Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (99) End


__ADS_3

Sembari menunggu suaminya pulang, Asna mulai menyibukkan diri untuk mengurangi rasa gugupnya, ia membersihkan dapur dan ruang tv yang masih terdapat mainan shahia yang berserakan.


Rasanya seperti baru saja bertemu dengan suaminya setelah sekian lama berpisah, walaupun ia tidak berharap banyak setidaknya malam ini akan menjadi malam paling hangat dari malam-malam sebelumnya.


Tepat jam delapan malam, ia bisa mendengar suara motor suaminya memasuki halaman rumah, dengan cepat ia berlari membukakan pintu, Raka yang baru saja memasukkan motornya ke garasi samping rumah tersenyum melihat Asna sudah menyambutnya di depan pintu.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam, mas!"


"Aku bawa kunci, harusnya kamu nggak usah menyambutku seperti itu!"


"Tidak pa pa, aku senang melakukannya!"


Mereka pun segera masuk dan Raka mengunci pintunya.


Sudah malam, mereka tidak mungkin untuk pergi lagi dan lagi juga jam segitu jarang ada tamu yang datang.


"Mas Raka mau ke kamar atau Asna buatin kopi dulu?"


"Langsung ke kamar aja, sudah ngantuk soalnya!"


"Baiklah!"


Raka pun segera berlalu, tapi saat sampai di depan pintu ia kembali menoleh ke belakang, Asna masih berdiri di tempatnya.


"Dek, ngapain masih di situ?"


"Ehhh ini, anu mas! Nggak pa pa!" Asna terlihat gugup sekali, ia pun lalu mengekori suaminya.


Asna segera naik ke atas tempat tidur, sedangkan Raka melepas sarung dan baju kokonya terlebih dulu hingga menyisakan celana pendek di atas lutut dan juga kaos putih polos.


"Kamu sudah sholat dek?" Raka menoleh pada istrinya yang sudah duduk di atas tempat tidur sedang memandangi kemanapun Raka berpindah.


"Sudah mas, dari tadi!"


Sebenarnya Raka tidak kalah gugupnya, ia sengaja menunda untuk ikut naik ke atas tempat tidur dengan melakukan banyak hal, mulai dari mencuci muka, membuka. sebentar ponselnya, melihat agendanya untuk besok.


"Mas nggak ngantuk?" Asna yang sedari duduk di atas tempat tidur jadi bingung sendiri.


"Ngantuk, bentar ya!" Raka segera memasukkan beberapa buku ke dalam tas kecilnya, kemudian berjalan menghampiri Asna.


Perlahan ia menggeser tubuhnya mendekati sang istri,


"Dek, aku benar suamimu kan?" tanyanya pelan. Ia bingung harus memulainya dari mana, ini untuk pertama kalinya setelah bangun dari koma mereka tidur hanya berdua saja.


"Iya mas, mas Raka ragu! nih Asna punya buktinya!" walaupun Raka sudah pernah melihatnya Asna tetap ingin menunjukan pada sang suami, sebuah buku berwarna hijau yang ia ambil dari laci nakas yang ada di samping tempat tidur.

__ADS_1


"Ini buku nikah kita mas!"


"Aku sudah tahu!"


"Kok masih tanya sih mas!" suasana hening tadi menjadi memanas gara-gara pertanyaan tidak masuk akal dari sang suami.


"Bukan itu maksud aku!"


"Lalu apa dong?"


"Kalau kita suami istri, berarti apa aku boleh meminta hak ku sebagai seorang suami?"


Kali ini wajah marah Asna tiba-tiba hilang berganti dengan senyum yang sengaja ia tahan, pipinya bahkan berona merah karena ucapan suaminya.


"Kok diam, boleh tidak?"


Bagaimana aku jawabnya, masak jawab langsung iya, tapi kalau enggak takutnya mas Raka berubah pikiran lagi....


"Bagiaman?" Raka bertanya untuk ketiga kalinya barulah Asna mengangukkan kepalanya dengan mantap.


Raka yang awalnya masih memberi jarak dengan Asna, kini tubuhnya tengah bergeser sedikit demi sedikit hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.


Raka menatap bibir merah milik Asna, dan perlahan mendekatkan bibirnya.


Ya Allah, ini rasanya seperti pertama kali, jantungku keras sekali berdetaknya ...., Asna memejamkan matanya bersiap menerima apapun yang di lakukan oleh sang suami.


Gemericik air hujan yang membasahi halaman dan hawa dingin di luar, sungguh jauh berbeda dengan keadaan di dalam kamar itu.


Sepasang suami istri yang sedang mencoba merangkai kembali hubungan yang indah di masa lalu dengan penuh kehangatan.


"Terimakasih atas semuanya!" Raka meninggalkan kecupan di kening sang istri, mereka hanya berbalut satu selimut tebal, tangan Asna masih enggan untuk melepaskan pelukan di perut sang suami.


"Aku mau seperti ini sampai besok pagi!"


"Tidurlah, nanti pas waktu sholat malam, aku bangunin ya!"


"Kalau malam ini aku absen sholat malamnya gimana mas?"


"Dek, jangan sampai kenikmatan yang satu mengalahkan kenikmatan yang lain, Allah merindukan kita di sepertiga malam kita!"


Asna tersenyum dan kembali mengerutkan pelukannya, kepalanya ia sandarkan di atas dada sang suami,


"Iya, siap! Aku capek mau tidur yang nyenyak malam ini!"


Raka tersenyum dan kembali mengecup kening sang istri, ia mengusap puncak kepala sang istri hingga tertidur di dalam pelukannya.


...****...

__ADS_1


Mentari bersinar cerah setelah semalaman langit menjatuhkan hujan, sisa air semalam akan segera menguap bersama cerahnya sang Surya.


Di dalam rumah itu, bahkan senyum wanita itu tidak kalah cerahnya dengan pancaran mentari yang baru terbit,


"Mas, ayo sarapan! Sarapannya sudah siap!"


"Iya dek bentar!"


Tidak berapa lama pria yang baru ia panggil itu keluar dengan membawa sebuah bingkisan,


"Itu apa mas?"


"Semalam mas sengaja siapkan buat kita bawa ke rumah umi!"


"Asna kok nggak liat semalam?"


"Sengaja mas sembunyiin!"


"Ihhhh gitu sih mas!"


Suasana kembali hangat, mungkin otak bisa lupa tapi hati tidak pernah salah menentukan tempat untuk berlabuh.


Selesai sarapan mereka tidak sabar untuk menjemput Shahia di rumah Abi dan uminya.


"Ya Allah kalian datang pagi sekali, takut banget kalau umi ambil Shahia!" umi Nazwa mencandai mereka berdua.


"Bukan gitu umi, sebenarnya Raka sengaja datang pagi-pagi sama Asna, mau aja Shahia jalan-jalan!"


"Kalian mau jalan-jalan ke mana?"


Asna pun tidak kalah terkejut di banding umi Nazwa, karena bahkan suaminya tidak membicarakan hal itu. Ia hanya meminta Asna untuk bersiap pagi-pagi sekali.


"Kita mau ke Bali umi, mau ke makan kakek dan adik sekalian liburan!"


"Kok mendadak sekali?"


"Karena memang tidak terencana sebelumnya umi!"


"Ya udah, Abi dan umi hanya bisa mendoakan!"


"Terimakasih umi, Abi!"


Akhirnya setelah sekian lama, Raka kembali ke Bali dan menerima kenyataan jika sang kakek sudah meninggal, ia juga sengaja mengajak Asna dan Shahia untuk di perkenalkan sebagai istri dan putrinya.


......Sekian......


Terimakasih sudah mengikuti kisah mereka, mulai dari Alex & Aisyah, Leon & Nisa dan terakhir Raka & Asna. Maaf sampai di sini dulu ya, karena mereka sudah bahagia semua, jadi kita pindah ke kisah lain. Aku sedang mempersiapkan kisah baru selain kisah Zea dan Rangga, tapi akan launching di bulan depan kisahnya sedikit berat, kisah rumah tangga aku kasih bocoran judulnya dulu ya " Ternyata, Aku bukan satu-satunya" Akan banyak menguras air mata jadi tunggu kisahnya ya. Jangan sampai ketinggalan kisah Zea dan Rangga sambil nunggu yang baru ya, lebih fresh dengan tokoh baru.

__ADS_1


__ADS_2