
"Maaf ya hari ini aku tinggal lagi! Nggak pa pa kan aku titipkan di tempat umi?" Raka tetap saja merasa tidak enak dengan keadaan Asna saat ini, ia sudah memikirkan untuk menyewa asisten rumah tangga, agar saat siang hari Asna ada temannya tapi dia belum mendapatkan orang yang cocok, beberapa kali ia meminta uminya untuk membantu mencari tapi uminya juga masih belum menemukan yang cocok.
Sebenarnya di rumah uminya ada satu orang yang sudah ikut mereka sejak Raka kecil, tapi Raka tidak mau karena memang hanya dia yang bisa menjaga umi dan abinya dengan baik selama ini dan untuk beberapa lainnya, mereka hanya bertugas memasak.
"Nggak pa pa mas, umi orangnya enak di ajak ngobrol, Asna juga nggak canggung!" ternyata pertemuan pertama mereka cukup berkesan hingga membuat Asna merasa nyaman.
"Baiklah, ayo!"
Raka pun membantu Asna mengunci rumahnya, Asna yang pulang dalam keadaan tidak sadar tidak menyadari kalau mereka pulang menggunakan mobil.
"Mas, itu mobil siapa?"
"Oh itu! Itu mobil Leon! Sudah jangan di pikirkan, tidak pa pa kan kalau kita ke rumah umi jalan kaki? Soalnya motor mas masih belum di antar!"
"Itu mas motornya!" Asna menunjuk ke arah jalan dan benar saja seseorang mengantarkan motor miliknya.
"Syukurlah!" Raka segera berjalan menghampiri pria yang mengantarkan motornya.
"Ini mas kuncinya!"
"Terimakasih ya mas! itu mobil Leon, bisa sekalian mas bawa kan?"
"Kata pak Leon, mobil itu untuk mas Raka!"
"Tidak, aku belum memerlukan itu! Katakan pada Leon terimakasih ya, tolong di bawa saja!"
"Tapi mas!?"
"Tenang, saya nanti yang bicara!"
"Baik mas!" Raka menyerahkan kunci mobil pada pria itu.
Setelah pria itu pergi membawa mobilnya, kini Raka dan Asna segera naik motornya. Jarak rumah Raka dengan rumah ustadz Arif tidak begitu jauh, walaupun jalan kaki juga tidak membutuhkan waktu lama.
"Pegangan dek!" sebelum mendapat jawaban dari Asna, Raka lebih dulu menarik tangan Asna agar melingkar di pinggangnya.
"Mas, nanti kalau para santri lihat gimana?"
"Apa salahnya, kita kan suami istri! Malah akan terlihat aneh kalau kita duduknya jauh-jauh an!"
"Mas mau ketemu sama mas Leon ya?" tanya Asna kemudian saat mereka melintasi gerbang pesantren.
"Iya, ada apa?"
"Katakan maaf ya, karena Asna belum siap untuk menerima kenyataan!"
"Pasti!" terasa lega saat ini hati Raka, setidaknya sedikit demi sedikit rasa ketakutan yang membelenggu istrinya mulai terkikis.
__ADS_1
"Terimakasih!"
Jam-jam seperti ini biasanya para santri sedang melakukan aktifitasnya menuju ke kelas belajarnya masing-masing, banyak santri yang merasa iri, patah hati saat mendengar jika Gus Raka menikah dan beberapa santri juga tahu siapa wanita yang di nikahi idolanya itu membuat mereka saling berbisik saat melihat Asna dan Gus Raka melintas di hadapan mereka dengan begitu mesra.
"Kesenengan banget tuh pasti istrinya Gus Raka, sudah tercemar dapatnya yang sempurna, benar-benar nggak adil!"
Segerombolan santri yang sedang melintas itu jadi membicarakan mereka.
"Iya tuh nempel banget, ya iya lah seneng, siapa juga yang nggak seneng dapat Gus Raka, sudah ganteng, suaranya bagus, Soleh juga!"
Asna memang menyadari beberapa santri itu tampak memperhatikannya, beruntungnya Asna tidak mendengarkan pembicaraan mereka.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di rumah ustadz Arif, kedatangan mereka langsung di sambut oleh umi.
"Assalamualaikum umi!"
"Waalaikum salam! Umi sudah nungguin dari tadi, umi kira kalian nggak jadi!"
"Maaf, tadi ada sedikit masalah di rumah!"
"Ayo masuk dulu!"
"Raka langsung berangkat saja ya umi, titip Asna!"
"Iya, umi pasti akan jagain dengan baik!" terlihat umi Gus Raka merangkul dengan lembut bahu Asna.
"Terimakasih umi, Raka berangkat dulu ya!"
Asna yang sudah mulai terbiasa melakukan hal itu pun tahu maksud suaminya. Asna menyambut tangan suaminya dan mencium punggung tangannya, Gus Raka menarik kepala Asna dan meninggalkan kecupan di keningnya.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!" jawab Asna dan umi bersamaan.
Setelah memastikan Gus Raka benar-benar pergi, umi pun mengajak Asna untuk masuk.
...****...
Di toko buku
Leon ternyata sudah duduk di sana sambil membaca beberapa buku yang dia ambil sendiri.
Ia sudah datang setengah jam yang lalu, tampak sekali kalau dia benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan saudara kembarnya.
"Assalamualaikum, saya terlambat ya?"
"Waalaikum salam!" Leon melihat jam yang melingkar di tangannya, "Tiga puluh menit!"
__ADS_1
"Memang kita janjian jam berapa? Raka segera duduk di depan saudaranya itu.
"Hehhhh, kamu lupa jika aku tidak suka membuang waktu!"
"Bilang aja kalau kamu merindukanku, kamu tidak bisa membohonginya! Aku adalah dirimu begitu sebaliknya jadi jangan berkelit denganku!"
Dia benar-benar ya ..., Leon menatap tidak suka dengan ucapan saudara kembarnya itu. Walaupun benar tapi tetap saja ia harus jaga image di depan orang walaupun itu saudaranya sendiri.
"Aku lapar, bisa traktir aku makan dulu?"
"Hehhh, yang benar saja! kau sudah merepotkanmu dan sekarang minta aku traktir!"
"Jangan jual mahal sama saudara sendiri, ayo!!!" Raka segera menarik tangan saudaranya itu. Bukan dia benar-benar lapar, tapi dia sudah lama tidak menghabiskan waktunya bersama saudaranya membuatnya rindu dengan moment-moment tertentu seperti makan bersama.
"Jangan menarik begini, kau ini!?" keluh Leon tapi sepertinya Raka mempedulikan saudaranya yang bersikap dingin itu.
"Trala ...., kita makan di sini!" mereka sudah sampai di kedai lalapan yang ada di depan toko bukunya.
"Astaghfirullah, dari sekian banyak rumah makan, kenapa harus memilih yang ini sih? Dan lalapan? Kamu tahu kan kalau aku_!'
"Sengaja!"
Raka kembali menarik tangan Leon dan mengajaknya duduk di salah satu kursi panjang dengan meja besar itu. Benar-benar tidak sesuai dengan penampilan Leon saat ini, pria berjas rapi dengan sepatu mengkilat itu makan di sebuah warung tenda pinggir jalan, benar-benar penampilan yang kontras.
"Buk, saya pesan satu lalapan burung puyuh ya!"
Wahhh dia benar-benar sengaja ya ..., batin Leon kesal dan Raka tidak peduli ia malah tersenyum melihat wajah kesal Leon. Ada kesenangan tersendiri saat melihat wajah kesal Leon, ia seperti kembali ke masa kecil mereka, Raka yang paling suka menggoda saudara kembarnya itu.
Akhirnya pesanannya datang dan dua orang hanya memesan satu porsi saja.
"Makanlah!" perintah Raka.
"Kenapa bukan kamu saja yang makan?"
"Baiklah, aku yang akan menyuapimu!" Raka segara mencuci tangannya dan menyuwirkan daging burung puyuh dan juga nasi lalu menyodorkan tangannya yang penuh dengan makanan itu ke mulut Leon.
"Ayo buka mulutmu!"
"Kalau ada yang lihat kita seperti ini, mereka pasti akan berpikir macam-macam!" walaupun menggerutu tetap saja Leon membuka mulutnya.
Raka pun menyuapkan makanan itu bergantian pada dirinya dan ke Leon hingga makanan itu habis.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...