Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Khawatirnya Alex


__ADS_3

Beberapa hari ini Aisyah memang mengalami hal yang aneh. Bahkan malas untuk keluar kamar.


"Mas ...., Aisyah nggak usah ngantar mas ke depan ya!" ucap Aisyah sambil meraih tangan suaminya. Ia masih saja duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa sayang?" tanya Alex. Ia kemarin sudah hampir membawa Aisyah ke rumah sakit tapi Aisyah menolaknya karena menurutnya dia sedang baik-baik saja.


"Nggak pa pa!"


"Apa mualnya balik lagi?" tanya Alex sambil mengusap bahu Aisyah.


"Iya mas sedikit, kalai di buat bangun pasti mual!"


"Nanti aku akan membawa dokter ke sini, kali ini nggak boleh nolak, ini sudah dua hari dan kamu terus kayak gini!" ucap Alex, ia benar-benar takut terjadi sesuatu sama Aisyah.


"Iya mas ....!" Aisyah segera mencium tangan suaminya itu, Alex pun mencium keningnya. Itu dalam rutinitas yang tidak bisa di hilangkan setiap hari saat Alex akan berangkat kerja.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam mas!"


Alex pun segera keluar kamar dan kembali menghampiri neneknya untuk menitipkan sang istri pada neneknya.


      Setelah Alex meninggalkan rumah, bibi pun mengantarkan sarapannya untuk Aisyah. Kali ini nenek Widya tidak bisa naik ke atas karena ia harus masih membuatkan wedang jahe untuk cucu menantunya itu.


"Maaf nona, saya membawakan sarapan untuk nona!" ucap pelayan yang masih di luar kamar.


"Masuklah bi, tidak di kunci!" ucap Aisyah. Pelayan itu pun segera memasuki kamar Aisyah dengan membawa sebuah nampan yang berisi sepiring makanan dan susu hangat untuk Aisyah.


"Ini non sarapannya!" ucap pelayang itu sambil menyodorkan sarapan ke pada Aisyah, tapi Aisyah dengan cepat menahannya. Tiba-tiba aroma makanan yang begitu kuat menyeruak ke dalam hidungnya membuatnya mengembungkan mulutnya. Seluruh isi perutnya sudah sampai di tenggorokannya dan tidak tertahan lagi.


Aisyah pun segera bangkit dan berlari menuju ke kamar mandi, ia memuntahkan seluruh isi perutnya.


Hoek …., hoek ….


Bibi begitu bingung, ia segera meletakkan nampan itu di atas nakas dan menghampiri Aisyah.


Tok tok tok


Bibi mengetuk pintu yang sebenarnya tidak di kunci.


“Nona …, nona kenapa?” tanyanya panik, ia tidak tahu harus berbuat apa mau masuk tapi takut tidak sopan.


"Tidak pa pa bi ...!" ucap Aisyah di dalam bercampur dengan gemericik air.


Hoek .... hoek .... hoek ....


Terdengar suara Aisyah kembali memuntahkan isi perutnya.


"Nona ...., biar bibi panggilkan nyonya besar ya!?" ucap bibi itu bingung.


“Nggak usah bi! Tolong bawa pergi saja makanan itu …!” ucap Aisyah sambil keluar dari kamar mandi dengan wajah yang semakin pucat saja, penampilannya semakin berantakan.


“Tapi nona, anda belum makan dari semalam!”


“aku mohon …, aku mual banget mencium aromanya!" ucap Aisyah dan bibi itu pun terpaksa membawa keluar kembali makanannya.


“Baik nona!”


Setelah bibi pergi dari kamarnya, Aisyah pun kembali ke atas tempat tidurnya. tubuhnya benar-benar


lemah saat ini. Ia memuntahkan semua makanan yang kemarin sudah sempat ia makan.


Bibi yang keluar segera menemui nenek Widya.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya nenek Widya yang masih di dapur.


"Maaf nyonya, tapi nona muda tidak mau memakannya, ia malah muntah nyonya!"


"Benarkah?" tanya nenek Widya.


"Iya nyonya!"


"Baiklah antar saya ke kamarnya!" ucap nenek Widya sambil membawa secangkir wedang jahe.


Untung rumah itu di lengkapi dengan lift jadi nenek Widya tidak akan kesusahan naik turun tangga.


Tok tok tok


Nenek Widya mengetuk pintu kamar Aisyah.


"Ini nenek sayang!" ucap nenek Widya.


"Masuklah nek!"


Setelah mendapat ijin dari Aisyah, nenek Widya pun segera masuk ke dalam kamar itu, Aisyah yang tadinya merebahkan tubuhnya kini kembali duduk.


“Nak …, sayang …, kamu kenapa?” tanya nenek Widya sambil meletakkan cangkir itu di samping tempat tidur Aisyah.


“Mungkin Aisyah masuk angin nek!” ucap Aisyah.


“Ya udah, kalau gitu minum teh hangat dulu ya!”


“Iya nek!”


Setelah meminum teh hangatnya, perutnya sedikit lebih nyaman.


"Apa Alex sudah memanggil dokter?" tanya nenek Widya.


"Mas Alex katanya mau manggil, tapi kayak nya nggak perlu deh nek kalau hanya masuk angin!" ucap Aisyah yang terlihat sekali kalau ia tidak ingin merepotkan keluarga suaminya.


"Kalau ada, Aisyah makan agar-agar aja deh nek!"


"Baiklah biar bibi buatkan agar-agar buat kamu!"


"Makasih ya nek!"


"Jangan seperti itu sama nenek, nenek akan menjagamu di sini!"


Bibi pun segera kembali ke dapur dan membuatkan agar-agar untuk Aisyah. Setelah selesai dan dingin bibi segera membawanya kembali pada Aisyah. Kali ini perutnya mau memakan agar-agar walaupun tidak banyak tapi cukup untuk mengisi perutnya yang kosong.


...***...


Alex yang sudah menyelesaikan meeting nya segera menelpon rumah. Ia benar-benar khawatir dengan istrinya, apalagi sedari tadi Aisyah tidak mengangkat telponnya.


"Hallo Nak!" sapa nenek Widya.


"Assalamualaikum, nek!"


"Waalaikum salam, ada apa?"


“Nek kenapa Aisyah tidak bisa aku telpon?” tanya Alex dengan suara khawatir.


“Dia tidur!” ucap nenek, ia sedang duduk di samping Aisyah yang tertidur saat ini.


“Apa dia tidak pa pa?”


“Aisyah belum sarapan sama sekali, tadi cuma minum teh hangat sama agar-agar, sepertinya masuk angin!”

__ADS_1


“jaga dia ya nek, aku usahain cepat pulang!”


"Iya! Tentu, kamu hati-hati nggak usah buru-buru pulangnya!”


"Iya nek, Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Alex pun mengakhiri sambungan telponnya. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang.


...***...


Waktu makan siang, Alex pun segera pulang, ia benar-benar tidak tenang dengan keadaan Aisyah.


“Nek …, dimana Aisyah?” tanya Alex yang sudah sampai di rumah.


“Aisyah masih di kamar, setiap kali mau di bawakan makanan dia nggak mau!”


Alex pun segera lari ke kamar, ia melihat keadaan Aisyah, terlihat begitu pucat.


“Kamu kenapa sayang?’


"Kayaknya masuk angin mas!”


“Makan ya?”


“Nggak mau mas, rasanya mau muntah liat makanan!”


"Ya udah kalau gitu mau makan apa yang nggak bikin muntah?”


"Nggak mau!”


“Tapi harus makan! Sebentar lagi dokternya juga akan datang!”


"Aku mau makan kue brownis aja ya mas!”


"Iya biar Leon carikan untukmu!”


“aku maunya yang di dekat kampus itu mas!”


“tapi jauh sayang!”


“Pokoknya mau yang itu!”


‘Baiklah …!”


Alex pun segera memanggil Leon dan memintanya untuk membelikan kue brownis.


Brrrtttt brrrrtttttt brrrrtttttt


Ponsel Alex berdering, Alex pun segera memeriksanya ternyata dari dokter keluarganya.


"Ada apa mas?" tanya Aisyah melihat wajah kecewa suaminya.


"Dokternya ada pasien darurat, jadi mungkin bisa datangnya nanti malam!"


"Nggak pa pa mas, ini juga udah baikan akunya!" ucap Aisyah sambil tersenyum walaupun wajahnya sangat pucat.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2