti, di dalamnya ada Bianka seorang diri tanpa gus Fahmi.
"Pak Alex!"
Bianka segera turun dan menghampiri Alex, "Assalamualaikum pak Alex!"
"Waalaikum salam Bi!"
"Pak Alex sudah bebas?"
"Alhamdulillah! Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan sama kamu!"
"Kita bicara di sana saja pak Alex!" Bianka menunjuk pada bangku yang berada di dekat pos satpam.
Mereka pun duduk di bangku itu, dengan menyisakan tempat kosong di tengahnya.
"Saya sudah bebas, jadi saya harus mencari keberadaan istri dan anak saya, jika kamu tahu sesuatu tentang Aisyah, tolong kasih tahu ke saya, ini nomor saya!"
Alex mengeluarkan kartu nama miliknya dengan nomor lamanya.
Alex pun segera berdiri dan hendak meninggalkan Bianka. Tapi baru beberapa langkah, Bianka kembali memanggilnya.
"Pak Alex!"
"Saya tahu di mana Aisyah!"
Ucapan Bianka berhasil membuat Alex kembali berbalik pada Bianka.
"Dimana?"
"Aisyah tidak pernah mengatakan tepatnya, sekarang nomornya juga sudah tidak aktif, sepertinya Aisyah sengaja, tapi yang aku tahu ia tinggal di salah satu kota kecil di jawa timur!"
"Dimana?"
"Di Blitar!"
"Blitar?" tanya Alex lagi memastikan dan Bianka pun mengangguk.
"Terimakasih atas informasinya!"
Alex bergegas meninggalkan Bianka, tapi biarkan kembali berteriak pada pria matang itu.
"Pak Alex, tolong bawa Aisyah kembali ...!"
Alex hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil.
Blitar bukan kota yang besar, aku pasti bisa menemukan kalian ....
"Jalan Le!"
"Baik tuan!"
Leon pun segera menjalankan kembali mobilnya meninggalkan pesantren.
"Segera persiapkan semuanya, saya akan segera ke Blitar!"
__ADS_1
"Blitar?"
"Iya, Bianka mengatakan kalau Aisyah di sana!"
"Kebetulan sekali tuan, kita sedang ada proyek di sana!"
"Proyek?"
"Iya tuan, maaf karena saya tidak memberitahu sebelumnya, jika ada proyek pembangunan di sana, proyek pembangunan sekolah yang sudah tuan rencanakan sebelum berada di penjara!"
"Kebetulan sekali! Baiklah segera siapkan semuanya, beserta berkas-berkasnya saya akan berangkat sore ini juga, pakek jetpri saja biar cepat sampai!"
"Siap tuan!"
...*****...
"Mama ....!"
Gadis kecil itu memang selalu lari dengan begitu lincah. Kia memakai jilbab kecilnya membuat wajahnya semakin mungil saja dengan tas kecil di punggungnya, baju seragam mengaji melekat di tubuh kecilnya.
Aisyah mengerutkan keningnya, ia tidak begitu suka dengan sapaan putrinya itu, "Assalamualaikum, Kia!"
Gadis kecil itu segera memeluk mamanya.
"Waalaikum salam, mama!"
"Kebiasaan ya, kalau masuk rumah salam dulu baru panggil mama, mengerti?"
"Mengerti mama!"
Aisyah tersenyum dan mencubit hidung mungil putrinya, "Anak pintar! Bagaimana ngajinya sayang?"
"Kia udah jilid empat loh ma, tadi naik ke kelas baru!"
"Hebat banget anak mama!"
Kia mengedarkan tatapannya, ia seperti sedang mencari-cari sesuatu, "Di mana Ars ma?"
"Lagi main sama nenek di belakang! Sini Kia duduk dulu, mama mau tanya!"
Gadis kecil itu segera duduk di samping mamanya, "Ada apa ma?"
"Tadi mama ketemu sama bu guru Kinan!"
"Ada apa ma, apa bu guru bilang kalau Kia nakal?"
"Nggak kok sayang, Kia baik, bahkan bu guru Kinan juga mengatakan kalau Kia baik! Tadi bu guru Kinan tadi membicarakan tentang lomba menggambar di sekolah Kia!"
Mendengar ucapan mamanya, Kia segera menunduk dan meremas jari jemarinya, dia mulai cemas.
"Kenapa Kia nggak mengatakan sama mama?"
"Kia nggak pa pa ma, Kia nggak akan iri sama teman-teman Kia! Kata mama kita kan nggak boleh gampang ngeluh biar nggak terlihat lemah!"
"Mama akan datang Kia!"
"Nggak usah ma, ini caranya cuka anak sama papa, ma!"
"Kia akan sendiri nanti!"
"Kan ada ibu guru!"
Bersambung
...Aku dan kamu seperti jantung dan hati, kami dekat dan saling berkaitan dengan tugas yang berbeda. Jantung yang menjaga tubuh agar tetap berdetak dan hati yang menjaga tubuh agar terhindar dari keburukan...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰